
"Jadi, kau ingin dokter Luigi?" tanya Catalina pada kakaknya. Mereka membicarakan untuk membawa Marylin periksa hamil.
"Ya ... Aku suka temanmu itu. Dia baik."
Catalina tersenyum," Mereka semua baik, Mary. Tapi kalau kau nyaman dokter Luigi yang menjadi doktermu, maka aku akan menemanimu menemuinya."
Mary mengangguk. Lalu dua wanita itu menoleh ke arah dapur, Annete datang dengan sebuah spatula ke arah mereka.
"Ayo Ladies ... coba masakanku. Pasti kalian suka, yang ini berbeda dari yang kemarin aku praktekkan."
"Baunya wangi Annete. Pasti enak ... tapi ...." Catalina berhenti bicara. Ia memegangi perutnya sambil mengerutkan kening.
"Aku akan tambah gemuk bila terus makan makanan Annete."
Annete berdecak lalu menatap Catalina yang berisi.
"Kau tidak akan gemuk, Sayang. Masakanku tidak ada lemaknya. Lagipula siapa yang bilang kau gemuk? Kau hanya sedikit berisi di tempat-tempat yang pas! Para pria suka menyentuh yang berisi."
Ucapan Annete membuat Catalina memerah.
"Kau membicarakan apa! Aku membicarakan makananmu, bukan apa yang para pria suka." Catalina tersipu menatap Annete.
"Dan jangan kau biarkan pacarmu mulai menyentuh bagian-bagian yang berisi itu! Kau dengar aku, Lina!" Annete memperingatkan.
"Oh, Ya ampun ...."
Marylin terkekeh melihat adiknya yang merona.
"Dan kau Mary! Mulailah memikirkan apa yang akan kau lakukan pada tetangga barumu itu ! Kurasa dia akan mencari berbagai alasan agar bisa bertamu kemari."
Catalina menganggukkan kepala, mendukung ucapan Annete. Keduanya menatap ke arah Mary.
"Ummm .... bisakan kita makan sekarang?" tanya Mary. Ingin mengalihkan pembicaraan dari Alric tetangga barunya.
***********
Dokter Luigi sangat terkejut ketika menerima kunjungan dari Marylin dan Catalina.
Ia tidak menyangka kalau pasien bernama Marylin yang datang memeriksakan kehamilannya adalah Mary kakak Catalina.
"Catalina!" Luigi segera berdiri dan menyambut keduanya.
"Halo, Luigi," sapa Catalina. Menyapa Luigi tanpa diawali dengan gelarnya, memberitahu bahwa ia benar-benar menganggap pria itu teman, bukan lagi rekan kerjanya.
"Senang melihatmu, Dokter," sapa Mary.
"Ya ampun ... kalian berdua ... Ayo, duduklah." Luigi menunjuk kursi di depan meja besar di ruangan prakteknya itu. Lalu ia kembali duduk.
Luigi memeriksa kartu kontrol atas nama Marylin. Menyadari status Marylin tetaplah Nona Seymor. Apakah Marylin belum bersuami?
"Kau pasti bertanya-tanya, Dokter. Tapi ya ... seperti Leon dulu ... aku belum bersuami."
Luigi tersenyum, sudah terbiasa memandang semua hal dengan rangka pemikiran yang positif dalam dunia pekerjaannya dan juga bertindak profesional.
"Tapi akan baik jika pria itu bisa ikut hadir, Mary. Jadi aku bisa menjelaskan padanya kemungkinan-kemungkinan yang akan kau alami, dan bantuan serta dukungan yang kau butuhkan hingga kau melahirkan."
Catalina terdiam. Alric sudah beberapa kali datang ke apartemen mereka. Ingin berbicara pada Mary. Sampai saat ini belum ada yang memberitahu pria itu tentang kehamilan Mary. Apakah lebih baik memberitahunya? Pria itu sudah mengucapkan kata penyesalan berulang kali atas perbuatannya. Namun ia dan Mary tidak menggubrisnya.
Tapi mereka tidak boleh egois bukan? Bayi itu nanti akan membutuhkan seorang ayah. Dan Alric memang ayahnya ... terlepas dari penciptaannya yang tragis.
"Kau sudah pernah mengalaminya dulu. Betapa sulitnya melalui hal itu bila seorang diri." lanjut Luigi.
"Ya ... aku tahu, Dokter. Untunglah saat itu ada Catalina."
Luigi tersenyum melihat Mary mengulurkan tangan dan menggenggam tangan adiknya. Catalina balas menggenggam tangan kakaknya. Luigi ikut merasa senang, karena sepertinya hubungan keduanya sudah membaik.
"Baiklah ... Ayo kita periksa keadaan calon bayimu ...."
Luigi melakukan pemeriksaan pada Mary, memintanya naik ke atas ranjang lalu melakukan USG untuk melihat keadaan calon bayi tersebut. Catalina duduk diam dan menunggu hingga semuanya selesai.
"Semuanya baik. Aku akan memberimu resep. Hanya suplemen saja ... kau ada keluhan?" tanya Luigi.
