
Usai pesta, Alric memasuki kamar tidurnya dan mengganti pakaian. Ia akan bersiap-siap tidur. Setelah berbaring, matanya melihat pada pintu penghubung, timbul keinginan di hatinya untuk mengecek Mary. Alric bangkit dan segera mengenakan jubah kamar. Ketika sudah memegang pegangan pintu, ia melihat lagi ke arah jubahnya, lalu menggelengkan kepala. Ia tidak mau membuat Mary takut jika wanita itu tiba-tiba terbangun.
Alric berbalik, masuk ke dalam walk in closet dan mencari kaos serta sebuah celana pendek. Setelah berpakaian, barulah ia kembali ke pintu penghubung dan membukanya perlahan. Pintu itu memang sengaja tidak ia pasangi kunci, agar Mary tidak bisa mengunci dirinya di dalam kamar.
Kamar Mary hanya diterangi oleh temaram lampu tidur. Alric melangkah perlahan dan mendekat ke arah ranjang. Ia menarik napas panjang. Istrinya tidur dengan masih mengenakan gaun pesta yang tadi ia kenakan. Seperti dugaannya, Mary tidak bisa melepas sendiri gaun tersebut, dan ia rupanya tidak memanggil pelayan. Alric menatap wajah Mary yang terlelap, lalu bantal-bantal yang tersusun di samping tubuhnya. Alric mendekat dan naik ke atas ranjang. Ia menggoyangkan bahu Mary dengan sangat pelan.
"Mary ... bangunlah ...."
Mary tidak bergerak, Alric tidak mau menggoyangkan bahu Mary lebih keras lagi. Takut istrinya itu terkejut.
Alric mengitari pandangan ke sekeliling kamar dan menemukan baju longgar yang ia ambilkan ketika mengantar mary ke kamar saat tadi pesta berlangsung. Ia turun dari ranjang, lalu mengambil gaun longgar itu. Alric memutari ranjang, lalu naik lagi ke atas kasur dari sisi belakang punggung Mary. Ia mulai menarik satu demi satu simpul tali gaun di belakang punggung Mary. Setelah semuanya terbuka, Alric kembali membangunkan Mary.
"Mary, ayo ... bangun dulu, buka gaunmu,"
Kembali Alric menggoyangkan bahu Mary.
"Mmmmm ...." gumaman terdengar dari bibir Mary.
"Ayolah ... Aku akan membantumu. Kasian bayinya nanti kalau kau tidur dengan gaun ini."
Mary bergerak, mulai membuka mata dengan sangat berat. Beberapa saat kemudian kelopaknya malah menutup lagi. Alric akhirnya memutuskan akan membuka sendiri gaun itu. Ia menarik dan membuka perlahan gaun Mary , meloloskan bagian atas dari bahu dan lengan Mary.
"Mmm ... Serge ... jangan ganggu ...."
Alric mengernyit. Mary mengira ia Serge? Memangnya Serge pernah membantunya mengganti baju? Alric terus menarik sambil menggeser-geserkan tubuh Mary agar bagian gaun yang terjepit di bawah tubuhnya bisa terlepas, namun sangat sulit karena posisi Mary yang berbaring.
"Serge ... Aku mengantuk ... Aku baru tidur," ucap Mary, mengibaskan tangannya ke udara.
"Ganti gaunmu," ucap Alric pelan. Ia menarik Mari agar bangkit.
"Ya ... ya," ucap Mary, kelelahan yang menguasainya membuat Mary bangkit, membelakangi Alric dengan mata masih setengah tertutup. Lalu dari belakang, Alric mulai melucuti gaun Mary yang sudah mulai lepas dari bagian bahu, menariknya ke bawah sampai ke bagian pinggul. Alric menatap beberapa detik ke tubuh Mary yang hanya mengenakan bra, lalu secepat kilat mengambil gaun longgar dan memakaikannya melalui kepala Mary, menyarungkan kedua lengan wanita itu dan menarik gaun itu turun menutupi tubuh istrinya. Ia menarik napas lega setelah bagian atas tubuh istrinya itu tertutup kembali. Setelah melepas kaitan bra Mary dari belakang punggung, Alric membiarkan Mary kembali berbaring. Ia pindah ke bagian kaki lalu menarik sisa gaun pesta dari pinggul Mary. Selesai.
Alric menatap ke arah paha Mary yang hanya tertutup sedikit karena panjang gaun longgar itu memang hanya sampai pertengahan paha.
__ADS_1
Ia menarik selimut lalu menutupkannya hingga ke pinggang istrinya. Setelah selesai, Alric menatap pintu penghubung, lalu dengan napas berat, ia memandang Mary yang kembali terpejam. Mary mengira ia Serge ... alam bawah sadarnya mengira ia Serge ... Apa Serge bahkan pernah membantu menggantikan pakaian Mary saat ia tertidur karena kelelahan bekerja? Mungkin saja bukan? Mereka sudah tinggal bersama begitu lama.
