Embrace Love

Embrace Love
CH 52. Know and familiar


__ADS_3

Catalina sudah mandi dan begitu pun dengan Leonard. Ia memutuskan akan membawanya ke taman. Ia merasa perlu udara segar, seharian ini yang ia pikirkan adalah malamnya bersama Claude di pondok berburu di tengah hutan. Ciuman panas yang mereka lakukan di pondok itu. Juga sosok Claude di balik selimut yang membuat matanya jadi tidak tahu malu dan mengintip dada pria itu.


Catalina merona, bagaimana otaknya jadi begitu mesum, jantungnya berdebar lagi dengan aneh ketika ia mengingat ciuman mereka.


"Ada apa denganku ... ah, kemarilah, Leon. Kita pergi ke taman saja. Mommy sepertinya perlu udara segar untuk menjernihkan otak Mommy yang sedikit tercemar," ucap Catalina pada Leon yang segera mengulurkan tangan montoknya ketika Catalina terlihat mau menggendong.


Keduanya keluar dari kamar bayi, lalu menyusuri lorong, menuruni tangga dan berjalan lagi melewati beberapa ruangan untuk sampai ke taman samping mansion. Catalina melewati teras dan terus berjalan sampai ke sebuah gazebo. Ada sebuah ayunan yang terbuat dari besi dan dicat berwarna putih. Ia segera duduk lalu menghentakkan kakinya untuk membuat agar ayunan itu bergerak.


Catalina tidak menyadari ada seseorang yang duduk di kursi sudut teras ketika ia berjalan melewatinya. Simon Bernard menatap Catalina yang melewatinya sambil menggendong putranya Leon.


Ia menunggu sesaat sebelum akhirnya bangkit dan melangkah, mendekati ayunan yang bergoyang tempat Catalina duduk sambil bersenandung kecil dengan Leonard di pangkuannya. Simon mendengar Leon mengoceh dan sesekali terkekeh. Ia diam dan mendengarkan tak jauh dari ayunan.


Merasa diamati, Catalina menoleh ke arah samping. Simon Bernard sudah berdiri di sana dengan kedua tangan di dalam kantong. Pria itu tengah menatapnya dan Leon.


"Apa yang kau lihat!" cetus Catalina.


Simon menarik napas. Catalina belum melembut sama sekali. Masih bersikap bermusuhan, jauh sekali dengan sikapnya pada Yoana, bahkan pada Claude. Padahal dulu Catalina sama tidak bersahabatnya dengan kedua kakaknya itu. Menganggap mereka orang-orang sombong yang tidak layak mengasuh Leon.


"Aku melihat anakku. Apa itu tidak boleh? Berikan dia padaku, biarkan aku menggendongnya," ucap Simon.


"Tidak. Leon tidak suka kau gendong. Dia jadi rewel. Apa kau tidak ingat apa yang terjadi tadi, ketika kau memaksa menggendongnya!" sahut Catalina ketus.


Simon menarik napas panjang lagi, ia mengatur tatapannya memelas pada Catalina.


"Leon bersikap begini juga pada Yoana dan Claude saat ia pertama datang bukan? Dia hanya mau Mommy Catalina. Tapi sekarang, dia sudah akrab, mau bermain dan bahkan mengulurkan tangan ketika kedua kakakku mau menggendongnya. Kau yang membantunya menyesuaikan diri dengan kedua kakakku. Jadi sekarang, kenapa kau tidak mau membantuku agar Leon juga akrab denganku?"


Pertanyaan Simon tidak dijawab. Catalina hanya diam, hanya suara ayunan yang bergerak mengisi keheningan itu.


Simon lagi-lagi menarik napas panjang. Ia harus membujuk Catalina agar mau membantunya. Leon adalah putra kandungnya. Simon ingin dekat dengan putranya itu.


"Aku tahu, aku pria brengs** yang tidak bertanggung jawab. Tapi setiap orang bisa berubah bukan? Aku hanya ingin dekat dengan putraku. Aku ingin mengenalnya dan membuat ia mengenalku sebagai ayahnya," ucap Simon lagi.

__ADS_1


Catalina hanya menatap, tapi ia tetap diam. Tidak memberi respon apapun. Lalu bola matanya bergerak, melirik ke arah belakang Simon, dimana Claude sudah berjalan mendekati mereka.


"Kau harus selalu berada di sini jika kau ingin mengenal putramu, Simon. Kurasa sudah waktunya. Biarkan Leon sering melihatmu dan menghabiskan waktu bersamamu. Ia akan mengenalmu dengan sendirinya," ucap Claude.


Kedua pria itu memandang pada Catalina yang masih tidak bereaksi.


"Kurasa Kau juga mengerti bukan, Cat?" tanya Claude dengan tersenyum. Catalina menunduk, memandang wajah Leon yang tertawa dan mengulurkan tangan mengelus pipinya.


Leon ... keluarga ini menyayangimu dan memang keluarga ayah kandungmu. Kurasa kau berhak menerima cinta mereka, karena kau memang anggota keluarga mereka. Ayah kandungmu bahkan mulai meminta agar bisa dekat denganmu, ia menerimamu sekarang ....