Mary menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah. Semoga sampai melahirkan nanti kau selalu sehat dan tidak ada keluhan."
__ADS_1
"Semoga, Dokter. Terima kasih." Marylin menatap wajah Luigi yang tampan sambil tersenyum.
"Kenapa kau suka sekali memandangnya, Mary. Ketika hamil Leon dulu, kau juga begitu," ucap Catalina sambil terkikik. Membuat Marylin merona lalu menunduk malu karena tertangkap basah.
Luigi terkekeh, "Mary dan bayinya tahu aku tampan dan baik hati, mereka terpesona padaku. Hanya kau saja yang tidak, Lina. Padahal aku sangat berharap kau juga terpesona," ucap Luigi sambil mengedipkan matanya ke arah Catalina.
Catalina terdiam, sedikit merona menerima gurauan itu. Lalu ia teringat pada Natalia.
"Oh, bagaimana kabar istrimu, Luigi? Apa ia mengalami keluhan kehamilan? Kurasa sekarang perutnya sudah mulai terlihat besar bukan?" tanya Catalina.
Luigi langsung diam, kemudian mngernyit setelah memikirkan ucapan Catalina.
"Keluhan kehamilan? Bagaimana mungkin ... Dia tidak hamil. Kau tahu darimana kalau Natalia hamil?" tanya Luigi.
Catalina terdiam sesaat. Menyadari Natalia belum memberitahu Luigi.
"Itu ... Aku hanya mengira-ngira dan menghitung sejak kau menikah," elak Catalina.
"Kau hanya harus berusaha lebih keras, Dokter," goda Mary.
"Uhuk! Emm!! Itu ... " Luigi terlihat tidak nyaman dan salah tingkah.
"Sekarang dia belum hamil, tapi akan segera, Dokter. Jangan khawatir." tambah Mary. Menyangka sikap Luigi yang tidak nyaman disebabkan obrolan mengenai istrinya yang belum juga hamil.
Catalina tercenung, melihat sikap Luigi ini, sepertinya pria itu tidak tahu kalau Natalia sudah hamil. Bukankah waktu ia memeriksakan kakinya bersama Claude, Natalia memeriksakan kandungannya? Apa yang terjadi pada bayi itu!? Atau Natalia sengaja belum memberitahu suaminya hingga saat ini? Kenapa? Apa hubungan keduanya buruk?
Berbagai pertanyaan berkecamuk di fikiran Catalina. Tapi ia tidak akan memberitahu Luigi. Natalia pasti punya alasan hingga menyimpan rahasia ini dari suaminya.
"Kalian tinggal dimana? Maksudku, Kau dan Natalia, Luigi." Catalina mencoba memancing jawaban. Ia ingin tahu apakah pasangan itu tinggal bersama.
"Di apartemenku, Lina. Agak tidak nyaman bila masih tinggal bersama orangtuaku," jawab Luigi. Ini salah satu alasan ia tidak mengusir Natalia. Sejak mereka tinggal bersama, pertanyaan dari orang-orang mengenai seputar pernikahannya akhirnya perlahan menghilang.
Catalina mengangguk.
Berarti mereka tinggal bersama. Syukurlah. Mudah-mudahan bukan hubungan yang buruk yang terjadi. Catalina membatin. Bagaimanapun Catalina ingin melihat temannya itu bahagia.
"Lina .... soal kejadian di pesta pertunanganku waktu itu ...." Luigi berdehem, tidak sanggup mengucapkan mengenai kejadian ciuman paksa yang ia berikan pada Catalina waktu itu.
"Aku sudah melupakannya. Aku tahu kau tidak bermaksud begitu. Kuharap kau menjalani pernikahan yang baik saat ini, Luigi ... Kau mencobanya ... dan aku yakin kau akan berbahagia."
*********
Claude mengetuk pintu apartemen Catalina berulang kali, tapi tidak ada yang membukanya.
"Mereka pergi."
Ucapan itu membuat Claude menoleh. Ia mengerutkan dahi melihat Alrico Lucca ada di lorong.
"Kau! Kenapa kau ada di sini!?"
"Aku tinggal di sana ..." ujarnya sambil menunjuk ke arah apartemennya.
"Mau ke tempatku? Sembari menunggu mereka pulang." Alric menawarkan pada Claude. Claude memandang tajam pria di depannya. Terkenang cerita Catalina tentang Marylin yang hamil.
"Baiklah. Jika kau tidak keberatan."
Alric mengangkat bahu, lalu mengajak Claude masuk ke apartemennya.
"Duduklah ... Kau mau minuman dingin?"
"Boleh."
Alric mengambil sebuah minuman kaleng dalam lemari pendingin lalu melemparnya begitu saja pada Claude. Dengan sigap Claude menangkapnya.
"Sebenarnya kemana mereka...." bisik Claude sambil membuka minuman kaleng.
Alric duduk di depan Claude. Membuka sebuah kaleng dan meminumnya.
