Embrace Love

Embrace Love
Ch 149. Waiting to wake up


__ADS_3

Claude merasa dirinya terkurung di sebuah ruangan yang sangat kecil. Tidak ada cahaya dan pintu yang bisa membawanya keluar dari kegelapan dan ketidak pastian. Ia berusaha mengatur napasnya dari tadi. Ketidak berdayaan seolah mulai membunuhnya secara perlahan.


Claude benci tidak dapat melakukan apapun untuk gadis yang ia cintai. Ia menolak memikirkan kalau Catty akan pergi meninggalkannya. Catty pasti akan berjuang untuk kembali. Dan kali ini, jika mereka bersama lagi, Claude tidak akan membiarkan waktu terbuang walau sedetikpun.


Claude juga merasakan bendungan air mata yang tidak bisa keluar dari kedua bola matanya. Matanya terasa sakit. Ia tidak akan menangis. Cattynya akan kembali.


Ada sedikit ragu yang menyelinap di hati Claude saat mengenang bagaimana diamnya tubuh Catalina di dalam pelukannya saat itu. Warna darah yang membasahi wajah dan rambut Catalina terus terbayang olehnya. Tapi ia menepis rasa itu, menekan dan menginjak-injaknya di dalam hati agar terkubur.


Setelah hampir berjam-jam berlalu, yang terasa seperti berpuluh-puluh jam oleh Claude, Pintu kamar operasi itu akhirnya terbuka. Claude langsung berdiri tegak ketika seorang pria keluar. Begitu juga Mary, Annete dan Yoana. Vincent, Alric dan Simon juga berjalan mendekat.


Pria itu ternyata Luigi. Pria itu melepas kacamata yang ia pakai, sebuah senyum coba ia lukiskan di wajahnya yang lelah. Namun gagal total.


"Claude," ucap Luigi.


"Luigi ... katakan ...." ucap Claude serak. Ia maju mendekat ke arah dokter itu.


"Sebelumnya aku mohon maaf. Aku berkeras menggantikan temanku yang seharusnya memberitahumu di sini. Tapi ia mengerti. Ia mengizinkanku karena tahu aku mengenal keluarga ...."


"Luigi ... lewatkan itu! Catty! Bagaimana Catty!" Claude setengah berteriak pada Luigi. Suaranya sarat akan ketakutan dan kekhawatiran.


Sebuah senyum sekarang bisa terbentuk di wajah Luigi. Kegusaran di wajah Claude rupanya membuat otot-otot di wajahnya mampu menggerakkan bibirnya agar membentuk sebuah senyuman.


"Dokter bedah syaraf kami sudah menyingkirkan perdarahan yang terjadi di otak Lina karena benturan keras akibat kecelakaan itu. Operasinya berhasil dan keadaan Catalina stabil. Sekarang ia tengah di siapkan untuk di pindahkan. Kita hanya harus menunggu ia sadar. Aku sudah menyiapkan ruangan khusus dengan peralatan lengkap untuknya."


Dengan berakhirnya kabar dari Luigi, Claude terjajar ke belakang. Seolah kedua kakinya yang gemetar sedari tadi sudah tidak sanggup menopang.


"Claude!" Alric yang berdiri di belakang pria itu segera menangkap tubuhnya. Simon juga menangkap lengan kakaknya. Lalu dua pria itu membawa kembali Claude ke tempat duduk.


"Claude ... " panggil Luigi. Ia menunggu sampai Claude yang di dudukkan di kursi menatap ke arahnya.


"Ya?" jawab Claude pelan.


"Catalina akan baik-baik saja ... jangan khawatir." Luigi kembali memberikan senyumnya. Senyum tulus yang terbit dari hatinya paling dalam. Sekarang ia benar-benar yakin Catalina berada di pelabuhan yang paling tepat. Kepala keluarga Bernard itu sangat mencintai Lina.


Kepala Claude mengangguk. "Terima kasih, Luigi ...."


"Sama-sama. Aku akan kembali." Luigi menunjuk ke arah dalam. " Tunggulah ... Catalina akan keluar sebentar lagi. Tapi kalian mungkin tidak bisa masuk semuanya ke dalam ruang perawatan nanti," ucapnya.


Semua kepala itu mengangguk. Satu persatu terlihat lega mendengar berita yang Luigi bawa. Setelahnya, Luigi kembali ke dalam dan pintu kembali tertutup. Claude terlihat mengusap wajahnya, merasakan napas yang ia hirup sekarang baru terasa melegakan, tidak membuatnya sempit dan membuat dadanya nyeri seperti tadi.


*********


Claude dan Mary berdiri di depan pintu kaca ruang perawatan Catalina. Ruangan khusus yang disiapkan oleh Luigi. Seorang dokter dan perawat masih berada di dalam. Claude menunggu dengan sabar sampai ia diperbolehkan untuk masuk. Keluarganya yang lain menunggu di sofa ruang tunggu tak jauh dari depan pintu ruang perawatan Catalina.


