Embrace Love

Embrace Love
CH 77. Allowed to go home


__ADS_3

Luigi menghapus wajah dengan telapak tangan, menatap nanar keluar jendela ruang kantornya.


Sudah lima hari sejak kejadian di hotel itu. Pagi hari ketika ia terbangun karena ketukan di pintu, lalu setengah terhuyung dengan selimut di seret, ia melangkah dan langsung membukanya. Luigi melihat ayahnya sudah berdiri di luar kamar hotel dengan tatapan datar, memandang tubuhnya dari atas hingga ke bawah.


Hanya satu kalimat yang ayahnya ucapkan, setelah sebelumnya ia melirik ke arah dalam kamar.


"Kalian harus segera menikah."


Lalu ayahnya pergi, meninggalkan Luigi dalam kebingungan. Sejenak Luigi memandang berkeliling, melihat seluruh isi kamar hotel, lalu matanya tertumpu pada tubuh polos yang tidur meringkuk tak bergerak di atas ranjang, Luigi terbelalak, segera menutup pintu dan menyeret kembali selimut. Bermaksud menutupkannya pada tubuh Natalia.


Natalia Ambroz tidur meringkuk dengan nyenyak walaupun selimutnya terbuka dan hawa dingin kamar langsung menyentuh kulitnya. Gadis itu benar-benar tidak berpakaian. Kemudian mata Luigi tertumbuk pada noda-noda di atas seprai. Noda bercak darah dan juga noda lain yang membuat Luigi tahu apa yang telah terjadi di atas ranjang itu sepanjang malam.


Natalia tidak terbangun walaupun selimutnya telah ditarik. Kelelahan yang menguasai tubuh gadis itu memerintahkan setiap syaraf di tubuhnya untuk beristirahat. Hingga tidak menyadari jika pria di sebelahnya telah terbangun dengan kemurkaan yang menguar dari setiap sel dan helaan napas.


Luigi menyadari inilah yang di maksud oleh ayahnya dengan menikah, lalu kenapa ayahnya bisa ada di sini? Pas sekali ayahnya datang. Di hotel yang tepat, kamar yang tepat. untuk memeriksa Luigi dan memergokinya bersama Natalia. Bukankah sangat kebetulan? Geraham Luigi mengetat, Ia mendekati ranjang, melempar selimut ke atas kasur. Ingin rasanya Luigi mencekik gadis yang tertidur lelap itu. Namun kemarahan yang membutakan ini membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


Luigi segera mengenakan pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu dengan pandangan dingin membekukan, Ia menatap Natalia, Jejak beku es yang terlihat di matanya mulai menjalar ke seluruh pembuluh darah, kemudian tiba di hati Luigi, merambat membekukan hatinya hingga mengeras.


Aku akan mulai membunuh jika terus berada di sini ...


Luigi melangkah ke arah pintu, keluar dan menutup kembali pintunya tanpa sedikit pun melihat lagi ke arah Natalia.


Kedua orang tuanya sudah menyiapkan pernikahan. Besok adalah hari yang ditentukan. Tidak ada satu kata pun yang ia ucapkan pada kedua orang tuanya. Juga terhadap Natalia. Semuanya diurus oleh orang tua Luigi secepat mungkin, dan seperti robot yang tidak punya hati dan pikiran, Luigi mengikuti alur yang terasa menghanyutkannya dan membuat seluruh tubuhnya seperti terempas. Namun aneh ... ia tidak merasa sakit, hatinya tidak merasakan apapun ... beku, dingin, Luigi merasakan dirinya mati rasa.


**********


Yoana Bernard akan turun dari mobil yang dikendarai Vincent.


"Tunggu aku memarkirkan mobil! Aku akan menemanimu," ucap Vincent.


Yoana hanya mendengarkan tanpa membantah, la turun lalu menutup pintu. Tanpa menggubris perintah Vincent agar ia menunggu, Yoana melenggang pergi menyusuri trotoar, mengikuti orang-orang yang berlalu lalang.


Vincent mengumpat ketika melirik dari spion dan mempercepat memarkir mobilnya. Ia turun dan setengah berlari menyusul Yoana.


