Embrace Love

Embrace Love
Ch 123. Persuasion


__ADS_3

Serge menatap ke arah Alric yang bersedekap sambil menatap ke luar jendela. Mereka tengah berada di restoran sebuah hotel, di mana seluruh kru Frans Humberto tengah berkumpul dan menikmati makan siang.


Alric mendatangi Serge, Frans Humberto sendiri yang mengantarkannya ke meja Serge. Luar biasa ... tiga pria yang makan bersamanya seketika menyingkir setelah Humberto mengatakan Alric ingin bicara secara pribadi dengan Serge.


Alric bicara dengan runtut mengenai kejadian yang menimpa Mary, juga mengenai kehamilan wanita itu. Ia mengaku dan mengatakan akan bertanggung jawab.


Cerita yang sama seperti yang Mary ceritakan sebelum Serge pergi bekerja dengan kru Frans Humberto. Tentang pemerkosaan yang terjadi di mansion Cougar. Serge sebenarnya ingin sekali mendatangi dan membuat perhitungan dengan Alric saat itu. Tapi ia sudah tidak punya waktu, ia baru akan memulai pekerjaan, akan buruk jika ia terlambat dan mengacaukan semuanya. Padahal mereka membutuhkan pekerjaan itu. Lalu keputusan yang Mary katakan saat itu membuat Serge akhirnya memilih menunggu, Mary mengatakan akan melahirkan bayinya tanpa Alric, ia merasa sanggup melaluinya, karena dulu pun ia sudah pernah mengalaminya saat kehamilan Leonard. Jadi ia meminta Serge jangan melakukan apapun.


Serge memutuskan melihat perkembangan selanjutnya dan melihat lagi apa yang bisa ia lakukan setelah pulang dari perjalanannya bersama kru Frans Humberto nanti.


"Jadi, kau melakukan penerbangan beberapa jam kemari hanya untuk meminta bantuanku, bukan begitu?" tanya Serge dengan senyum sinis.


Alric berbalik dari jendela dan melangkah mendekati Serge. Setelah menarik sebuah kursi, ia duduk dan menjawab dengan nada datar.


"Bisa dikatakan begitu ...."


"Kenapa? Kau tidak mampu membujuknya?" tawa kering terdengar dari tenggorokan Serge.


"Serge ... kehamilannya akan bertambah besar. Dia akan butuh setiap bantuan yang ada, dan aku ingin ada di sana untuknya dan bayi itu."


"Kurasa ia akan bisa melewatinya. Dulu ia sudah pernah melewatinya. tanpa siapapun ... hanya ada Catalina ...." Serge merasa kata-kata Alric tadi benar, ia juga sedikit tidak setuju dengan keputusan Mary. Ia punya akal sehat, Mary akan terlindungi dan bayinya akan punya keluarga lengkap. Tapi ia tidak akan membuatnya mudah untuk pria itu.


"Dan ia jadi tidak sanggup mengasuhnya sendiri bukan?"


Serge terdiam. Lagi-lagi Alric benar. Saat itu Mary sangat rapuh dan gelisah. Ia bahkan memikirkan akan melakukan aborsi jika saja Catalina tidak menghentikannya. Sekarang Catalina memang sudah berada di samping Mary. Tapi apa Mary akan mampu menjadi orang tua tunggal? Mary yang ia kenal sangat rapuh dibalik topeng wanita kuat yang ia tampakkan.


"Kau melakukannya untuk anakmu, bukan? Jadi itu tidak ada hubungannya dengan Mary ku."


"Kau bodoh! Aku menginginkan bayiku satu paket dengan ibunya!"


"Tidak salah kalau Mary meragukan niatmu. Aku saja masih ragu ... kau membenci kami dengan amat sangat dahulu."


"Saat aku tidak tahu kejadian sebenarnya, Serge. Dan kemarahanku sesungguhnya bisa di maklumi ... walaupun fakta mengatakan bahwa Mary bukan kekasih Alexandro dan ia lari karena malam itu Alex berniat memperkosanya, tapi kalian mengakui ... kalian meninggalkannya di jalanan itu ...."


"Hal yang wajar di lakukan oleh orang yang ketakutan. Bagaimana mau menolong adikmu ... ia baru saja mau melakukan hal keji pada Mary. Hal keji yang akhirnya diselesaikan olehmu ...." Serge mengucapkan kalimatnya dengan nada dingin.


Alric menarik napas panjang lalu menatap Serge dengan penyesalan yang terus menerus membelit hatinya sejak kejadian itu. Sinar matanya memohon.


