Embrace Love

Embrace Love
CH 78. Back home


__ADS_3

Yoana melaju mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang.


"Katakan padaku apa yang pria itu inginkan?" Yoana melirik ke arah Marylin yang duduk di sebelahnya.


"Kontraknya tak beda jauh dengan apa yang Serge inginkan. Hanya saja, kami harus sedikit menyesuaikan diri dengan perjalanan."


"Perjalanan?"


"Ya. Pengambilan gambar di beberapa negara."


"Kau pergi sendiri? Maksudku hanya kau modelnya?"


"Tidak. Ada lima orang. Beberapa kru dan yang paling penting, Serge juga akan ikut kemanapun aku berada."


"Tidak ada yang aneh? Mencurigakan?"


Marylin tertawa. "Sama dengan pikiranku di awal. Tapi mungkin itu sangat subjektif. Dipengaruhi rasa takutku yang tidak pada tempatnya."


"Kapan kau pergi?"


"Sekitar tiga hari lagi ...."


"Catalina tahu?"


"Tidak ... dan jangan beritahu dia. Katakan saja aku banyak pekerjaan jadi tidak bisa mengunjungi dan di kunjungi."


"Dia akan mencarimu."


"Mungkin. Tapi kakinya tidak akan bisa membuatnya keluar dari Mansion Bernard."


"Berapa lama perjalanannya?"


"Kurasa sekitar tiga atau empat bulan ...."


Yoana kemudian hanya diam. Berpikir masih ada yang mencurigakan tentang tuan Lucca. Tapi saat ini tidak ada yang bisa mereka lakukan.


"Kau tahu Yoana ... aku tidak menyangka akan mengucapkan ini padamu. Tapi ... tolong jaga adikku." Lalu ia tertawa, wajahnya tidak memandang Yoan, ia menoleh ke arah luar kaca.


"Dan Leonard ... jangan pisahkan dengan Lina," ucapnya lagi.


"Apa kau tidak bisa menunggu? Leonard akan berulang tahun ...."


Marylin menggeleng. "Tidak. Aku harus pergi di hari yang sudah ditentukan. Tuan Baldassare akan langsung menjemput kami."


Yoana menarik napas panjang dan mengangguk, kemudian kembali berkonsentrasi pada jalanan di depannya.


Mereka tiba di Mansion Bernard. Mobil Vincent mengikuti beberapa saat kemudian. Catalina dibawa turun dan masuk ke mansion. Ia segera mengulurkan tangannya pada Leon yang menyambutnya dalam gendongan Nanny.


"Leon ... kemarilah," ucap Catalina dengan tangan terulur.


"Tunggu, Cat. Duduk di sini saja." Claude menurunkan Catalina ke sofa. Nanny yang menggendong Leon kemudian memberikan bayi itu ke pangkuan Catalina.

__ADS_1


"Mommy sangat merindukanmu," ucap Catalina yang di sambut ocehan panjang dan tawa menggemaskan dari Leon.


Catalina mendongak dan melihat orang-orang yang duduk mengelilinginya di sofa.


"Dia bertembah gemuk," ucapnya.


"Kau ingat ulang tahun Leon kan, Lina? Pesta seperti apa yang akan kita adakan?" tanya Yoana.


Catalina mengernyit, keningnya berkerut sambil memandangi bayi yang masih mengoceh di pangkuannya.


"Hmmm ...." gumam Catalina. Marylin tersenyum, entah kenapa ia ingin menebak isi pikiran adiknya itu. Memahami Catalina ternyata dapat membuat isi pikiran gadis itu dapat dengan mudah di mengerti. Dan hari-hari yang dihabiskan mereka bersama di rumah sakit membuat Marylin seakan tahu apa yang gadis itu pikirkan.


"Kau ingin merayakannya dengan cara yang sedikit berbeda bukan?" ucap Marylin dengan tangan bersedekap.


Catalina menoleh, menatap Marylin terkejut. Ia memang memikirkan bahwa sebuah pesta untuk bayi berumur satu tahun terasa berlebihan. Leon belum mengerti dan tidak akan terlalu menikmati. Paling lama satu jam dan lalu Leon akan mulai gelisah dan tidak nyaman di pesta.


"Ummm ... " Catalina diam dan sedikit ragu.


"Katakan saja Catty," ucap Claude.


"Menurutku, Leon belum mengerti tentang sebuah pesta yang diadakan untuknya, jadi akan lebih berguna jika perayaan ulang tahunnya dirayakan di panti, dana yang di berikan akan sangat berguna bagi anak-anak di sana ...."


Semua orang hanya diam, Catalina bergerak-gerak gelisah. Memandang berkeliling dan berhenti pada Yoana yang terlihat mengangguk-angguk.


"Baiklah ... lagipula aku ingin suasana berbeda," ucap Yoana memecah keheningan.


"Benarkah?" tanya Catalina dengan senyum lebar.


