
Catalina pulang ke mansion Bernard, lalu menyiapkan dirinya untuk memberitahu keluarga itu keputusan yang ia ambil. Ia akan tinggal bersama Marylin. Kondisi Marylin saat ini membuatnya harus selalu ada di dekat kakaknya itu. Bagaimana tidak ... setelah mengalami penculikan, lalu di sekap dan diperkosa, sekarang ditambah dengan positif hamil.
"Kenapa Claude belum pulang, Yoan?" tanya Catalina. Mereka makan malam hanya berdua. Claude, Vincent dan bahkan Simon yang paling pemalas bekerja di kantor itu, sekarang semuanya belum pulang.
"Tadi Vincent menelepon, katanya ada pertemuan mendadak ... mereka lembur," ucap Yoana. Menyimpan fakta bahwa dialah yang sebenarnya menelepon Vincent. Karena menjelang makan malam, belum ada satupun yang pulang.
"Leonard sudah sangat terbiasa denganmu, bukankah begitu, Yoan ....," ucap Catalina.
"Ya ... dan aku suka ada di rumah. Makin dekat dengan Leon, membuatku jadi ingin punya bayi sendiri." Yoana tertawa mendengar ucapannya sendiri , "juga membuat Simon akhirnya berjuang keras untuk belajar menggantikanku," ucapnya.
"Ya ... Vincent membantunya dengan baik," ucap Catalina.
Yoana mengangguk. Catalina memutuskan membahas masalah kepindahannya dengan Yoana lebih dulu.
"Yoan ... Aku ingin meminta pengertianmu. Aku akan pindah untuk tinggal dengan Mary," mulai Catalina.
Yoana mendongak, memandang Catalina dengan heran.
"Bukankah kau sudah sepakat dengan Claude? Bahwa kau akan ke sana siang hari dan kembali kemari malamnya."
"Aku tahu ... tapi terjadi sesuatu ... dan aku ingin melakukan sesuatu untuk Mary, sebagai saudaranya satu-satunya."
Catalina lalu menceritakan kejadian di Mansion Cougar yang menimpa Mary.
"Sekarang ... kakakku hamil ...."
Sendok Yoana jatuh berdenting ke atas piring, terkejut sekaligus shock mendengar cerita Catalina.
"Bagai ... bagaimana dia sekarang?"
"Sangat terpukul ... Aku membuatnya berjanji agar tidak menggugurkan janin itu, seperti yang ia fikirkan dulu ketika ia putus asa dan berniat menggugurkan Leon ...."
"Ya ampun ...."
"Karena itu, aku mohon ... izinkan aku pindah. Leon akan baik-baik saja denganmu. Dia juga sudah cukup besar, bukan bayi lagi ... kurasa ia akan mudah terbiasa tanpa diriku. Lagipula ... Aku dan Leon memang seharusnya mulai membiasakan diri berpisah. Simon sudah kembali, dan siapa yang tahu kapan ia akan menikah dan menyediakan ibu yang sebenarnya untuk putranya."
Yoana menarik nafas panjang, apartemen Marylin tidak terlalu jauh. Mereka bisa kapan saja datang berkunjung, atau Catalina yang mendatangi mereka.
"Apakah kalian butuh bantuan untuk menuntutnya? Karena aku akan membantu kalian jika itu yang kalian inginkan."
Catalina tersenyum berterima kasih.
"Sekarang kami belum membicarakannya, Yoan. Pria itu sudah datang meminta maaf. Aku akan menyerahkan pada Marylin apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Karena itu aku ingin mendampinginya ...."
"Aku mengerti ... bagiku tidak masalah ... tapi bicarakan dengan Claude. Dia agak jengkel akhir-akhir ini, karena pekerjaan yang menumpuk dan waktu yang kurang untuk dihabiskan bersamamu."
"Tentu ... Aku akan bicara dengannya ketika pulang nanti."
**********
Claude melangkah menuju dapur, lalu menuang air minum. Ia baru saja minum seteguk ketika mendengar suara Catalina di belakangnya.
"Claude? Kau baru pulang?"
Claude berbalik, lalu tersenyum sambil mengangguk, kemudian ia meneruskan minum.
"Kau sangat haus ya," Catalina duduk di di kursi dan menunggu. Ia sedikit gelisah membahas masalah pindah lagi dengan pria itu.
__ADS_1
"Ada apa? Kau tampak gelisah...." ucap Claude. Ia menarik kursi di seberang Catalina lalu duduk.
"Aku ingin minta izinmu. Aku harus pindah dan tinggal dengan Marylin, Claude."
"Kita sudah membicarakan ini ...." ucap Claude.
"Aku tahu ... tapi terjadi sesuatu, Mary membutuhkanku."
Claude mengusap wajah, lalu memijit pelipisnya. Ia sangat lelah ... ia ingin mandi air hangat, lalu segera pergi tidur.
"Cat ... ayo ... ikut aku," ajak Claude sambil berdiri. Tanpa protes Catalina menurut, berharap Claude akhirnya membiarkan ia pergi untuk pindah.
Mereka berjalan lalu naik ke lantai atas. Catalina mengernyit ketika mereka tiba di lorong tempat kamarnya berada.
"Kita ...."
