Embrace Love

Embrace Love
Ch 156. What"s the matter


__ADS_3

Vincent mencari istrinya yang tidak kelihatan sejak makan malam selesai. Setelah makan tadi, Vincent masuk ke ruang kerja, membereskan beberapa pekerjaan yang mereka tinggalkan sejak Catalina mengalami kecelakaan dan Claude selalu berada di rumah sakit. Vincent juga menghubungi Blaird, yang mengurus masalah Miss Tania Sweyn. Vince belum mengatakan perihal kejahatan yang telah dilakukan oleh wanita itu terhadap Catalina. Dalang kecelakaan yang menyebabkan Catalina hampir saja terbunuh.


Vincent merasa seluruh anggota keluarga Bernard masih dibalut kekhawatiran atas kondisi Catalina. Jadi ia memilih menunda memberitahu tentang fakta yang ia ketahui soal kecelakaan itu.


Sampai di lorong kamarnya, senyum Vincent tiba-tiba terbit. Mengingat Yoana selalu bisa membuat suasana hatinya membaik, dari semua pikiran dan masalah yang tengah dihadapi keluarga Bernard, ia bisa selalu pulang dan mendapati pelukan serta ciuman penuh cinta dari istrinya, terasa menenangkan.


Vincent membuka pintu, memandang tempat tidur yang kosong. Seprainya masih rapi dan kencang, tanda kalau Yoana belum masuk sama sekali ke kamar mereka. Vincent berjalan ke kamar mandi, masuk dan mengintip.


"Yoan?"


Kosong. Ia beralih ke walk in closet melihat ke arah dalam dan tidak juga menemukan istrinya. Vincent mengerutkan kening. Sudah hampir tengah malam, ia memang agak lama berkutat dengan laptop di ruang kerja tadi, ia mengira Yoana pasti sudah masuk ke kamar dan pergi tidur.


Vincent berjalan cepat keluar dari kamarnya. Ia memeriksa ruang gym, kalau-kalau istrinya ada di situ. Tidak menemukan siapa pun yang ia cari di sana, Vincent segera turun dan pergi menuju dapur. Mungkin Yoana mencari camilan atau susu hangat. Tidak ada juga.


Dengan perasaan sedikit gusar, Vincent akhirnya pergi menuju pintu lebar yang mengarah ke teras dan kolam renang. Yoana kerap duduk di kursi santai di pinggir kolam sambil berbaring. Benar saja, ia menemukan istrinya itu berbaring menyamping membelakanginya. Sebuah meja kecil terletak di samping kursi santai itu dan ada sebuah laptop di atasnya.


Vincent mendekat, melihat Yoana sama sekali belum tidur. Mata wanita itu tampak menerawang di bawah keremangan lampu teras.


"Yoan? Kenapa kau malah berbaring di sini?"


Yoana baru menyadari kehadiran Vincent setelah ia mendengar suaranya. Wanita itu bangkit lalu duduk. Ia menurunkan kaki dari kursi panjang untuk bersantai dan mengajak Vincent duduk di sebelahnya.


Setelah duduk, Vincent melihat ke arah laptop di atas meja kecil.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Yoana menarik napas panjang. " Aku menghubungi beberapa orang, lalu menyiapkan beberapa teman media untuk membuat pengumuman resmi tentang penundaan pernikahan Claude. Acaranya tidak mungkin dilaksanakan saat itu, Vince ... waktu dan tanggal yang telah kita rencanakan hanya tinggal beberapa hari, saat itu tiba, Catalina bahkan belum keluar dari rumah sakit. Ia masih sangat lemah, baru sadar dan butuh waktu lama untuk pemulihan ...."


"Kau benar. Aku bahkan belum memikirkan hal itu." Vincent mengusap rambutnya sendiri. "Bagaimana dengan undangan yang sudah kita sebar, Yoan?"


"Untuk itulah aku membuat pengumuman resmi di media. Tentang kecelakaan yang dialami calon pengantin perempuan dan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat ... aku juga menghubungi beberapa teman dekat keluarga kita, menyampaikan secara langsung penundaan sampai batas waktu yang tidak diketahui ...."


"Lalu bagaimana dengan Royal Beaufon?" Vincent menanyakan tempat Yoana akan menyelenggarakan pernikahan adiknya itu, semua sudah disiapkan dan disepakati, tapi tidak mungkin terlaksana jika pengantinnya tidak ada.


"Aku sudah menceritakan situasinya. Kami akan membicarakannya lagi nanti. Tentu saja ia sangat mengerti ... ini musibah."


"Lalu apa lagi yang kau khawatirkan?" Vincent menarik istrinya agar bersandar di bahunya.


"Claude ... aku memikirkan perasaannya. Ia sudah senang sekali memikirkan akan segera menikahi gadis yang dicintainya ... dan kini ditunda ...."