"Umm ... tidak harus ke sana, yang ada di sini juga bisa. Tapi ... bila kau mau mengadakannya di sana, Aku akan sangat senang." Catalina mengangkat Leon dan mengayunnya sambil duduk. Tak henti tersenyum lebar, merasa sangat senang memikirkan akan bertemu lagi dengan anak-anak panti dan juga suster Rebecca.


"Baiklah ... Kau dengar, kau bertugas memindah-mindahkan dia. Luangkan waktumu sehari dan ikut ... pekerjaanmu berikan pada Vincent!"


"Yes, Your Grace." Claude membungkuk, menyindir kakaknya yang memberi perintah.


"Kenapa aku harus tinggal?" tanya Vincent.


"Karena aku bilang begitu!" Dengan kalimat itu Yoana meninggalkan aula.


"Kau ikut bukan, Mary?" tanya Catalina.


Marylin menggeleng dengan mantap. "Tidak bisa Lina. Maaf. Aku punya pekerjaan yang harus dilakukan."


Catalina menunduk lesu. Akan menyenangkan bila Mary ikut. Tapi ia tidak berani memaksa, Mary sangat menyenangi pekerjaannya.


Dia tidak akan mau tertunda, sekalipun itu untuk Leon, pikir Catalina sedih.


**********


Marylin menurunkan kacamata hitam di atas kepalanya ketika melihat sebuah mobil mendatangi area depan apartemennya dan Serge.


"Kau siap, Sayangku?" tanya Serge.

__ADS_1


"Tentu saja," ucap Marylin


"Mari kita pergi, bekerja sekaligus melancong. Liburan gratis dengan gaji dalam jumlah besar," ucap Serge yang mulai menarik koper mereka.


"Terasa menyenangkan mendengar kau menyebutnya seperti itu, Serge." Marylin memasang kacamata hitam menutupi matanya. Mobil yang dikendarai tuan Baldassare berhenti, laki-laki itu turun dan membukakan pintu untuk Marylin. Serge segera memasukkan kopernya ke bagian bagasi lalu menyusul masuk bersama Marylin.


"Baiklah, Tuan Baldassare, Kami sudah siap." Serge menoleh dan mengedipkan mata pada Marylin. Marylin membalasnya dengan tersenyum lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Serge. Diego Baldassare melirik dari kaca interaksi keduanya sebelum menjalankan mobil.


Permulaan rencana tuannya sudah berhasil. Hanya tinggal tuannya menyelesaikan beberapa pekerjaan dan permasalahan yang dianggapnya harus ia tangani sendiri, sebelum ia fokus pada kedua orang ini. Terutama pada wanita itu ....


Mereka tiba di jalur jalan masuk bandara. Mobil itu langsung menuju jalur pesawat pribadi yang sudah menunggu.


Marylin dan Serge turun, melihat seorang gadis dan beberapa orang mengikutinya. Mereka juga menuju pesawat. Marylin mengenalinya sebagai seorang artis terkenal dengan bayaran selangit.


"Nona Rossalie adalah salah satu artis yang ikut dalam pemotretan kita. Akan membuat beberapa video pendek bersama kru film yang sudah berangkat lebih dulu." Diego Baldassare menjelaskan tanpa diminta.


"Pesawat ini milik Tuan Lucca. Ia ingin waktu yang ditargetkan selesai sesuai jadwal. Transportasi apapun akan dijamin dengan kenyamanan penuh untuk kalian. Mari ..." Diego membantu menarik koper Marylin, sedang Serge menarik kopernya sendiri.


"Apapun itu ... kurasa kita boleh lega, Mary. Ini benar-benar pekerjaan dengan uang yang jelas. Mereka para artis itu juga akan bekerja bersama kita. Mari kita hilangkan kecurigaan kita untuk sementara. Bersenang-senanglah," bisik Serge ke telinga Marylin.


Marylin tersenyum, lalu mengangguk untuk kemudian menapakkan kakinya naik ke tangga pesawat. Diego memberikan koper Mary pada seorang pria yang sepertinya adalah pengawal dengan jas lengkap dan kacamata hitam. Pengawal itu memberikan sebuah ponsel padanya, lalu menerima koper itu dan membawanya naik ke dalam pesawat.


Diego mendekatkan ponsel yang telah terhubung itu ke telinganya.


"Ya, Tuan ...," ucapnya. Sudah tahu siapa yang menelepon.


"Apakah lancar?" suara Alric terdengar dari seberang sana.


"Tentu, Tuan. Mereka sudah naik. Sebentar lagi kami berangkat."


"Bagus. Lakukan saja pekerjaannya sesuai rencana, selagi aku menyelesaikan semua pekerjaanku dan kemudian ikut bergabung."


"Baik, Tuan."


N E X T >>>


********


FROM AUTHOR,


Jangan lupa klik like, love, bintang lima dan juga komentar ya. Yang banyak poin, boleh dong kasi vote.


Yuk ajak temen baca ini ya. Follow juga author dengan klik 'ikuti' di kolom profil author.


Baca novel author yang tidak kalah seru:


Passion Of My Enemy


Love Seduction


Terima kasih.

__ADS_1


Salam, DIANAZ


__ADS_2