
Catalina dan Yoana saling berbisik di teras belakang. Vincent menatap curiga pada dua wanita itu. Sudah berhari-hari keduanya tampak sering berbisik, seolah tengah berbagi rahasia. Kemudian keduanya akan saling tersenyum, bahkan tertawa bersama.
Insting Vincent mengatakan Yoana tengah merencanakan sesuatu.
"Kau lihat mereka ...," ucap Vincent pada Claude yang tengah membaca koran.
Claude menurunkan koran dan menatap ke arah teras belakang. Catty dan Yoana tengah berbisik dan tertawa bersama.
"Ada apa dengan keduanya?"
"Aku merasa kakakmu tengah merencanakan sesuatu."
"Vincent ... kau terlalu berlebihan. Kau terlihat gelisah hanya karena Yoan berbisik pada Catty?"
"Tidak Claude ... instingku tidak pernah salah jika menyangkut kakakmu."
Claude tertawa. "Vince ... kau gelisah karena besok kita akan pergi bukan? Aku tahu kau tidak mau melepaskan pandanganmu dari kakakku yang keras kepala itu. Tapi aku membutuhkanmu besok. Kita hanya pergi sehari. Lusa, pagi-pagi sekali pesawat akan membawa kita kembali. Sehari Vince ... hanya sehari."
"Aku tidak gelisah. Aku hanya merasa khawatir. Yoana terlihat mencurigakan."
Claude hanya menanggapi dengan tertawa sambil menggelengkan kepala.
**********
Yoana mencium pipi Leonard dan menyentil hidungnya. Keponakannya itu tertawa senang dan mulai menggapai dengan tangannya minta di gendong.
"Tidak Leon. Bibi Yoan akan ke kantor. Hanya satu jam saja. Lalu kita akan akan berangkat ketika Daddy Claude dan uncle Vincentmu sudah pergi."
Yoana menatap Catalina yang menggendong Leon.
"Jangan lupa hubungi aku secepatnya jika keduanya sudah berangkat."
Catalina mengangguk, lalu Yoana pergi memasuki mobil yang dikendarai seorang pengawal mereka menuju gedung kantor. Ia perlu mengingatkan beberapa hal pada asistennya sebelum ia pergi berlibur.
Yoan mau mengajak Catalina pergi menemui Marylin. Dari Steve, manager Lionel yang direncanakan akan melakukan sesi pemotretan terakhir bersama Mary, Yoana baru tahu kalau Mary diganti oleh model lain disaat saat terakhir. Diego dikabarkan pergi ke kediaman keluarga Lucca bernama mansion Leopard yang ternyata berada di pulau yang sama dengan tempat Simon dan Hamilton berada.
Setelah menghubungi Simon dan mengancam adiknya itu agar mau menjemput mereka di dermaga. Yoana dan Catalina bersiap untuk pergi tanpa memberitahu Claude dan Vincent.
Setelah beberapa saat berada di kantor dan membicarakan semua yang diperlukan pada asistennya, Yoana menerima telepon dari Catalina.
"Mereka sudah pergi ?" tanyanya.
"Ya, mobilnya baru saja berangkat," ucap Catalina.
"Baiklah. Tunggu Aku. Aku pulang sekarang."
Yoana menutup telepon dan menyeringai lebar. Ia menekan lagi sebuah nomor di ponselnya.
"Halo, Simon."
"Ya?"
__ADS_1
"Aku dan Catalina serta Leon akan pergi sebentar lagi
Jangan lupa jemput kami!" perintahnya.
"Ya , Yang mulia ratu," ejek Simon setelah mendengar perintah kakaknya.
"Kau sudah menyiapkan kamar kami bukan!?"
"Kenapa kau tidak tinggal di hotel kita saja...."
"Aku tidak mau. Rumah pantai kita lebih nyaman! Sudah ya, aku sedang di kantor, akan pulang menjemput Catalina dulu."
Yoana mematikan ponselnya, lalu bangkit dan melangkah keluar dari ruangan untuk pulang kembali ke mansion Bernard.
**********
Simon menunggu dengan bersedekap sambil bersandar di badan mobil. Yoana mendekat bersama Catalina yang menggendong Leonard. Di belakang mereka Nanny Lea dan dua orang pengawal menyeret koper-koper yang mereka bawa.
"Kau mau berlibur atau pindahan? Astaga ... apa saja yang kau bawa!?" tanya Simon menggeleng melihat jumlah koper Yoana.
"Diamlah. Cepat jalan!" perintahnya.
Simon membuka pintu mobil sehingga Yoana dan Catalina bisa masuk. Ia sendiri masuk ke sebelah kemudi.
