Embrace Love

Embrace Love
CH 27. Go with Leon


__ADS_3

Claude memakan sarapannya dengan lambat, sengaja berlama-lama sehingga Yoana dan Vincent selesai makan lebih dulu.


"Kami duluan Claude. Vincent akan mengantarku Ke B House." Yoana memberitahu adiknya yang masih mengunyah. Claude mengangguk dan melambaikan tangan pada keduanya yang segera berlalu.


Setelah selesai Claude segera menghilang dari ruang makan. Ia kembali naik ke lantai dua dan menunggu di sebuah ruangan. Beberapa saat kemudian ia mengintip dan melihat Catalina yang melangkah di sepanjang koridor. Claude yakin Catalina akan turun untuk sarapan.


Claude melangkah menuju kamar Leon. Ia membuka pintu dan melihat bayi itu tengah bermain dan dijaga seorang Nanny bernama Lea, yang mengawasinya selama Catalina pergi sarapan.


Nanny itu terkejut dan memandangnya heran.


"Siapkan keperluannya segera dalam lima menit. Aku akan membawa Leon ke suatu tempat." Claude memberi perintah pada Nanny itu sambil mengulurkan tangan mengangkat Leon dan segera menggendongnya. Dengan cepat Nanny melakukan perintahnya, menyiapkan tas Leon dengan popok, tisu, botol susu bahkan susu yang siap diminum serta peralatan yang kira-kira dibutuhkan Leon.


Setelahnya, dengan satu tangan Claude menggendong Leon dan satu tangan lain menjinjing tas. Ia bergegas turun dan melangkah menuju pintu keluar mansion. Bruno pengawalnya tampak heran dan menaikkan alis.


Seorang pengawal lagi bernama Jake kebingungan melihat Tuannya membawa bayi Leon tanpa Nona Catalina ataupun Nona Yoana.


"Bila Catalina mencari Leon, antarkan dia ke kantor segera." Claude memberi perintah pada Jake.


"Ayo pergi Bruno. Masukkan tas ini." Claude memberikan tas Leon pada Bruno yang segera membawanya dan membuka pintu belakang mobil. Claude segera masuk dan duduk sambil memangku Leon yang mulai mengoceh.


Bruno memasukkan tasnya ke bagian depan dan kemudian masuk ke belakang kemudi.


"Kemana Tuan Claude?" tanya Bruno, tidak tahu kemana tujuan tuannya itu membawa bayi Leon.


"Tentu saja ke kantor, Bruno! Kemana lagi?" Claude mengecup puncak kepala Leon yang wangi khas bayi.


"Aku suka baumu Leonard. Kau wangi." Kembali Claude mencium puncak kepala Leon berulang-ulang, dan menyadari Bruno sama sekali belum bergerak.


"Bruno? Apa yang kau tunggu?" Pertanyaan tuannya membuat Bruno yang sedang terpana memandang pemandangan di kursi belakang lewat kaca itu menjadi tergagap.


"Umm ... Maaf. Se ... segera, Tuan," ucapnya sambil mulai menjalankan mobil keluar dari halaman mansion.


Claude tersenyum lebar melihat Leon mengoceh dan sepertinya menikmati perjalanan mereka. Setelah sampai, ia turun dan memasuki lobi kantor dengan Bruno yang mengiringi di belakangnya. Setiap karyawan yang berlalu lalang di lobi menoleh dan menatap tertarik. Bruno mencoba menyembunyikan senyumnya saat melihat tuannya yang memakai jas rapi untuk bekerja, membawa seorang bayi yang tak berhenti mengoceh dan kadang mengeluarkan air liur.


"Keluarkan tisunya Bruno," Perintah itu membuat Bruno bergerak membuka tas dan mulai mencari tisu. Ia mengulurkannya pada Claude yang segera mengelap mulut dan dagu Leon. Claude seperti tidak menyadari karyawan-karyawannya sengaja berhenti untuk memandang pemandangan tidak biasa dimana pimpinan mereka mengurus seorang bayi saat pagi hari akan bekerja.