Catalina hanya diam, tidak menyadari kedua kakak beradik di dekatnya menatap dengan mengernyit. Merasa penasaran dengan apa yang Catalina pikirkan.


Catalina sibuk dengan pikirannya. Jika Leon sudah akrab dan menyayangi keluarga Bernard. Apakah waktu baginya untuk pergi sudah tiba? Kesepakatan mereka dulu mengatakan, Catalina harus tetap berada di keluarga Bernard sampai Yoana maupun Claude akhirnya bisa diterima oleh Leon, lalu ia boleh pergi. Jika Catalina bersikap baik, Yoana akan mengizinkan ia datang dan melihat Leon jika nanti ia merindukan keponakannya itu.


"Apa yang kau pikirkan, Catty?" tanya Claude.


Simon menyadari, hanya Claude yang memanggil Catalina dengan Cat atau Catty. Mereka memanggil Catalina dengan nama Lina. Dengan tertarik ia memandang kakaknya yang melangkah dan bergerak duduk di ayunan besi di samping Catalina.


"Tidak ada. Kau benar ketika mengatakan ia harus tetap berada di sini dan menghabiskan waktu dengan Leon jika mau menjadi dekat dan akrab. Biarkan Leon terbiasa denganmu," ucap Catalina sambil menoleh ke arah Simon.


Simon mengangguk. "Berikan dia padaku, dia tidak akan rewel jika bisa melihatmu walaupun aku yang menggendongnya," ucap Simon dengan tangan terulur.


Catalina mengangkat Leon dan memberikannya pada Simon. Pria itu melangkah pelan, membawa putranya menjauh, namun sengaja mencari tempat dimana Catalina dan Claude masih terlihat.


"Adikku jauh berubah ... sangat jauh," ucap Claude dengan nada lega amat sangat.


"Apa ia semerepotkan itu?" tanya Catalina.


"Ya ... aku dan Yoana berulang kali harus menangani kekacauan yang ia buat. Ia menjadi sangat nakal dan liar setelah kematian ibu. Ia berangkat remaja kala itu, Ayah kehilangan semangatnya dan penyakit mulai menggerogotinya. Kondisinya lebih baik ketika ia berada di villa Green Forest. Jadi ayah lebih banyak menghabiskan waktu di sana. Dokter kami menyarankan ia tetap di sana. Aku dan Yoana harus memegang perusahaan dengan tiba-tiba. Membuat kami menjadi sangat sibuk, mempelajari semuanya dan bekerja menangani segala sesuatunya. Akhirnya kami mengambil keputusan memasukkannya ke asrama. Kurasa itu rencana yang salah. Simon merasa di jauhkan dan menjadi sangat nakal."


Catalina diam mendengarkan penjelasan itu. Ia menatap ke arah ayah dan anak yang sedang saling mengenal, Simon tampak sedang berbisik lembut pada Leon yang menatapnya dengan mata bulat besar berwarna biru.

__ADS_1


Claude menatap Catalina yang memandang jauh ke arah Leon dan Simon. Wajah polos tanpa make up gadis itu membuat Claude ingin sekali mengelus pipinya. Tapi ia menahan tangannya dan hanya puas dengan memandang.


"Apa nanti ... ketika adikmu menikah, Leon akan diterima?" tanya Catalina tiba-tiba.


Claude berkedip ketika Catalina tiba-tiba menoleh ke arahnya. Mata mereka berpandangan.


"Jika Simon akhirnya menikah, maka syarat utamanya adalah, wanita itu harus menerima putranya lebih dulu," ucap Claude yakin, ia menatap mata biru Catalina yang bertanya, lalu tanpa dapat ditahan, pandangan matanya turun ke bibir gadis itu.


Wajah Catalina merona kembali ketika mata Claude memandangi bibirnya. Otaknya tanpa bisa ditahan kembali mengingat ciuman mereka di pondok berburu. Catalina merasa malu, karena ia juga menikmati sentuhan Claude di bibirnya itu.


Claude menyadari rona merah yang merambat dari wajah hingga ke leher Catalina, ia menyeringai senang, tahu Catty juga teringat pada ciuman yang mereka bagi di pondok berburu.


"Apa yang sekarang sedang melintas di pikiranmu, Catalina Seymor? Wajahmu semerah tomat matang," ucap Claude dengan sengaja untuk menggoda Catalina.


"Tidak ada!" Lalu Catalina segera berdiri, melangkah cepat meninggalkan tempat itu dengan ayunan rok gaunnya yang bergoyang karena langkahnya yang sangat cepat.


Claude terkekeh, menyebabkan Simon yang melihat Catalina yang setengah berlari menoleh ke arahnya.


"Aku jadi sangat yakin, ada sesuatu yang terjadi antara mereka di pondok itu, Leon. Kau merasakannya juga?" bisik Simon di telinga putranya.


"Kurasa Daddy Claudemu menyukai Mommy Linamu," bisik Simon lagi dengan senyum lebar.


N E X T >>>


**********


From Author,


Jangan lupa like, love, bintang lima, vote, dan komentar ya my Readers...🙏🎉🎉👍


Terimakasih semuanya

__ADS_1


Salam, DIANAZ.


__ADS_2