Ia melirik ke arah belakang, dimana Lea dan pengawal yang tadi sudah memasukkan barang -barang dan sudah naik ke mobil di belakangnya.
"Ayo, Shawn, Jalan ...." ucapnya pada pria yang ada disebelahnya. Mereka melaju sampai Catalina melihat sebuah dermaga. tempat beberapa yacht bersandar.
Simon turun dan membuka pintu mobil. Yoana dan Catalina ikut turun.
"Ya. lebih cepat tiba." Simon membimbing keduanya menuju sebuah yacht miliknya yang tertambat di pinggir dermaga.
Setelah memastikan semuanya naik dan barang-barang mereka disusun, Simon memberi tanda pada anak buahnya agar mereka berangkat.
"Kau sudah tahu dimana mansion kediaman Lucca yang ada di pulau ini?" tanya Yoan.
"Siapapun tahu keberadaan mansion besar itu Yoan. Ada di bagian lain pulau. Menyendiri dengan dinding tinggi dan penjagaan ketat. Aku heran ada orang yang betah tinggal di tempat terpencil dan masih mengurungnya lagi dengan tembok tinggi."
"Orang yang ingin privacynya tidak terganggu," ucap Yoana.
"Kau akan mengunjungi pria itu?"
"Tentu saja!"
"Aku akan ikut, juga beberapa orang pengawal kita."
"Terserah kau saja. Ingat perkataanku, Simon. Jangan sampai Claude dan Vincent tahu."
Simon mengangkat bahu, lalu menatap ke arah laut.Tidak akan lama kakaknya itu dapat bersembunyi. Vincent dan Claude akan segera mendatangi mereka sebentar lagi.
**********
__ADS_1
Pagi itu, sebuah heli terbang rendah dan mendarat di mansion Leopard. Alric yang sudah tiba di mansion itu malam sebelumnya keluar dari mansion diikuti Diego. Keduanya menaiki heli dan pergi meninggalkan mansion.
Setelah beristirahat satu malam di rumah pantai keluarga Bernard, Catalina dan Yoana dibawa oleh Simon menuju kediaman Lucca.
Mereka disambut pengawal yang membukakan gerbang setelah Simon memberikan kartu namanya. Setibanya di depan mansion, Catalina tidak menunggu dibukakan pintu, ia membuka pintu mobil dan berjalan sangat cepat ke arah mansion.
"Lina!" Yoana berteriak, khawatir dengan kaki gadis itu. iringan rombongan itu baru saja berhenti di depan mansion.
Catalina sudah di sambut seorang kepala pelayan.
"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria paruh baya tersebut.
"Selamat pagi, Sir. Umm.... bisakah aku bertemu tuan Lucca? Atau tuan Baldassare juga boleh."
Pria itu tersenyum, lalu meminta maaf.
"Maaf ,Nona. Tuan Lucca dan Tuan Baldassare baru saja pergi. Mereka tidak akan kembali sampai tiga hari ke depan."
Dengan wajah kecewa Catalina menunduk. Yoana yang baru saja mendekat mendengar ucapan kepala pelayan itu.
"Apa ada kru film atau pengambilan gambar di mansion ini?" tanya Yoan.
Sang kepala pelayan menggeleng.
"Apakah seorang wanita bernama Marylin Seymor yang berambut pirang kecoklatan dan bermata biru pernah datang kemari?" tanya Yoana lagi. Kembali sang kepala pelayan menggeleng.
Yoana menarik napas panjang. Ia menghela siku Catalina yang nampak sedih.
"Sebenarnya kemana si bodoh Alric itu membawanya!" cetus Yoana gusar.
Sang kepala pelayan hanya terdiam mendengar nona mungil yang datang itu memaki tuannya.
"Ya sudah. Katakan pada tuanmu dia kedatangan tamu! Kami akan datang tiga hari lagi! "
Pria paruh baya itu hanya mengangguk dengan sedikit membungkuk sopan.
"Baik, Nona," ucapnya.
"Ayo, Lina. Aku akan mencoba mencari kontak si Baldassare. Kita akan menemukan Marylin. Ayo ... sekarang kita pulang dulu."
Catalina menatap sang kepala pelayan lalu menggumamkan kata pamit sebelum berbalik mengikuti Yoana.
N E X T >>>
**********
From Author,
Jangan lupa like, love, komentar ,bintang lima dan vote ya........benar-benar jadi penyemangat author buat nyelesain kisahnya.
Cek karya author yang lain dengan klik 'karya' pada kolom profil author. Monggo mampir juga di dua novel author yg lain ya.😊😊🙏
__ADS_1
Terima kasih para readers setia Embrace Love. Karena kalian kisah ini tercipta dengan penuh semangat.
Salam hangat, DIANAZ.