Alric kembali menyusun bantal ke dekat tubuh Mary, lalu ia membungkuk, mencium sekilas pipi Mary dan telapak tangannya mengelus perut Mary dari atas selimut.
"Good night, Mary ... You too, My Princess,"
**********
Keesokan paginya, Mary terbangun dan menyadari gaunnya sudah berganti. Dengan gelisah ia mengingat-ingat ... Apakah Serge memang benar datang? Apa Serge melihatnya ke kamar sebelum pulang? Ia mengingat Serge lah yang membantunya mengganti gaun. Serge memang kadang melakukannya dulu. Saat mereka bekerja sampai dini hari di klub malam. Kadang Mary tertidur dalam perjalanan pulang, Serge membantunya mengganti pakaian kerjanya karena Mary sudah tidak sanggup membuka mata lagi.
Mary melihat bantal yang masih tersusun. Ia memerlukan rasa aman saat ingin tidur, dan menyusun bantal-bantal ini sejak dulu dapat membantunya memberikan rasa aman itu. Ia akan mudah tertidur, apalagi bila tahu ada Serge di sekitarnya, Mary kadang tidak membutuhkan bantal jika ia tahu ada Serge. Seperti ketika ia kelelahan di lokasi pemotretan, ia bisa tertidur di sofa.
Tidak menemukan jawaban siapa yang membantunya mengganti gaun, Mary memutuskan mandi. Lalu ia mengenakan gaun putih polos di bagian atas dengan bagian rok berwarna hijau dihiasi bunga-bunga berwarna putih. Setelah menyisir rambutnya, Mary keluar kamar dan menyusuri lorong. Mansion itu sangat sepi.
Apa Alric belum turun? Mary bertanya-tanya dalam hati.
Sampai di ruang makan, Mary menemukan Alric sudah duduk di kursi. Mengenakan kaos olahraga yang tampak basah oleh keringat dengan paduan celana pendek. Sebuah handuk kecil melingkar di leher pria itu.
"Ah, akhirnya kau turun juga, ayo sarapan. Aku menunggumu sejak tadi."
Mereka sarapan dalam keheningan. Suasana terasa sangat kaku dan tidak nyaman. Mary akhirnya memutuskan memulai pembicaraan.
"Apa Serge menanyakanku?"
"Hm? Oh, ya ... sebelum pulang ia menanyakanmu karena kau tidak terlihat. Aku bilang kau sudah tidur karena kelelahan."
"Apa ia sempat naik ke atas, melihatku?"
"Tidak."
"Apa Ann sudah pulang?"
"Belum ...."
__ADS_1
Berarti bukan Serge, juga bukan Ann ... Mary berdehem, melancarkan tenggorokannya yang tidak mau bekerja sama. Tapi ia harus menanyakan hal ini.
"Aku ... mengenakan gaun pesta saat tertidur. Tapi ... tadi ketika bangun ...."
"Kau mengenakan gaun tidur longgar," jawab Alric. Membantu Mary bicara, karena wanita itu terlihat sulit sekali mengucapkan kata-katanya.
Mary mengangguk. Menatap ke mata Alric yang balik menatapnya.
"Aku yang membantumu menggantinya. Aku hanya ingin kau tidur dengan nyaman. Itu saja ...."
Mary terus menatap ke mata Alric, Alric terpesona melihat mata biru yang membesar dan memandangnya tak berkedip. Seolah menunggunya kembali bicara.
"Aku melakukannya dengan cepat. Percayalah. Tidak melakukan hal lain. Hanya menggantinya lalu pergi kembali ke kamarku ...."
Alric lalu melihat mata biru itu menyipit.
"Well ... sebenarnya aku ingin sekali, setiap mau tidur kita saling mengucapkan selamat malam, dan aku ingin mencium ...." Alric berhenti ketika melihat mata Mary makin tajam menatapnya.
"Putriku ... di sana." tunjuknya ke arah perut Mary di bawah meja. padahal ia ingin mengucapkan kata menciummu.
Mary tidak menanggapi, ia kembali menunduk dan melanjutkan sarapan. Namun rona merah yang melintas di pipi wanita itu sempat terlihat oleh Alric. Membuat pria itu menyeringai.
Berhati-hatilah, Marylin Lucca. Kau membuatku terpesona ... tadi malam, dan juga pagi ini dengan sinar mata biru itu. Aku akan merayumu habis-habisan.
NEXT >>>>
********
From Author
Halo My readers, semoga semuanya sehat selalu ya. Tetap taati anjuran di rumah aja. 😊😊🤗
Jangan lupa klik like, love, bintang lima, vote dan juga komentar kalian. Author minta maaf karena waktu up tidak tentu. Menyesuaikan dengan waktu luang yang author punya untuk menulis.
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ya. Terima kasih.
Salam hangat, DIANAZ.