Setelah beberapa saat, dokter dan perawat keluar dari ruangan perawatan. Dengan sebuah senyum menenangkan dokter tersebut mengulurkan tangan yang segera disambut Claude.


"Anda Claude Bernard, bukan begitu?" tebak sang dokter. Claude hanya mengangguk. Dokter itu masih muda. Mungkin beberapa tahun di atas umur dokter Luigi.


"Luigi sudah bercerita. Anda tunangan gadis itu," ucap dokter itu lagi. Kembali Claude menganggukkan kepalanya.


"Dan Anda ... Nyonya?" sang dokter beralih pada Marylin.

__ADS_1


"Saya kakaknya, Dok."


Dokter itu mengangguk sambil tetap tersenyum.


"Miss Catalina dalam keadaan stabil. Anda bisa masuk. Tapi saya sarankan bergantian. Lalu biarkan pasiennya beristirahat. Dan kalian juga ... kalian harus beristirahat. Sudah berjam-jam kalian menunggu bukan?"


Claude dan Marylin hanya mengangguk, menggumamkan terima kasih.


"Masuklah Claude ...." Mary menyuruh Claude lebih dulu. Ia tahu pria itu membutuhkannya. Pria itu butuh memastikan kekasihnya baik-baik saja.


Claude mengangguk dan segera masuk. Ia mendekat ke ranjang rumah sakit. Melihat perban yang membalut kepala Catalina. Rambut indah gadis itu sudah menghilang. Claude tahu, dibalik perban yang membalut kepala Catalina, seluruh rambut gadis itu sudah dicukur sebelum operasi kepalanya dilakukan.


Satu persatu mata Claude meneliti tubuh Catalina, ia mengintip di balik selimut, lalu melihat tangan gadis itu yang tergeletak di atas ranjang. Claude duduk setelah menarik sebuah kursi yang berada di dekat ranjang. Dengan tangan gemetar, ia menggenggam telapak tangan Catalina. Tangan itu hangat, lalu matanya menghitung gerakan dada Catalina, memastikan gadis itu bernapas. Napas teratur dan gerakan dada yang berirama. Pemandangan itu menghadirkan rasa lega amat sangat di hati Claude. Tapi ia tetap khawatir, karena Cattynya sama sekali belum membuka mata.


"Cat ... aku di sini ... bangunlah, Sayang."


Menit demi menit berlalu, hanya suara monitor di samping tempat tidur Catalina yang terdengar mengisi kekosongan dan keheningan ruangan itu. Claude menatap tak berkedip pada wajah Catalina. Berharap sepenuh hati kedua mata itu membuka. Tangannya kembali meremas lembut telapak tangan gadis itu.


Lalu pintu terbuka. Mary muncul dengan wajah pucat dan khawatir.


"Maaf Claude. Maukan kau bergantian? Aku ...."


"Ya ... Kemarilah. Maafkan aku ... kau pasti juga sangat ingin melihatnya."


Claude perlahan berdiri. Tidak menyadari ia sudah duduk hampir setengah jam hanya memandang kekasihnya yang terpejam. Ia membiarkan Mary mendekat. Memberi waktu pada Mary untuk bersama adiknya.


"Tolong Jaga Catty, Mary. Aku ... aku ingin mencari kopi sebentar. Telepon aku kalau ia sadar."


Mary mengangguk. Ia menatap mata Claude yang merah dan terlihat amat lelah. Ia sendiri juga merasakan kedua kakinya tegang dan nyeri karena terlalu banyak berdiri. Tapi ia tidak mengatakannya. Karena jika ia mengatakannya, maka Alric akan memaksanya untuk pulang.


"Lina ... bangunlah ... aku sudah banyak sekali menangis. Kenapa aku mudah sekali menangis? Ya tuhan ... kau pasti kesakitan ... dulu kakimu ... sekarang kepalamu ... Lina ...."


Mary mengulurkan tangan, selama beberapa saat menggenggam tangan adiknya yang terasa hangat dibalik selimut.


"Luigi bilang kau akan baik-baik saja ... dokter yang tadi juga bilang begitu ... tapi kenapa kau masih tidur? "


Kembali Mary mengelap wajahnya dengan saputangan Alric yang sudah lembab.


"Aku ingin membicarakan sebuah keanehan denganmu. Kau pandai menebak dan dugaan mu biasanya tepat."


Suara Mary amat pelan, seolah ia ingin bercerita tanpa membuat Catalina terganggu. Tapi ia butuh bicara dengan adiknya, bersikap seolah Catalina hanya tertidur dan mereka tidak sedang di rumah sakit.


