Embrace Love

Embrace Love
Ch 148. Car accident part 3


__ADS_3

Natalia merasa sudah lama berdiri di dekat dinding. Terus mengintip dan melihat raut wajah setiap orang yang berada di depan pintu kamar operasi. Semua wajah takut, sedih, menderita, dari wajah-wajah itu memperlihat betapa besar orang-orang tersebut mencintai Catalina Seymor.


Natalia menyadari, Catalina Seymor pastilah gadis yang sangat baik, gadis itu juga cantik ... semua orang mencintainya ... termasuk suaminya. Ya ... Luigi mencintai gadis itu. Hanya saja gadis itu memilih melabuhkan hatinya pada Claude Bernard.


Claude Bernard yang bertahun-tahun terkenal dingin dan tidak bisa didekati sejak pertunangannya yang batal dengan Miss Tania Sweyn bertahun-tahun yang lalu. Natalia meringis, mengingat bagaimana dulu ia sempat mengejar dan menginginkan Claude. Rasa percaya diri yang amat besar, menjadi model papan atas membuatnya merasa semua pria bisa ia dekati dengan mudah, merasa semua pria akan bersyukur dan bertekuk lutut padanya. Tapi tidak dengan Claude Bernard. Hatinya sebeku es di kutub. Melihat pandangan mata keras dan dingin dari Claude juga peringatan keras dari Yoana sebagai bos Natalia waktu itu, membuat Natalia mundur teratur demi karirnya. Lalu ia memilih Luigi sebagai buruan berikutnya.


Natalia menatap ke arah lorong, melihat pintu kamar operasi yang masih tertutup. Sekarang suaminya berada di dalam sana. Berjuang bersama rekan-rekannya menyelamatkan nyawa gadis yang ia cintai. Hati Natalia serasa seperti diremas. Ia menekan perasaan sedih yang meliputi hatinya saat ini. Beberapa minggu bersama Luigi sejak suaminya itu mengejarnya ke Crystal Clear Lake membuat Natalia melihat sisi lain dari dokter Luigi Staffano.


Dulu ia melihat seorang target. Seorang dokter, penerus sebuah keluarga konglomerat yang bisa membantu ayahnya dari kebangkrutan. Tampan adalah bonus dari sosok Luigi.


Lalu ia menjebaknya agar Luigi tidak lagi mengelak dari perjodohan yang dilakukan oleh kedua belah pihak orang tua mereka. Agar tuan Steffano segera membantu ayahnya dan memberikan suntikan dana. Sikap Luigi yang dingin dan tidak peduli setelah pernikahan itu tidak membuat Natalia terluka. Ia merasa tidak nyaman tentu saja dengan perlakuan Luigi itu. Tapi Natalia mengerti. Pria itu dipenuhi amarah dan ankara setelah rencana busuk yang sudah ia lakukan untuk menjebaknya.


Tapi sekarang ... mengetahui Luigi berada di dalam sana. Mungkin tengah khawatir, ketakutan setengah mati melihat gadis yang ia cintai menderita. Membuat perasaan Natalia sangat sedih. Ia ingin dicintai seperti itu. Seorang pria yang mengkhawatirkannya, mencintainya, menginginkannya ... bukan karena kewajiban, bukan karena ada seorang bayi yang mengharuskan mereka terikat. Natalia menertawakan dirinya sendiri. Ia wanita yang egois ... ia sungguh rakus ... Luigi sudah menyediakan diri untuk bersama dengannya. Menjaga ia dan juga bayinya. Seharusnya itu cukup ... tapi sudut hati Natalia berontak ....


Tidak! Itu tidak cukup!


Natalia menekan semua perasaan yang seolah berlompatan keluar ingin didengarkan. Sejak kapan hatinya jadi selemah ini? Seharusnya ia bersyukur atas apa yang bersedia Luigi korbankan untuk dirinya dan juga bayi mereka. Ia tidak berhak menuntut lebih ... tapi kenapa ... kenapa hatinya jadi terasa amat sakit? Dulu tidak sakit seperti ini ... padahal perlakuan Luigi saat itu sangat dingin, bahkan agak kejam, pandangan mata benci dan meremehkan, tapi Nat tidak merasa terluka.


