Embrace Love

Embrace Love
CH 20. The party part 2


__ADS_3

Claude menggendong Leon yang mengantuk berat. Menatap lucu pada bayi yang tak henti merengek itu.


"Kau tidak bisa tidur jika Mommy mu tidak menyanyikan lagu ya. Hmmmm ...." Claude berkata lembut sambil melangkah pelan menuju sebuah pintu. Tidak menyadari sama sekali kehadiran dua orang wanita di balik dinding di sudut lorong.


Claude mengetuk dan menunggu. Namun Catalina tidak kunjung membukakan pintu.


"Ayo panggil Mommy, Leon," ucap Claude pada Leon yang masih merengek.


"Cat!" Claude memanggil lebih keras dan kembali mengetuk. Setelah beberapa saat, barulah pintu itu terbuka. Mata Catalina yang mengantuk melihat Leon dan segera mengulurkan tangan menyambutnya.


"Kemarilah. Kau mengantuk bukan?" Lalu Catalina kembali masuk, diikuti oleh Claude yang kemudian menutup pintu.


Dua wanita yang mengintip di ujung sudut lorong saling berpandangan.


"Claude bilang Mommy," desis Natalia. Model papan atas dan temannya yang merupakan anak teman bisnis Claude terlihat mengetatkan geraham.


"Aku tidak percaya ini. Apakah mungkin dia putra Claude?" desis Natalia lagi.


"Tadi aku sempat mengira kalau bayi itu anak haram Yoana," desis Angelica.


"Siapa wanita itu? Dia bahkan tidak turun menghadiri pesta." Natalia menyipitkan mata penasaran.


"Claude memanggilnya Cat," timpal Angelica.


"Cat ... Cat siapa? Cathy? Catlene? Darimana datangnya wanita ini?" Kedua wanita itu saling berpandangan beberapa lama, lalu perlahan meninggalkan lorong dengan puluhan pertanyaan tak terjawab di kepala mereka.


Seorang pria dengan rambut hitam dan mata coklat menatap lekat pada sosok Yoana di kejauhan. Menatap dress selutut dengan model A line yang membuat tubuh mungil Yoana yang lincah bergerak kesana kemari persis seperti sosok peri di film-film.


Pria itu menatap saat Yoana mendekati seorang pria dengan rambut sedikit panjang melebihi telinga. Orang tidak akan melewatkan bekas luka di wajah laki-laki itu ketika memandangnya. Pria berambut hitam itu menyeringai kejam.


Rupanya laki-laki itu masih berada di sampingmu Yoana Bernard. Masih menjadi penjagamu. Sayang sekali wajah tampannya jadi seperti itu. Kita bertemu lagi Nona Besar, dan akan mengulang kisah lama kita ....


Yoana merasa lelah dan ingin kembali ke lantai atas. Ia berbisik pada Vincent .


"Aku lelah. Aku akan ke atas. Kau dan Claude bisa menemani para tamu ini." Tanpa menunggu jawaban dari Vincent, Yoana berlalu menuju lift. Vincent memandangnya sampai hilang di dalam lift yang tertutup.


Yoana sampai ke depan pintu kamar Leon. Ia mengetuk dan Claude yang membukakan pintu.


"Dimana Catalina?"


Claude menyingkir agar saudarinya bisa masuk. Di atas sofa, Catalina tertidur dengan Leon yang juga sudah nyenyak di pangkuannya. Bayi itu sudah lama selesai menyusu, kantuk sepertinya menyerang keduanya hingga tertidur di sofa.


"Ck, jangan dibiarkan saja, Claude. Pindahkan Leonard!" Yoana mengangkat Leon dan memindahkannya ke atas tempat tidur. Catalina lalu melorot dengan tubuh miring di sandaran sofa. Yoana menggelengkan kepala.


"Tubuhmu bisa sakit Catalina. Claude! Pindahkan dia!" perintah Yoana. Claude mengernyit namun tidak membantah. Dengan mudah ia menggendong Catalina dan akan memindahkannya ke tempat tidur di samping Leon.

__ADS_1


Catalina bergumam pelan. "Maaf, Luigi." Lalu gadis itu bersandar dengan pipi menempel di dada Claude.


Claude meletakkannya di kasur dan menutup tubuh Catalina yang masih mengenakan gaun pesta itu dengan selimut. Ia berkacak pinggang sambil menatap ke arah kakaknya yang sudah bersandar di sofa sambil menonton TV.


"Kau tahu siapa Luigi? Apa Cat tidak pernah bercerita padamu? Kalian sering mengobrol ketika tengah bersama-sama mengasuh Leon kan."


Yoana mengangkat kedua bahunya. "Lina tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya. Hanya profesinya sebagai perawat di klinik bersalin. Dia tidak pernah menyebut nama Luigi. Tapi beberapa kali Lina pernah meminta kembali ponsel lamanya. Berkata kalau ia perlu menghubungi seseorang. Kurasa ia mau menghubungi Laki-laki bernama Luigi itu. "


"Kau memberikannya?"


"Tentu saja tidak! Atau ia akan mulai mencari bantuan untuk kembali lari. Tapi ... kurasa Vincent tahu."


"Tahu? Maksudmu?"


"Vincent mengurus pembatalan kontrak kerja Lina di Eliza Hospital. Kurasa ia mengetahui siapa Luigi. Orang itu juga bekerja di Eliza."


