
Sudah dua minggu sejak Catalina pulang dari rumah sakit, dua minggu pula umur pernikahan Claude dan Catalina. Sebuah resepsi di sebuah Resort mewah telah disiapkan oleh Yoana untuk merayakan pernikahan adiknya itu. Resepsi yang tertunda selama dua minggu karena menunggu Catalina benar-benar pulih.
Semua tamu telah menemui pasangan pengantin yang tampak selalu tersenyum dengan wajah berbinar, tampak sangat bahagia dan pengantin laki-laki seperti tidak pernah melepaskan tangannya dari pengantin perempuan.
Di dekat sebuah meja yang menyediakan minuman, Simon yang sedang menggendong Leonard memandang ke arah Claude dan Catalina, menatap ke wajah bahagia keduanya. Satu tangannya menahan bobot putranya dan tangan yang lain memegang gelas minuman. Tatapan Simon beralih dari pasangan pengantin itu ketika jemari montok Leonard menjangkau gelas minuman ayahnya.
"Tidak, tidak ... Leon, jangan ini. Kau mau minum ya?"
Simon memandang berkeliling, mencari keberadaan Lea, pengasuh Leonard. Lalu sebuah gelas terulur dari samping tubuhnya. Simon menoleh dan mendapati Marylin sudah berdiri dengan satu gelas air putih.
"Berikan dia ini," ucap Marylin.
Simon menganggukkan kepala. Meletakkan gelas minumannya sendiri di atas meja, lalu mengambil gelas dari tangan Marylin. Ketika Simon mendekatkan gelas ke arah bibir Leonard, kedua tangan montoknya meraup dan ikut memegang gelas, bocah itu menghabiskan setengah dari isi gelasnya.
Marylin tertawa dan mencolek pipi Leonard. "Kau haus ya ... ayahmu minum dan kau tidak. Ayahmu memang keterlaluan," ucap Marylin.
Simon ikut tertawa, setelah meletakkan gelas ke atas meja, ia menatap Marylin sambil tersenyum. Gaun hamil Marylin membalut tubuh wanita itu dan membuatnya tampak cantik meski dengan perut yang membesar. Ikal-ikal rambutnya yang coklat keemasan di tata di punggung, sapuan make up tipis di wajahnya membuat Marylin tampak mempesona.
"Melihatmu sekarang, aku jadi menyesal meninggalkanmu dulu, Mary. Untuk ke sekian kalinya aku ingin meminta maaf ...." Simon memandang Marylin dengan mata sengaja diredupkan dan sendu, membuat Marylin jadi mendengus keras.
"Aku senang kau melakukannya, Bocah Bernard, dan ya ... kau sudah dimaafkan."
"Sekarang aku bukan bocah lagi, Mary. Leonard yang sudah pas menerima panggilan bocah."
"Kau tetap saja bocah. Salahmu terlahir jadi yang paling kecil," ucap Mary sambil tertawa ringan.
"Kau jadi lebih sering tertawa sekarang ... kurasa pria itu sungguh cocok untukmu ya ...."
"Tentu saja," jawab Mary dengan yakin, lalu mata birunya memandang berkeliling, mencari sosok pria yang mereka bicarakan.
"Mencariku?" Sebuah suara terdengar dari belakang tubuh Marylin, membuat Marylin menoleh dan melihat Alric yang sudah berdiri di belakangnya.
Senyum Marylin terbit, ia mengangguk lalu merasakan tubuhnya di peluk dari belakang.
"Ah, kau sangat tampan malam ini, Bocah."
"Terima kasih," ucap Simon sambil sedikit menganggukkan kepala.
"Maksudku bukan dirimu, tapi bocah yang kau gendong." Alric menatap dengan sorot mata geli ke arah Simon.
Marylin tertawa kecil mendengar kata-kata suaminya yang sengaja memancing Simon. Namun Simon menolak untuk melayani Alric.
"Tetap saja aku berterima kasih, meski pujiannya untuk Leonard. Leonard putraku, yang artinya ketampanannya didapatkan atau diturunkan dariku." Simon berucap dengan wajah bangga.