Ia menjejeri langkah wanita itu dan menggerutu, "kau kesulitan mengartikan kalimat perintah! Apa sulitnya menunggu sebentar."


Yoana melirik dari balik kacamata hitamnya, ia tidak menanggapi. Meneruskan langkah sampai ke pintu masuk sebuah toko bunga.


Seorang pegawai toko mendatangi dan melayani Yoana dengan senyum lebar. Yoana memesan empat rangkaian bunga yang besar, memintanya mengirimkan ke mansion keluarga Bernard. Lalu ia membeli satu buket yang langsung ia bawa sendiri.


Selesai memesan, Yoana berderap keluar toko, melangkah kembali di trotoar dengan hak tinggi sepatunya yang berdetuk.


Lalu lalang di trotoar yang agak ramai menyebabkan tubuh Yoana yang mungil kadang tersenggol oleh orang lain yang lewat. Vincent mengulurkan tangannya dan memegang siku wanita itu, Yoana berhenti berjalan. Ia menoleh dan berkata dengan wajah datar.

__ADS_1


"Lepaskan, Vince. Aku akan mulai menjaga diriku sendiri ... lepaskan tanganmu," ucap Yoana sambil menarik tangan Vincent yang memegang lengannya.


Baru beberapa langkah hak sepatunya selip dan Yoana terhuyung, Vincent langsung menangkapnya.


"Hati-hati," ucap Vincent.


"Aku bilang biarkan aku!"


"Bila ku biarkan, kau akan jatuh ...."


"Biarkan saja aku jatuh!"


"Tidak bisa. Aku ada di dekatmu untuk menjagamu. Aku sudah berjanji pada ibumu."


Yoana menarik napasnya, alasan itu lagi. Ia mengernyit. Bila dipikirkan, sejak dulu ia memang tidak pernah berjauhan dengan Vincent. Pria itu selain bekerja pada ayahnya, juga telah jadi semacam pengawal pribadinya atas permintaan ibu Yoana.


Yoana melangkah ke arah mobil, lalu masuk setelah Vincent membukakan pintu untuknya. Ia memikirkan kemungkinan berada jauh dari Vincent. Bagaimana bila itu terjadi. Misalkan ia mengambil alih salah satu cabang mereka dan hidup di sana tanpa adanya Vincent. Tapi yang jadi permasalahan, jika laki-laki itu tahu kemana ia pergi, maka besar kemungkinan ia akan mengikuti. Vincent berjanji akan menjaga Yoana. Kesetiaannya hanya pada janjinya untuk menjaga Yoana dan keluarga Bernard. Ia tidak akan berpikir dua kali untuk meninggalkan pekerjaan pada Claude dan menyusul Yoana.


Selama ini Yoana berpikir sudah cukup bila Vincent selalu berada di dekatnya dan selalu dapat ia lihat.


Lalu bagaimana jika seandainya ia pergi, menjauhkan diri dan melihat apa yang terjadi pada perasaannya. Bukankah mereka selama ini tidak pernah benar-benar bersama ... dalam arti berbagi kasih dan cinta seperti dulu. Vincent hanya menjalankan kewajiban, memegang janji untuk menjaganya. Hanya itu alasan yang ada di hati pria itu. Mereka tidak mungkin menjalin lagi hubungan indah mereka dulu, Vincent telah menguburnya. Tidak mau menggalinya lagi.


Bagaimana bila ia membuat kenyataan pahit itu menjadi jelas dengan cara menjauhkan diri. Tidak bertemu lagi dengan Vincent, tidak bicara dan tidak melihatnya lagi. Bisakah ia melaluinya?


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Vincent. Wanita itu tersentak, memandang berkeliling dan menyadari mereka sudah tiba.


"Ayo turun. Claude pasti sudah menunggu."


Vincent menarik napas panjang melihat wanita mungil itu turun dengan buket bunga di tangannya. Berlalu meninggalkan Vincent yang mengikutinya dengan menggelengkan kepala.


"Kau sering termenung sendiri sejak kejadian itu ...," bisik Vincent.


