
Diego mengulurkan sebuah saputangan pada tuannya. Pria itu segera mengambilnya dan menghapus lelehan air di wajah akibat siraman Marylin tadi.
"Akhirnya dia marah ... malah terasa sedikit lega melihatnya. Daripada menerima pandangan datar dan pura-pura tenang yang ia tampilkan itu." ucap Alric.
"Apa yang anda katakan padanya? Apa Anda menawarkan ganti rugi lagi seperti yang Anda katakan pada Nona Catalina?" Diego memandang kasihan pada setelah mahal tuannya, cairan itu merusak tampilan elegan pria itu malam ini.
"Tidak ... Aku memilih kata-kataku dengan baik. Dan ia tidak marah karena hal itu."
"Jadi apa penyebab ia marah, Tuan?"
Alric terkekeh," Aku menyinggung masalah hubungannya dengan Serge."
"Hubungan dengan Serge?"
"Ya ... Aku bertanya mengapa mereka tidak menikah saja. Mereka sudah bersama-sama sejak bertahun-tahun ...."
Diego memandang tuannya dengan tatapan terkejut. Ia memang belum memberitahu tuannya perihal Serge yang sakit.
"Kenapa kau terkejut? ... Aku juga mengatakan padanya apakah hal itu ada hubungannya dengan Simon Bernard."
Diego ganti menatap tuannya dengan tatapan aneh.
"Maksud Anda ... tentang Nona Marylin yang pernah menjalin hubungan bahkan melahirkan seorang anak? Anda menyinggung hal itu?"
"Ya ... Aku bertanya mengapa mereka belum menikah, apakah itu ada hubungannya dengan keadaan Mary yang sudah pernah melahirkan. Tapi mereka masih bersama sampai saat ini ... jadi kemungkinan Serge sudah memaafkannya, bukan begitu?"
"Dengan kata lain, secara tidak langsung, Anda mengatakan Nona Marylin berselingkuh dari Serge."
"Jika dia menjalin hubungan dengan Serge tapi punya anak dari Simon, apa kata lain dari kejadian seperti itu?"
"Tuan ...." Diego menghembuskan nafas, merasa jengkel dan ingin sekali ia memukul kepala pria di depannya itu agar sadar.
"Saya merasa ... Anda bersikap tidak biasa jika berhadapan dengan Nona Mary. Agak tidak normal ... maaf .... "
"Tidak biasa? Yang mana sikapku yang tidak biasa ? Tidak normal?" Alric mengernyit, matanya mengikuti gerakan Diego yang menarik kursi lalu duduk di seberang meja.
"Anda mau saya jujur?"
"Ya ... katakan saja,"
"Pertama, Anda memukul wanita! Anda tidak pernah melakukannya sebelum ini. Bahkan pada wanita-wanita kekasih Anda yang paling menyebalkan sekalipun. Kedua, Anda mabuk! Anda jarang melakukannya. Jika melakukannyapun Anda pasti tidak akan merugikan orang lain atau mengganggu orang lain. Ketiga, Anda tidak bisa menahan diri pada Nona Marylin. Baik emosi, kemarahan, juga nafsu, hingga perbuatan bejat itu akhirnya terjadi. Padahal Anda terkenal sebagai orang yang tidak terburu-buru, berfikir rasional dan mampu menahan diri. Keempat ... baru saja Anda lakukan tadi ... Anda mencampuri urusan pribadi Nona Marylin ... padahal Anda adalah orang yang tidak peduli dan bahkan tidak akan mencampuri urusan orang lain kecuali diminta ...."
Alric terdiam, terpaku mendengar penjelasan panjang lebar dari asistennya.
"Saya memang belum menceritakan pada Anda. Karena menurut saya, ini adalah rahasia Serge. Dia terpaksa menjelaskan pada saya saat di penjara mansion Leopard agar saya mengerti bahwa ia dan Nona Marylin benar-benar hanya berteman, sahabat dekat. Serge mengaku ia mengalami disfungsi sexual. Karena hal itulah Mary tidak pernah takut padanya. Jadi mereka tidak mungkin menjadi kekasih, begitulah penjelasan Serge."
Alric diam dengan mulut sedikit terbuka mendengar ucapan Diego.
