
Alric merasa gusar. Gusar dan luar biasa bosan. Ketika ia berada di mansion, Mary dengan sengaja pergi keluar. Alasannya adalah untuk membantu dan ikut serta dalam persiapan pernikahan Catalina dan Claude.
"Pergi saja ke mansion Bernard. Susul istrimu. Jadi aku tak perlu melihat wajahmu yang di tekuk."
"Mom ... harusnya kau melarangnya. Kemarin-kemarin Mary sudah ke sana. Hari ini ia pergi lagi. Memangnya apa yang dia lakukan di mansion itu. Segala sesuatunya akan tetap terlaksana walaupun Mary tidak hadir di mansion itu!"
"Jangan mengomel padaku! Istrimu keras kepala! Lagipula untuk apa kau keberatan. Dia akan merasa bosan bila terkurung terus di sini." Annete memarahi Alric yang berani menaikkan nada suara padanya.
"Mom ... kau bisa bilang padaku agar mengajak Mary jalan-jalan. Bujuk dia agar mau ... kujamin dia tak akan bosan."
Annete mendengus. " Aku meragukan mu, Anak Muda! Kau sama sekali belum membuat kemajuan dengan Mary. Padahal kau membanggakan reputasi mu yang luar biasa sebagai pusat dunia para wanita yang memujamu, mengejarmu. Ketampananmu tidak berguna, uangmu tidak menarik, rayuanmu membosankan. Sebenarnya apa yang kau kerjakan? Sedikitpun kau belum bisa mengambil hati istrimu!"
Alric menghembuskan napas panjang mendengar omelan ibunya. Ia hanya tidak ingin memaksa Mary, jika Mary butuh waktu sebanyak apapun agar bisa menerima dirinya, maka Alric akan memberikan hal itu. Tapi hanya bila yang perlu dipertimbangan oleh Mary cuma Alric, tidak termasuk pria lain yang sewaktu-waktu bisa menggoda dan membuat Mary berpaling. Jika itu terjadi, maka Alric tidak akan memberikan waktu. Ia akan mengurung dan menyimpan Mary di mansionnya, hanya untuk dirinya sendiri!
"Kau gelisah ... karena ada Simon Bernard di sana kan?" tanya Annete tiba-tiba.
Alric diam , matanya memandang lurus ke arah kolang renang yang airnya berkilau tertimpa cahaya matahari. Annete yang duduk di kursi santai di teras melirik ke arah wajahnya yang masih gusar.
"Tak ada hubungannya."
"Oh, mengaku saja, Kau pria pencemburu! Jika kau gusar, kenapa tidak kau jemput saja istrimu."
"Dia tidak akan mau ku ajak pulang, Mom."
"Kalau begitu tunggui dia. Tunggu sampai jamnya dia harus pulang. Kau sekarang keluarga bagi Catalina. Sudah sepantasnya ada di sana. Suami yang datang bersama istri untuk membantu persiapan pernikahan adik ipar."
Wajah Alric masih tampak gusar, kejengkelan berkilat di bola matanya.
"Aku tidak suka harus bertemu Simon Bernard.
Pria itu berlidah tajam."
Annete menaikkan kedua alisnya. " Dan kau ... kehilangan sentuhan atas tantangan apapun, Anakku! Walau bagaimanapun, wanita suka merasa diperebutkan. Apalagi oleh dua orang pria tampan. Kalau jadi dirimu, maka aku akan memastikan ... wanitanya akan memilihku pada akhir tantangan."
Alric diam sejenak sebelum tiba-tiba berbalik dan melangkah masuk.
"Kau mau kemana?" tanya Annete.
"Menjemput istriku."
Annete tersenyum lebar. Menyetujui dengan sepenuh hati keputusan putranya untuk menjemput Mary. Ia melanjutkan kembali bersantai di kursi teras sambil membaca majalah yang tadi dibelikan oleh Gray kepala pelayan mereka.
**********
Mary menaikkan alis ketika seorang Maid datang ke dapur dan memberitahu mereka kedatangan seorang tamu yang mencari Nyonya Mary Lucca. Digambarkan oleh sang pelayan sebagai seorang pria yang tampan, berkulit kecoklatan, gagah dengan senyum yang misterius.