"Dia sedih pasti ... tapi ia juga bersyukur, Catalina selamat. Melihat betapa Claude tidak pernah meninggalkan Eliza Hospital, aku menduga Claude tidak akan membiarkan Catalina lepas dari pandangan matanya."


"Aku juga berpikir begitu ... dan segera setelah gadis itu sehat, Claude akan mengikatnya dalam pernikahan secepat mungkin, tanpa perayaan dan resepsi apapun kalau perlu. Aku yakin sekali ... jika memungkinkan menikah di ruang perawatan itu, Claude pasti sudah melakukannya."


"Dan jika ia benar-benar melakukan itu, apa kau akan keberatan? Kau akan sedih? "


Yoana mendongakkan kepala agar dapat menatap mata Vincent. "Tidak. Aku akan mendukungnya. Aku sangat tahu bagaimana perasaan Claude. Semuanya tidak penting lagi, selain mewujudkan mimpi untuk menikah, selalu bersama-sama dengan Catty, hanya itu yang Claude inginkan ...."


"Benar ...."


Vincent mendengar Yoana menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Jangan sedih, Yoan ... lagipula, Jika Claude akhirnya menolak pernikahan mewah dan memilih menikah sederhana seperti yang kita lakukan, kau masih punya satu stok adik lagi yang bisa kau urus pernikahannya semewah mungkin."


Yoana tertawa, mengingat adik bungsunya yang sepertinya tidak akan mendekati segala sesuatu yang berbau pernikahan.

__ADS_1


"Masih lama sekali, Vince ... dan entah kapan. Kau tahu reaksinya ketika kutanya pendapatnya tentang istri?"


"Apa yang dia katakan?"


"Dia bilang belum menemukan alasan masuk akal apa pentingnya mengikat kebebasannya hanya untuk satu orang wanita, jika hanya ingin punya keturunan, maka dia sudah punya Leon ... begitulah kira-kira yang dia katakan."


"Well ... selalu ada hal tak terduga di masa depan bukan? Seperti kita ... aku dan keyakinanku untuk tidak akan menikahimu, hanya ingin jadi penjagamu dan melindungimu. Dan kau ... yang merasa cukup hidup hanya dengan melihatku setiap harinya. Lalu hati kecilmu mulai memiliki keinginan lain. Kau ingin bayi ... kau bersedia berkompromi demi bisa punya bayi, lalu aku ketakutan, aku takut benar-benar kehilanganmu. Rasa nyamanku hanya menjadi penjaga sudah tidak cukup lagi. Untuk pertama kalinya aku ingin lebih ...."


Yoana tersenyum, tahu pasti kenapa rasa nyaman Vincent berubah. Vincent tetap pada pendiriannya ketika tahu tidak ada orang lain di hati Yoana selain dirinya. Mereka bisa saling mencintai tanpa memiliki. Tapi kehadiran Robert membuat Vincent gusar ... Yoana berniat membuka hati untuk orang lain, berkompromi agar ia bisa punya anak. Vincent tidak mau menerima kemungkinan jantung hatinya dimiliki oleh orang lain.


"Bagaimana kalau kau mengatur perjodohan jika bocah itu ternyata benar-benar tidak menemukan orang yang mau ia ajak menikah?" Vincent tertawa sendiri mendengar pertanyaan yang ia cetuskan barusan. Ide itu akan membuat Simon meledak.


Yoana terkikik geli. " Dia akan membuat keributan besar denganku jika aku melakukannya," ucap Yoana.


"Aku tahu. Malah menarik melihat reaksinya."


Lalu kedua suami istri itu tertawa bersama.


"Sudah tengah malam, Yoan. Ayo kembali ke kamar. Kita istrirahat."


Yoana mengangguk, baru saja ia berniat bangkit untuk berdiri ketika ia merasakan tiba-tiba tubuhnya sudah melayang dan sudah berada dalam gendongan Vincent. Yoana tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Vincent dan mengalungkan lengan ke leher suaminya itu ketika Vincent mulai melangkah, membawanya kembali ke kamar mereka di lantai atas mansion Bernard.


**********


Claude menyaksikan ketika Catalina meneguk beberapa tetes air, kondisi gadis itu sudah lebih baik. Kegembiraan dan kelegaan terus memenuhi hati Claude. Cattynya akan sembuh, lalu mereka akan segera bisa bersama lagi dan sesegera mungkin Claude bermaksud mengikat kekasihnya itu.


"Leon ...." bisik Catalina. Claude menatap, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.


"Maaf, Cat. Saat ini aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Aku harus berkompromi dulu dengan dokter dan perawat di sini. Seperti di Medieval waktu itu. Leon masih terlalu kecil ... direktur Eliza yang teman baikmu itu punya aturan tegas mengenai hal ini. Dia keras kepala ... omong-omong, apa yang ia katakan kemarin ketika masuk dan memeriksamu?"


