
Dering ponsel Alrico Lucca menggema di dalam mobil yang sedang melaju dan dikendalikan oleh asistennya, Diego. Alric menatap layar lalu segera mengangkat panggilan itu.
"Ya?"
Seseorang menjawab di seberang sana, mata Alric bersinar dengan kilau senang.
"Kau yakin itu dia?" tanyanya lagi pada orang yang menelepon. Setelah mendengar jawaban lagi ia menutup ponselnya.
"Kurasa keberuntungan memang sedang berpihak pada kalian," ucap Alrico. Ia menoleh ke arah belakang dimana Vincent dan Claude duduk berdampingan di belakang mobilnya.
"Ada berita apa?" tanya Vincent. Mereka memutuskan menerima bantuan Alric. Orang-orang Alric sejak awal sudah berada di posisinya masing-masing, mengintai di sekitar wilayah gedung tempat tinggal Rodrigo. Walaupun begitu, Vincent tetap memberi lokasi tempat tinggal Rodrigo pada Blaird yang sudah diberikan oleh Tuan Lucca agar orang-orang mereka bisa segera datang.
"Rodrigo baru saja meninggalkan gedung itu. Anak buahku memastikan bahwa itu adalah dia," ucap Alric.
"Apakah Catalina bersamanya?" tanya Claude tidak sabar.
"Tidak. Dia terlihat meninggalkan gedung itu sendirian," jawab Alric.
"Itu berarti Catalina ditinggal di kamar Rodrigo! Kurasa dia menempatkan penjaga ...." Vincent mengerutkan dahi.
"Belum tentu. Ingat, dia tidak tahu kalau kalian sudah mengetahui tempat persembunyiannya. Mungkin saja tidak ada penjaga sama sekali di sana, karena Rodrigo berpikir ia hanya keluar sebentar, lalu akan segera kembali. Jadi sekarang adalah kesempatan anak buahku untuk masuk dan memeriksa tempat itu. Jika menunggu orangmu, dia bisa saja sudah kembali," Alrico menatap tajam pada dua penumpangnya, menunggu persetujuan.
"Taruhannya nyawa Catty ...," ucap Claude lirih.
"Mereka profesional terlatih dengan jam terbang yang sudah sangat tinggi, Tuan. Ibarat sekelompok pasukan khusus. Tuan Alric benar dengan mengatakan ini kesempatan bagus bagi mereka untuk masuk dan menyelamatkan Nona Catalina." Diego yang mengendarai mobil berusaha memberikan bayangan pada Vincent dan Claude agar segera mengambil keputusan.
"Baiklah ... lakukan ...." Vincent mengucapkan keputusannya.
Claude menoleh dan Vincent juga menatap ke arahnya. Vincent segera menepuk lutut Claude.
"Kita berpacu dengan waktu Claude. Lebih lama Catalina di sana, akan sangat berbahaya," desis Vincent.
Alric yang mendengar keputusan itu segera menghubungi orang-orangnya agar segera bertindak. Sekaligus mendapatkan laporan terbaru. Setelah selesai berbicara, Alric mematikan ponsel dan kembali menoleh ke belakang dan tersenyum.
"Tenanglah Tuan-tuan ... dari laporan para pengintai di seberang gedung, tidak tampak pergerakan di ruangan tempat tinggal Rodrigo. Kita berharap artinya tidak ada penjaga di sana, bersabarlah ... lagipula, kita akan segera sampai." Ucapan Alric memberi sedikit kelegaan di hati Claude.
Di gedung tempat tinggal Rodrigo, Lima pria tampak bergerak naik, berpakaian hitam dengan jaket kulit yang juga berwarna hitam. Malam beranjak larut, semua penghuni gedung sepertinya sudah masuk dan beristirahat di kamar mereka masing-masing. Tidak terlihat ada yang berlalu lalang lagi di gedung itu kecuali lima pria tadi yang telah berhenti di depan pintu tempat tinggal Rodrigo.
Salah satu pria tampak berjongkok lalu mengutak-atik pintu itu dengan sebuah kawat kecil. Tak lama, terdengar bunyi klik dan pintu didorong terbuka.
Tidak ada yang menyambut mereka. Hanya keheningan dan sebuah ruangan tamu yang tampak suram. Dengan pistol siap di tangan, para pria itu bergerak pelan menyisiri ruangan itu, lalu mulai melangkah ke ruangan kedua.
Mata para pria itu menemukan Catalina. Empat pria masih memutari tempat itu dan memeriksa seluruh tempat, sedang satu pria mulai mengambil sebilah pisau tajam di balik jaketnya dan segera menyayat tali yang mengikat pergelangan Catalina.
