
Luigi menarik Natalia ke arah tempat tidur.
"Ayolah Nat ... kita harus membicarakannya. Aku ingin hubungan kita sesudah ini bebas dari semua kesalahpahaman."
Natalia menghapus air matanya dengan lengan atas. Ia menurut, Luigi memang benar. Mereka harus saling jujur, bicara mengenai hubungan seperti apa yang akan mereka jalani setelah jadi orang tua nanti. Apakah mereka akan tetap bersikap sopan, saling menyayangi dan hidup sebagai dua orang teman. Yang melakukan semua kewajiban yang disematkan pada mereka sebagai orang tua dari bayi mereka nanti.
Luigi menyusun bantal di belakang punggungnya. Lalu ia meraup Natalia agar berada dalam rekuhan lengannya.
"Kemari. Buat dirimu nyaman."
Luigi mengatur agar Natalia duduk di sampingnya, ia menarik kepala Natalia agar bersandar padanya. Lengan Luigi memeluk bahu Natalia, Lalu ia mengaitkan selimut dengan kaki dan menariknya agar menutupi tubuh mereka sampai ke pinggang.
"Katakan padaku alasanmu melakukan rencanamu untuk tidur denganku malam itu."
Natalia menegang. Luigi menunduk agar dapat melihat ekspresi wajahnya.
"Bisa tidak ... kau jangan mengucapkan kata tidur, meniduri atau semacamnya?" pinta Natalia dengan wajah kaku.
"Kenapa memangnya?" nada geli dari suara Luigi membuat wajah Natalia jadi panas, seketika ia memerah malu.
"Kau kan memang melakukannya, Natalia sayang," ucap Luigi tertawa geli.
"Aku tahu itu. Tapi tidak usah kau ucapkan dengan jelas."
Tawa Luigi kembali terdengar. Natalia jadi jengkel lagi dan merengut.
"Aku tak mau bicara kalau kau masih menertawakan aku dan menjahiliku!"
"Baiklah ... baik ... Aku akan diam," Luigi memberi kode dengan menarik jarinya dari satu ujung bibir ke ujung yang lain, tanda ia akan menutup mulut.
"Aku memang sengaja melakukannya untuk mempercepat pernikahan kita. Kalau diserahkan pada keputusanmu, maka kau akan terus menunda selama mungkin untuk menikah."
Natalia memulai penjelasannya. Ia menarik kepalanya dari bahu Luigi. Sengaja ingin bicara dengan menatap langsung mata suaminya. Natalia ingin tahu bagaimana ekspresi Luigi ketika membicarakan perihal malam itu.
"Perusahaan ayah dalam masalah. Suntikan dana dalam jumlah besar sangat dibutuhkan agar apa yang ayah dan kakek bangun tidak runtuh, bangkrut ... Ibu menceritakan padaku perihal janji ayahmu. Bahwa ia akan menolong asalkan putranya dan putri keluarga Ambroz sudah menikah."
Luigi menahan mulutnya agar tidak bicara. Ayah Nat mengatakan, Tuan ambroz sebenarnya bisa saja menemui ayahnya dan meminta tolong. Sebagai seorang teman yang sudah lama saling mengenal. Namun Tuan Ambroz menyesalkan harga dirinya yang menghambat langkahnya untuk menemui Maldini Steffano dan memohon bantuan. Hingga putrinya akhirnya meramu rencana jahat untuk menjebak tunangannya sendiri agar dapat segera menikah. Tentu saja ayahnya akan menyambar dan dengan cepat menikahkan mereka setelah melihat apa yang terjadi di kamar hotel itu. Maldini Steffano sudah lama ingin menikahkan putranya, dan rencana Natalia mewujudkan mimpinya itu.
Sesuai janjinya, tanpa diminta ayah Luigi membantu perusahaan tuan Ambroz bangkit kembali.
"Kalau kau tanya apa aku menyesal, maka kujawab tidak. Aku tidak menyesal telah menolong ayahku." Natalia menambahkan dengan rahang yang terlihat kaku, keras kepala.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Natalia dengan kening berkerut. Luigi mengajak bicara tapi tidak menimpali setiap ucapannya. Ia hanya bicara sendiri.
Luigi menunjuk mulutnya yang tadi telah di kunci.
Natalia cemberut. " Buka mulutmu ... menyebalkan,"
Luigi melakukan gerakan dengan jarinya seolah tengah membuka kunci mulutnya seperti tadi, tapi dari arah sebaliknya.
