Embrace Love

Embrace Love
CH 60. Forced kiss


__ADS_3

Orang-orang yang datang sebagai undangan pesta seperti tidak pernah berhenti mendatangi pasangan dr. Luigi dan Natalia untuk memberi ucapan selamat atau bahkan hanya untuk sekedar menyapa. Luigi menahan rasa geram di hatinya dan tetap berusaha memasang senyum ramah di wajah.


Matanya liar mengawasi pergerakan Catalina dan Claude Bernard. Ia harus mencari kesempatan untuk bicara dengan Catalina, melihat jika ada celah sedikit saja agar dapat menyingkir dan menarik gadis itu pergi bersamanya, menghilang sebentar dari keramaian pesta.


Satu kesempatan tiba saat Claude terlihat meninggalkan Catalina. Pria itu melihat Vincent yang memberi tanda padanya agar datang mendekat.


"Catty, ayo kita ke sana. Aku ingin menemui Vincent." Claude melihat Vincent memberi kode padanya agar datang.


"Pergilah lebih dulu, Claude. Aku akan ke kamar kecil sebentar," ucap Catalina.


"Nanti saja, kita ke sana dulu." Claude menghela lengan Catalina. Ia ingin tahu dengan segera apa yang ingin Vincent katakan, apakah ia melihat sesuatu yang mencurigakan? karena Claude melihat Alrico Lucca mendekati Yoana di kejauhan.


Catalina tertawa kecil mendengar ucapan Claude.


"Claude, Aku mau ke toilet sebentar. Mana bisa dilakukan nanti saja. Pergilah ... nanti aku menyusul," ucap Catalina menyakinkan Claude agar meninggalkannya.


Dengan sedikit ragu, Claude akhirnya meninggalkan Catalina yang juga segera berbalik ke arah berlawanan. Catalina melangkah menuju lorong, bermaksud mencari toilet. Baru beberapa langkah ia memasuki lorong, sebuah tangan terasa memegang dan menariknya.


Catalina mengernyit dan menyadari dengan terkejut dokter Luigi lah yang tengah menarik tangannya saat ini.


"Dokter Luigi, kenapa ... Dokter, kenapa Anda menarikku?"


"Catalina , sudah kukatakan sejak dulu, panggil aku Luigi."


Luigi menarik Catalina menuju sebuah pintu. Ia membukanya dan kemudian menarik Catalina agar masuk bersamanya, lalu kembali menutup pintu.


"Lina, aku perlu bicara denganmu," ucap Luigi.


"Uh, harusnya kau bicara saja, tidak perlu menarikku kemari. pergelangan tanganku sampai sakit." Catalina mengelus pergelangan tangannya yang ditarik oleh Luigi.


"Maafkan aku. Aku tadi ingin cepat-cepat. Sebelum Claude Bernard melihat lalu menempelimu lagi seperti sebelumnya."


Catalina tidak menjawab. Merasa sedikit aneh dengan perilaku Luigi. Dia datang ke pesta itu bersama Claude, wajar saja sejak tadi ia kemana-mana bersama Claude.


"Ada apa? Apa sebenarnya yang ingin ...." ucapan Catalina berhenti ketika dengan lembut dokter Luigi memegang tangannya yang tadi ditarik, memeriksa pergelangan tangan itu sambil mengelusnya perlahan.


"Apakah masih sakit?" tanya Luigi lembut.


Catalina merasa sedikit jengah dengan tindakan dokter itu. Ia menarik tangannya, namun dokter Luigi tidak melepaskannya.


"Lina ... aku ...," ucap Luigi terbata.


"Ada apa sebenarnya Dokter? Lepaskan tanganku dulu. Kita bicara di luar saja, Jangan di sini. Kau tidak mau tunanganmu salah paham bukan? " Catalina mengucapkannya dengan sedikit nada bergurau.


"Natalia bukan urusanku ... salah paham atau tidak tidak ada hubungannya denganku."

__ADS_1


Ucapan Luigi membuat Catalina mengerutkan keningnya.


