Embrace Love

Embrace Love
CH 81. Bored


__ADS_3

Natalia memasukkan dompetnya ke dalam tas, kemudian membuka pintu kamar. Kamar yang ditempatinya sendirian sejak hari pernikahan, tanpa suami yang baru menikahinya. Melewati lorong, beberapa pintu kamar lalu menuruni tangga, Natalia bertemu ibu mertuanya, Nyonya Stefano.


"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Nyonya Stefano.


"Aku perlu melakukan sesuatu, Mom ...Aku akan kembali sebelum makan malam," ucap Natalia.


Nyonya Ambroz menatap menantunya yang melenggang pergi. menghembuskan nafas panjang memikirkan kehidupan pernikahan putranya. Luigi tidak pernah pulang menemui Natalia, sedari dulu memang sudah tinggal di apartemen, namun ia memasang batas pada istrinya, tidak mengajak istrinya tinggal bersama. Luigi tidak peduli dimana Natalia mau tinggal, tidak bicara dan bersikap dingin. Hadiah bulan madu dari tuan Stefano di biarkan begitu saja. Luigi menjauh, tidak peduli pada semua hal kecuali pekerjaannya.


Natalia mengunjungi kedua orang tuanya. Ibunya menyambut Natalia dengan senyum gembira dan pelukan hangat.


"Sayang ... apa kabarmu?" Nyonya Ambroz membelai rambut indah putrinya. Mereka berpelukan dalam diam. Natalia menyandarkan pipi ke pundak ibunya sambil menarik nafas panjang.


"Ada apa? Ceritakan padaku ...."


Natalia menggelengkan kepala, "tidak ada, Mom ...Aku hanya rindu padamu."


"Kau selalu bisa pulang, Natalia ... Kau sudah pernah bertemu lagi dengannya?"


"Tidak, Mom ...."


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Tidak ada ... Apa Tuan Stefano sudah melakukan janjinya?"


Natalia menarik ibunya ke arah kursi santai. Mereka duduk berdampingan dengan tangan saling bertaut.


"Segera setelah pernikahanmu, Tuan Stefano memenuhi janjinya. Suntikan dana ke perusahaan ayahmu mulai mengalir. Ayahmu sangat sibuk sekarang memperbaiki semuanya ... Dia mengatakan semuanya akan baik-baik saja ...."


"Syukurlah, Mom ... Ayah Luigi hanya mau membantu jika kami sudah menikah. Perusahaan ayah sudah tidak bisa menunggu, apa yang ayah dan kakek perjuangkan sejak dulu akan hilang, habis tak berbekas jika menunggu lagi ...."


"Natalia ... Karena itukah kau ....." Nyonya Ambroz berhenti bicara, bingung memilih kata-kata.


"Kami sudah bertunangan, Mom. Aku hanya mempercepat pelaksanaannya agar keluarga Stefano cepat membantu ayah."


"Tapi Sayang ... kehidupan pernikahanmu ...."


"Jangan fikirkan itu, Mom. Ketika melakukannya, aku sudah tahu resikonya. Aku akan kembali bekerja untuk mengisi waktu ...."


"Apa kau sudah mencoba bicara dengannya?"


Natalia terdiam, ia tidak pernah mencobanya dan juga tidak ingin. Pria angkuh yang tidak pernah melihat sama sekali ke arahnya itu makin dingin dan tidak peduli. Natalia membiarkannya, ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Maka, jika Luigi mau menjauh dan membuat kehidupan pernikahan mereka seperti suasana di kutub ... beku dan dingin, maka biarkan saja seperti itu.


"Cobalah Nat. Katakan sesuatu padanya. Dia suamimu sekarang, Natalia." Nyonya Ambroz menggenggam tangan putrinya erat-erat.


"Maafkan kami. Kau seharusnya tidak perlu melakukan ini ...." ucapnya lagi.


"Itu pilihanku, Mom. Aku tidak menyesal."


Nyonya Ambroz menatap dalam-dalam ke mata Natalia.


