
Natalia melihat ke arah jendela ketika mendengar suara tetes air turun di atas atap.
"Hujan!" seru Natalia sambil bangkit dari kursi dapur. Ia bermaksud pergi ke luar dan mengangkat pakaian yang tadi ia jemur di luar bersama Laura. Tadi matahari tampak bersinar hingga Nat dan Laura memutuskan menjemur di luar. Pakaian yang baru diangkat dan terasa kering karena hangat matahari lebih memuaskan dibanding hanya kering oleh mesin pengering. Mereka memutuskan mulai mencuci dan membersihkan seluruh linen di rumah itu.
"Tidak, Nat. Duduk saja. Biar aku!" perintah Laura. Tapi Natalia tidak mendengarkan perintah itu. Ia tetap melangkah menuju pintu dapur, lalu melewati beranda belakang, setelahnya menuruni undakan tangga pendek dan pergi ke jejeran tali untuk mulai mengangkat seluruh linen dan pakaian yang tadi mereka jemur.
Di bagian depan rumah kayu yang ditinggali oleh Natalia, mobil Luigi baru saja menepi. Luigi langsung berlari karena hujan gerimis yang mulai membasahi bumi. Ia tiba di beranda depan rumah kayu yang amat cantik dengan kehadiran pot-pot berisi bunga-bunga yang diatur rapi dan asri. Luigi mengetuk beberapa kali, lalu memanggil dan mengucapkan salam, namun tetap tidak ada yang mendengarnya, juga membukakan pintu.
Luigi melirik ke samping rumah, petak-petak bunga menghiasi sebuah jalan berbatu menuju bagian belakang, jalan yang pasti juga mengarah ke danau Cristal Clear Lake yang berada tak jauh di belakang rumah itu. Mengikuti kata hatinya Luigi menuruni beranda dan melangkah melewati jalan setapak berbatu itu. Hujan gerimis yang turun membasahi kulit lengan Luigi yang tidak tertutupi kemeja, Luigi baru saja ingin membatalkan niatnya untuk melihat dan akan berbalik kembali ketika suara orang berteriak memasuki telinganya.
"Masuklah, Nat! Nanti kau basah! Biar aku saja!"
Nat!? Luigi kembali melangkah dengan cepat menuju bagian belakang rumah. Matanya mengitari tempat itu. Di bawah gerimis yang turun dan mulai membasahi bahu dan kepalanya, ia melihat seorang wanita yang terburu-buru menarik pakaian yang tersampir di tali dan memasukkannya ke dalam keranjang. Luigi melangkah mendekat dengan sangat perlahan. Ada seorang lagi yang berdiri di ujung sana, dibalik sebuah seprai lebar berwarna hijau yang tengah ditarik. Luigi hanya bisa melihat kakinya di balik linen itu.
"Oh, Nat! Kau keras kepala! Masuklah!" ujar wanita yang tadi mengangkat keranjang. Luigi menelan ludah, mendengar tawa kencang dari seseorang di balik linen. Suara tawa Natalia.
Lalu seprai itu ditarik keseluruhan. Memperlihatkan seorang wanita yang mengenakan gaun longgar berbahan kaos berwarna putih kekuningan dengan panjang selutut. Gaun yang mencetak dengan jelas keadaan perut wanita itu yang tengah hamil. Luigi terpaku, matanya menatap ke arah perut yang membesar itu, lalu berpindah ke sosok wanita itu secara keseluruhan.
Natalia merasakan dan menyadari ada orang yang datang, ia melirik lalu tiba-tiba terdiam kaku ketika menemukan sosok Luigi berdiri tak jauh dari sana. Matanya membelalak lebar, terkejut dan tubuhnya terpaku.
Laura yang melihat keanehan pada tatapan Natalia langsung berbalik, menoleh ke arah pandangan Natalia. Laura sama terkejutnya ketika melihat Luigi.