Dua tetes air mata turun membasahi pipi Natalia, setelah pemahaman tentang hatinya sendiri baru saja memasuki pemikirannya.


Jawabannya sangat mudah, Nat. Dulu kau tidak merasakan apa-apa terhadap pria itu. Sehingga sekasar apapun perlakuannya, ia tidak bisa menyakitimu. Tapi sekarang hatimu telah jatuh, Nat. Hatimu telah jatuh cinta ... pada kelembutan, pada senyum, pada semua perhatian yang ia berikan padamu. Hatimu menginginkan dia , hatimu mulai mencintainya ... karena itu ... menyadari gadis yang sedang bertaruh nyawa di dalam sana adalah orang yang dicintai suamimu, kau terluka ... hatimu merasa sakit. Cintamu tidak berbalas, Nat ....


Bulir air mata terus menetes dari kedua mata Natalia. Pandangan matanya kabur, ia memegang dinding dan tidak bisa membuat kedua kakinya beranjak dari sana. Masih berharap melihat Luigi keluar dari pintu yang tertutup itu lalu melihat dirinya.


Seorang wanita dengan rambut yang sudah diselipi uban berlari di dalam lorong. Suara napasnya terengah-engah. Ia melewati Natalia dan sedikit terhuyung ketika mencapai lorong di dekat keluarga Bernard menunggu. Wanita itu hampir saja jatuh, tapi ia segera berpegangan pada dinding. Natalia segera bersembunyi dengan menempelkan tubuh di dinding persimpangan lorong, takut ada keluarga Bernard yang melihatnya ketika menatap kedatangan wanita itu.


"Mom!" Alric berseru ketakutan ketika melihat ibunya terhuyung dan hampir saja akan jatuh. Ia berlari mendekat. Lalu memeriksa ibunya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Mom ... tarik napas ... ya, begitu ... pelan-pelan," ucap Alric. Keningnya berkerut khawatir ketika melihat napas ibunya yang tidak teratur.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat dan memegangi kedua lengan ibunya, napas Annete akhirnya kembali teratur.


"Dengan siapa ibu kemari?"


"pakai taksi. Ibu pamit pada Mary tadi pagi untuk keluar sebentar. Ibu pulang ke mansion Morelli, memeriksa dan melakukan beberapa hal. Lalu ibu menelepon mu. Tapi ponselmu tidak diangkat. Jadi ibu menghubungi Diego. Diego yang memberitahu ...."


Alric memeriksa saku jasnya mencari ponsel. " Sepertinya ketinggalan di mobil, Mom. Tadi Vincent menghubungiku. Mengatakan Catalina kecelakaan dan dibawa ke Eliza. Jadi aku segera pulang menjemput Mary. Mom tidak ada di rumah. Kami langsung kemari setelahnya."


Annete mengangguk. Lalu mengintip ke arah pintu kamar operasi.


"Bagaimana ...." Annete menelan ludah. Berhenti berkata.


Alric menggeleng. Tahu, ibunya menanyakan keadaan Catalina.


"Belum ada kabar. Masih di ruang operasi."


"Ya Tuhan ... Mary?"


Annete segera meninggalkan Alric. Lalu mendekat dan duduk di sebelah Mary. Mengapit Mary bersama Yoana.


Mary melepas saputangan di wajahnya, lalu segera bersandar di bahu Annete.


"Dia gadis yang sangat kuat, Mary ... Lina akan berjuang," ucap Annete dengan suara serak. Matanya sendiri sudah berkaca-kaca. Ketidakpastian kabar Catalina di dalam sana membuat perasaan mereka terombang-ambing, gelisah, sedih dan ketakutan.


Annete merasakan kepala Mary mengangguk. Menantunya itu kembali menangis. Annete mengulurkan lengannya, memeluk Mary. Matanya menatap ke arah putranya yang bersandar di dinding. Alric menatap khawatir ke arah istrinya itu.


