
"Yoan ... aku pasti tampak buruk sekali ya? Oh, aku ingin tampak cantik di hari penting ini, Yoan." Catalina berulang kali mengelus bahan sutra halus di gaun putih berbahan organza dengan sutra melambai di seputar pinggangnya.
"Tunggulah Catalina. Biarkan mereka bekerja dan berhentilah khawatir." Yoana menganggukkan kepala ke arah seorang penata rambut yang menunjukkan sebuah wig pada Yoana.
Catalina duduk di tengah kamarnya tanpa sebuah cermin yang sangat ingin ia lihat. Setelah pulang dari rumah sakit. Ia dibiarkan tidur di sepanjang sore, lalu malam ini, tiga orang wanita datang ke kamarnya bersama Yoana dan mengatakan kabar mengejutkan kalau ia akan menikah. Catalina kemudian di dandani dengan gaun putih yang sekarang terpasang pas di tubuhnya. Seorang wanita memilih wig, dan setelah mendapatkan persetujuan Yoana, wanita tadi mulai memasangnya di kepala Catalina dan menatanya dengan cantik. Warna rambut itu hampir sama dengan rambut asli Catalina yang cokelat keemasan.
Rambut itu ditata dalam gelombang gelombang cantik di punggung Catalia, lalu bagian sisi kiri dan kanan sedikit di tarik ditengah, disatukan dengan sebuah jepit berhias mutiara berkilau. Sentuhan terakhir, sebuah veil pengantin dengan bahan lace transparan dipasangkan ke puncak kepala gadis itu. Ujung kiri dan kanan veil di sampirkan ke bahunya yang polos. Gaun pengantin Catalina berbentuk kemben di bagian dada, mengikuti bentuk tubuh sampai ke bagian pinggang sebelum mengembang di bagian rok sampai batas mata kaki dalam untaian sutra halus yang melambai ketika ia melangkah. Tidak ada hiasan lain di gaun itu selain barisan mutiara berkilau yang mengelilingi pinggang Catalina.
Setelah selesai, barulah Yoana menarik Catalina ke arah sebuah cermin besar. Nuansa putih yang ia pakai membuat mata biru Catalina makin tampak bersinar.
"Kau tampak sangat cantik, Nona," ucap salah seorang wanita yang tadi mendandaninya.
"Dia pengantin yang paling mempesona yang pernah aku lihat. Tanpa banyak aksen, gaun ini membuatnya tampak anggun, elegan ...."
Catalina tampak merona senang mendengar pujian para wanita yang mendandaninya. Walau bagaimanapun, ia ingin terlihat cantik dan mempesona ketika nanti ia turun untuk menikah dengan Claude di kapel yang ada di Mansion Bernard.
"Gadis ini jarang berdandan ... jadi ketika sedikit bedak dan semua kosmetik itu menyentuh wajahnya, ia seperti seorang dewi yang baru turun dari langit. Bukan begitu?" Yoana mengedipkan mata ke arah Catalina ke arah cermin. Catalina tersenyum, meski kegugupannya tidak berkurang, setidaknya ia merasa percaya diri dengan penampilannya.
Ketukan di pintu membuat salah satu wanita yang tadi mendandani Catalina segera membukanya. Kepala Serge muncul, pria itu tampak gagah dengan tubuhnya yang besar mengenakan tuxedo berwarna hitam, rambutnya ditata kebelakang dalam sisiran rapi.
"Ah, Serge. Kau tampan sekali." Catalina tersenyum memuji.
"Stttt ... jangan sampai pengantin priamu mendengar nya, Sayang. Dia akan merasa sangat kesal."
Mereka semua tertawa.
"Kau sudah siap?"
Catalina mengangguk. Salah seorang wanita mendekatinya dan berjongkok ke dekat kakinya.
"Pakai ini, Miss. Lalu pria tampan ini boleh membawamu."
Catalina memasukkan kakinya ke sepatu yang diberikan wanita tadi. Sepatu yang terasa empuk dan nyaman di kakinya dengan hak yang tidak terlalu tinggi.