Laura lah yang pertama kali membuyarkan keheningan itu, karena gerimis yang turun mulai berubah menjadi tetes air yang lebih deras. Ia mendekat dan menarik tangan Natalia.
"Nat ...," ucap Laura pelan.
Seolah tersengat listrik, Natalia menarik tangannya. Ia menelan ludah, lalu mulai berlari ke arah rumah dengan sangat kencang.
"Nat!" teriak Laura panik. Ia takut Natalia tergelincir melihat cara wanita itu berlari. Laura dan Luigi menatap ke arah Natalia yang menghilang di balik pintu.
Lalu Laura mendekat ke arah Luigi.
"Anda datang, Dokter ...." ucap Laura.
Luigi hanya mengangguk. Mereka berdua sudah basah kuyup di bawah guyuran air hujan.
"Ayo masuk, Dokter." ajak Laura.
"Panggil aku Luigi, Laura. Kau Laura bukan?"
Bekas pengasuh Natalia itu tersenyum sambil mengangguk.
"Kita mengobrol di dalam saja ... ayo ...."
Laura mengajak Luigi masuk. Setelah meletakkan keranjangnya, ia menghilang ke sebuah ruangan, lalu kembali beberapa saat kemudian dengan membawa sebuah handuk lebar.
"Gunakan ini, Luigi. Kau basah ... hmm, sepertinya aku tidak punya pakaian ganti."
"Aku membawa pakaianku, Laura. Di dalam mobil. Aku akan menurunkannya dulu."
Laura hanya mengangguk. Ia melihat Luigi keluar dan memikirkan kalau suami Natalia itu pasti sudah berniat menginap jika sudah membawa koper berisi pakaiannya.
Setelah Luigi kembali, Laura langsung mengarahkannya ke sebuah kamar.
"Anda bisa ganti di sini. Di dalam ada kamar mandinya," ucap Laura.
"Di mana dia, Laura?"
Laura tahu Luigi menanyakan Natalia. Ia hanya menunjuk ke sebuah kamar tepat di samping kamar yang akan digunakan Luigi.
Luigi mengangguk, menyadari Natalia mengurung dirinya di dalam kamar setelah lari masuk ke dalam rumah. Luigi lalu masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi. Ia akan mengajak Natalia bicara setelah mandi dan mengganti pakaiannya dulu.
Di dalam kamarnya, Natalia bolak-balik dengan gelisah. Ketakutan melanda hatinya, Luigi pasti sudah melihat keadaan perutnya yang membesar. Bagaimana perasaan pria itu terhadap kehamilannya? Lalu kenapa ia mencari sampai ke Crystal Clear?
Ketukan di pintu membuat Natalia terlonjak, lalu ia mendengar suara Laura memanggilnya.
"Nat ... ini aku, buka pintunya."
__ADS_1
Natalia membuka pintu lalu mengintip di sela pintu yang terbuka.
"Dimana Dia, Laura?"
"Di sana." Laura menunjuk ke arah pintu di sebelah kamar Natalia yang tertutup.
"Suamimu sedang mandi dan ganti pakaian."
Natalia mengernyit dengan wajah pucat. Laura memegang pintu dan memandang Natalia yang gelisah, "Nat ... buka pintunya. Izinkan aku masuk. Kita bicara di dalam."
Natalia mengangguk, lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar agar Laura bisa masuk. Kemudian ia menguncinya lagi dari dalam.
"Dia jauh-jauh datang kemari. Bicaralah dengannya. Setidaknya dengarkan apa yang dia katakan, Nat."
"Dia tidak mau bicara denganku, Laura. Sudah begitu lama dan kenapa baru sekarang dia baru mau bicara? "
"Nat ... Kau sendiri yang mengatakan wajar saja ia murka waktu itu karena apa yang telah kau lakukan."
"Iya. Aku tahu. Tapi ...kenapa kini dia datang?"