Di sebelah Mary, Yoana bergeser, mendekat ke arah Claude. Tangan kecil Yoana memegang pergelangan tangan adiknya itu. Isyarat meminta agar Claude melepaskan telapak tangannya dari wajah. Claude menurut. Ia melepaskan telapak tangannya dan menoleh menatap kakaknya.


Hati Yoana terasa seperti dipilin, melihat wajah Claude yang hampa. Kedua bola mata Claude merah, bibirnya kering dan kulitnya pucat. Kedua tangan Claude pun terasa bergetar di kedua tangan Yoana.

__ADS_1


Yoana meremas kedua tangan adiknya itu. Mencoba memberikan dukungan. Ia tahu tidak akan terlalu berguna ... Claude hanya butuh kepastian. Kepastian atas apa yang tengah terjadi pada gadis calon istrinya di dalam sana.


Ya Tuhan ... tolonglah Catalina. Tolonglah kami ...


Hati Yoana merintih ... Entah apa yang akan Claude lakukan kali ini untuk pulih dari rasa kehilangan bila sesuatu yang buruk terjadi pada Catalina. Saat kehilangan orang tua mereka dulu, Claude menyibukkan dirinya dengan perusahaan. Makin hiperaktif mengerjakan segala sesuatu. Siang dan malam belajar dan mengembangkan perusahaan. Yoana tahu. Itu cara Claude agar tidak larut dalam rasa kehilangan. Lalu Tania Sweyn meninggalkannya ... Adiknya mulai menjauhi makhluk bernama wanita. Menyempurnakan tatapannya yang kejam dan juga dingin. Tidak tertarik pada sebuah hubungan. Sampai Cattynya datang, begitu saja menghambur dan membuka hati Claude.


Tapi kali ini ... jika ... Yoana menggelengkan kepalanya. Menolak memikirkan lebih lanjut. Berdoa dan berdoa agar Catalina baik-baik saja.


Simon Bernard bersandar di dinding dengan tangan bersedekap. Sejak tadi ia hanya memandang Claude. Kerutan di keningnya makin dalam ketika melihat Claude menarik telapak tangannya dari wajah.


Wajah itu hampa. Simon tahu itu karena penderitaan. Claude pasti memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Dan kemungkinan itu tidak bisa diterima oleh hatinya. Kedua bola mata kakaknya itu merah. Seolah kakaknya itu tengah berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis. Lalu Simon melihat Yoana memeluk Claude. Keduanya saling berbisik. Claude hanya menatap lantai, seolah tidak mendengar kata-kata yang Yoana bisikkan. Yoana sekarang sudah mulai menangis ... ketiadaan reaksi Claude ketika mendengar bisikannya membuat hati Yoana perih. Kakak tertua Simon itu terisak lirih di bahu adiknya.


Simon bergerak dari dinding. Ia berjalan menjauh. Setelah merasa jaraknya cukup, ia berhenti. Kedua tangannya berada di dalam saku celana. Ia memejamkan mata sejenak. Merasa ikut sakit menyaksikan penderitaan Claude.


Jika cinta bisa menyebabkan penderitaan sebesar itu ... maka lebih baik aku tidak jatuh cinta. Ya Tuhan ... selamatkanlah Catalina ... atau kakakku akan ....


Simon menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan pikiran buruk yang mau singgah di kepalanya. Ia kembali bersandar ke dinding lorong. Kembali menunggu, dengan mata menatap ke arah dua kakaknya yang duduk di kursi panjang.


NEXT >>>>>


*********


From Author,


Satu part lagi hari ini jika lolos review. Maaf atas waktu UP yang tidak tentu ya Readers. Semoga betah menunggu lanjutan kisah mereka.


Jangan lupa tekan like, tekan love, tekan bintang lima, kasih komentar dan yang punya poin or coin, batu author untuk memberikan Vote ya🙏🙏


Atas dukungannya author ucapkan terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2