"Kuharap kau tidak akan terlalu lelah nanti, Lina. Kau belum boleh terlalu banyak beraktifitas. Tapi Claude bersikeras ...." Yoana menyentuh Siku Catalina dan menatapnya dengan pandangan khawatir.
"Jangan khawatir Yoan. Aku baik-baik saja. Aku merasa bersemangat."
"Baiklah. Kami turun lebih dulu. Serge ... jaga dia. Antarkan pada adikku di bawah sana. Dia pasti sudah tidak sabar."
__ADS_1
Tawa Serge dan Yoana terdengar ketika mereka membayangkan Claude yang pasti menunggu di bawah sana. Claude mengatakan rencananya untuk segera menikah, segera setelah Cattynya keluar dari rumah sakit. Tertundanya pernikahan mereka karena ulah Tania Sweyn dan nyawa Catalina yang hampir saja melayang membuat Claude segera ingin mengikat gadis itu dan membuatnya segera berada di sisinya.
"Kau gugup?" tanya Serge.
"Sedikit."
"Perlukah kita menunggu sebentar?"
Catalina menggeleng. "Tidak. Tidak Serge ... Aku siap."
"Baiklah. Ayo," ucap Serge sambil menyunggingkan senyum menenangkan. " Kau cantik sekali ... Claude beruntung," puji Serge sambil menyediakan sikunya untuk di gandeng Catalina.
Keduanya menuruni tangga dan melangkah pelan menuju kapel. Claude sudah berdiri di hadapan seorang pendeta yang akan menikahkan mereka. Di dekat sana, sudah hadir Mary, Alric dan Annete. Lalu ada Vincent, Simon, Hamilton dan juga Leonard dalam gendongan Nannynya Lea, Leon tampak terpesona pada Mommynya yang datang dengan gaun putih, ia mengulurkan tangan minta di gendong, Lea segera saja berbisik, membujuk Leon dengan suara lembut dan pelan. Hanya keluarga mereka yang hadir di sana. Claude sengaja agar tidak perlu ada seremonial yang panjang dan keharusan menemui para tamu setelah pernikahan. Catty perlu segera beristirahat lagi setelah mereka menikah.
Pandangan mata Claude tak lepas dari sosok Catalina yang mendekat. Kilas pertemuan pertama mereka terlintas di pikiran Claude. Ia bersyukur kakaknya menculik gadis itu di masa lalu, membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan Catalina.
Serge menyerahkan Catalina pada Claude, lalu ia berbalik, melangkah menuju Marylin yang berdiri di samping Alric. Tangan Marylin terulur yang segera disambut oleh Serge. marylin menarik Serge agar berdiri di sebelahnya. Diapit oleh dua pria yang sangat disayangi dan ia cintai, juga seorang ibu mertua yang juga berdiri di dekatnya, menyaksikan pernikahan seorang adik yang tampak sangat bahagia. Membuat hati Marylin terasa penuh. Air matanya tanpa sadar mengalir dengan mata yang menatap ke arah proses pernikahan Catalina. Kedua insan itu mengucapkan janji, mengikat diri mereka pada satu sama lain untuk saling mencintai. Isakan Marylin terdengar keras, ketika Catalina dan Claude dinyatakan sebagai suami istri. Alric mengulurkan sebelah lengannya, memeluk bahu istrinya dan menariknya ke pelukan. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya mencium puncak kepala Marylin dengan penuh sayang. Serge dan Annete melirik dan tersenyum. Serge lalu mendekatkan diri ke arah Marylin. Berbisik pelan ke arah wanita itu.
"Kau sangat cengeng sekarang, Mary. Lebih cengeng dari Leonard. Leon saja bertepuk tangan," ucap Serge sambil tersenyum.
Di sisi lain di dekat sana, isakan bukan hanya terdengar dari Marylin. Yoana dan Lea juga menangis haru. Yoana yang terdengar paling kencang isakannya. Melihat adiknya yang sedang mencium pengantinnya membuat Yoana menangis bahagia. Claude telah bekerja sangat keras untuk keluarga Bernard setelah orang tua mereka meninggal. Dulu Yoana mengira adiknya itu tidak akan pernah mau menikah. Ia bersyukur, kehadiran Catalina mengubah pemikiran Claude.