"Aku tahu aku tidak akan dapat menghapusnya dari memori kalian. Terutama Mary ... tapi berikan aku kesempatan. Apakah salah jika aku ingin memperbaikinya? Aku mabuk dan marah saat itu, memberi hukuman pada Mary yang akhirnya harus ia tanggung sampai sekarang. Ia hamil anakku, Serge. Bantu aku membujuknya ...."


"Apa kau bisa dipercaya?"


"Aku akan membuktikannya."


"Kau bisa saja mengambil anakmu ketika ia lahir. Carilah ibu untuk bayimu setelahnya. Ajak kekasihmu menikah misalnya," ucap Serge. Sengaja mengatakannya karena ingin tahu bagaimana reaksi dan pendapat Alric tentang hal itu.


"Tidak! Aku menginginkan Mary! Lagipula ... apa dia semudah itu melepas bayinya!? Apa ia akan melakukan hal yang sama seperti bayi Leon dulu!? Astaga ...." Alric memijit kening lalu jarinya berpindah ke kepala dan mulai menarik rambutnya sendiri.

__ADS_1


Serge memandangi Alric dengan sedikit rasa kasihan. Ia tahu jawaban pertanyaan itu. Ia dan Mary juga sudah bicara dari hati ke hati tentang bayi yang dikandung Mary sebelum ia berangkat untuk bekerja bersama kru Frans Humberto. Mary mengatakan tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang ia lakukan pada Leon. Ia akan bekerja lagi untuk memenuhi kebutuhannya dan bayi itu nanti. Lalu Serge tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia mengatakan, dengan gajinya sekarang, maka Mary hanya perlu menghabiskan waktu di apartemen saja tanpa perlu bekerja lagi.


"Pekerjaanku masih belum selesai. Kami akan berada di sini untuk tiga hari ke depan, Alric."


Alric menghentikan gerakan menarik-narik rambutnya. Ia mendongak menatap Serge.


"Maksudmu ... kau akan membantuku?"


Serge menaikkan kedua bahunya," Ya ... walaupun aku tidak tahu kenapa bagimu bujukanku akan mengubah keputusan Mary. Kau dan Catalina saja tidak berhasil ...."


"Karena kau adalah orang yang paling ia percayai. Paling ia dengarkan ... ia akan mempertimbangkan kata-katamu ...."


"Baiklah. Tiga hari lagi aku pulang."


"Tidak. Kemasi barang-barangmu sekarang. Aku menunggu. Kita akan langsung berangkat pulang.


"Kau gila ya! Aku masih bekerja! Aku tidak mau dipecat!"


Alric berdiri, ia melangkah dan mendekati Frans Humberto. Keduanya berbisik dan terlihat Humberto menganggukkan kepala sambil menepuk bahu Alric. Lalu keduanya mendekat ke arah Serge.


"Serge ... kau pulanglah lebih dulu bersama Alric. Ia membutuhkan bantuan darimu. Tunggu kami tiga hari lagi. Kita semua juga akan pulang. Jadi sampai bertemu di sana nanti, oke." Humberto menepuk bahu Serge dan berlalu meninggalkannya.


Alric menatap Serge dan menunggu.


"Pergilah ... kau punya waktu sepuluh menit untuk berkemas."


**********


"Serge!" Marylin melompat girang ketika membuka pintu dan menemukan Serge berdiri di sana.


"Halo ... apa kabar para gadis cantikku?" Serge tersenyum lebar dan memeluk serta mencium pipi Mary lalu Catalina dan Annete.


"Kalian merindukanku bukan?" tanya Serge setelah melepas pelukannya pada Annete.


"Tentu saja," jawab para wanita itu bersamaan. Lalu serge menarik dua buah koper besar dan membukanya.


"Ayo serbu hadiah kalian," ucapnya.


Para wanita itu berteriak dan tertawa bersama. Mereka membuka dan saling mengomentari setiap hadiah bawaan Serge. Mereka sibuk dengan semua aksesoris, baju santai, blus, rok pendek, gaun bahkan piyama tidur. Serge menyeringai, ia melirik ke bingkai pintu depan dan melihat Alric yang tersenyum masam sambil memandang kehebohan itu dengan bersedekap. Serge memborong dua koper besar hadiah yang laki-laki itu pilih untuk tiga wanita yang tengah tertawa bersama di sana. Menggunakan uang Alric, ia yang memilih dan Alric yang membawakan barang sambil mengikutinya dari belakang saat belanja. Sebagai syarat ia mau di suruh pulang lebih cepat dari kru yang lain.


Serge kembali memandang ke arah tumpukan barang yang sudah di bongkar para wanita itu.


"Ayo Ladies ... jangan dilihat saja, aku ingin kalian mencobanya," ucapnya dengan menyeringai.


