Embrace Love

Embrace Love
Ch 134. New beliefs


__ADS_3

Yoana dan Vincent turun dari sebuah helikopter yang menerbangkan mereka ke Green Forest. Setelah menikmati masa bulan madu, Vincent memutuskan mengakhiri hari-hari bulan madu mereka di Villa Green Forest.


Tentu saja Vincent membawa beberapa orang pengawal bersama mereka. Mereka semua segera menuju mobil yang akan membawa mereka ke villa.


Setelah tiba, Yoana dan Vincent segera menuju lantai dua villa. Vincent menggeret kopernya sendiri. Menolak bantuan salah satu bodyguard yang datang bersamanya.


Setibanya di dalam kamar, Yoana langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Ya ampun ... aku lelah sekali," ucap Yoana.


Vincent meletakkan koper ke sudut kamar. Lalu ia pergi keluar dan menemui seorang pengawal yang membawa koper Yoana. Pengawal itu menunggu di dekat pintu kamar. Tahu kalau Vincent yang akan mengambil koper istrinya itu.


Setelah mengucapkan terima kasih, Vincent membawa koper Yoana masuk, lalu meletakkannya ke sudut, di sebelah kopernya tadi. Ia melihat ke arah ranjang, mata Yoana sudah setengah terkatup.


Vincent duduk ke atas ranjang, ia menggelengkan kepalanya dan segera melepaskan sebuah syal yang masih melilit di leher Yoana.


"Yoan ... hei, lepaskan dulu benda ini. Lehermu bisa tercekik."


"Mmmm ...." Yoana hanya menggerakkan kepalanya sedikit agar Vincent bisa melepaskan syal dari lehernya.


Setelah syal itu terlepas, Vincent baru menyadari kenapa Yoana mengenakan benda itu ke kehernya. Tanda merah kiss mark tampak bertebaran di leher maupun bahu atas wanita itu. Vincent menyeringai. Ia dan Yoana tidak akan pernah puas saling memberi dan menerima, Mereka bercinta berulang kali dan melepaskan semua kekangan yang mereka buat selama bertahun-tahun.


Vincent menunduk, menghidu bau istrinya yang wangi dan mengecup mesra bagian bawah telinga Yoana.


"Mmmm ... tidur ...." bisik Yoana. Vincent tersenyum. Yoan pasti kelelahan ... boleh dikatakan, mereka keluar hotel hanya untuk makan. Lalu kembali ke penthouse sesegera mungkin. Sepertinya tidak ada yang lebih menyenangkan dan membahagiakan kecuali menghabiskan waktu mereka bersama-sama. Saling menyentuh, menggoda lalu bersama-sama larut dalam gairah.


Kemudian Vincent memberikan hadiah dengan membawa Yoana berlayar ke laut lepas. Menghabiskan bulan madu di atas kapal dengan pemandangan lumba-lumba yang berkejaran dengan kapal mereka yang melaju. Yoana tertawa bahagia. Namun pemandangan indah para lumba-lumba tidak mengalahkan pesona senyum Vincent yang menarik dan menciumnya dengan penuh gairah dari atas dek. Para pengawal dan petugas yang membawa mereka berlayar hanya memandang dengan senyum maklum pada sepasang pengantin baru itu.


Ciuman penuh gairah itu akhirnya membuat mereka kembali berakhir di atas ranjang. Menikmati ayunan tubuh mereka sendiri di atas ranjang besar di dalam kamar dengan interior mewah. Bercinta berulang kali seolah tidak pernah puas merasakan satu sama lain.


Alhasil, kamar mewah itu sangat kusut. Vincent dan Yoana bahkan bercinta di kamar mandi lalu dalam keadaan basah keduanya kembali ke kamar dan membuat ranjang porak-poranda. Tubuh basah membuat seprai dan alas penutup tempat tidur mereka menjadi lembab, sehingga Vincent menarik dan menyingkirkan semuanya ke atas lantai. Vincent kembali menyeringai mengingat kekacauan yang ia buat bersama Yoana di kamar bulan madu mereka.

__ADS_1


"Tidurlah ... Mi pequeno, aku akan berjalan-jalan sebentar," bisik Vincent.


Tangan Yoana menggapai, lalu menarik Vincent agar ikut berbaring bersamanya. Kemudian wanita itu meringkuk ke tubuh Vincent. tangannya melingkari dada Vincent dari bawah lengan suaminya dengan wajah menempel ke dada.


"Sudah terbiasa tidur seperti ini ya ... baiklah, jadi aku tidak boleh kemana-mana?"


Pertanyaan itu hanya dijawab keheningan. Vincent menunduk, menatap ke mata Yoana yang sekarang sudah terpejam.


"Sudah tidur ...." Vincent melingkarkan lengannya ke tubuh Yoana, kepalanya terbaring di atas bantal, lalu ia ikut memejamkan mata, menikmati waktu tidur siang, sebelum ia menyiapkan diri untuk bertemu Alissia dan Antonio. Memohon restu, dan meminta keduanya memaafkan dirinya yang ternyata tidak lagi bisa menahan diri.


**********


Yoana menatap Vincent yang masih berdiri di depan makam ayahnya. Entah apa yang tengah disuarakan oleh hati Vincent, ia tidak tahu. Yang pasti ia sendiri sudah berbisik di sana tadi. Meminta ayahnya mengerti ... Yoana bahagia sekarang, dan ayahnya tentu sudah bertemu dengan ibunya yang tercinta. Ayahnya pasti menginginkan Yoana juga bahagia. Yoana duduk di kursi yang dibuat dari beton yang ada di dekat makam, memandang punggung Vincent yang terus menatap ke arah makam.