Ya ... tapi ada kesedihan yang mulai merambat di hati kecilmu, Nat. Ibu takut ia akan menjalar, lalu menutup seluruh hatimu ...


**********


Catalina memandang ponselnya dan mencoba sekali lagi menghubungi nomor Serge. Tidak aktif, setiap ia menghubungi nomor itu, selalu saja tidak aktif.


Mengambil tongkat penyangga yang ada di dinding sebelah tempat tidurnya, Catalina berdiri dan tertatih berjalan keluar kamar.


Kakinya sudah lebih baik sekarang, penyembuhannya bagus, begitulah perkataan dokter tulang yang memeriksa kakinya. Catalina sudah tidak sabar ingin pergi keluar. Ia ingin menemui Marylin. Selama ia diperbolehkan pulang, Marylin tidak pernah sekalipun menengoknya. Ia merindukan kakaknya itu.


"Anda mau kemana, Nona?" seorang pelayan menegur Catalina yang mulai menuruni tangga sendirian.

__ADS_1


"Aku mau keluar sebentar," ucap Catalina sambil tersenyum.


"Tapi, Nona ...."


"Nona Lina! Anda jangan turun!" Lea yang tengah menggendong Leon berjalan menghampiri.


"Oh, lihat. Anak Mommy sangat tampan. Kemarilah. Gendong Mommy." Catalina mengulurkan tangan. Namun Lea tidak mau memberikan Leon.


"Tidak, Nona. Jangan. Ayo naik lagi ke atas jika mau bermain bersama Leon," ucap Lea. Ia memandang khawatir pada Catalina yang berdiri di undakan tangga dengan tongkat penyangga dan tidak berpegangan, mengulurkan kedua tangan untuk mengambil Leon.


"Tidak apa-apa Lea. Sini, aku hanya ingin menciumnya ... tidak menggendong. Aku janji."


Lea akhirnya berjalan dan mendekat, ia mengulurkan Leon agar Catalina bisa mencium pipinya.


"Apa yang kau lakukan!" suara menggelegar itu terdengar dari bawah tangga. Semua orang menoleh dan mendapati Yoana sudah berdiri di bawah.


"Kau mau membuat kalian berdua jatuh? Menyangga dirimu sendiri saja kau belum benar! Bagaimana kau bisa menggendong Leonard!" Yoana berderap menaiki tangga.


"Aku tidak bermaksud begitu ..." Catalina menatap


Yoana, merasa sedikit bersalah karena niat awalnya memang mau menggendong Leonard.


"Lagipula kau mau kemana!? Tunggu Claude atau Vincent jika kau mau keluar!"


"Ummm .... Aku bosan Yoan ...." Catalina akhirnya mengaku.


Yoana menatap sambil menggelengkan kepalanya.


"Untung aku pulang ... Atau kau mau ikut? Aku akan kembali pergi ke kantor. Mengantarkan ini ...." Yoana menunjukkan sebuah berkas di tangannya.


"Hanya sebentar, kau boleh menunggu di mobil saja selagi aku turun. lalu kita akan pergi bersenang-senang. Bagaimana?"


"Tentu saja. Kau juga Lea. Siapkan tas Leon. Aku dan Catalina menunggu di bawah."


Lea dan juga pelayan yang tadi ada di sana mengangukkan kepala. kemudian berlalu untuk menyiapkan Leonard.


Yoana membantu Catalina turun dari tangga. Kemudian meneriakkan perintah pada salah seorang penjaga di aula depan untuk mengambilkan kursi roda Catalina.


Segera setelah semua siap, mereka melaju ke arah kantor. Catalina hanya menunggu di dalam mobil selagi Yoana menyelesaikan urusannya.


Yoana mengendarai sendiri mobilnya tanpa Vincent. Sengaja tidak memberitahukan apapun pada pria itu.


Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi, Yoana melirik dan melihat nama Vincent.


"Angkat itu, Lina. Katakan kita akan pergi berlibur. Kita lihat apa yang akan dia katakan"


Catalina mengernyit, merasa heran dengan ucapan Yoana. Ia lalu mengangkat ponsel .