"Sebenarnya aku tahu mereka kemana ... Tapi kau akan bertanya-tanya kenapa mereka melakukannya."
Claude menyipit mendengar ucapan Alric yang penuh misteri.
"Coba saja kau jelaskan. Otakku tidak terlalu bodoh, aku pasti bisa mencernanya," cibir Claude.
Alric diam sejenak. Kembali menuang minum ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Mereka ke dokter." Alric mulai menjelaskan. Ibunya yang bercerita kalau Mary dan Lina akan pergi menemui dokter pada hari ini. Seorang dokter lelaki. Alric sangat keberatan, tapi ibunya malah memarahinya. Mengatakan ia tidak punya hak untuk protes, memberitahu Mary kalau ia sudah tahu tentang kehamilannya saja ia tidak berani. Ibunya sungguh pedas dengan ucapannya itu. Alric bukan tidak berani, ia hanya tidak mau Mary makin marah, tidak suka dan akhirnya menghindar.
"Ke dokter? Kenapa? Siapa yang sakit!?"
"Tidak ada ... hanya memeriksakan kehamilan Marylin."
Claude terdiam, tidak tampak terkejut pada kabar itu.
"Kau tidak tampak terkejut. Kau sudah tahu?" tanya Alric.
"Kau juga sudah tahu? Catalina yang memberitahuku tentang kehamilan Mary, dan karena alasan inilah makanya ia pindah dari mansion Bernard. Ia ingin menemani kakaknya."
"Kau tahu aku adalah ayah dari bayi itu bukan?" tanya Alric lagi.
Claude menyipit, memandang jijik pada Alric.
"Ya ... Aku memang menjijikkan. Bukan begitu?"
"Seharusnya kau minta ampun pada wanita itu! Kau menghancurkan hidup dan masa depannya!"
"Aku tahu. Karena itu aku pindah kemari. Ingin memperbaiki semuanya. Tapi aku harus pelan-pelan bukan? Mengajaknya menikah tentu bukan perkara mudah. Apalagi ia sudah pernah mengalaminya, melahirkan tanpa suami ... ia pasti merasa bisa melewatinya tanpa aku kali ini. Seperti dulu ia melewatinya tanpa adikmu, Simon. Dan tanpa dukungan satupun dari kalian keluarga Bernard ...." sindir Alric pedas.
Claude terdiam mengingat riwayat kelahiran Leonard.
"Kau sudah meminta maaf padanya?" tanya Claude.
Alric mengangguk," Ya ... dan Mary hanya mendengarkannya tanpa menjawab."
"Kau harus berjuang lebih keras."
"Itu yang coba aku lakukan ... kau tahu ... betapa inginnya aku mengatakan padanya aku yang akan menemaninya periksa. Tapi Nona Lina tidak mengizinkan aku mendekat. Ia bahkan menutup pintu di depan hidungku."
Claude tersenyum lebar mengingat tamparan Catalina di pipi Alric.
"Dan aku tidak bisa mengemukakan keberatanku ... mereka periksa ke dokter laki-laki! Bisa kau bayangkan itu? Seorang pria memegang dan mengelus perut calon istrimu!"
Claude mengerutkan dahi. Catalina kenal seorang dokter kandungan laki-laki ....
"Dokter lelaki?" tanya Claude, merasa jantungnya mulai berdebar kencang.
"Ya ... Seseorang bernama Luigi Steffan atau Steffano ... kenapa tidak memilih dokter wanita saja!" Alric memberitahu Claude nama dokter tempat Mary akan pergi periksa. Ibunya yang memberinya informasi.
Claude bangkit dengan cepat lalu pergi tergesa-gesa keluar apartemen. Ia melihat ke arah pintu apartemen Mary. Alric menatap heran dan menyusulnya.
"Sepertinya mereka belum pulang," ucap Alric.
"Begini saja, Lucca. Aku akan membantumu menggagalkan acara periksa ke dokter Luigi Stefano ini pada kunjungan Marylin berikutnya. Kau benar dengan keberatan Mary periksa pada dokter lelaki. Jadi aku akan membantu."
Claude menepuk bahu Alric berulang kali.
"Bagaimana caranya?"
"Oh, itu menjadi urusanku. Kau tinggal mencari informasi kapan kunjungan berikutnya akan berlangsung. Jadi aku akan menghentikan Catalina dan kau bisa membawa Mary ke dokter yang kau inginkan."
"Kalau begitu, aku tidak perlu lagi menyimpan fakta kalau aku sudah tahu dia hamil. Aku akan mengatakan aku tahu darimu. Kau tidak keberatankan?"
"Silakan saja ... tapi sebenarnya, kau tahu Mary hamil dari siapa?"
Alric hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. merasa lega melihat Claude tidak mencecarnya lagi dengan pertanyaan itu, pria itu memutuskan untuk masuk kembali dan menunggu.
NEXT >>>>
*********
From Author,
Cie cie ... calon istriπππ
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima yaππ
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyakππ
__ADS_1
Salam hangat, DIANAZ