"Stttt ... kurasa benar gosip yang mengatakan kalau Leonard adalah putra Tuan Claude. Lihat saja itu. Dia bahkan membawanya ke kantor tanpa Nanny."


Bisikan itu terdengar jelas oleh Bruno yang menyadari kalau mereka bertiga terlihat aneh di tengah lobi.


"Tuan ... sebaiknya kita menuju kantor anda. Baby Leon pasti akan merasa lebih nyaman."

__ADS_1


Anggukan dari kepala pimpinannya itu membuat Bruno lega. Ia merasa sangat canggung menjadi pusat perhatian dengan tas bayi di tangannya. Ia bodyguard dengan pistol dan pisau tajam terselip di tubuh, namun pagi ini, tuannya membuatnya terlihat seperti pengasuh.


Mereka menuju lift khusus yang selalu digunakan Claude untuk naik ke lantai tempat ruangannya berada. Resepsionis yang melihat kedatangannya segera berdiri dan mengangguk hormat. Menahan mata mereka agar tidak memandang ke arah pimpinannya yang tengah menggendong bayi.


Setelah masuk ke ruangan Claude, barulah Bruno merasa sangat lega. Namun sedetik kemudian Claude memberi tanda dengan telunjuknya agar Bruno duduk di sofa. Bruno menurut dan segera duduk setelah meletakkan tas Leon.


Claude meletakkan Leon ke pangkuan Bruno yang terbelalak terkejut.


"Pegangi dia selagi aku memeriksa berkas itu." Beberapa berkas yang sudah disiapkan sekretarisnya sudah menunggu Claude di atas meja.


"Tap ... tapi, Tuan," protes Bruno.


"Tidak ada tapi! Dan awas kalau kau membuatnya menangis!" Claude lalu meninggalkan Bruno untuk duduk dibalik meja kerjanya sendiri yang berhadapan langsung ke arah sofa.


Bruno menurut tanpa daya. Untungnya Leon tidak rewel. Setelah 30 menit yang terasa panjang, ponsel Bruno berdering. Ia menatap layar dan melihat temannya Jake yang menelepon.


"Ya? Ada apa Jake?" Bruno mendengarkan Jake yang mengeluhkan tentang Catalina yang terus mengomel.


"Tunggu! Aku akan menanyakannya pada Tuan Claude."


Claude yang tengah berkonsentrasi pada berkas di tangannya mengangkat kepala ketika Bruno bertanya padanya.


"Tuan, Nona Catalina terus mengomel. Jake bilang ia meminta anda membawa Leon kembali."


Bruno menatap datar pimpinannya itu dan segera mengatakan hal itu pada Jake. Terdengar omelan dari suara Catalina yang mungkin sekarang tengah berkacak pinggang mengomeli Jake.


Claude meletakkan berkasnya dan segera berdiri mengambil Leon dari pangkuan Bruno. Ia ikut duduk di sofa dan mengambil botol susu di dalam tas bayi.


"Kau sudah mandi, sudah sarapan. Sekarang minum susumu dan tidurlah."


Leon tampak menanggapi dengan mengoceh dan tertawa.


"No ... hanya ada Daddy Claude di sini. Jadi terima saja kalau sekarang kau harus minum susumu dari tangan ini. Oke? Mommymu tidak ada di sini."


"Tuan ... bolehkah saya menunggu di luar?" Bruno menyela percakapan Claude dengan bayi Leon.


"Ya, pergilah."


Secepat kilat Bruno berdiri dan segera pergi meninggalkan ruangan dengan langkah cepat. Claude mendengus melihat tingkah pengawalnya itu. Sesampai di pintu Bruno bertabrakan dengan seorang wanita cantik dengan body aduhai yang tiba-tiba saja mendorong pintu dan berjalan masuk. Wanita itu agak terdorong keluar karena tubuh besar Bruno.