Ia melirik lagi ketika sosok di pintu apartemen itu terlihat bergerak. Alric berbalik dan pergi meninggalkan kehebohan di sana. Membuat Serge tersenyum sangat lebar.


Sangat menyenangkan bisa mengerjaimu, Alrico Lucca ....

__ADS_1


**********


"Ini hanya pendapatku, Mary. Niatnya layak dipertimbangkan."


Serge mengulurkan tangannya dan menepuk punggung tangan Mary.


"Kau bosan menjagaku, ya?"


"Apa!? Yang benar saja! Aku selalu siap menjagamu! Juga bayimu! Tapi Aku tidak akan bisa jadi ayahnya, Mary ... karena ayah bayi itu yang sebenarnya akan menuntut haknya. Dia punya banyak uang. Kau tidak akan bisa menjauhkannya dari anaknya itu. Aku malah berpikir ... jika kalian tidak menikah, ada kemungkinan dia akan mengambil anak itu jika nanti dia menganggap aku dan kau tidak membesarkannya dan memenuhi kebutuhannya dengan layak."


"Ap ... Apa dia benar-benar akan melakukannya, Serge?"


"Aku tidak tahu Mary ... Tapi Lucca sama saja dengan Claude Bernard. Mereka kepala keluarga yang menyayangi garis keturunan dan menganggap tidak ada keturunan mereka yang hidup di luar sana tanpa perlindungan. Itulah yang terjadi pada Leon. Sampai keluarga Bernard menculik Leon dan Catalina agar Leon kembali ke keluarga Bernard. Lucca juga begitu. Alexandro adiknya punya ayah yang berbeda. Tapi Lucca tetap mencintainya karena darah ibunya mengalir pada Alexandro. Lalu apa kau kira ia akan membiarkan darah dagingnya hidup tanpa ayah? Sedangkan dia masih hidup dan sangat mampu melakukan segala hal agar keturunannya terlindungi?"


Mary mulai meremas kedua tangannya sendiri. Serge menghembuskan napas dan menarik dagu Mary agar wajahnya menghadap Serge.


"Keputusan tetap padamu, Sayang. Aku temanmu hanya ingin yang terbaik untukmu dan bayi itu. Alric terlihat bersungguh-sungguh. Ya, ia bersalah ... ya, ia bejat dan keji waktu itu, dan ya, dia tidak termaafkan. Tapi dia mengakui kesalahannya dan minta maaf berulang kali. Aku dan kau? Kita bahkan punya dosa kita masing-masing, Mary. Kita bukan orang suci. Tapi, mau atau tidak kau memberinya kesempatan, itu tetap menjadi keputusanmu. Karena kaulah yang menjalaninya nanti. Tapi ... bila kau tanya pendapatku, maka terimalah niat baiknya. Kau selalu bisa pergi jika kau tidak sanggup. Aku akan selalu melihat dan mengawasinya. Kita akan terus bersama walaupun nanti kau sudah menikah. Aku akan selalu ada untukmu, Mary."


"Oh, Serge ...." Mary terisak, bersandar di bahu Serge. Lengan Serge segera memeluk bahu sahabatnya itu.


"Kau tahu ... kenapa Catalina belum juga menikah dengan Claude sampai saat ini?"


Mary membersit hidung sambil menggeleng. Serge menarik sebuah tisu di meja, lalu memberikannya pada Mary.


"Karena Lina hanya akan menikah ketika ia merasa kau sudah terlindungi dan stabil dari efek buruk kejadian itu, atau bila kau sudah menikah dan ada yang menjagamu. Dia sangat mencintaimu, Mary."


"Aku tahu ...."


"Lagipula ... bila kau takut ketika nanti sudah menikah dan tinggal dengannya. Maka kau bisa menentukan pengaturan tempat tinggal. Tempat yang membuatmu nyaman. Kau bisa minta Annete agar kembali bekerja. Kulihat ia senang sekali menemanimu. Siapa tahu ia mau menemanimu jika nanti kau sudah menikah. Jadi kau punya orang yang akan mendampingimu."


"Entahlah, Serge."


"Pikirkanlah, Sayang." ucap Serge sambil menepuk lengan atas Mary.


NEXT >>>>


**********


From Author,


Jangan lupa like, love, komentar ,bintang lima dan vote ya........benar-benar jadi penyemangat author buat nyelesain kisahnya.


Cek karya author yang lain dengan klik 'karya' pada kolom profil author. Monggo mampir juga di dua novel author yg lain.😊😊🙏


Terima kasih para readers setia Embrace Love. Karena kalian kisah ini tercipta dengan penuh semangat.


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2