"Dokter Luigi ... dia tunanganmu, kenapa bicara begitu?" ucap Catalina.


Luigi menatap mata Catalina, memuaskan kerinduannya untuk melihat mata biru itu lagi.


"karena Aku tidak mencintainya, Lina. Kau tentu tahu, dia adalah gadis yang dipilihkan kedua orang tuaku," ucap Luigi.


"Tetap saja ... sekarang kau sudah bertunangan, Ah, aku belum mengucapkan selamat untukmu, Dokter. Aku harap kau selalu berbahagia," ucap Catalina sambil tersenyum.


Luigi menatap senyum itu lama, sampai senyum Catalina akhirnya pudar melihat kesedihan yang terlukis di wajahnya.


"Dokter? Anda kenapa? Apakah ada ucapanku yang salah?"


"Lina ... Jangan katakan kalau selama ini kau sama sekali tidak tahu. Aku tahu kau tahu perasaanku padamu, Lina."


"Jangan bicarakan itu lagi. Tinggalkan perasaan itu di masa lalu, Dokter. Jalanilah hidup Anda dengan penuh kebahagiaan."


Luigi mengeretakkan geraham mendengar ucapan Catalina.


"Aku mencintaimu, Lina ... sejak dulu ...."


Catalina terbelalak mendengar pernyataan tiba-tiba itu.


Luigi memegang kedua lengan Catalina. Memaku matanya pada mata Catalina yang membulat besar menatapnya dengan terkejut.


"Dokter Luigi ...." Catalina tanpa sadar menyebut nama pria itu. Tidak tahu mau mengatakan apa pada pria yang terlihat sedih dan putus asa itu.


"Lina ... katakan padaku, andai aku punya kebebasan memilih dan orang tuaku tidak menentukan gadis yang akan menjadi menantu mereka, andai aku bebas menentukan pilihan, lalu aku memilihmu ... apakah kau akan menerima? Apakah sedikit saja kau bisa membalas perasaanku? Andai sejak awal, tidak ada alasan yang membuatmu harus menjaga jarak dariku, apakah kau mungkin bisa mencintaiku juga, Lina?"


Catalina menarik napas panjang sebelum mengucapkan kata-kata yang ada di pikirannya.


"Dokter Luigi, Anda adalah orang yang sangat baik. Anda dengan tulus membantu orang lain, Anda hebat dengan pekerjaan Anda. Aku mengagumi Anda karena hal itu. Tapi perasaan tidak dapat di paksakan, Dokter. Aku minta maaf ... aku tidak dapat membalas perasaan Anda."


Ucapan Catalina membuat tatapan Luigi mengeras. Tangannya meremas lengan Catalina hingga gadis itu mengernyit.


"Kau benar ... perasaan tidak dapat dipaksakan. Seperti perasaanku, aku tidak dapat memaksa otakku agar berhenti memikirkanmu, tidak dapat memaksakan hatiku agar berhenti mencintaimu. Melihatmu lagi hari ini hanya membuatnya terlepas dengan kerinduan yang amat sangat, Lina! Harusnya kau tidak datang!"


Lalu seperti tidak dapat menahan perasaannya lebih lama lagi, dokter Luigi mendekatkan wajahnya pada Catalina, memagut bibir gadis itu dengan bibirnya, mencium dan ******* bibir Catalina dengan penuh kerinduan.


Catalina berusaha melepaskan diri, kedua tangannya mendorong dada Luigi, ia menggelengkan kepalanya agar terlepas dari serangan bibir Luigi.


Luigi memegang kepala gadis itu, menahannya agar tidak bergerak, tangan Catalina yang mendorongnya sama sekali tidak membuatnya berhenti, tangan itu sekarang telah menjadi kepalan dan ganti meninju dadanya berulang kali.


Luigi seolah hilang akal, ketidakberdayaannya menolak keinginan orang tua dan kemarahan karena melihat kemesraan Catalina dan Claude membuat pikiran jernihnya tertutup, ciumannya mulai kasar dan penuh pemaksaan.