"Hai, Vincent. Yoana tengah menyetir...."


"Catalina? Yoana bersamamu?"


"Ya ...."


"Kalian mau kemana?"


"Itu ...." Catalina berhenti, bingung karena Yoana memintanya berbohong. Ia menghidupkan pengeras suara ponsel agar Yoana ikut mendengar ucapan Vincent.


"Kami akan pergi berlibur! Katakan pada Claude juga!" teriak Yoana yang terdengar oleh Vincent.


"Jangan berulah, Yoan!" Vincent terdengar balik berteriak, membuat Catalina menjauhkan ponsel tersebut.

__ADS_1


"Siapa yag berulah! Memangnya aku butuh izinmu!"


"Lina! Catalina!” Vincent berteriak, sampai Catalina harus menutup telinganya.


"Aku di sini. Jangan berteriak Vincent. Aku mendengarmu dengan jelas." ucap Catalina. Yoana tertawa geli, senang mengetahui Vincent marah mendengar ia akan pergi.


"Katakan padaku di mana posisi kalian!" perintah Vincent tegas.


"Matikan ponselnya, Lina ... matikan!" Yoana memberi perintah.


"Jangan berani melakukannya ,Lina!"


Catalina kebingungan, ia menjauhkan ponsel yang segera diraup oleh Yoana. Wanita itu memutuskan hubungan, lalu ia tertawa terbahak.


Catalina dan Lea yag duduk di belakang meggelengkan kepalanya melihat perilaku Yoana.


"Kenapa kalian tidak menikah saja. Terlihat sekali Vincent sangat mencintaimu dan kau sangat mencintainya." Catalina menatap heran pada Yoana yang masih tertawa geli.


Seketika tawa Yoana berganti senyum pahit.


"Andai semudah itu, Lina ... Vincent sudah mengubur perasaannya itu. Dia hanya melaksanakan janji yang baginya adalah tujuan utamanya saat ini. Janji itu yang membuatnya masih berada di keluarga Bernard. Bukan cintanya padaku yang membuatnya masih di sini."


"Kurasa tidak. Dia masih di sini karena dia tidak bisa hidup tanpa melihatmu. Kau menyadarinya kan?"


"Hatinya seperti batu! Kau fikir sepuluh tahun ini aku tidak melakukan apapun? Aku bahkan pernah merendahkan diri dengan merayunya, melamarnya, mengajaknya menikah ... Hanya berakhir seperti angin lalu ...."


"Tapi dia sangat khawatir dengan dirimu. Apapun menyangkut dirimu dia ingin tahu ...Menurutku itu tanda, dia belum melupakan cinta kalian sepenuhnya."


"Percuma jika dia tidak mau menengok lagi pada cinta itu. Aku berfikir ... mungkin pergi dan menghilang beberapa saat bisa membuat diriku terbiasa tidak melihatnya, dan aku juga sangat ingin tahu bagaimana reaksi Vincent nanti."


"Dia akan mencarimu. Sampai ke sudut dunia sekalipun," ucap Catalina sambil tertawa kecil.


"Aku akan melakukannya ... setelah urusan pernikahanmu dan Claude beres." Yoana berkata dengan mantap dan yakin.


Catalina sedikit terkejut.


"Kau sudah mengurus pernikahan? "


"Tentu saja. Segera setelah kakimu sembuh,kalian akan menikah."


Catalina mengerutkan kening.


"Ada apa? Kau berubah fikiran? Kau sudah tidak dapat lari ... seperti katamu tadi, ke sudut manapun kau pergi di dunia ini, Claude akan menemukanmu, Lina."


N E X T >>>>


**********


From Author,


Yuk baca karya author yang lain ya, Klik profil author dan tekan tombol 'karya' atau cari novel dengan judul


Passion of My Enemy


Love Seduction


Dua-duanya gak kalah seru, dan bikin baper.


Terima kasih,


S****alam, DIANAZ

__ADS_1


__ADS_2