Semilir angin pegunungan menerbangkan syal yang melingkari leher Vincent. Ujung mantel panjang yang ia pakai juga ikut melayang. Mata Vincent memandang ke langit yang tampak tak berujung. Mengucapkan permohonan yang ia harap sampai pada pasangan Alissia dan Antonio Bernard.


Aku minta maaf, Tuan Antonio ... Maafkan aku ... aku tidak sanggup melihatnya menikah dengan orang lain. Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku Tuan Antonio ... kuharap Anda bisa mengerti. Kuharap setelah berkumpul bersama Alissia lagi, Anda akhirnya memahami bagaimana hatiku yang merasa mati ketika membayangkan ia hidup bersama orang lain ... Aku juga minta maaf padamu Alissia ... maafkan aku ... kumohon Katakan pada Tuan Antonio , restui aku bersama Yoana ... izinkan aku terikat dengannya sebagai suami istri yang sah. Aku berjanji akan selalu menjaganya Alissia ... aku selalu menjaga janjiku padamu. Aku akan memberikan nyawaku untuknya. Aku berjanji menjaga dan melindungi keluarga Bernard dengan seluruh kemampuanku.


Sudah sejak lama Yoana yakin kalau ayahnya akan merestui hubungannya dengan Vincent. Mereka sudah terlalu lama tidak bahagia dengan perasaan yang dipaksa Vincent agar terkubur. Dulu ketika ibunya masih hidup, ayahnya merestui mereka dengan senang hati. Kehilangan ibunya membuat ayahnya menyalahkan Vincent. Membuat cinta Yoana dan Vincent akhirnya harus terpasang penghalang yang Vincent buat sendiri setelah melihat sikap ayahnya yang melarang ia mendekati Yoana lagi. Seolah ayahnya yang kehilangan ingin membuat Vincent juga kehilangan cintanya.


Namun setelah bersama lagi dengan ibunya di atas sana, Yoana yakin ayah dan ibunya ingin ia berbahagia. Namun Vincent masih memasang penghalang itu. Bahkan bertahun-tahun ...


Sekarang ia sudah melepaskan penghalang itu , Ayah ... restuilah kami ... karena kalian tahu hanya dia yang aku cintai sejak dulu. Hanya dia yang kuinginkan sebagai suami, ijinkan aku bahagia, Ayah ... bersama Vincent. Sudah banyak waktu yang kami buang sia-sia ... kumohon ... restui kami ....


Yoana memandang ke arah hamparan langit. Ia membayangkan ayah dan ibunya yang datang sambil bergandengan tangan. Senyum lebar ayahnya terkembang sempurna, satu lengannya menggandeng sang istri, lalu satu tangan lagi menangkup tangan Alissia yang memegangi sikunya.


Ibunya melambaikan tangan yang bebas ke arah Yoana. Memberi senyum keibuan yang selalu terpatri dengan jelas di otak Yoana. Lalu keduanya seolah terlihat menganggukkan kepala, bersama-sama tersenyum penuh sayang pada putri satu-satunya.


"Yoan ... Yoan," panggil Vincent.


Yoana terlonjak, Vincent berlutut di depan Yoana. Ia menatap khawatir ke wajah Yoana yang basah oleh air mata.

__ADS_1


"Kenapa kau menangis?" tanya Vincent. Ia menghapus air mata Yoana yang masih meleleh di pipi.


Yoana mengerjap beberapa kali, lalu entah kenapa perasaannya begitu membuncah, ia kembali menangis terisak-isak. Membuat Vincent segera berdiri dan memeluknya.


"Maafkan aku ... aku membuatmu sedih dengan datang kemari."


"Tidak. Aku bukan sedih. Aku terlalu bahagia, Vince."


Jawaban Yoana membuat Vincent merasa lega. Ia mengelus rambut Yoana. Membiarkan Yoana menangis dan membasahi mantel panjangnya.


Setelah tangis Yoana reda, Vincent membimbing istrinya ke arah mobil SUV yang menanti mereka di pinggir area pemakaman.


Yoana memandang terakhir kali sebelum ia masuk ke dalam mobil, mengucapkan selamat tinggal dan doanya sekali lagi untuk ayah dan ibunya. Lalu ia naik dan duduk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Vincent. Ia melepas seluruh beban di hatinya dan memasukkan keyakinan baru, bahwa dengan membahagiakan Yoana, melindungi dan menjaga keluarga Bernard, maka Tuan Antonio dan Alissia akan selalu memberikan restu atas hubungan mereka.


Dengan keyakinan baru itu, Vincent masuk dan duduk di sebelah Yoana. Ia menarik istrinya ke pelukan setelah sopir mereka mulai membawa mobil melaju, melewati area pegunungan untuk kembali ke Villa Green Forest.


NEXT >>>>


**********


From Author,


Jangan lupa tekan like, love dan bintang lima ya. tinggalkan jejakmu lewat komentar.


Yang suka cerita di novel ini, yuk bantu author dengan rekomendasikan ke teman-temannya, siapa tahu temannya juga suka dan menikmati ceritanya.


Klik profil Author dan tekan tombol 'karya' nikmati novel-novel karya author yang lainnya. Mudah-mudahan pada suka juga.😍😍💞


Terima kasih semua.


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2