__ADS_1
"Aku bertaruh ... itu Lucca," ucap Yoana sambil memasukkan semua adonan kue yang mau ia panggang ke dalam oven.
Catalina terkikik mendengar gambaran pelayan itu pada sosok kakak iparnya. "Hati-hati Mary, suami tampan mu membuat para wanita tergila-gila," goda Catalina.
Mary hanya mencibir dan mengerucutkan bibirnya. Tapi ia bangkit dari kursi dapur.
"Boleh aku mengajaknya ke sini?" tanya Mary pada Yoana.
"Dia pasti datang untuk menjemputmu." Yoana melirik sambil tersenyum.
"Tapi aku belum mau pulang ...."
"Boleh. Aku bisa menyuruhnya membuat satu lagi adonan tepung," ucap Catalina dengan sorot mata jahil.
Mary hanya tertawa. Setelah kembali dari Royal Garden Beaufon, tempat yang dipilih Yoana untuk penyelenggaraan pernikahan Claude dan Catalina, Yoana memaksa mereka membantunya untuk mencoba satu resep kue manis panggang, satu dari sekian resep rahasia yang mereka dapat dari Annete.
Mary melangkah keluar dari dapur. Berjalan menuju beranda depan, tempat Alric masih menunggunya. Ia tiba di dekat pintu, menahan langkahnya sepelan mungkin dan menikmati pemandangan punggung suaminya yang berdiri menghadap halaman dengan kedua tangan bertumpu pada pinggang.
Well ... dari sisi belakang pun, dia tetap terlihat gagah. Mary mendesah dalam hati
Mengerti kenapa ada rona merah yang menjalar di wajah pelayan yang menerima kedatangan Alric tadi.
"Mmm ... Alric?"
Tubuh itu segera berbalik ketika mendengar suara Mary. Tiba-tiba Alric melangkah cepat masuk ke dalam mansion dan mendatanginya. Alric mengulurkan lengannya dan meraup Mary ke dalam pelukan. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepalanya. Mary mengernyit, sikap mesra Alric hanya dipertontonkan pria itu bila berada di depan umum. dan Mary terbiasa menerimanya karena tahu suaminya itu ingin memberi kesan bahwa hubungannya dengan sang istri yang mendadak dinikahi ini baik-baik saja dan berjalan normal. Walaupun bila tidak di depan umum, dan hanya tinggal mereka berdua ,tidak ada yang normal dalam hubungan keduanya.
"Ada apa denganmu? Bukankah tadi kau pergi bekerja?" tanya Mary.
"Aku pulang dan kau tidak ada. Kau tidak bilang mau kemari lagi."
Mary mendengar nada menegur di suara Alric. Ia memang tidak pamit pada Alric tadi pagi.
"Maaf ...."
"Tak masalah ...."
"Mmm ... kalau begitu, bisakah kau melepaskan aku?"
Alric menaikkan alis, memandang Mary yang meliukkan badannya agar terlepas dari kedua lengannya.
"Kau tidak keberatan kupeluk sepanjang malam di pesta Malik waktu itu."
Mary sedikit merona. " Itu berbeda ... Trinity Tower dipenuhi undangan yang hampir setengahnya mengenal dirimu. Aku tidak mungkin mempermalukanmu dengan bersikap tidak peduli."
"Terima kasih. Tapi kau tidak pernah tidak peduli. Kau peduli pada semua orang di mansion Lion. Apalagi pada Hermione."
__ADS_1
"Dia anjing menggemaskan."
"Dan aku tidak bersikap penuh kasih sayang hanya karena berada di depan umum, Mary. Aku melakukannya di depan umum karena hanya di depan banyak orang kau tidak menolak sentuhanku. Aku belum pernah mencobanya di ruang pribadi kita karena ingin membuatmu terbiasa dulu dengan setiap pelukan, ciuman ...."
Alric melihat istrinya mulai terbelalak. Well ... Mary harus mulai terbiasa. Ia sudah mulai gusar. Apalagi ketika Annete mengatakan ia kehilangan sentuhan, ibunya itu mengatakan ia tidak melakukan apapun untuk membuat hubungannya dengan Mary menjadi lebih baik. Jadi Alric memutuskan akan bersikap sedikit memaksa.