Senyum geli Alric hilang, ia memandang Simon dengan wajah datar, sekilas ia melirik Leonard yang bersandar di bahu ayahnya sambil menatap ke arah dirinya dan Marylin.
"Kurasa Leon memang sangat tampan. Dengan mata biru itu, semua orang luluh dan gemas, dan kita tahu dari siapa ia mendapatkan warna matanya." Alric sedikit menunduk, melirik wanita yang sekarang ia peluk.
"Oh, berhentilah kalian berdua." Marylin melipat tangan di depan dada, menatap galak ke arah Simon. Melarang pria itu membalas kata-kata suaminya.
__ADS_1
"Jangan melotot padaku, Mary Sayang. Suamimu yang mulai."
Alric memutar bola matanya mendengar panggilan Simon untuk istrinya. Ia memegang bahu Mary dan memutarnya lembut agar mereka berhadapan.
"Kau sudah terlalu lama berdiri. Ayo kita cari tempat duduk dan beristirahat."
Marylin mengangguk, ia hanya sempat melambai kepada Leon tanpa sempat mencium pipi montok bocah itu karena Alric sudah menariknya menjauh.
"Suami Mommymu cemburuan," bisik Simon ke telinga putranya.
Di bagian lain tempat resepsi itu, Yoana tengah mencari sosok Luigi Steffano. Dokter kandungan yang telah diundang dan memastikan akan datang bersama istrinya Natalia. Sang dokter rupanya sedang berbincang dengan Robert Delaney, Yoana dengan cepat menghampiri dengan senyum lebar.
"Dokter Luigi ... Robert," sapa Yoana.
Dua pria itu menoleh, langsung membalas senyum Yoana.
"Yoan. Di mana Vincent? Dari tadi aku mencoba menyapa, tapi sepertinya suamimu keberatan dan selalu menempel padamu," ucap Robert sambil mengedipkan mata.
Yoana hanya tertawa, mengulurkan tangan dan menyalami dua dokter tersebut.
"Kuharap kalian menikmati pestanya. Hamilton mengajak Vincent berbicara, dia tertahan di sana. Jadi aku bisa melarikan diri." Yoana tertawa sambil menunjuk ke arah ujung lain tempat itu. Tempat tadi ia meninggalkan suaminya.
"Dia akan kemari sebentar lagi. Percaya padaku. Sebaiknya kita bersiap-siap pergi ketika dia datang, Luigi," ucap Robert. Luigi tertawa geli sambil memandang ke arah yang tadi Yoana tunjuk.
"Dokter Luigi, di mana Natalia?" tanya Yoana sambil memandang sekitar.
"Oh, dia ke toilet."
Luigi menaikkan kedua alisnya, lalu setelah sedetik ia tersenyum mengerti dan kemudian mengangguk.
"Tentu. Apakah aku boleh berasumsi kalau kunjunganmu karena ada kabar baik?" tanya Luigi sambil menyesap minumannya.
Yoana tersenyum malu-malu dan mengangguk antusias.
"Ya ampun ... selamat, Yoan. Beruntung sekali si Machado." Robert mengangkat gelasnya ke arah Yoana.
"Kurasa aku memang pria beruntung." Vincent tiba-tiba datang dan sudah berdiri di sebelah istrinya.
"Dokter, "sapa Vincent sambil sedikit membungkuk. Menyapa sekaligus dua pria itu dengan satu kata.
Luigi dan Robert membalas dengan menganggukkan kepala mereka. Robert mendekatkan gelas ke bibirnya dan menyesap sambil memandang Vincent yang balik menatapnya.
"Boleh aku mengajakmu berdansa, Yoan?" tanya Robert. Sengaja mengajukan permintaannya di depan Vincent.
"Sepertinya tidak bisa, Delaney. Yoan sudah terlalu banyak berdiri. Kesana kemari sejak sore mengatur semuanya. Sekarang dia sedang tidak boleh berdansa."
"Tidak boleh?" tanya Robert dengan nada ragu.