"Dia tampak berbeda ... apa kau merasakannya? "


Catalina mengangguk kecil.


"Nah, kau merasakannya juga ternyata. Entahlah ... seperti seseorang yang ... bahagia mungkin? Terlihat penuh energi, penuh semangat ... selalu tersenyum, mata berbinar, kadang mengeluarkan lelucon yang tidak disangka-sangka. Agak aneh menurutku."


Catalina mengulurkan tangan, yang segera disambut dan digenggam oleh Claude.


"Apa mungkin itu karena ia puas karena dapat menyelamatkanmu, lalu kau dirawat di rumah sakitnya, sehingga dia tiap hari dapat datang untuk melihatmu. Dia datang tiap hari! Aku kesal kalau dia tersenyum dan bicara denganmu. Lagipula kenapa ia selalu mengusirku dari kamar ini ketika ia kemari ... alasan klise dengan mengatakan akan memeriksa keadaan mu." Claude terdengar kesal, namun ia mengangkat tangan Catalina dan mencium telapaknya.


"Tidak ada ... hubungannya denganku, Claude." bisik Catalina lemah dan serak.


"Tapi kau setuju denganku kalau dia tampak berbeda. Selalu gembira ... karena dapat melihatmu tiap hari kurasa!"


Catalina menggelengkan kepalanya perlahan.


"Bukan aku ... tapi istrinya, Claude," ucap Catalina dengan nada sabar.


Claude menaikkan kedua alisnya heran. " Natalia?"


Catty mengangguk.


"Maksudmu, dia jadi seperti itu karena Natalia?"


Catty mengangguk lagi.

__ADS_1


"Darimana kau tahu?"


"Hanya Nat yang ia ceritakan ...."


Alis Claude terangkat makin tinggi.


"Maksudmu ... dia bercerita tentang Natalia dalam setiap kunjungannya kemari?"


Anggukan lagi dari Catalina.


"Begitu ya ...."


"Hu um."


"Ceritakan padaku yang dia ceritakan," pinta Claude.


Catalina tersenyum, lalu mengangkat tangannya yang tidak dipegangi Claude ke arah kepalanya yang berbalut perban.


"Ups, maaf ... aku mengoceh. Kau harusnya istirahat. Bukan mendongeng untukku."


Catalina meraba kepalanya dan sekali lagi merasa sedih mengenang rambutnya. Claude melihat perubahan wajah gadis itu dan tahu apa yang jadi penyebabnya.


"Cat ... Jangan sedih. Rambutmu akan segera tumbuh lagi. Percaya padaku," hibur Claude.


"Aku tahu ...." Catalina meremas tangan Claude yang menggenggam tangannya.


Lalu gerakan di luar kaca kamar perawatan Catalina membuat Claude menoleh. Ia melihat Yoana dan Vincent datang.


"Istirahatlah, Catty," ucap Claude sembari bangkit berdiri dari kursinya. Ia membungkuk, memberi kecupan singkat pada kening gadis itu, lalu pindah ke bibir, baru kemudian ia berdiri lagi.


"Aku akan menemui mereka." Tunjuk Claude pada pasangan yang ada di luar kaca. Catalina mengangguk, lalu menatap ketika Claude keluar dan mulai menyapa Yoana dan Vincent.


Catalina tetap menolehkan kepalanya ke arah luar kaca. Ia melihat Claude terlihat mengepalkan tangan setelah mendengar Vincent berbicara, kemudian pria itu mulai mondar-mandir dengan mulut bergerak-gerak mengucapkan sesuatu.


Catalina tidak dapat mendengar apa yang tiga orang itu bicarakan di luar sana. Tapi ia tahu, berita apapun yang dibawa Vincent, telah membuat ketenangan Claude buyar.


Claude tampak marah ... sangat marah ...tidak tidak, bukan hanya marah, pria itu ... murka ....


Catalina masih menatap penasaran, ketika tiba-tiba pandangan mata Claude melihat ke arah tempat tidurnya. Mata mereka bertemu, dan rasa dingin tiba-tiba menyergap perasaan Catalina.


Ada apa sebenarnya? Kenapa tatapanmu begitu dingin dan terlihat kejam? Apa yang mengganggumu? Apa yang telah dikatakan Vincent sebenarnya?


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Pasti tahu dong ya, berita apa yang disampaikan Vincent pada Claude. Ikuti kisah selanjutnya, dan semoga selalu sabar nunggu update๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


Tak lupa author mengingatkan lagi minta bantu tekan like, love, bintang lima dan kasih komentar yang my readers. Untuk penyemangat dan vitamin author dalam menulis. Yang punya poin dan koin, boleh.bantu author dengan kasih Vote ya.


Atas dukungannya author ucapkan terima kasih. Luv you ....


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2