__ADS_1


Catalina sangat terkejut, tidak menyangka Luigi akan memaksakan ciuman padanya. Ia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mulai melawan, tapi usahanya tidak berhasil, kedua tangan Luigi menahan kepalanya dengan sangat kuat, dorongannya pada dada pria itu seperti tidak berarti. Catalina akhirnya melakukan usaha terakhir dengan menggigit bibir Luigi sekuat tenaga.


Dengan teriakan kesakitan, Luigi akhirnya mundur. Ia memegang bibirnya dan terkejut melihat Catalina yang sudah berurai air mata.


"Aku sangat menghormatimu, kau seorang dokter dan pria yang baik ... jangan lakukan ini ... jika memang tidak ada lagi yang bisa kau lakukan untuk merubah keadaan, maka mulailah menerimanya dan melakukan yang terbaik agar kau bisa berbahagia, kau berhak bahagia... dan aku ingin kau bahagia ... tapi tidak denganku, Dokter." Catalina terisak, hatinya sakit menerima perlakuan dokter Luigi, ia tahu pria itu sedih dan putus asa.


Pintu terhempas terbuka. Claude, Yoana, Vincent dan seorang pria yang tidak dikenal oleh Catalina telah berdiri di depan pintu. Claude menatap marah pada Luigi. Ia baru saja akan melangkah dan menghajar pria itu ketika Catalina yang terlihat tengah menangis berlari dan langsung memeluknya.


"Claude, aku mau pulang," ucapnya sambil terisak.


Claude menahan keinginannya untuk menghajar Luigi. Ia balik memeluk Catalina dan hanya menatap tajam pada Luigi yang menatap nanar pada Catalina sambil memegang bibirnya.


"Tentu, Catty. Kita pulang sekarang."


Setelah satu lirikan tajam memperingatkan pada dokter Luigi, Claude menghela bahu Catalina dan mengajaknya meninggalkan ruangan itu. Langkahnya diikuti oleh Yoan dan pria yang merupakan orang yang Vincent tempatkan di pesta untuk menjaga keamanan Yoana. Pria itulah yang memberitahu Vincent dan Claude bahwa Catalina terlihat ditarik paksa oleh dokter Luigi ke sebuah ruangan.


Yoana dan Vincent melangkah perlahan di belakang Claude. Ia menyuruh Claude langsung membawa catalina keluar sementara Yoana berpamitan pada nyonya Ambroz yang hanya tersenyum dan tidak tahu apa-apa tentang perbuatan tunangan putrinya.


Setelah berpamitan, Yoana menggandeng lengan Vincent dan berbisik sambil melangkah keluar menyusul Claude.


"Kau menyadarinya?" tanya Yoana.


"Apa?" tanya Vincent.


"Catalina ... ia sudah dekat dengan kita semua, padaku malah lebih dekat, karena kami terus bersama-sama mengurus Leon. Tapi tadi ... sambil menangis, ia langsung lari dan memeluk Claude, bukan aku," ucap Yoana.


Vincent berpikir lalu mengangguk. "Kau benar," ucap Vincent.


"Apakah aku boleh berharap akan menyelenggarakan pesta pernikahan sebentar lagi?" tanya Yoana senang.


Vincent terkekeh. "Itu tergantung adikmu, Yoana."


Yoana tersenyum sambil melangkah, gembira karena tanpa disadari oleh Vincent, laki-laki itu telah memanggilnya Yoana tanpa embel-embel nona di depannya. Hal kecil yang membuat semangat Yoana membubung dengan kebahagiaan.


N E X T >>>


**********


From Author,


Ada sedihnya pas nulis ini, sedih untuk dokter Luigi😒😒😒


Jangan lupa like ,love, bintang lima, favorite dan komentarnya ya. penyemangat buat thor nulis di sela kesibukan pekerjaan yang padatπŸ˜¬πŸ˜¬πŸ’žπŸ˜πŸ˜


Terima kasih semuanya.

__ADS_1


Salam, DIANAZ.


__ADS_2