Setelah tali terputus, dengan sigap pria tadi mengangkat dan menggendong Catalina. Ia membaringkan Catalina di lantai dan memeriksa tubuh gadis itu sambil berbicara dengan alat komunikasi yang menempel di telinganya.
"Ya. Aku menemukannya. Gadis itu tidak sadarkan diri. Sejauh ini aku hanya melihat bekas pukulan di wajah ...."
"Ada perintah ... mobil Tuan Lucca akan tiba sebentar lagi. Bersihkan jejak kalian dari sana. Bawa pergi gadis itu dan berikan pada Tuan Bernard yang akan datang dengan mobil Tuan Lucca," ucap seorang pria lain yang juga merupakan orang Alrico. Pria yang baru saja mendapatkan perintah dari atasannya langsung.
"Baik."
Dengan gerak cepat, pria itu mengangkat Catalina dan melangkah pergi dari tempat itu. Kembali sebuah suara terdengar di alat komunikasinya.
"Cepatlah, mobil Tuan Lucca sudah tiba!"
__ADS_1
Mereka menutup kembali tempat itu seperti semula, lalu dengan waspada mulai turun membawa Catalina.
Claude menahan diri keluar dari mobil. Tangan Vincent masih menahan bahunya. Tetapi ia tidak dapat lagi tetap diam ketika melihat Catalina yang dibawa keluar dengan digendong oleh seorang pria berpakaian hitam.
"Mereka orangku," ucap Alric. Tapi Claude sudah berlari ke arah gedung dan mendatangi pria itu.
"Dia pingsan, Tuan. Sepertinya harus segera dibawa ke rumah sakit."
Claude mengangguk dan mengulurkan tangan. Menelan ludah memandang wajah Catalina yang pucat dalam gendongannya. Ia memindai tubuh Catalina dari ujung rambut sampai ujung kaki. Claude baru saja berbalik ketika menemukan Vincent yang sudah turun dari mobil dan mengikutinya.
"Ayo, Claude ... Alric meminjamkan mobilnya. Ia sudah pergi bersama Diego dengan orang-orang mereka," ucap Vincent.
Claude memandang sekitarnya, sepi, hening. Ia menoleh ke belakang, para pria tadi pun sudah menghilang. Dengan langkah cepat ia menuju mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Vincent.
Setelah Claude dan Catalina masuk, Vincent segera masuk ke belakang kemudi.
"Vincent ... arahkan Blaird ke rumah sakit. Lakukan penjagaan selama Catalina diperiksa di sana ...." Perintah itu hanya berupa suara pelan dari mulut Claude.
"Sudah kulakukan." Suara Vincent pun terbang bersama angin bersamaan kencangnya laju mobil yang membawa mereka ke rumah sakit. Claude menghapus darah yang mengering dari sudut bibir Catalina ke arah dagu, bengkak di wajah gadis itu memberitahu Claude kalau Cattynya sudah dipukul dengan begitu keras.
"Cat ...." Claude menempelkan kening Catalina ke pipi. Wajah gadis itu menempel ke leher, hembusan napas di kulitnya memberitahu Claude kalau Catty masih bersamanya saat ini. Kedua tangannya merengkuh tubuh Catalina di pangkuannya dengan erat.
"Cepatlah Vince ... kumohon cepatlah," ucap Claude lirih.
**********
Pintu ruang periksa itu akhirnya terbuka. Seorang dokter tampak melangkah keluar dengan membawa lembaran foto rontgen.
"Siapa keluarga dari Miss Catalina?" tanya dokter itu.
"Kami," ucap Claude.
"Ikuti aku. Kalian berdua," ucap dokter itu tegas. Mereka dibawa ke satu ruangan dengan dua kursi di depan meja sang dokter. Seorang perawat wanita mulai memasang lembaran foto rontgen pada bagian kaca datar dengan sinar yang membuat gambar tulang di foto rontgen itu terlihat jelas.
"Kalian lihat ini ... ini adalah foto rontgen dari kedua kaki Nona Catalina Seymor. Kami melihat jejas di kedua betisnya dan telah melakukan pemeriksaan rongent."
Dokter itu menunjuk bagian-bagian yang ia jelaskan dengan pen laser. menunjuk dengan titik merah di bagian tulang Catalina.
"Ini kaki kiri Nona Catalina. Kalian lihat bagian tulang ini? Ini disebut tulang tibia, terdapat dua bagian yang retak disini. Lalu ini tulang fibula, seperti yang kalian lihat ... tulang ini patah ...."
