Embrace Love

Embrace Love
CH 22. Breakfast


__ADS_3

Yoana mengernyit melihat Vincent yang duduk menyantap sarapannya sendirian.


"Dimana Claude?" tanyanya. Vincent mengendikkan bahu dan melanjutkan sarapan. Yoana sengaja duduk di seberang Vincent sehingga bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.


"Dia sudah pergi ke kantor?" tanya Yoana lagi. Vincent menggelengkan kepalanya.


"Jadi dia belum turun dari kamarnya?" Yoana menatap tak berkedip. Membuat Vincent mulai merasa risih.


"Kenapa kau selalu risih bila berbicara denganku! Kau tidak begitu ketika bersama Claude!" sungut Yoana. Vincent hanya diam tidak menjawab dan kembali melanjutkan makan.


"Katakan padaku satu hal, Vince ...." Yoana diam, sengaja memanggil nama Vincent dengan nama panggilan yang dulu sering ia gunakan, ia menunggu Vincent mengangkat kepalanya.


Setelah satu suapan lagi ke mulutnya, akhirnya Vincent mengangkat kepala memandang langsung ke mata Yoana.


"Apa kau akan bersikap seperti ini padaku jika dulu kejadian itu tidak terjadi, Vince?" tanya Yoana pelan.


Vincent berhenti mengunyah, ia menatap mata Yoana tajam. Tangannya yang memegang sendok berhenti di udara, tak jadi menyuap dan kembali ke atas piring.


"Kita tidak bisa merubah masa lalu, Nona." Dengan kata itu Vincent bangkit berdiri dan pergi begitu saja.


Yoana menarik napas panjang menatap punggung laki-laki yang tidak pernah meninggalkan singgasana hatinya itu.


"Hatiku tidak pernah berubah, Vince. Masih saja mencintaimu tanpa bisa berhenti. Aku sudah mencoba berhenti, seperti yang kau suruh ... tapi tidak pernah berhasil." Lama Yoana hanya duduk ditemani kesunyian di meja makan pagi itu.


**********


Claude mengatakan pada dirinya kalau ia menunda waktu turun karena ia perlu tidur tambahan, ia tidak bisa tidur semalaman. Menolak mengatakan bahwa ia sengaja, agar bisa melihat Catalina sebelum berangkat ke kantor.


Gadis itu telah berhasil membuatnya menyeringai sepanjang malam seperti orang bodoh, saat dulu kekasih lamanya Tania masih bersama Claude, ia tidak pernah merasa sesenang itu menggoda seorang gadis, Tania kekasihnya dulu cenderung manja, selalu minta diperlakukan seperti seorang putri, Latar belakang dan sifatnya sangat bertolak belakang dengan Catalina.


Claude tak bisa tidur sesudah tindakan Catalina yang menyiram dadanya dengan pitcher berisi air minum, dan sekarang, pagi ini Claude ingin melihat gadis itu lagi. Jangan sampai Yoana tahu tentang perilaku konyolnya ini atau kakaknya itu tidak akan berhenti menggodanya.


dengan berlambat-lambat, Claude mengancingkan kemeja dan mengenakan celananya. Ia memasang dasi lalu menyisir rambut dan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhnya. Claude mengernyit, merasa seperti bocah remaja yang sedang kasmaran pada seorang gadis. Tapi ia tidak memungkiri hatinya memang merasa senang akan bertemu Catalina.


Ia menarik jas dan segera mengenakannya sebelum membuka pintu kamar dan turun menuju meja makan. Dugaannya benar, Catalina akan turun sarapan ketika mereka semua sudah pergi. Gadis itu hanya berinteraksi dengan Yoana, itupun hanya segala sesuatu yang berhubungan dengan Leon. Ia menghindari bertemu atau berbicara sesedikit mungkin pada Claude ataupun Vincent.


Catalina baru saja akan mulai mengolesi rotinya ketika Claude memasuki dapur, gadis itu melanjutkan pekerjaannya dan mengabaikan Claude. Claude mendengus dalam hati.


Gadis lain akan dengan senang hati menyambutku, Tapi kau Cat ... kau malah berpura-pura tidak melihatku.


Setelah menuang segelas jus, Claude mengambil posisi duduk di hadapan Catalina agar leluasa memandang wajah gadis itu.


"Aku juga mau rotinya." Claude berucap dan menatap roti yang sudah diolesi selai di tangan Catalina.

__ADS_1


Gadis itu melirik lalu mendorong botol selai buah dan tempat roti yang ada di atas meja dihadapannya ke arah Claude.


"Tidak. Yang sudah jadi. Itu." Claude menunjuk roti di tangan Catalina.


Catalina mengernyit. "Olesi sendiri rotimu, ini punyaku."


"Tidak. Aku bilang yang itu," ucap Claude datar. Catalina menatap Claude dengan mata biru indahnya, tatapan membangkang yang menatap meremehkan ke arah Claude sambil tangannya mengangkat gelas jus dan menyesap tanpa mengalihkan tatapan.


Catalina tidak menyadari terdapat sisa jus di sudut bibirnya. Claude menatap balik tak berkedip, sedikit melirik ke arah sisa jus yang menempel di bibir merah ranum gadis itu.


