Embrace Love

Embrace Love
CH 59. Engagement party part 3


__ADS_3

Vincent menatap Claude dengan tawa di matanya ketika dengan sengaja Claude menggeser duduknya mendekat ke kursi Catalina, menutupi tubuh gadis itu dari panggung di depan mereka, berdalih agar ia dapat melihat lebih leluasa ke atas panggung.


"Claude ... kau leluasa menatap ke depan, tapi punggungmu menutupi pandanganku," ucap Catalina sambil melonggokkan kepala di balik bahu Claude.


Semua orang bertepuk tangan ketika pembawa acara mengumumkan pasangan yang akan bertunangan malam itu akan saling bertukar cincin dengan didampingi oleh kedua orang tua masing masing.


Ketika musik mengiringi cincin yang disematkan oleh dokter Luigi ke jari Natalia mengalun memberi semangat pada seluruh hadirin untuk berdiri memberi tepukan, Natalia balas menyematkan cincin ke jari dokter Luigi.


"Claude ... aku mau melihat." Catalina bersungut-sungut. Ia merasa Claude sengaja menghalangi pandangannya. Akhirnya Claude bergeser, memberi Catalina akses untuk memandang panggung.


Natalia Ambroz telah selesai menyematkan cincin. Semua orang bertepuk tangan gemuruh. Catalina juga ikut bertepuk, ia menatap wajah Luigi yang terlihat memaksakan senyum di wajahnya. Catalina tahu itu bukan senyum dokter Luigi yang biasa, yang tulus dan tanpa beban. Senyum itu sangat dipaksakan dan terlihat penuh beban.


Lalu pemandangan punggung lebar menutup lagi kedua matanya. Catalina menghembuskan napas kesal.


"Claude ...," keluhnya.


Claude berbalik, menatap ke arahnya.


"Apa!?" tanyanya seolah tanpa dosa. Yoana terkikik melihat tingkah adiknya itu.


Sebelum turun dari atas panggung, Luigi yang sedari tadi malas menatap ke arah para undangan mengedarkan pandangannya ke arah meja dari ujung kiri sampai ujung kanan. Ia menangkap sosok Claude Bernard dan Yoana Bernard di meja depan hampir di ujung kanan. Matanya melebar ketika melihat sosok Catalina yang setengah tertutup oleh bahu lebar Claude.


Luigi hampir saja mendekat ketika lengan Natalia melingkari lengannya dan menjajari langkahnya.


"Jangan coba pergi melangkah sendiri dan mempermalukan aku dengan meninggalkan aku sendirian," desis Natalia. Luigi mengurungkan langkahnya dan mengikuti Natalia yang memandunya mengikuti langkah kaki kedua orang tua mereka yang mulai menemui para koleganya.


Claude memegang siku Catalina, mengajak gadis itu pergi dan mencari minuman.


"Kau saja yang pergi. Bawa ke sini atau minta bantuan pelayan," ucap Catalina.


"Tidak, Catty. Kemanapun aku pergi di pesta ini, kau harus ikut." Lalu Claude menariknya sehingga ia hanya bisa melangkah mengikuti.


"Claude ... aku merasa pasangan di sana terus melihat kita. Wanita bergaun merah itu bukankah wanita yang waktu itu bertemu kita di taman?"


Claude menatap ke arah tatapan Catalina tertuju. Tania Sweyn dan seorang pria dalam gandengannya menatap ke arah mereka. Claude langsung mengalihkan tatapannya, malas melihat mantan tunangannya itu.


"Itu mantan tunanganku, kau ingatkan, di pondok berburu aku sudah bercerita padamu."

__ADS_1


"Oh ... apakah dia pergi karena pria di sebelahnya?"


Claude mengangkat bahu menjawab pertanyaan Catalina.


"Tapi wajar saja ia pergi jika pria setampan itu yang mendekat dan merayunya ...."


Claude langsung menoleh, menatap Catty yang memiringkan kepalanya dengan jari telunjuk di pipi, menatap menilai pada sosok pria di sebelah Miss Sweyn. Ia bergerak ke depan Catty, menutup mata gadis itu dari pasangan di ujung ruangan.


Catalina mendongak ketika matanya tertutupi dada Claude. Ia terkejut ketika menyadari wajah Claude sudah sangat dekat di depan wajahnya.


"Catalina Seymor ... kau tidak mau menjawab ketika aku bertanya apakah aku tampan. Tapi kau dengan mudahnya memuji pria itu tampan."


"Claude ... jauhkan wajahmu, semua orang memandang kita," ujar Catalina, mendorongkan telapak tangannya ke dada Claude yang menurutnya berdiri terlalu dekat dengan wajah menunduk ke wajahnya. Catalina menoleh sedikit, melirik pada mata-mata para undangan yang memandang tertarik pada mereka.


"Katakan dulu aku lebih tampan dari pria itu," ucap Claude, sengaja memajukan wajahnya makin dekat. Mata biru itu melebar, setelah menelan ludah Catalina akhirnya mengalah.


"Ya," ucapnya pelan.


"Ya apa? Catty?"