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaanku sama sekali ketika memikirkan rencana itu? Aku mau kau jawab dengan jujur, Nat ...." Luigi mulai bicara, pandangan matanya menusuk. Namun Natalia membalas tatapannya dengan berani.
"Tidak. Aku tidak memikirkan perasaanmu. Yang aku inginkan adalah membalas perlakuan kasarmu padaku. Kau ingat ketika makan malam keluarga kita waktu itu? Makan malam yang selalu kau hindari dengan seribu satu alasan. Kita berdansa ... kau bilang silakan mainkan peran calon menantu dan istri dengan baik, tapi kau menyuruhku tetap menjauh darimu, jangan mengganggumu. Aku anggap itu persetujuan ... yang artinya kau tidak keberatan menikah sesuai keinginan kedua belah pihak orang tua kita asalkan kita tetap menjaga jarak dan tidak saling mengganggu. Aku sakit hati setengah mati, aku ingin cepat-cepat jadi istrimu lalu membuat hidupmu seperti di neraka! ... jadi sesuai yang kau pinta, secepatnya aku menjebakmu dalam pernikahan ... apalagi setelah ayah jatuh sakit karena memikirkan perusahaan ... aku memutuskan mempercepat prosesnya."
"Jadi kau benar-benar membenciku, tapi memutuskan menikahiku. Begitu?"
"Yang kupikirkan adalah kesehatan ayah. Ayah tidak boleh banyak pikiran, atau ia akan kembali jatuh sakit. Jadi dengan menjebak mu, dan memastikan ayahmu datang keesokan paginya, tap tap tap ... selesai. Kita resmi suami istri." Tangan Natalia membuat gerakan naik turun seperti sedang memotong sesuatu.
Luigi menyadari Natalia tidak menjawab pertanyaannya secara spesifik. Ia bertanya apakah Nat membencinya dan wanita itu menjawab dengan kalimat lain. Tapi Luigi diam saja. Ia agak geli dengan penggambaran Natalia tentang tahap mereka menikah. Tap, tap, tap ... seolah proses mereka menikah adalah suara orang memotong sesuatu pada talenan.
"Kau perawan ... apa tidak takut melakukannya dengan orang yang tidak sadar, terbelit gairah karena obat perangsang, bisa saja orang itu jadi sangat kasar dan menyakitimu ... Orang yang terangsang dan terselubungi kabut gairah, yang tidak peduli bagaimana cara ia melampiaskan gairahnya, atau dengan siapa ia melampiaskan gairahnya itu. Yang terpenting semua keinginannya tersalurkan ...."
Luigi memandangi Natalia. Wanita itu benar-benar sudah merah seperti kepiting rebus. Tapi ia sengaja, kejujuran dan blak-blakan sangat diperlukan untuk meluruskan semua hal yang salah yang terjadi antara mereka.
"Apa kau tahu apa yang harus di lakukan pada pria yang sudah kau beri obat perangsang? Bagaimana cara menghadapi pria itu?" tanya Luigi penasaran.
Natalia tahu, Luigi tidak akan melepaskannya sebelum ia menjawab dengan jujur dan mengupas semua hal tentang kejadian malam itu. Ia harus bertahan menghadapi rasa malu yang menderanya dengan luar biasa.
" Jhon Lucas mengatakan aku tidak perlu melakukan apapun. Hanya perlu mendekat ... Lalu ketika obatnya sudah bekerja, pria itu akan menyelesaikan segalanya."
Mata Luigi terbelalak. " Dan siapa Jhon Lucas yang bodoh ini?"
__ADS_1
"Temanku. Bartender di pesta yang kita datangi waktu itu."
"Ya ampun. Apa dia tidak menambahkan ... bahwa pria itu bisa saja menyakitimu? Bagaimana kalau aku ternyata seorang maniak? Aku akan memukulmu dan menyiksamu sambil melakukan 'itu' ...."
"Ummm ... tapi kau tidak melakukannya. Kau tidak memukulku."
Mata Luigi menyipit. " Lalu apa yang aku lakukan, hm?"
Natalia menarik napas panjang sebelum menjawab. Mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kau melakukan itu."
"Itu apa?"
"Tidur."
"Aku ingat aku tidak tidur, Nat. Walau seperti kabut, aku ingat aku sama sekali tidak tidur."
