
Alric mendekati tempat tidurnya, menarik laci nakas dan mengintip ke dalam laci. Ia mengambil sebuah foto yang ada di dasar laci. Foto saat dirinya berumur empat belas tahun bersama Alex yang berumur dua belas tahun.
Ayah Alric tidak pernah bisa menerima keberadaan Alex. Ayah dan ibunya menikah karena dijodohkan, suatu cara bodoh mempertahankan dan mengembangkan kekuasaan dengan menyatukan dua manusia yang tidak saling mencintai. Kemudian Alrico lahir, setelah umurnya setahun lebih, ibunya kembali hamil. Putra kedua yang merupakan buah cintanya bersama sang kekasih.
Keduanya tetap melanjutkan pernikahan yang bak neraka itu. Namun bukan Adriano Lucca jika menerima begitu saja perselingkuhan sang istri, pria yang menjadi kekasih ibunya berakhir dengan kebangkrutan, bisnisnya hancur dan terpuruk.
Ayah Alric tidak mau membuat malu dengan menorehkan perceraian untuk pertama kalinya dalam sejarah keluarganya yang terhormat. Ibunya diungsikan di tempat terpencil sampai saatnya melahirkan, lalu putranya diserahkan pada seorang wanita yang dibayar untuk mengurusnya.
Ibunya tinggal dan membesarkan Alric dengan kesedihan mendalam karena dipisahkan dari putranya. Lalu seiring keadaan ibunya yang makin terpuruk, Adriano Lucca tidak mau mempunyai istri yang hampir gila, ia akhirnya mengizinkan Alexandro tinggal bersama mereka dengan syarat tetap menggunakan nama Morelli, nama dari keluarga ibunya.
Alex tinggal bersama mereka dengan berbagai perbedaaan besar yang sangat terasa. Seorang bocah kecil yang diperlakukan sangat dingin oleh ayahnya. Alex melakukan apapun untuk membuat ayahnya senang, tapi tidak ada satupun tindakan Alex yang membuat ayahnya puas. Alric dan Alex tinggal dalam satu mansion dengan perlakuan sangat berbeda. Sang ibu telah berusaha menyeimbangkan dengan memberikan perhatian dan kasih sayangnya hanya untuk Alex, sampai ia melupakan kalau ia punya dua putra.
Namun Alric tidak keberatan, ia memberikan ibunya sepenuhnya untuk Alex. Alex anak yang menyenangkan, selalu menghiburnya ditengah tekanan yang diterimanya dari sang ayah. Beban sebagai pewaris membuat Alric ditempa dengan sangat disiplin dan keras. Alex menjadi saudara sekaligus temannya yang paling akrab. Tinggal bersama membuat Alric dan Alex menjadi sangat dekat.
Lalu ketika Alric harus meneruskan kuliahnya, Alex memilih pergi dari mansion itu. Beralasan sudah saatnya mencari kehidupannya sendiri. Semua pendidikan yang Alric peroleh tidak didapat oleh Alex. Ibunya sudah tidak dapat menahan kepergian Alex. Adiknya itu pergi dan hidup sendirian. Jika memikirkannya saat ini, Alric merasa Alex bertahan di mansion itu karena ada Alrico bersamanya, Namun ketika Alrico pergi untuk melanjutkan kuliah, Alex ikut pergi ....
Alric tidak dapat melakukan apapun saat ayahnya masih hidup. Semua ada dalam kendali ayahnya. Alric hanya bisa menyisihkan sebagian uang jatahnya untuk diberikan pada Alex setiap bulan. Keadaan itu berjalan selama beberapa tahun, lalu kabar itu datang pada mereka. Kabar kalau adiknya itu sudah pergi. Meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
Alric sangat syok mendengar kabar di pagi buta itu. Ia gemetar dan jatuh terduduk di atas kursi, dengan gemetar tangannya meraih ponsel dan membuka kembali riwayat panggilan di ponselnya. Tadi saat terbangun dan mengecek ponsel, tertera satu panggilan tak terjawab dari Alex. Karena hanya satu kali, Alric yang tertidur tidak mendengar.
Ia menatap nanar ke arah layar dan ia tidak salah lihat. Itu adalah panggilan dari nomor Alex dan pagi ini adiknya itu dikabarkan telah pergi ... satu panggilan terakhir ia lakukan dan Alric tidak mengangkatnya.
Adriano menutup semua kisah tentang Alexandro. Hanya datang ke rumah sakit Brightown, mengambil jenazahnya dan melakukan pemakaman. Permintaan ibunya untuk menyelidiki kematian Alex tidak digubris, ibunya malah dikurung berminggu-minggu. Alric mencoba bergerak diam-diam, namun usahanya juga digagalkan. Ayahnya yang berkuasa memastikan semuanya berjalan sesuai kehendak dan keinginannya.
Bertahun-tahun Alric dan ibunya berada di bawah kendali sang ayah, lalu pria itu jatuh sakit. Serangan jantung yang membuatnya harus di rawat berhari-hari di rumah sakit dan akhirnya ... Adriano Lucca yang kuat , gagah dan berkuasa tidak lagi dapat melawan takdir, ia menghembuskan napas terakhir, membebaskan istri dan putranya dari belitan kendalinya.
Alric mengambil alih semuanya dan menyesuaikan diri dengan cepat. Tapi perusahaan ayahnya sangatlah besar dan tersebar di beberapa negara, kesibukan baru membuatnya melupakan tentang kematian Alexandro.
Sampai ibunya datang, mengatakan ia sudah menyewa orang untuk menyelidiki kematian Alex. Namun orang itu tidak dapat menemukan wanita yang bersama Alex saat malam terakhir kehidupannya.