Catalina lalu mulai menggigit roti yang ia buat. Sengaja matanya menatap Claude menantang.


"Kau makan yang itu. Kau harus buatkan lagi untukku!" perintah Claude.


Catalina menatap remeh mendengar perintah itu, kembali ia menggigit rotinya dengan santai.


"Ini enak," ujarnya kurang ajar sambil mengunyah.


Claude tertawa geli dalam hati melihat Catalina makan sambil bicara. Gadis itu masih tidak mengindahkan perintahnya.


"Cat ... buatkan satu untukku." Claude meminum jusnya setelah kembali memberi perintah.


"Aku katakan silakan buat sendiri, Tuan." Balas Catalina dengan manis. Kembali ia menggigit roti di tangannya dengan berlagak tidak peduli di depan Claude. Membuat Claude sangat gemas dan ingin memberinya sedikit pelajaran.


Claude berdiri dari kursinya mendatangi Catalina. Gadis itu sedikit memiringkan badan dan mendongak melihat Claude yang sudah berdiri sangat dekat ke tempat duduknya. Claude mengulurkan tangan dan mengambil sisa roti yang dipegang oleh Catalina. Lalu Claude membungkuk, membuat matanya sejajar dengan mata biru jernih gadis itu.


Claude tidak dapat menahan dirinya ketika melihat sisa jus yang menempel di sudut bibir gadis itu, Ia mendekat dan menjilat bibir Catalina, mengecup rasa manis jus di sudut bibir itu. Gadis itu terbelalak lebar ... shock luar biasa.


Claude kembali bangkit dan mulai melangkah meninggalkan Catalina yang terdiam kaku, kebas, sampai lupa untuk bernapas sebelum menyadari parunya terasa mau meledak dan ia menghirup udara dengan rakus sebanyak-banyaknya.


Claude menggigit dan mulai mengunyah roti yang ia rampas sambil tersenyum lebar. Gotcha!


Sebelum menghilang, Claude mendengar nada tak percaya dan ucapan terbata Catalina.


"Kau ... kkkk ... kkau!" Catalina berteriak. Membuat senyum lebar di bibir Claude berubah menjadi tawa terbahak.


**********


"Kita bicarakan nanti saja. Aku akan meninggalkanmu sendiri." Vincent berkata datar.


"Apa? Apa maksudmu?" Claude mengernyit.


"Kau sama sekali tidak mendengarkanku sedari tadi, Claude!" Vincent melipat tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Oh!" Claude menatap Vincent beberapa saat. Lalu berdeham dan menelan ludahnya beberapa kali, merasa sedikit bersalah karena tidak fokus.


"Apa yang kau pikirkan?" Vincent menyipitkan matanya memindai wajah Claude.


"Tidak ada." Tapi tak urung sebuah senyum kecil tersungging di bibir Claude, ia tak mampu menahannya. Vincent menaikkan alisnya heran.


"Hmmmm ... kau terlihat aneh! Kau turun sarapan terlambat, kau datang ke kantor sedikit terlambat, lalu kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila sejak menginjakkan kaki di gedung ini."


"Aku tidak gila, Vincent!" sungut Claude.


"Aku bilang seperti," ucap Vincent.


"Berhentilah menginterogasiku seperti terdakwa!"


"Kau bersikap seperti anak kecil yang tertangkap basah, Claude Bernard ...." Vincent menyipit.


Rona merah melintas di wajah Claude sebelum akhirnya berganti menjadi ekspresi jengkel dan kesal.


"Berhenti mengurusiku! Sebaiknya kau mengurus dirimu sendiri! Saudariku tidak akan berhenti memburumu!" ejek Claude.


Vincent hanya menjawabnya dengan dengusan keras. "Apa kau bertemu Lina pagi ini? Itukah yang menyebabkanmu kehilangan konsentrasi?"


"Kau mulai cerewet, Vincent! Persis seperti Yoana!"


"Aku tidak cerewet!" Vincent berjengit jijik mendengar Claude mengatainya cerewet. Bagi Vincent, cerewet hanya identik dengan makhluk bernama wanita.


"Kau sebenarnya sangat cocok dengan Yoana." Claude hanya bermaksud menyindir, namun kata-katanya ternyata mampu membuat Vincent terdiam. Pria itu berhenti menanyainya tentang Catalina.


Seteguh itukah hatimu menolak kakakku Vincent. Kau menentukan batasmu tanpa kompromi.


Claude menarik napas panjang, memikirkan kakaknya yang sama sekali tidak punya kesempatan.


N E X T >>>


**********


From author


Mohon maaf semuanya...jadwal update lama dan tidak teratur, thor hanya mampu menulis di sela-sela waktu sehingga tidak maksimal untuk memuaskan keinginan para readers buat up tiap hari, apalagi buat crazy update. Maaf ya semua.... lagi full seharian ada kerjaan. semoga maklum🙏🙏🙏


jgn lupa like dan tetap komentar ya readers🙏 Buat vitamin penyemangat author. Bintang lima dan favoritenya juga.


Sampai chapter ini memang belum ada konflik ya....semoga tetap sabar and setia nungguin kisahnya bergulir dengan konflik demi konflik di chapter2 yang akan datang.

__ADS_1


Terimakasih semua.


Salam, DIANAZ.


__ADS_2