Laura terkekeh pelan. "Natalia ... untuk itulah kau temui dia. Bicara dengannya. Kau akan tahu mau apa suamimu kemari. Dia pasti sudah melihat tadi ... perutmu besar. Seorang suami akan menanyakan hal itu. Kau tidak bisa bersembunyi lagi."
"Aku jadi takut, Laura ... uh ...." Natalia memijit pelipisnya.
"Sekarang kau ganti baju saja dulu, Nat. Bajumu lembab. Lalu beristirahatlah. Aku akan bilang kalau kau sedang istirahat jika nanti Luigi menanyakanmu."
"Ya ... Aku mau tidur saja," ucap Natalia.
Apapun ... asal jangan berhadapan dengan pria itu sekarang, batin Natalia gelisah.
Laura mencari sebuah gaun longgar, lalu membantu Natalia mengganti pakaiannya. Setelah itu ia keluar dari kamar.
Natalia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia memutuskan akan melihat, seperti apa reaksi Luigi. Dia datang kemari pasti dengan maksud tertentu bukan ... Natalia menatap ke arah dinding kamar sebelah. Mendengarkan suara dan gerakan dari ruangan itu. Pria dingin itu datang sampai ke Crystal Clear Lake, apa yang membuatnya datang, tidak mungkin ia sudah tahu kalau ia hamil. Orang tuanya saja tidak tahu ....
Luigi yang sudah keluar dari kamar, segera mencari Laura. Ia membawa kotak berisi kue yang dititipkan oleh ibu Natalia. Setelah menemukan Laura yang berada di dapur, Luigi meletakkan kotak kue di atas meja lalu menarik sebuah kursi.
"Apa Natalia masih di kamar?"
Luigi melihat Laura menyeduh dua gelas teh. Lalu menyiapkan sepiring biskuit. Wanita itu meletakkannya di hadapan Luigi. Satu gelas teh untuk Luigi, dan satu lagi untuk dirinya sendiri.
Setelah duduk di hadapan Luigi, Laura tersenyum.
"Minumlah, Luigi. Mumpung masih hangat."
"Terima kasih, Laura." Luigi menyesap tehnya, lalu memandang ke arah jendela dapur. Hujan masih turun dengan deras di luar sana.
"Dia ke sini sendirian?" tanya Luigi tiba-tiba pada Laura.
"Ya."
"Dia menceritakan padamu kalau dia hamil?"
"Ya ... juga semua cerita lainnya."
Luigi mengangguk, mengerti yang dimaksud Laura dengan cerita lainnya. Natalia pasti sudah menceritakan perihal hubungan mereka.
"Anda tahu dari mana kalau Nat hamil? Tuan dan Nyonya Ambroz tidak ada yang tahu."
"Seorang teman. Yang telat memberitahu. Ia sudah lama tahu sejak pertama bertemu Natalia di rumah sakit. Tapi ia tidak memberitahuku atas permintaan Natalia, berpikir mungkin Nat ingin mengabarkannya sendiri padaku." Luigi kembali menyesap.
Laura hanya diam, menyesap tehnya sendiri.
"Apa dia punya keluhan? Maksudku selama kehamilannya ini ...."
"Selama Nat berada di sini, tidak. Dia sehat, makan apapun yang dia inginkan, juga terlihat gembira. Dia menanti dengan sangat bahagia kehadiran bayinya. Dia bilang sudah merasa tenang... Aku tidak tahu keadaannya sebelum itu, bagaimana dia sebelum datang kemari."
Luigi termenung, memandangi jendela yang mengembun. Sebelum itu Natalia tinggal di apartemennya, dan pasti merasa tertekan hidup bersama seorang pria yang bersikap amat dingin dan tidak peduli padanya.
__ADS_1
"Setelah dia beristirahat, bicaralah dengannya,"
Luigi menoleh, lalu hanya menganggukkan kepalanya pada Laura.