Setelah mendengar itu Claude pergi meninggalkan kamar tanpa berpamitan dengan kakaknya. Yoana menarik napas panjang.


"Apakah kau menyadarinya, Claude? Kau mulai posesiv dan memperhatikan Catalina lebih dari biasanya. Kau mencarinya saat pulang dari kantor, kau ingin melihat wajahnya walaupun hanya sebentar. Aku melihatnya Claude. Setelah mengenalnya kurasa dia gadis yang baik. Sudah saatnya kau melepaskan wanita ular yang mematahkan hatimu itu." Yoana menoleh ke arah tempat tidur, menatap Catalina yang terpejam.


"Kau terlihat sangat polos. Tetap cantik meski mata biru jernihmu itu tertutup."


Lalu Yoana kembali menatap televisi. Tanpa sadar matanya mulai menutup dan ia tertidur dengan kepala miring bersandar pada sofa.


Claude mengedarkan pandangannya mencari sosok Vincent. Ia segera mendekat ketika melihat sosok lelaki itu.


"Ya. Segera setelah Cat memberinya susu," ucap Claude.


"Cat? Pengasuh itu bernama Cat?" Suara Simon yang penasaran terdengar dibalik bahu Hamilton.


"Namanya Catalina dan dia adik Marilyn Seymor. Wanita yang saat itu kau hamili!" ujar Claude tajam. Simon merengut dan memandang kakaknya protes.


"Aku sudah minta maaf! Kuharap kau tidak mengungkitnya lagi."


"Aku tidak akan mengungkitnya lagi, Simon. Dan kau juga jangan membuat masalah baru! Pelajari apa yang Hamilton suruh! Tunjukkan padaku hasilnya!!"


Simon semakin cemberut. "Baiklah, baiklah. Aku akan melakukannya!" Lalu Simon berbalik dan segera berlalu dari sana. Menghindari kakaknya agar tidak mendengar omelan lagi.


Tiga pria yang memandangi Simon tersenyum geli.


"Dia masih tidak betah mendengar omelan," ucap Vincent.


"Kau benar,Vincent. Kuharap ia dewasa dan lebih cepat belajar."


Hamilton tersenyum mendengar ucapan Claude. "Tenanglah, Claude. Adikmu sangat cerdas. Ia hanya belum mengerti tentang bagaimana memegang tanggung jawab."

__ADS_1


"Aku mengandalkanmu, Paman," ucap Claude lagi. Hamilton hanya mengangguk sebelum matanya menemukan sosok pria tua yang merupakan sahabatnya. Ia segera pamit undur diri dari hadapan Claude.


"Kau tahu siapa Luigi, Vincent?"


Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Vincent menoleh cepat sambil mengerutkan kening.


"Luigi?"


"Ya ... orang yang dikenal dan selalu di sebut namanya oleh Cat. Bahkan di dalam tidurnya."


Vincent menaikkan alisnya mendengar ucapan Claude.


Terlalu dini untuk mulai merasa cemburu, Claude. Vincent tertawa geli dalam hati.


"Setahuku itu adalah nama salah satu dokter spesialis obstetri ginekologi di Eliza Hospital, sekaligus direktur rumah sakit yang merupakan milik dari ayahnya itu."


"Siapa ayahnya?" tanya Claude datar.


"Stefano," jawab Vincent pendek. Claude bersiul mendengar jawaban Vincent.


"Maldini Stefano?"


Vincent menganggukkan kepalanya. Salah satu pengusaha kaya yang juga merupakan seorang dokter. Keluarga besarnya bergerak di bidang kesehatan. Punya beberapa rumah sakit besar, usaha farmasi, lab penelitian kimia dan sederet bisnis lain yang menjadikan keluarga itu termasuk dalam jajaran orang terkaya negara ini.


"Cat punya teman yang menarik rupanya," bisik Claude.


"Aku juga menemukan sebuah fakta menarik. Kepala personalia di Eliza berusaha sekuat tenaga mempertahankan kontrak Catalina. Padahal aku sudah membayar kompensasi untuk pembatalan kontrak itu. Dia mengatakan sesuatu tentang kemurkaan dokter Luigi."


Vincent dan Claude sama-sama menyeringai.


"Kurasa tinggal masalah waktu, ketika dokter ini menemukan Catalina dan memaksanya kembali ke Eliza, Claude." Vincent melipat tangannya di depan dada sambil menatap Claude yang masih menyeringai.


"Kalau begitu, buat Catalina menghilang selamanya dan tidak bisa ditemukan oleh dokter itu, Vincent. Itu perkara mudah bagimu kan," ucap Claude ringan sambil menepuk bahu Vincent.


N E X T >>>


**********


From Author,


Mohon maaf jadwal update yang tidak menentu ya my Readers karena beberapa kesibukan author di pekerjaan real life yang tidak dapat di tinggalkan.


Author akan tetap menulis disela waktu yang thor punya. Author ingin menampilkan narasi dan cerita yang baik, mengalir dengan wajar dan tidak asal selesai di tiap partnya hanya karena mengejar jadwal update.


Mohon dimaklumi ya😊😊😉😉

__ADS_1


Terimakasih sudah mampir di cerita ini semuanya.🙏🙏


Salam, DIANAZ.


__ADS_2