Wanita bernama Marylin ....
**********
Catalina merasa senang, kakinya sudah menapak sempurna, walaupun pelan dan harus berhati-hati, ia dapat melangkah dan berjalan dengan baik seperti semula.
Ia mendekati Yoana yang menikmati alunan musik di dekat kolam renang.
__ADS_1
"Yoan ...," panggil Catalina.
Yoana menoleh. Meletakkan ponselnya ke atas meja bulat dan tersenyum.
"Ada apa? Leon sudah tidur?" tanya Yoana. Ia melirik ke bawah ketika Catalina berjalan.
"Aku mulai melatih berjalan tanpa penyangga. Harus pelan dan sangat hati-hati," ucap Catalina memberitahu tanpa diminta, "ya, Leon sudah tidur. Ummmm ... boleh aku membicarakan sesuatu denganmu?"
Yoana mengangguk, menunjuk tempat duduk di sebelahnya.
"Tentang apa? Pernikahanmu?" tanyanya dengan senyum cerah. Catalina tertawa, lalu menggeleng. Ia menarik napas lalu mengalihkan matanya memandang air kolam yang berkilau diterpa cahaya lampu.
"Ini tentang Mary ... sudah hampir tiga bulan aku tidak bertemu dengannya. Bisakah kau menolongku? Aku ingin menemuinya."
Yoana menatap Catalina yang termenung menatap kolam. Gadis itu pasti khawatir, hubungannya dengan Marylin yang baru saja akan membaik kembali renggang karena dipisahkan oleh jarak dan tidak ada komunikasi. Yoana memutuskan, sudah saatnya ia menceritakan perihal kontrak Marylin dengan Alrico Lucca.
"Lina ... kau ingat saat kau disekap Rodrigo? Saat itu Claude dan Vincent dapat menemukanmu dengan cepat."
Catalina mengerutkan kening, heran kenapa Yoana menyinggung masalah Rod. Tapi ia hanya mengangguk, diam menunggu Yoana melanjutkan.
"Apa! Maksudmu ...."
"Ya ,Lina. Aku dan Claude melepas Mary. Mary dan Serge setuju bekerja untuk pria itu. Kalau dilihat dari beberapa foto dan video yang sudah mulai beredar, mereka sepertinya sukses besar. Pemotretan dilakukan di berbagai negara. Sekarang kakakmu dan Serge tengah keliling dunia."
"Jadi ... Mary melakukannya untukku?"
"Ya. Awalnya aku khawatir karena instingku mengatakan kalau Lucca punya maksud tersembunyi. Tapi kekhawatiranku tampaknya tidak beralasan. Aku sudah bertemu dengan Rosalie. Salah satu aktris yang bekerja bersama Mary. Dia sudah kembali dan menceritakan jika pekerjaan mereka sukses dan Mary sangat sibuk di sana."
"Apakah Lucca ini orang yang baik?"
"Aku tidak mengenalnya, Lina. Hanya tahu jika dia adalah salah satu billioner yang mewarisi perusahaan raksasa yang dimiliki keluarganya."
"Apa kau bisa menghubungi Mary?"
Yoana menggeleng. "Tidak. Serge juga tidak."
Catalina mengernyit. "Tidak bisakah kita meminta mereka menghubunginya. Maksudku ... kau tahu dengan pria ini, pernah bertemu. Apa tidak bisa memintanya menolong kita? Aku mau bicara dengan Mary."
__ADS_1
Yoana mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Catalina.
"Kau tahu ... Aku punya ide yang lebih baik. Kita yang mendatangi Mary. Bukan hanya bicara lewat telepon. Tapi kita perlu tahu dimana sesi pemotretannya saat ini. Jadi tunggu aku menyelidiki dimana mereka berada."
Catalina tersenyum senang dan mengangguk antusias.
"Sementara itu, latihlah terus kakimu, kau perlu berjalan dengan baik ketika nanti kita pergi menemui Mary. Sekaligus kita berlibur. Leon juga kita ajak. Tapi ada satu hal yang perlu kau ingat ...."
"Ya?" Catalina menunggu tidak sabar.
"Jangan sampai rencana ini terdengar Vincent. Aku ingin menyendiri dulu. Jadi jangan sampai ia tahu, atau ia kan ikut dengan kita."
Catalina mengangguk.
"Dan jangan sampai Claude tahu karena ia akan melarangmu pergi. Claude menunggu kau sembuh agar bisa menikah. Ia tidak akan mengizinkan kita pergi kemanapun."
Catalina kembali menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Kita akan berlibur diam-diam. Hanya aku, kau, Leon dan Nanny." ucap Yoana lagi.
Catalina tersenyum lebar. "Aku jadi penasaran, Yoana. Bagaimana Vincent bisa jauh darimu. Dia akan sangat gelisah. Kurasa sangat perlu melakukan sesuatu yang membuatnya mau melewati batas yang ia buat sendiri itu. Yang menghalangi kalian agar bisa bersama ...."
"Aku ragu, Lina. Tapi tidak salah jika dicoba, bukan bagitu?" Yoana mengedipkan mata. Membuat Catalina tertawa geli.
N E X T >>>
**********
From Author,
Halo My readers, semoga semuanya sehat selalu ya. Tetap taati anjuran di rumah aja. 😊😊🤗
Jangan lupa klik like, love, bintang lima, vote dan juga komentar kalian. Author minta maaf karena waktu up tidak tentu. Menyesuaikan dengan waktu luang yang author punya untuk menulis.
Terima kasih semuanya,
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1