"Ayo, sini .... " Claude masuk lebih dulu ke kamar Catalina. Lalu mengunci dan mencabut kunci penghubung dari kamar Leon.
"Kenapa dikunci? Bagaimana aku akan memeriksa Leonard?" tanya Catalina.
"Tenanglah. Ada Lea yang menjaganya. Sekarang tidurlah. Aku juga akan tidur, aku sangat lelah. Jangan bicarakan tentang ini lagi."
Catalina terpana dan terdiam ketika Claude keluar lalu mengunci pintunya dari luar.
"Claude! Apa yang kau lakukan! Aku perlu bicara denganmu dulu!"
"Jawabanku adalah tidak, Cat! Titik!"
Kemudian ia berlalu dari lorong itu, meninggalkan Catalina yang berteriak meminta dibukakan pintu.
Claude bertemu dengan anggota keluarganya ketika akan pergi ke arah kamarnya. Yoana dan Simon yang mengernyit mendengar Catalina yang menggedor pintu.
**********
Claude bangun pagi-pagi sekali dan merasa segar kembali. Ia turun ke dapur dan menemukan Yoana yang sudah berkeringat. Kakaknya bangun lebih pagi rupanya, dan sudah berolahraga.
"Kau sudah bangun ..." sapa Yoana.
"Ya ..."
"Kenapa kau mengurung Catalina ... apa karena ia meminta diizinkan pindah?"
"Kau sudah tahu?"
Yoana mengangguk, lalu menyuruh Claude duduk.
"Aku akan menceritakan alasan kenapa Lina ingin pindah bersama Mary."
Lalu Yoana menceritakan apa yang sudah Catalina jelaskan padanya tadi malam. Claude terkejut dan melotot menatap kakaknya.
"Apa ini benar? Mary hamil? Karena Alric!?"
Yoana mengangguk.
"Ya ampun ... Pria itu ... dasar penjahat!" maki Claude.
"Catalina takut, Mary melakukan sesuatu yang tidak diinginkan."
__ADS_1
Claude terdiam. Berfikir dengan kening berkerut.
"Hei ... Torres Building tidak jauh ...." ucap Yoana pelan.
Yoana sangat mengerti bagaimana perasaan Claude. Ia akan mengalami hal yang sama jika tidak dapat melihat Vincent sehari saja.
"Kau benar ...." ucap Claude dengan menghembuskan nafas panjang.
**********
"Ibu memanggilku? Ada apa?" tanya Alric.
Ia datang pertama kali ke apartemen ibunya.
"Ibu sungguh tidak mau pindah ke tempat yang lebih bagus?" tanyanya mengernyit.
"Mary akan curiga jika aku tinggal di tempat mewah. Aku mengaku bekerja di mansionmu. Kau ingat!? Sekarang duduk dan dengarkan aku!"
"Yes ... Mam ...." Alric cepat-cepat duduk.
Annete berjalan bolak-balik di depan putranya. Hilir mudik tiada henti.
"Mom ... Kau membuatku sakit kepala," ucap Alric.
"Marylin hamil,"
"Hah!?"
"Aku bilang Marylin hamil! Alric!"
"Ham ...mil!?" tanya Alric dengan mata melotot dan mulut menganga.
"Ya ... peristiwa itu meninggalkan benihmu di rahimnya ... Dia terlambat, lalu mengecek dengan alat tes kehamilan. Belum sempat kuajak ke dokter. Tapi aku yakin ... aku yakin dia tengah mengandung cucuku! Anakmu!"
Alric bersandar di sofa sambil memandang shock pada ibunya.
"Kau terkejut!? Kau shock bukan!? Hanya sekali ... dan Mary kembali harus mengalami hal ini ... Dulu Simon Bernard, sekarang kau! Meski dengan Simon ia melakukannya dengan sadar, tetap saja ... Intinya ia hamil tanpa suami! Dulu Simon meninggalkannya kebingungan sendirian, sampai ia akhirnya berniat menggugurkan bayinya. Kau fikir ... apa yang akan ia lakukan, jika yang ada di perutnya sekarang adalah hasil pemerkosaan! "
Alric menelan ludah, belum mampu bersuara.
"Untuk saat ini ... Catalina sudah membuatnya berjanji agar tidak menggugurkan kandungannya. Tapi aku sungguh takut Alric ... Mary harus diawasi ...Aku mengusulkan agar ia datang padamu dan menuntut agar kau menikahinya. Tapi sepertinya ideku tidak menarik baginya. Ia langsung menolak ...."
Annete menatap putranya yang tertunduk, tangannya diletakkan di atas kepala dan Alric mulai menarik rambutnya sendiri.
"Katakan sesuatu Alric!"
Setelah beberapa saat, Alric melepaskan tangannya dan memandang ibunya.
"Jika itu yang terjadi, Mom ... Maka aku akan segera menikahinya, tidak peduli Marylin suka atau tidak. Anakku tidak akan kubiarkan lahir tanpa ayah, ia akan menyandang nama Lucca di belakang namanya!"
N E X T >>>>>
**********
**From Author,
Jangan lupa like, love, komentar, bintang lima dan vote. Biar tambah semangat authornya nulis.
__ADS_1
Terima kasih,
Salam hangat, DIANAZ**.