"Bukan tidur yang itu! Tidur yang ... oh, kau menyebalkan!"
Luigi tertawa, memasukkan lengannya yang bebas ke bawah Lutut Natalia dan satu lengan lagi ke pinggang istrinya itu. Perlahan Luigi menggeser Natalia hingga istrinya itu duduk di pangkuannya.
"Aku mengingatnya dalam bayang yang tidak jelas ... tapi aku ingat mencium ini, rasa panas yang tiba-tiba mendingin ketika seseorang mendatangiku lalu menciumku ... kau bukan hanya sekedar mendekat ... kau menciumku bukan?" Jari-jari Luigi mengelus bibir istrinya.
Dengan wajah merah padam Natalia mengangguk singkat.
"Apa aku kasar?"
Natalia mengingat rasa sakit yang dirasakannya ketika Luigi menerobos masuk. Awalnya ia merasa ciuman dan sentuhan Luigi menyenangkan, ia sempat larut dalam gairah. Tapi Luigi saat itu sudah sangat kepanasan, gairah pria itu sudah memuncak. Luigi saat itu tidak memikirkan apapun selain keinginan untuk memuaskan dirinya.
Nat menahan rasa sakitnya saat itu sampai Luigi selesai. Ia ingat ia menangis, menguatkan dirinya dengan membayangkan wajah ayah dan ibunya.
"Nat ... jawab aku ... apa aku kasar?"
"Sedikit."
"Kau merasa sakit?"
"Mereka siapa?"
"Teman-temanku di agency."
"Apa yang kau lakukan selagi menahan rasa sakitnya. Aku tahu kau tidak mendorongku atau pergi dari ranjang saat itu. Kau menahannya sampai aku selesai bukan?"
Natalia mengangguk. " Aku hanya perlu menutup mata. Lalu membayangkan wajah ayah dan ibu."
Luigi memandang datar wajah istrinya yang masih merona. Sungguh pengalaman bercinta yang buruk sekali untuk pertama kalinya bagi Natalia.
"Setelahnya ... aku melakukannya lagi?"
Natalia teringat, setelah meringkuk dan menangis merasakan ketidaknyamanan di bagian bawah tubuhnya yang serasa baru saja dirobek, Natalia beringsut dari ranjang, membelakangi Luigi dan menjauh. Namun lengan Luigi tiba-tiba melingkari pinggangnya. Pria itu berbisik bahwa ia belum selesai dengannya. Lalu kembali, Luigi memulai lagi menyalurkan gairahnya pada tubuh Natalia.
"Ya."
"Sampai pagi itu kita ditemukan oleh ayah ... berapa kali aku melakukannya?"
"Apa kau benar-benar tidak ingat?" elak Natalia.
"Jawab saja, Nat ...."
"Tiga. Kau melakukannya tiga kali. Ya ampun ...." Natalia menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Pasti tidak nyaman sekali bagimu ... seseorang datang keesokan paginya, mengetuk pintu berulang kali sampai aku terbangun dan menyeret tubuhku yang terbelit selimut ke arah pintu . Aku menemukan ayah sudah berdiri di sana. Ia melirik sedetik ke arah dalam kamar dan kurasa ia melihat kau yang tidur di atas ranjang."
"Aku memastikan Jhon Lucas menghubungi ayahmu. Memberitahu dimana ia bisa menemukan kita." Natalia berkata sambil menunduk, kedua tangannya sudah tidak lagi menutupi wajahnya.
"Aku langsung pergi setelah menyadari apa yang terjadi. Ayah mengatakan kita harus menikah lalu berlalu dari depan pintu. Aku menatap ranjang setelahnya dan melihat kau terbaring dengan tubuh polos di atas seprai. Kau tidur nyenyak, bercak darahmu terlihat di seprai, juga bercak-bercak lain. Seketika aku tahu apa yang telah terjadi di atas ranjang itu sepanjang malam. Lalu aku tahu kau dengan sengaja melakukannya. Aku marah ... murka ... aku mengenakan pakaian dengan cepat dan langsung pergi. Aku takut bila tetap di sana, maka yang akan kulakukan berikutnya adalah mencekik lehermu."
Mereka terdiam, Luigi tetap memeluk Natalia. tubuh Natalia sekaku papan. Wanita itu masih terus menunduk.
"Jam berapa kau terbangun?" tanya Luigi.