"Jangan menangis, Mi Pequeno ....." Vincent berbisik pelan.
"Ya. Kau cengeng ...." ledek Simon.
"Mau bagaimana lagi ... kurasa ini pengaruh hormon. Aku mudah sekali terharu dan menangis akhir-akhir ini. Kurasa ini karena bayinya ...."
Suara Yoana sangat pelan. Tapi terdengar dengan jelas oleh Simon dan juga Vincent. Kedua pria itu berdiri kaku karena terkejut.
"Astaga ... kau memang pintar memilih waktu, Saudariku. Suamimu sampai tidak bisa berkata-kata ...."
Yoana tidak menjawab, hanya melepaskan diri dari pelukan Vincent, lalu berbalik menghadap Catalina dan Claude yang sekarang tersenyum bahagia. Claude tersenyum lebar, tampak puas dan lega sudah menikah, sedang pengantinnya tampak merona dengan bibir sedikit bengkak karena terlalu lama dicium. Yoana tersenyum dan memeluk Catalina, meninggalkan Vincent yang masih mencoba menenangkan ledakan rasa terkejutnya.
Sebuah tepukan di bahu menyadarkan Vincent, pria itu baru bisa bergerak beberapa saat kemudian. Hamilton sudah berdiri di sampingnya dengan senyum lebar.
"Selamat, Vincent. Kau calon ayah sekarang. Biasakan dirimu."
"Oh, aku senang Leon akan segera punya sepupu. Kuharap itu anak lelaki. Jadi akan muncul dua orang yang akan membuat Mansion ini sangat ribut."
__ADS_1
Simon tersenyum lebar pada Vincent yang hanya menatapnya tanpa maksud menanggapi.
"Kuharap kau juga akhirnya menemukan seorang gadis yang bisa membuatmu menatapnya seperti Claude tadi menatap pengantinnya, Simon." Hamilton mengucapkannya seolah ia sedang berdoa.
Simon tersenyum lebar. " Aku tidak berminat, Paman. Aku tidak perlu masuk perangkap para gadis itu."
Vincent akhirnya bersuara." Akan ada suatu waktu, di mana kau akan dengan senang hati masuk ke ke perangkap itu, Bocah."
Setelahnya, Vincent menyambut Claude yang datang padanya. Kedua pria itu berpelukan. Namun mata Vincent tak lepas dari sosok mungil istrinya yang balik menatapnya dengan wajah merona.
Dua keluarga itu berbagi kebahagiaan. Menyimpan masing-masing semua memori dan moment malam itu di hati mereka. Kehangatan penuh kasih sayang dan luapan cinta yang besar di antara mereka.
Claude mendekati Catalina setelah memeluk satu demi satu seluruh anggota keluarga mereka.
"Kemarilah, Catty."
Catalina mendekat, masuk dalam rengkuhan lengan suaminya.
"Kau baik-baik saja?"
Catalina mengangguk. Namun Claude melihat titik keringat di atas bibir dan pelipis istrinya itu. Ia menatap ke arah semua anggota keluarga mereka yang menunggu dan balik menatap ke arah pasangan pengantin itu.
"Maaf semuanya. Catty harus segera kembali ke kamar. Ia berkeringat ...."
"Ak ... Aku baik-baik saja."
Claude menggelengkan kepala sambil membungkuk, lalu mengangkat pengantinnya itu dalam gendongannya.
"Jangan pikirkan kami. Pergilah bawa dia kembali ke atas , Claude. Kami akan tetap di sini dan melakukan perayaan." Yoana tersenyum pada adiknya.
Claude mengangguk, lalu melangkah meninggalkan keluarganya. Membawa pengantinnya yang baru pulih ke kamar agar bisa kembali beristirahat.
Ketika melangkah di sepanjang lorong menuju kamarnya, Claude mendekatkan bibirnya ke telinga Catalina yang bersandar di bahunya dengan kedua lengan bergantung di leher Claude.
"Aku ingin mengatakannya lagi, Catty ... Aku mencintaimu, Istriku," bisiknya sepenuh hati.
NEXT >>>>
*********
__ADS_1