"Ya ... kau lebih tampan dari dia," ucap Catalina pelan sambil tertunduk. Ia berharap Claude segera menjauh, ia sangat malu karena merasa jadi tontonan orang-orang.


Di meja panjang tempat makanan dan minuman terhidang, Vincent dan Yoana berdiri memandang ke arah Claude, Vincent tersenyum geli.


"Dia sengaja ...," desis Vincent.


Yoana menyeringai. "Kau lihat bara api di kedua bola mata Miss Sweyn? Jika bisa membunuh, Claude dan Lina sudah terbakar dari tadi," ucap Yoana.


"Lihat juga kegeraman di mata dokter Luigi dan tunangannya, kurasa jika hanya mereka yang ada di sini, dokter itu sudah menarik dan mendorong Claude agar menjauh."


Lalu Yoana tertawa bersama Vincent. Tangan Yoana mengambil segelas minuman, memandang Vincent yang memandang berkeliling dengan mata awas, menilai situasi jika ada yang mencurigakan. Yoana menyadari, Vincent lebih banyak menyentuhnya sejak kejadian penculikan itu. Tanpa dipaksa ia akan menggandeng lengan Yoana atau menghela bahunya. Yoana tahu Vincent melakukannya karena mau menjaganya, tapi hatinya bersorak senang tanpa bisa ia tahan.


Claude mengajak Catalina ke meja panjang, tempat Yoana dan Vincent sudah lebih dulu ada di sana. Keduanya terlihat di datangi dua orang gadis yang Claude kenal sebagai model di perusahaan mereka.


Claude berdiri di ujung lain meja panjang memberikan segelas minuman pada Catalina.


"Ini untukmu. Tidak ada alkohol," ucapnya.

__ADS_1


Catalina menyambutnya, ia menyesap sedikit. Minuman berwarna merah itu terasa seperti ekstrak buah di lidahnya.


Claude melirik ketika di kejauhan, dokter Luigi dan Natalia tampak melangkah pelan, beberapa tamu mengucapkan selamat sehingga langkah mereka tampak terhambat. Claude menduga keduanya akan menuju ke arah mereka. Entah dengan tujuan mengambil sesuatu di meja atau untuk bicara dengannya dan Catalina.


Claude berbalik ke meja dan menatap cake kecil yang disediakan di sana, ia memunggungi Catalina dan mencuil krim kocok yang menghias kue tersebut. Claude mengangkat cake kecil itu dan memasukkannya ke dalam mulut sambil mengoleskan krim di ujung jarinya tadi ke hidungnya sendiri.


Di ujung lain meja, Vincent menaikkan alisnya melihat ulah Claude. Yoana tidak memperhatikan karena sedang mengobrol dengan dua gadis di dekatnya.


Claude berbalik lagi ke arah Catalina dengan pipi menggembung.


"Catty ... kau harus coba ini, enak ... lembut," ucapnya sambil mengulurkan satu cake ke arah Catalina.


Catalina melotot lalu tertawa geli. "Claude ... kau belepotan krim," ujarnya.


"Benarkah?" Claude memegang pipinya.


"Bukan ... bukan di sana. Sini! Aku bersihkan." Catalina mendekati meja, menarik sebuah tisu lalu mulai membersihkan hidung Claude yang belepotan krim. Claude sengaja sedikit menunduk agar Catty tidak perlu mendongak ketika membersihkan hidungnya.


Langkah kaki dokter Luigi berhenti di tengah jalan. Natalia yang menggandengnya harus mengerem tiba-tiba ketika tunangannya itu berhenti.


Natalia menatap ke arah tatapan mata tunangannya. Di depan sana, dengan amat mesra, gadis pertama yang dibawa Claude ke acara yang penuh keramaian setelah kurun waktu empat tahun tampak tengah menghapus wajah Claude dengan selembar tisu. Claude sedikit menunduk, tampak tersenyum amat mesra pada gadis itu.


Natalia menggerakkan gerahamnya menahan geram. Tidak menyadari jika pria yang berada di gandengan tangannya baru saja mendesis marah dan menatap penuh angkara pada pasangan Claude dan Catalina.


Dada dokter Luigi terasa membengkak dengan kemarahan yang berputar, sejak acara dimulai ia sudah mencoba menahan diri, menyimpan keengganannya, menyimpan kejengkelannya, lalu ia mengetahui keluarga Bernard hadir dengan membawa Catalina. Lina telah melihatnya bertunangan, gadis itu sudah tahu ada cincin yang telah mengikatnya pada seorang gadis, lalu ia dihadapkan pada adegan mesra Claude yang terus menerus menempel pada Catalina.


Luigi merasa murka. Murka karena tidak ada yang dapat ia lakukan. Hanya kemarahan yang ada di hatinya sekarang. Kemarahan yang meminta untuk segera di lampiaskan.


N E X T >>>


**********


From Author,


Jangan lupa like, love, vote, bintang lima, dan komentarnya ya my readers.


Terima kasih banyak🙏🙏

__ADS_1


Salam, DIANAZ.


__ADS_2