*********
"Nat! Buka pintunya. Kau sudah tidur terlalu lama. Hari sudah malam. Ayo makan malam." Luigi mengetuk pintu kamar Natalia yang masih tertutup. Tidak ada jawaban dari dalam. Natalia hanya memandang ke arah pintu tanpa beranjak dari atas kasur yang ia duduki.
"Ada kue titipan dari ibumu. Aku sudah jauh-jauh membawanya. Ibumu baru saja menelepon, ia menanyakanmu."
Hening. Luigi menarik napas panjang.
"Nat ... Aku lelah. Aku makan malam duluan ya. Aku mau tidur cepat."
Luigi berbalik setelah tidak ada jawaban dari dalam kamar. Laura menyambutnya di pintu dapur.
"Anda mau makan malam sekarang?" tanya Laura.
"Tidak Laura. Aku tidak lapar."
Laura tampak kebingungan. Luigi hanya mengambil air putih lalu minum. Kemudian pria itu mengucapkan selamat malam.
"Istirahatlah, Laura. Kurasa Nat akan keluar jika aku sudah tidur. Aku akan pergi tidur. Selamat malam."
"Selamat malam, Luigi."
Satu jam setelahnya, Natalia tidak lagi mendengar apapun dari arah luar maupun dari kamar Luigi. Perlahan ia berdiri, lalu melangkah tanpa alas kaki di lantai kayu, perutnya terasa lapar, bayinya sudah protes, terasa seperti jungkir balik di dalam perut. Natalia memegang perutnya dan tersenyum.
Sabar Sayang ... kita akan makan sebentar lagi. Ia mengelus perutnya memutar, mencoba menenangkan bayinya yang bergerak.
Natalia membuka pintu kamarnya pelan-pelan. Lalu ia memandang berkeliling, Lampu-lampu ruang tengah dan di depan sudah dipadamkan, Hanya lampu luar dan bagian dapur yang masih menyala. Dari arah bawah pintu kamar Luigi juga terlihat gelap. Sepertinya pria itu sudah tidur. Natalia juga melirik ke bawah pintu kamar Laura ketika ia melewatinya untuk menuju dapur. Kamar itu juga sudah redup. Natalia bergegas menuju dapur. Ia langsung menuju kulkas dan mengintip ke arah dalam. Ia tersenyum menemukan makanan di dalam wadah tertutup yang tentu saja disiapkan Laura untuknya. Ia hanya tinggal memanaskannya di microwave. Laura pasti tahu ... Natalia tidak pernah melewatkan waktu makannya. Apalagi sekarang dalam kondisi berbadan dua.
Natalia mengangkat wadah itu dan meletakkannya di atas meja, Matanya lalu melihat sebuah kotak yang diletakkan di tengah-tengah meja. Tangannya menggapai, dan ia menyadari itu adalah kotak kue yang tadi Luigi bilang dititipkan oleh ibunya.
Setelah menarik sebuah kursi, Natalia duduk, lalu membuka kotak kue. Kue kering keju, air liurnya langsung terbit. Semenjak ia hamil, ia jadi suka makan kue itu. Padahal dulu ia tidak menyukainya.
Natalia mengambil satu, lalu mulai mengunyah. Semua kerinduannya pada sang ibu seolah menyeruak, teringat bagaimana pelukan, kasih sayang dan seluruh cinta kasih kedua orang tuanya lewat satu gigitan itu. Setelah habis ia mengambil satu lagi, mengunyah dan teringat bagaimana rupa sang ibu. Bagaimana ibunya bisa sampai menitipkan kue itu pada Luigi. Padahal mereka tidak saling bicara. Apa ibunya harus memohon pada luigi agar kue itu dibawa? Kalau iya ... maka terkutuklah Luigi ... karena ibunya pasti sangat sedih setelahnya.