"Bolehkah aku tidur denganmu di sini, Lina?"


Tidak ada jawaban. Dan Mary memang tidak mengharapkannya.


"Kau tahu ...keanehan yang tadi ingin kuceritakan padamu? Aku dengar Alric memanggil Ann dengan panggilan 'Mom' ... itu berarti sesuatu bukan? Tapi ... oh, entahlah ...oh, ya ... aku dan Alric ... kami ummm ... kurasa kau tidak mau mendengarku menceritakan omong kosong tentangku kan ... bagaimana dengan Leon? Dia pasti akan sangat gelisah ... dia tidak akan bisa melihatmu berhari-hari ...."


Marylin melirik ke arah monitor di samping tempat tidur Catalina.


"Suaranya tidak mengganggumu? Kalau tertidur biasa, tidak sedang sakit, kau pasti terbangun mendengar suara dari monitor itu kan?" Mary menarik napas panjang, "Kapan kau akan sadar?"

__ADS_1


Setelah bicara melompat lompat dari satu hal ke hal lainnya, lalu Mary terdiam lama, hanya memandang gerakan dada Catalina yang teratur, seolah gerakan itu memberitahu Mary kalau adiknya masih tetap di sana bersamanya. Walau suaranya belum bisa ia dengar dan matanya belum bisa membuka.


Suara seseorang dari pintu kaca memanggil Mary.


"Mary ... Sayang?"


Marylin menoleh, melihat Alric di sana. Tampak kusut dengan dasi yang sudah agak miring.


Mary bangkit, Mendekat dengan langkah gontai ke arah Alric. Mereka keluar dari ruangan Catalina dan berdiri di depan pintu kaca. Alric segera melepas jas yang ia pakai dan menutupkan ke bahu istrinya itu.


"Bagaimana Lina?"


"Dia seperti orang tidur."


Alric tersenyum, lalu menyadari Mary tampak sangat lelah.


"Mary , bagaimana kalau kita pulang dulu?"


"Tidak mau ...."


"Mary ...." Alric bingung bagaimana membujuk istrinya itu. Tadi ia melihat Mary melangkah keluar dengan langkah yang amat letih.


"Mary ... Alric benar. Ingat ... ini bukan tentang kau saja ... tapi juga bayimu. Kau tidak boleh lelah." Sebuah suara yang mendatangi mereka membuat suami istri itu menoleh. Rupanya dokter Luigi yang datang. Claude melangkah di samping dokter itu.


"Lina akan sadar beberapa saat lagi. Kami sengaja membuatnya tertidur. Tapi ia akan bangun nanti. Sementara itu, kau pulang dan istirahatlah..Ingat kesehatanmu dan juga bayinya. Kakimu sudah lelah bukan?" tanya Luigi.


Mary mengernyit, darimana Luigi tahu?


"Kakimu mulai bengkak, Mary. Kau terlalu banyak berdiri. Sekarang pulanglah." tambah Luigi.


"Ya, Mary. Pulanglah. Aku akan berjaga. Aku berjanji akan meneleponmu jika sesuatu terjadi," ucap Claude. Mary menatap bergantian pada Luigi dan Claude, lalu ia menatap Alric yang balik menatapnya dengan raut khawatir.


"Oh, baiklah ..." Mary kembali menoleh ke arah pintu kaca. Menatap sekali lagi adiknya yang terbaring di ranjang.


Alric merasa sangat lega mendengar jawaban istrinya. Ia merasa berterima kasih pada kedua pria itu karena berhasil membuat Mary mau diajak pulang. Akhirnya Mary melangkah bersama Alric ke sofa tempat keluarga Bernard dan Annete menunggu.


"Mary ... pulanglah ... istirahat. Claude dan Simon akan berjaga di sini." Yoana mendekap wanita itu. Mary mengangguk perlahan. Mereka berbagi pelukan sejenak sebelum akhirnya memisahkan diri. Lalu Annete datang dan menggandeng tangannya.


"Ayo Sayang. Besok kita ke sini lagi," ucap Annete. Mary hanya mengangguk. Kemudian satu demi satu mereka meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Claude dan Luigi yang sudah masuk kembali ke ruangan perawatan Catalina dan menyisakan Simon yang duduk di sofa dan menunggu.


NEXT >>>>>


********


From Author,


Nah loh ... ternyata, meski sedang nangis, Mary dengar ya pas Alric berseru manggil Annete yang hampir jatuh waktu baru datang ke RS.πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š


Get well soon Catty cantik ..❀❀❀😘😘


Jangan lupa dukung terus author dengan tekan like, tekan love, beri komontar dan bintang lima ya. Yg punya poin dan koin, bantu Vote untuk Embrace Love ya. Author mohon maaf jadwal up tidak menentuπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Terima kasih semua.


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2