__ADS_1
"Matahari sudah naik ... kurasa sudah hampir siang."
"Kau langsung pulang?"
Natalia menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau lakukan setelah terbangun dan aku sudah tidak ada?"
"Aku bangun, duduk di atas ranjang. Lalu menyadari kau sudah pergi. Hal pertama yang kulakukan adalah menelepon Jhon. Menanyakan apakah ayah sudah datang dan menangkap basah kita di kamar hotel itu. Setelah Jhon mengatakan semua sudah berjalan sesuai rencana, aku baru tenang. Semua rasa sakitnya sepadan. Aku yakin kita akan segera menikah."
Natalia diam lagi. Luigi masih ingin wanita itu meneruskan.
"Lalu apa lagi yang kau lakukan?"
"Aku pergi mandi. Berendam dengan air hangat. Tubuhku sakit ...."
"Apa jejaknya banyak?"
"Apa!?"
"Tanda, Nat ... jika tubuhmu sakit, aku pasti membuat memar. Bukan begitu?"
"Hanya memar kecil ... di kedua lengan atas." Natalia melingkari masing-masing lengan atasnya. Memberitahu letak memar di lengannya waktu itu. Luigi menahan lengannya dengan sangat kuat kali kedua pria itu melakukannya.
"Lalu bekas gigitan di sini, sini dan sini." Natalia menunjuk bahu kanan, dada atas dan pangkal lehernya.
"Kalau tanda merah .. kurasa kau meninggalkannya di semua tempat." Natalia bergerak-gerak tidak nyaman di pangkuan Luigi.
Kedua lengan Luigi mengencang di seputaran perut istrinya.
"Diamlah, Nat. Santai saja ... bayinya bergerak ya?"
Natalia menganggukkan kepala, menahan napas ketika Luigi menunduk dari arah belakang lehernya dan mencium pangkal bahunya.
"Aku ... aku tahu aku melakukan hal yang buruk padamu. Aku minta maaf ... tapi seperti yang kukatakan tadi. Aku tidak menyesal melakukannya. Ayah dan ibuku serta perusahaan kembali sebagaimana mestinya. Aku lega ayah kembali sehat ... itu berarti segalanya untukku ...."
"Kau melakukan semua yang diperlukan untuk kedua orang tuamu ... Kau begitu mencintai mereka ... apa masih ada yang tersisa untuk kau berikan sedikit padaku? Hm?" Luigi membisikkan pertanyaannya langsung ke telinga istrinya itu.
Mata Natalia melebar ketika bisikan Luigi terdengar, ia menoleh cepat. Lalu menatap wajah Luigi yang balik menatapnya dengan mata berkilau lembut.
"Apa ... kau mengatakan apa?" Natalia menelan ludah.
"Aku bertanya padamu, Natalia Steffano ... Apa kau bisa memberikan cinta sebesar itu pada suamimu ini?"
Natalia begitu terkejut, memandang suaminya dengan mulut menganga.
"Kau tidak bisa menjawab? Astaga ... kasihan sekali aku ini ...."
Luigi menggosokkan wajahnya di tengkuk belakang Natalia sambil menghirup aroma rambut Natalia yang menurut Luigi sangat menarik dan wangi.
"Aku menerimamu, Nat ... dan aku ingin kau juga menerimaku. Untuk menjalani pernikahan ini kita perlu membicarakan hal-hal yang telah lalu dan memulainya dengan hati yag ringan, terbuka dan saling jujur."
"Aku tahu ...." bisik Natalia dengan suara serak.
"Jadi jawab aku ... kau bisa mencintaiku?
Sudah terjadi, Tuan Luigi! Kau sudah membuatku jatuh cinta ... bukan kau yang kasihan ... tapi aku ... mencintai suami sendiri, yang masih mencintai wanita lain ... bukankah itu menyedihkan?
NEXT >>>>
*********
From Author,
Hai pembaca. Terima kasih udah dukung author ya. Jangan lupa tekan like, tekan love, bintang lima dan komentar kalian. Kasih Vote juga untuk Embrace Love ya pembaca. Author makin semangat dan jadi vitamin untuk lanjut menulis.
Yuk, ajak temennya juga baca Embrace Love. Sapa tahu jadi suka dan bisa jadi pengisi waktu luang yang menyenangkan.
Terima kasih semuanya.
Salam hangat. DIANAZ.
__ADS_1