"Aku menciummu di pesta Malik, kau membalasnya. Balasan yang sesuai harapan, kalau boleh aku menggambarkan sikap antusias yang kau tunjukkan. Malik sampai panas dingin. Aku jadi ingin tahu ... bagaimana bila tidak di depan umum, tempat tidak ada keharusan untuk menjaga nama baikku. Apa Maryku akan membalasnya juga?"
Bola mata Mary makin melebar mendengar ucapan Alric. Membuat Alric terkekeh geli.
"Oh, Kau si brengs*k. Jangan menggodaku!" seru Mary sampai menggoyangkan tubuhnya dengan kuat hingga terlepas dari lengan Alric. Mary berbalik dan bermaksud meninggalkan suaminya di tengah aula mansion Bernard. Namun baru selangkah, lengannya ditarik kuat dan tubuhnya membentur dada keras Alric. Lengan besar suaminya itu terasa menjepit dan melilit di seputaran pinggangnya.
Mary bergidik. "Apa yang kau lakukan!"
Bibir Alric dengan lembut menyentuh bibir Mary. Satu lengan pria itu yang bebas menahan belakang kepalanya hingga tidak bisa bergerak. Mary masih berusaha melepaskan diri ketika bisikan lembut suaminya terdengar serak dan penuh damba di telinganya.
"Ayolah, Mary ... sudah begitu lama sejak pesta Malik. Aku rindu menciummu ...."
Lidah Alric menggoda, tubuh pria itu melekat dengan tubuh Mary, menguncinya dengan lengan, sementara bibirnya mengusap dan memag*t. Merayu Mary agar membalas.
Mary seolah mendengar deru dan gelegak darahnya sendiri di telinga, ia tidak menampik, entah sejak kapan sentuhan suaminya itu tidak lagi membuatnya takut. Ciuman di pesta Malik, rekan sekaligus teman Alric ketika itu terus terbayang di kepalanya. Ciuman yang membuatnya lupa pada keengganan terhadap sentuhan dan memanaskan darahnya secara cepat.
Ketika ia merasakan serbuan lidah yang merayunya untuk memberi balasan, Mary merasakan, ciuman inipun terasa memabukkan.
Alric baru saja merasakan ujung lidah mungil istrinya bergerak dan membalas rayuannya ketika suara berdeham keras dari arah pintu depan mansion tiba di telinganya.
"Dasar tidak tahu malu! Kau seperti kuda yang sedang birahi, Lucca! Istrimu itu bisa-bisa kehabisan napas!" Teriakan kuat bernada menghina itu terdengar gusar. Dengan sangat perlahan Alric mengangkat kepalanya dari wajah Mary, tidak terburu-buru melihat siapa sang pengganggu. Ibu jarinya menyapu bibir bawah Mary yang lembab. Satu kecupan lagi ia berikan dengan sepenuh hati pada bibir Mary yang terlihat membengkak.
Sang pengganggu terdengar mendengus keras. Alric tersenyum memandang Mary yang sekarang terbelalak dengan wajah merah. Menyadari mereka tertangkap basah berciuman di aula mansion orang lain.
Perlahan Alric membalikkan badan, dengan kedua tangan masih menyangga tubuh Mary. Dalam hati ia bisa menduga siapa sang pengganggu, tapi ia berbalik dan menoleh. Ingin melihat pria yang telah mengganggu dan berucap lancang kepadanya tadi.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Haiii ... Bisa tebak siapa sang pengganggu!?
Bakal marah besar nih, Alric dikatain kuda😂😂😂🙊🙊
Readers tersayang, maafin Di up tidak tentu ya. Menyesuaikan dengan pekerjaan author di real life. Atas kesabarannnya Di ucapin terima kasih.
Jangan lupa terus dukung Di ya, tekan like, live bintang lima dan beri komentar. Yang punya koin and poin, boleh bantu vote ya.
__ADS_1
Makasih banyak my Readers.
Salam hangat, DIANAZ.