
Suara langkah kaki yang berlalu lalang di dalam pondok akhirnya membangunkan Catalina. Ia menggeliat di bawah selimut, merasa hangat dan juga nyaman karena dapat tidur dengan nyenyak.
"Kau sudah bangun?" suara Claude terdengar dari sudut pondok. Catalina menoleh, mendapati Claude duduk di sebuah kursi dan bersandar dengan selimut menyelubungi tubuhnya.
"Apakah sudah pagi?" tanya Catalina.
Claude bangkit, meletakkan selimutnya di atas kursi yang tadi ia duduki. Pria itu sudah memakai pakaiannya kembali.
"Hampir pagi. Kurasa Vincent akan datang sebentar lagi. Kau mau cuci muka dulu? Ada ember air di sana." Claude menunjuk di sudut lain pondok.
Catalina mengangguk, lalu menyadari ia tidak berpakaian. Ia menyelubungkan selimut ke seluruh tubuhnya sambil duduk.
"Pakaianmu sudah kering, hanya celana jeansmu masih agak lembab. Tapi bisa kau pakai. Aku akan keluar, berpakaianlah," ucap Claude sambil meninggalkan Catalina. Ia keluar dan menutup pintu pondok.
Catalina segera berdiri, ia membuang selimut ke atas lantai kayu yang beralas selimut, tempat tadi ia berbaring. Lalu ia pergi ke sudut pondok, mencuci mukanya lalu mengambil celana jeans dan mengenakannya, kamisol dan blus nya sudah benar-benar kering. Catalina bersyukur sehingga ia tidak kedinginan ketika memakainya.
Setelah menyisir rambutnya sambil lalu dengan jari-jari tangannya, Catalina membuka pintu pondok, matanya mencari sosok Claude di antara cahaya pagi yang temaram, matahari belum muncul sempurna, suasana redup masih mengelilingi pondok itu. Suara burung meningkahi pagi, merdu, saling bersuit seolah bernyanyi.
Catalina mendapati Claude berdiri di pinggir jalan setapak tak jauh dari pondok, menatap sekeliling mereka dengan pandangan menyipit. Ia menoleh ketika Catalina mendekat.
"Claude," panggil Catalina.
"Ada apa, Catty?" Claude berbalik dan menoleh ke arah gadis itu. Wajah Catty terlihat bingung, gadis itu tampak agak gelisah.
Claude jadi khawatir, ia memegang kedua bahu Catalina dan menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, mencari jika ada sesuatu yang salah pada gadis itu.
Catalina sangat bingung menyampaikan keluhannya.
__ADS_1
"Aku ...." Catalina menarik napas panjang dulu kemudian dengan menahan rasa malunya, ia akhirnya berucap, "aku perlu ke kamar kecil, Claude. Dimana aku ...."
Catalina berhenti bicara, bingung lagi menyampaikan keinginannya lewat kata-kata. Claude memandang gadis itu terpana, lalu setelah beberapa detik ia menyadari apa yang coba Catalina sampaikan padanya.
Claude terkekeh geli, membuat Catalina mengerucutkan bibirnya. Claude memencet hidung gadis itu sambil tertawa.
"Ayo, ikut aku," ujarnya sambil menarik Catalina ke belakang pondok. Tempat sebuah pondok yang lebih kecil berada.
"Lakukan di sana, Catty." Tunjuk Claude ke balik sebuah pintu di pondok kecil itu, di sebelahnya ada tumpukan kayu bakar yang sudah di susun.
Catalina mengangguk lalu berjalan meninggalkan Claude. Claude juga berbalik dan meninggalkan Catalina sendiri. Ia kembali ke jalan setapak di depan pondok. Menunggu jika ia mendengar deru mesin mobil yang datang atau suara seseorang yang mungkin memanggil mereka di keheningan hutan itu.