"Jadi ... bisa jelaskan kenapa Anda berubah tidak masuk akal bila menyangkut Nona Marylin, Tuan Lucca?" Diego mengakhiri kata-katanya dengan wajah mengerut, masih sangat jengkel dengan tuannya itu.
"Ya ampun ... dari penjelasan panjangmu ... Aku cenderung untuk menjadi seorang bajing*n bila sudah berhadapan dengannya. Bukan begitu, Diego?"
Diego tidak merasa perlu untuk menjawab, membiarkan tuannya itu berfikir dan menyesali lagi perbuatannya kali ini.
**********
"Marylin! Buka pintunya!" Serge menggedor pintu kamar Mary. Wanita itu tidak juga keluar dari kamar. Terakhir mereka bicara sebelum tidur tadi malam, Mary terlihat sangat gelisah, namun tidak mau mengatakan apa-apa ketika Serge bertanya.
__ADS_1
Hingga pagi ini, Serge tidak juga melihat wanita itu keluar dari kamar.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Serge dari pintu Marylin. Ia berjalan ke arah pintu depan apartemen dan membukanya. Terlihat Catalina dan juga Annete yang tersenyum lebar sambil membawa dua kantong besar bahan-bahan makanan.
"Halooo, Serge. Mana Mary!? Kami ada janji mencoba sebuah resep baru hari ini." Annete tampak bersemangat melangkah masuk ke arah dalam diikuti oleh Catalina yang hanya tersenyum.
"Syukurlah kalian datang ... Mary mengurung dirinya di dalam kamar. Aku mendengarnya menangis. Tapi ia tidak mau membuka pintu."
"Apa!" dua wanita itu langsung berseru, lalu memindahkan kantong bawaan mereka ke dalam genggaman Serge, kemudian melangkah meninggalkannya menuju pintu kamar Mary.
"Yang benar saja ...." Serge memutar bola matanya ketika mengintip isi kantong. Ada telur, tepung, dan aneka benda lainnya. Ia berbalik dan berencana menyusun semuanya di dapur. Sambil menunggu dua wanita itu membujuk Marylin agar keluar, ia akan membuat segelas kopi.
Pintu kamar Marylin terbuka, wajah sembab yang muncul membuat Catalina dan Annete bergegas masuk.
"Mary ... Ada apa?" tanya Catalina.
"Tolong kunci lagi pintunya, Ann ... Aku tidak mau Serge mendengar," pinta Marylin.
Annete mengangguk dan segera mengunci pintu. Lalu tiba-tiba Mary memeluk Catalina sambil menangis pilu, sesuatu sepertinya membuatnya sangat sedih. Catalina menarik kakaknya ke arah ranjang. Lalu mereka duduk di atas kasur.
"Mary ... tenanglah, kami di sini." Catalina menghapus airmata kakaknya. lalu menyisir rambut panjang Marylin yang kusut dengan jari-jarinya.
"Sekarang ceritakan ... ada apa sebenarnya?" tanya Catalina. Annete duduk di sebelah Mary, mengapitnya di tengah-tengah.
"Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan ...."
"Sayang ... apa maksudmu?" tanya Annete.
Marylin menunjuk pada benda di atas meja riasnya. Annete mengernyit, ia bangkit dan mengambil benda itu. Tangannya gemetar ketika melihat hasil test urine yang kini ia pegang.
"Bukankah itu tes kehamilan? Milik siapa?" tanya Catalina. Jantungnya mulai berdebar keras.
"A ... Aku, Lina ... punyaku ...." ucap Marylin lirih di antara isak tangisnya.
Catalina membelalak,"Tap ... tapi ... tapi, Ya Tuhan ... bagaimana bisa!?"
Annete merasakan air matanya menetes, ia tidak tahu ini sebuah berkah atau hukuman untuk putranya, tapi yang pasti hatinya melambung, seorang calon cucu ... walau dari kejadian yang sama sekali tidak diinginkan.
"Siapa ... siapa yang ...." tiba- tiba Catalina kehilangan suaranya. Firasat buruknya mengatakan kalau ini ada hubungannya dengan penculikan marylin waktu ini.
"Mary ... bicaralah ...." pinta Catalina.
Marylin menatap Annete yang balik menatapnya. Annete mengerti Mary memintanya menjelaskan pada Catalina, sinar mata Mary meminta Annete agar melakukannya.