"Ya. Tidak boleh." Vincent menjawab tegas dengan tatapan tajam. Luigi tersenyum geli dan mencoba menutupnya dengan kembali menyesap.
__ADS_1
Langkah kaki tergesa mendatangi mereka membuat ke empat orang itu menoleh. Natalia dalam balutan gaun berwarna gading dengan panjang selutut berjalan cepat ke arah suaminya, beberapa anak rambutnya keluar dari sanggul, menjuntai dan bergoyang ketika ia berjalan cepat, membuat Luigi mengernyit.
Wajah Natalia tampak sangat bersemangat, wanita itu menggenggam tisu yang sudah berbentuk bola dalam genggamannya. Matanya melebar dan berbinar memandang Luigi.
"Nat ...."
Luigi berhenti bicara ketika Natalia tersenyum lebar dan berbicara pada suaminya dengan penuh semangat.
"Luigi ... ketubanku pecah," ucap Natalia.
Empat orang yang berdiri di sana menatap Natalia dengan mata melotot.
"Sebenarnya perutku sudah mulas sejak siang. Tapi kata instruktur senam hamil di grup senam kami, butuh waktu lebih lama untuk kelahiran anak pertama sejak rasa sakit atau kontraksinya muncul. Jadi aku tidak bilang padamu agar kita tetap bisa pergi ke sini ...." Natalia berhenti bicara sejenak, mengatur napas dan menghembuskannya dengan suara kencang berulang kali. Ia melakukannya selama beberapa kali.
"Kurasa ... sekarang kita harus pergi ... huh ... huh ...." Natalia mengakhiri ucapannya kembali dengan mengatur napas.
Yoana adalah orang pertama yang tersadar dari rasa terkejutnya. Ia melirik Luigi yang masih berdiri dengan wajah terkejut dan jadi agak pucat. Sedikit aneh menurut Yoana mengingat profesi pria itu.
Yoana mengulurkan tangan dan mengambil gelas dari tangan Luigi kemudian ia menepuk pelan lengan atas dokter itu.
"Dokter. Bawa istrimu ke Eliza Hospital. Sekarang," ucap Yoana sambil mengangguk.
Robert yang akhirnya ikut mengerti dengan situasinya akhirnya bersuara. " Kau sendiri yang menyetir?" tanyanya pada Luigi.
Setelah menelan ludah, Luigi mengangguk.
"Well ... hari ini aku yang akan menjadi sopirmu. Kau duduklah di belakang dan jaga istrimu. Ayo Nyonya Natalia." Robert berpamitan dengan mengedipkan mata pada Yoana dan Vincent.
"Kami pergi dulu, Yoan, Vincent. Ayo!" Natalia menarik tangan suaminya dengan penuh semangat. Mengajak Luigi dengan langkah hampir setengah berlari. Luigi patuh dan menurut, namun dengan suara khawatir ia berucap. " Pelan-pelan, Querida ...."
Yoana dan Vincent menatap tiga orang itu berlalu. Sebelah lengan Vincent kemudian melingkar pada bahu Yoana.
"Kenapa malah Luigi yang terlihat takut dari pada Natalia," bisik Vincent di telinga istrinya.
Yoana tertawa. " Kurasa karena kali ini yang akan melahirkan adalah istrinya, bukan pasiennya. Aku penasaran, bagaimana nanti wajahmu bila aku yang akan melahirkan. Kau akan sedikit pucat atau takut?" goda Yoana.
"Kau harus menunggu agar tahu, bukan? Ayo ... sekarang kita duduk dan istirahat."
Yoana menurut dan sambil bergandengan keduanya meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat duduk.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Happy reading ya. Author sibuk pake banget di minggu-minggu ini, jadi lama up. Semoga part ini cepat lolos dan bisa di nikmati ... Happy Reading.
Jangan lupa klik like, bintang lima, komentar, dan tekan favoritenya ya. Yang punya poin dan koin boleh bantu vote untuk Embrace Love.
__ADS_1
Atas dukungannya author ucapkan terima kasih.
Salam hangat, DIANAZ.