Setelah beberapa saat, terdengar Catalina berteriak kencang. Claude baru saja akan berlari ketika melihat gadis itu datang dengan menangis histeris.
"Catty! Ada apa! Hei!" Claude memegang bahu Catalina yang gemetar, gadis itu bergidik seolah ngeri akan sesuatu.
"Ulat? Kau takut ulat?" tanya Claude dengan alis terangkat. Catalina menangis makin keras.
"Singkirkan itu! Tolonglah ...." Catalina tidak berani bergerak, juga membuka mata, ia bergidik dan wajahnya makin pucat.
Segera Claude menyentilkan ujung jarinya ke ulat kecil itu.
"Mungkin menempel saat kau melintasi daun pepohonan tadi, ia singgah di rambutmu," ucap Claude dengan senyum geli.
"Sudah, sudah pergi. Sudah kubuang," ucap Claude lagi.
Tanpa sadar Catalina mengulurkan tangannya dan memeluk dada Claude. Ia menggosokkan hidungnya ke dada Claude berulang kali.
__ADS_1
"Catty ...." Claude berdiri kaku dengan kedua lengan terangkat. Bingung dengan sikap gadis itu.
"Tubuhku terasa seperti ditusuk-tusuk ketika melihat ulat, kesemutan. Makhluk itu membuatku sangat geli dan merasakan gatal yang tiba tiba di ujung hidung, bahkan kadang di jari-jari tangan dan kakiku, seolah aku baru aja menyentuhnya." Catalina bergidik lagi.
Claude memeluk Catalina sambil terkekeh,. "Kau ... sudah sebesar ini takut pada makhluk sekecil itu? Kau ketakutan padanya dan berteriak, suaramu bahkan membuat semua makhluk di hutan ini ketakutan," ucap Claude dengan nada menggoda.
Catalina melepaskan pelukannya dan mendongak menatap Claude yang tersenyum geli.
"Jangan menertawakanku," sungut Catalina.
Claude tersenyum sambil mengelus pelan pipi gadis itu. "Maaf ... kau fobia. Aku tahu ... itu bukan hal yang lucu."
Claude dengan gembira menyadari, Catalina memeluknya dengan keinginannya sendiri, tidak merasa canggung menggosokkan hidungnya di dada Claude. Claude bersyukur ia menahan dirinya tadi malam, membuat Catalina tahu, Claude tidak akan melakukan sesuatu yang tidak Catalina inginkan. Ia akan berusaha sedikit demi sedikit memupuk rasa percaya gadis itu padanya.
Catalina mundur dan melonggokkan kepalanya ke arah ujung jalan setapak. Claude juga berbalik dan menatap ke arah yang dilihat Catalina. Suara mobil menderu di ujung jalan, tak berapa lama, dua mobil SUV datang dan berhenti tak jauh dari mereka.
"Syukurlah ... aku sudah menduga kau akan berlindung di pondok berburu." Suara Vincent yang turun dari mobil terdengar menyapa Claude.
"Ada apa, Vincent?" Claude menyipit.
"Naiklah. Kita akan pulang. Yoana dan yang lain sudah kuterbangkan lebih dulu, tidak aman berada di wilayah ini."
Mendengar perintah itu, Claude tidak membuang waktu. Ia menarik Catalina dan menyuruh gadis itu masuk, lalu ia sendiri duduk di sebelahnya kemudian menutup pintu.
Vincent juga tidak membuang waktu. Ia berkonsentrasi kembali membawa mobil tanpa mengajak Claude bicara. Claude juga tidak mencoba bertanya pada pria itu. Ia tahu, apapun situasinya maka pasti terjadi sesuatu yang buruk dan ia tidak akan mendengarkan cerita Vincent dengan telinga Catalina ikut mendengar. Ia akan menunggu penjelasan Vincent nanti. Sekarang yang terpenting adalah pulang secepatnya dan meninggalkan wilayah itu.
N E X T >>>
__ADS_1
**********