"Lina ... Aku akan menceritakan kejadian sebenarnya, aku ada di Mansion Cougar saat itu ...." ucap Annete. Catalina mengangguk, mengelus punggung kakaknya yang masih menangis dan bersiap mendengarkan Annete.
Kemudian mengalirlah cerita dari mulut Annete, mengenai kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh Alric terhadap Marylin.
Catalina sudah berdiri sejak pertengahan cerita, gadis itu melangkah bolak balik dengan gelisah.
"Ya Tuhan ... Aku jadi ingin memukul orang ...." desis Catalina.
Mary sudah bisa mengendalikan dirinya. Ia menelan ludah sambil menghapus sisa air matanya dengan lengan.
"Kenapa pria itu bersikap bar-bar padamu ... tunggu ... Apa karena kematian adiknya? Serge sudah bercerita padaku ... tapi, tapi itukan bukan salahmu!" ucap Catalina.
Marylin kemudian menceritakan perihal kesalahpahaman yang terjadi yang menyebabkan Alric menyimpan dendam terhadapnya.
__ADS_1
"Kau harus melaporkan ke polisi!" ujar Catalina.
Annete menelan ludah, walaupun ia tahu Alric pantas mendapatkannya, tapi sebagai seorang ibu, ia tidak rela putranya terkurung.
"Aku ada ide lebih baik ... ini juga demi janin dalam perutmu, Sayang."
Annete menelan ludah, ketika dua pasang mata biru itu menatap ke arahnya.
"Kau bisa meminta hidupnya ... itu akan menjadi hukuman setimpal ...." ucap Annete.
Catalina mengernyit, " Ann ... kau mengusulkan kami membunuh pria itu?"
Annete tiba-tiba tertawa kering, ia merasa sangat gugup, tapi berusaha menutupinya dengan tertawa.
"Bukan, Sayangku. Tapi memintanya segera menikahi kakakmu! Itulah yang aku maksudkan. Hidupnya yang akan di serahkan padamu lewat pernikahan, setahuku, tuan Lucca sangat anti dengan pernikahan."
"Tidak! Aku tidak mau!" jerit Mary.
"Shhhh .... Mary sayang ... dengarkan aku dulu. Pria itu harus bertanggung jawab. Lina bercerita, kau berjuang sekali untuk Leonard dulu, datang kepada keluarga Bernard dan menceritakan kehamilanmu, walaupun semuanya berakhir dengan kau di usir. Jadi sekarang lakukan hal yang sama pada bayi ini, Mary. Sekali saja! ... Lagipula ... setelah menikah, kau bisa mulai mengurungnya di kandang hewan peliharaannya itu."
Dua kakak beradik itu terbelalak menatap Annete.
"Kau juga bisa membuat persyaratan sebelum menikah, hal-hal yang kau inginkan dan tidak inginkan. Laki-laki itu pasti akan mematuhinya ... Demi anak itu, Mary ...."
Catalina dan Marylin saling berpandangan dengan kedua tangan saling menggenggam.
"Mary ... Apapun keputusanmu, kali ini aku akan mendampingimu ...tapi jangan menggugurkannya, aku mohon," pinta Catalina.
Marylin meremas tangan adiknya, lalu memejamkan mata, teringat kekhawatiran yang ia alami ketika tahu telah mengandung Leon. Perbuatan yang dilakukan sekali dengan Simon dan membuat Leon hadir di rahimnya.
Dan sekarang Mary tertawa miris, perbuatan yang dipaksakan dan hanya dilakukan sekali ... kembali menghadirkan calon manusia bernyawa di dalam perutnya. Ironis sekali ... hanya kali ini ia tidak melakukannya dengan suka sama suka seperti dengan Simon dahulu.
"Mary...." Annete dan Catalina berucap berbarengan, sangat khawatir mendengar tawa Marylin.
"Katakan ... Kalian akan selalu ada untukku kan? Akan selalu membantuku bukan?" tanya Marylin.
"Tentu, Sayang" Jawab Annete.
"Ya, Mary," jawab Catalina.
"Kalau begitu aku akan melaluinya ... dulu aku pernah melaluinya. Tentu sekarang pun aku bisa ....Asalkan kalian selalu ada untukku ...."
Annete dan Catalina memeluk Marylin bersamaan. Memberi dukungan mereka sepenuhnya untuk calon ibu tersebut.
**********
From Author,
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima yaππ
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyakππππ
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1