Vincent menatap langkah kaki Yoana yang terus berjalan, ia tidak tahu apakah Yoan mendengar atau tidak, kalaupun mendengar, wanita itu sepertinya memilih untuk tidak menanggapi.


Setibanya di kamar Catalina, Claude langsung berdiri,


"Kalian sudah tiba," ucapnya.


"Ya ... selamat, Sayang. Akhirnya kau diperbolehkan pulang. Leon sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu." Yoana menyerahkan bunganya ke tangan Catalina, tersenyum membayangkan empat rangkaian lagi yang akan menyambut Catalina di depan pintu kamar dan di dalam kamarnya nanti.


"Aku juga sudah sangat bosan di sini, rasanya sudah berminggu-minggu."


Catalina tersenyum, lalu terkejut dan langsung mengalungkan tangannya ke leher Claude yang tiba-tiba mengangkat dan menggendongnya dari atas kasur. Buket bunga yang ia pegang ikut terbawa mengalungi belakang leher Claude.

__ADS_1


"Kau tidak perlu menggunakan kakimu, sampai sembuh dan therapismu mengizinkan, baru kau boleh menggunakannya. Aku akan menjadi kakimu, kursi roda juga bila aku sedang tidak ada." Ia berkedip pada Catalina.


"Tunggu, Claude ... Mary? Kau akan ikut bukan? " Catalina memandang kakaknya. Sejak dirawat di kamar itu dan Mary menungguinya, kedua kakak beradik itu menjadi lebih akrab. Catalina tidak ingin keakraban itu berakhir. Ia ingin meminta izin Mary agar boleh berkunjung bila kakinya sudah bisa digunakan.


"Tentu saja. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Marylin. Dia akan ikut. Claude ... kau naik mobil Vincent. Aku akan menyetir sendiri."


Yoana lalu merogoh ke dalam kantong celana adiknya mencari kunci mobil. Claude membiarkan kakaknya mengambil sendiri kunci di kantongnya karena kedua tangannya tengah menggendong Catalina.


"Awas Yoan. Nanti salah pegang," goda Claude sambil terkekeh geli.


Yoana mendengus. "Kau memang bertubuh besar, Claude Bernard. Jauh melebihi ukuran tubuhku. Tapi Aku lebih tua darimu ... jangan kira aku tidak berani benar-benar menendang bagian tubuhmu ini seperti dulu!" Yoana tersenyum lebar melihat wajah adiknya yang pias. Ia memutar kunci yang sudah ia ambil dengan tangannya sambil tertawa angkuh.


"Kau lihat ... aku memegang seluruh rahasiamu, Claude ... foto bocah ...."


"Jangan mulai!" seru Claude, lalu ia berderap membawa Catalina keluar dari kamar lebih dulu.


Meninggalkan Yoana yang terbahak.


Marylin yang bersedekap memandang dengan tertarik interaksi keduanya. Perkiraan awalnya dulu mengira mereka dingin dan tidak berperasaan berbanding terbalik dengan apa yang ia lihat barusan.


"Dan kau Mary! Ikut aku! Aku ingin membicarakan tentang kontrak Alrico Lucca! Serge sudah bertemu mereka bukan!? Apa hasilnya? Kenapa kau maupun Serge belum mengatakan apapun!?"


Well ... meskipun sikap angkuh dan sombong itu, sepertinya memang telah melekat turun-temurun. Nada angkuh Yoana sudah jadi ciri khas dari intonasi suaranya. Marylin mengangkat kedua bahunya.


"Kau tidak bertanya, apa perlunya aku memberitahu," ucap Marylin.


"Kau gadis masa bodoh bermulut pedas! Ikuti aku!" Yoana berbalik dan keluar, Marylin tersenyum geli dan mengikutinya disusul Vincent yang menutup pintu dan mengikuti mereka.


N E X T >>>


**********


From Author,


Jangan lupa like, love, vote, bintang lima, komentarnya. Follow juga karya author dengan klik ' ikuti' pada kolom profil ya.


Baca karya Author yang lain yuk:


Passion Of My Enemy


Love Seduction


Terima kasih semua,

__ADS_1


Salam, DIANAZ.


__ADS_2