"Kemana matamu Bodoh!" Makian itu membuat Bruno mengernyit. Ia menahan dirinya dan hanya mengangguk sopan sambil meminta maaf.

__ADS_1


"Maaf, Nona." Bruno berdiri dan menunggu ketika wanita itu masuk dengan wajah pongah dan mata mendelik.


Wajah wanita itu langsung berubah ketika melihat Claude yang duduk di sofa dengan Leon yang tengah meminum susunya berbaring di pangkuan Claude. Mata bulat berwarna biru bayi itu memandang wanita yang tadi datang. Claude menyangga kepala Leon dengan lengannya dan memegang botol susu dengan satu tangannya yang lain.


Claude menyipit memandang wanita yang tadi memasuki ruangannya.


"Siapa yang menyuruhmu masuk, Nona Tania?" Nada suaranya sangat dingin. Tania memasang senyum manis tak tahu diri. Ia mencoba menenggelamkan rasa tidak nyamannya ketika mendengar nada suara Claude.


"Maafkan aku, Claude. Sepertinya karena dulu aku sudah terbiasa masuk saja dan bertemu denganmu, aku lupa membuat janji."


Tania perlahan mendekat dengan langkah gemulai. Wajahnya diatur polos dengan senyuman teduh yang dulu berhasil membuat Claude mencintainya setengah mati.


"Katakan cepat apa keperluanmu. Aku banyak pekerjaan." Claude melirik ke arah Leon yang sudah sesekali memejamkan mata sambil mengisap botol susunya. Bayi itu mengantuk.


"Cepatlah! Aku harus menidurkan Leonard."


"Ummmm ... aku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf." Mulai Tania. Claude mengernyit mendengar ucapan Tania.


"Kenapa kau minta maaf? Apa kesalahanmu?" tanya Claude datar.


"Oh Claude. Aku sangat menyesal! Bertahun-tahun aku memikirkan cara agar bisa datang dan mengucapkan permohonan maafku padamu." Tania mendekati Claude dan perlahan duduk di samping laki-laki itu.


"Sudah kumaafkan, dan kalau boleh kukatakan, aku bersyukur kau melakukannya." Kembali nada dingin dan datar. Membuat Tania kehabisan akal, lalu matanya mulai berkaca-kaca, ia terisak pelan dengan wajah menunduk, membuat Claude menoleh ke arahnya.


"Aku mohon padamu. Bisakah kita memulainya dari awal lagi Claude? Aku tahu aku melakukan kesalahan. Tapi aku akan melakukan apapun untuk memperbaikinya."


Claude menatap dengan alis terangkat. Tidak mengerti apa maksud wanita ini sebenarnya. Kebersamaan mereka sudah lama berakhir empat tahun yang lalu dan wanita inilah yang memilih untuk meninggalkannya. Claude diam tidak bereaksi. Menunggu apa yang akan wanita itu lakukan selanjutnya.


Tania mengulurkan tangan memegang wajah Claude, dengan mata sendu menatap ke arah mata Claude.


"Aku masih mencintaimu, Claude." Lalu dengan perlahan, Tania memajukan bibirnya, menyentuhkan bibirnya pada bibir Claude yang mengerutkan dahi semakin dalam. Wanita itu mencium dan memagut bibir Claude dengan sangat mesra. Claude hanya diam tidak bereaksi.


Saat itulah pintu kembali di dorong terbuka. Dengan celana panjang berwarna hijau toska polos dan blus putih dengan bunga-bunga kecil aneka warna, Catalina masuk dan menemukan pasangan yang tengah berciuman dengan Leon yang hampir tertidur terjepit di antara tubuh dua orang itu.


N E X T >>>


**********


Jangan lupa di like, kasih komentar, klik favorite, klik bintang5 dan vote ya my readers.


Terimakasih😘😘😘...see you at the new chapter.

__ADS_1


Salam, DIANAZ.


__ADS_2