"Padahal aku sudah berusaha keras ... kenapa buatanku tidak bisa menyamai punyamu, Mom," bisik Natalia di keheningan. Ia memandang lama pada sisa kue yang ada di tangannya. Membayangkan ibunya mencetak kue tersebut di dapur mansion mereka. Air mata Natalia berkejaran keluar dan menetes.
"Padahal bahannya sama ...." Natalia terisak, "cara membuatnya juga sama ... resepnya sama ... kenapa rasanya tidak sama ...." keluh Natalia dengan suara serak. Natalia menutup kotak kue dari ibunya, lalu memeluk kotak itu di dada. Menumpahkan rasa rindunya pada sang ibu yang sudah berbulan-bulan tidak bisa ia peluk.
"Terima kasih, Mom ... Aku merindukanmu. Amat sangat ...." Natalia mulai bergerak menggoyangkan tubuhnya, mengayun maju mundur sambil terus memeluk kotak kue ibunya. Air matanya mengalir deras, ia berusaha tidak terisak, tidak ingin ada yang mendengar suara tangisnya." Maafkan aku bila membuat kalian sedih, aku memang pengacau yang egois ...."
Dalam keheningan, Natalia menumpahkan kerinduannya dalam tangis, air matanya luruh, sungguh ia rindu pada dua orang yang telah membesarkannya dengan penuh cinta itu.
Di balik dinding menuju dapur, Luigi yang tadi berdiri di bingkai pintu dapur menyembunyikan dirinya ketika Natalia mulai menangis. Ia sebenarnya tidak pergi tidur. Ia hanya menutup pintu dan mendengarkan suara dari pintu kamar Natalia. Ia tersenyum ketika mendengar Natalia keluar dari kamar. Ia mengikuti beberapa saat kemudian dan menemukan Natalia tengah menunduk menatap kulkas yang terbuka. Sepertinya wanita itu lapar dan mencari makanan. Benar saja, Natalia mengeluarkan wadah makanan dan meletakkan di atas meja.
Luigi bersedekap sambil menyandarkan bahunya di bingkai pintu, menonton Natalia yang melihat kotak kue dari ibunya lalu duduk dan memutuskan mulai mengunyah. Luigi tidak menyangka kalau wanita itu kemudian akan mulai menangis, ia mendengar bisikan yang keluar dari bibir Natalia.
Memutuskan untuk memberikan waktu bagi Natalia mengeluarkan kesedihannya, Luigi melangkah mundur dan bersembunyi di balik dinding kayu. Wanita itu rindu pada ibunya. juga ayahnya. Sudah berapa bulan mereka tidak bertemu? Gadis manja yang kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat sejak menikah. Tidak ada orang tuanya lagi di sampingnya, juga menjauh dari mertua lalu tinggal bersama suami yang menganggapnya tidak ada ... angin lalu. Luigi menarik napas panjang, mendengarkan dengan hati yang ikut teriris pilu, isak tangis dari wanita yang telah memaksa masuk dalam kehidupannya, memaksa statusnya berubah menjadi suami, dan sekarang ... telah membuatnya menjadi seorang ayah.
Luigi mendengarkan beberapa saat lagi, lalu ia melangkah mendekat, sampai di bingkai pintu, ia sengaja bersuara agar Natalia tahu ia datang.
"Nat ...." panggil Luigi.
Tubuh wanita itu langsung kaku, ia tidak menoleh, hanya menunduk dan mulai menghapus air mata di pipinya dengan sebelah tangan. Sebelah lengannya yang lain masih memeluk erat kotak kue pemberian ibunya.
NEXT >>>>
*********
From Author,
Jangan lupa klik like, love, bintang lima, komentar dan Vote untuk novel ini ya para Readers. Author mengucapkan terima kasih banyak atas kesabaran para Readers sekalian untuk nunggu update.
Yuk, rekomendasikan novel ini ke teman-temannya yang hobi baca, sebagai tambahan penghuni rak baca mereka, siapa tahu jadi suka💞
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih.
Salam hangat, DIANAZ.