Dokter itu berhenti. Memandang Claude dan Vincent sebentar lalu mulai melanjutkan lagi.
"Kalian lihat lagi foto yang ini ... Ini kaki kanan Nona Catalina. Ada retakan juga di tulang fibulanya ... yang ingin kukatakan padamu, Tuan Claude ... patah dan retak ini disebabkan oleh benturan benda tumpul. Aku sangat yakin bukan hanya sekali jika melihat dari lebam dan kebiruan yang muncul di kedua betis gadis itu ...."
Claude menelan ludah dan memejamkan matanya, membayangkan rasa sakit yang harus ditanggung oleh Catalina.
"Satu lagi Tuan Claude ....jika ini kasus kekerasan, kusarankan agar kau melaporkannya pada polisi ... Nona Catalina mengatakan seorang pria menculiknya dan memukulnya dengan tongkat baseball ...."
"Ia sudah sadar!?" seru Claude.
"Ya ... dan Aku akan memerlukan persetujuanmu untuk melakukan operasi."
"Lakukanlah Dokter. Yang terbaik untuknya," ucap Claude.
"Baiklah," ujar dokter itu sambil menganggukkan kepala pada perawat yang duduk tak jauh dari kursinya itu.
__ADS_1
"Bisakah aku bertemu dengannya? Sebentar saja ...," pinta Claude.
Dokter itu mengangguk, lalu bangkit berdiri dari kursinya.
"Dia memang menanyakanmu. Ikuti aku," ucapnya sambil melangkah keluar diikuti oleh Claude dan Vincent. Mereka tiba kembali di ruangan periksa.
"Hanya satu orang Tuan Claude. Dia harus menunggu di luar," ucap dokter itu lagi sambil menunjuk ke arah Vincent.
"Baik." Claude menatap Vincent sekilas sebelum masuk ke ruangan itu dan menutup pintu.
Catalina menoleh ketika pintu terbuka, lega dan berusaha menghadirkan senyum di wajah pucatnya ketika melihat Claude. Sudut bibir gadis itu bengkak, bagian matanya mulai tampak membiru pada sisi kiri yang terkena tamparan Rodrigo. Gadis itu telah memakai baju rumah sakit dan sebuah selimut menutupinya hingga perut.
Claude mendekat, lalu menyingkap selimut yang menutupi kaki Catalina. Dokter itu benar, lebam keunguan mulai muncul di kedua betis gadis itu.
"Claude ...." Catalina menelan ludah, berusaha melancarkan tenggorokannya yang serak.
"Kau datang," ucapnya lagi.
Claude mengulurkan tangan menggenggam tangan Catalina. Ia membungkuk dan mengecup kening gadis itu, lalu berbisik di telinganya.
"Maafkan aku ... aku terlambat ... kau harus menanggung semua rasa sakit ini ...."
Catalina mendengar suara Claude sedikit aneh. Seolah pria itu berusaha menahan gejolak yang muncul di suaranya.
"Bukan salahmu, Claude."
"Catty ... kau akan segera masuk ruang operasi sebentar lagi. Berjanjilah padaku ... kau akan akan menjadi gadis yang kuat, aku dan Marylin akan menunggumu di luar," bisik Claude lagi.
Catalina tersenyum, walau yang muncul tampak senyum lelah. "Mary datang?" tanyanya.
Claude mengangguk. Ia sudah menelepon Marylin dan Serge saat menunggu tadi. Mereka sudah dalam perjalanan.
"Jawab Aku, Cat ... kau berjanji bukan?"
"Ya ... aku berjanji," ucap Catalina. Segera ia merasakan genggaman tangan Claude mengencang.
"Aku akan menantimu. Marylin juga. Ia sedang menuju kemari," ucap Claude. Catalina mengangguk, lalu merasakan Claude sekali lagi mengecup keningnya.
"Tuan, maaf, saatnya Anda keluar. Ikuti saya ... ada beberapa berkas yang memerlukan tanda tangan Anda." Seorang perawat mengingatkan Claude agar meninggalkan Catalina.
Claude mengangguk pada perawat itu. Lalu ia menoleh lagi pada Catalina.
"Ingat janjimu, Catty ...."
Setelahnya ia melepas genggaman tangannya dan keluar dari ruangan itu.
N E X T >>>
**********
From Author
Jangan lupa klik like, love ,vote, komentar dan bintang lima ya.
Author ucapin terimakasih banyak.
__ADS_1
Salam, DIANAZ.