Embrace Love

Embrace Love
Ch 135. You're my priority


__ADS_3

Vincent dan Yoana menatap datar pada dua Bernard yang menghadang mereka di aula tengah mansion.


"Memangnya kalian dari mana?" tanya Claude dengan mata menyipit ke arah Vincent.


"Kami menikah," jawab Vincent santai.


Mata Claude makin menyipit, memandang tajam Vincent dengan tangan bersedekap.


"Kau pikir saudariku ini siapa? Bisa kau culik lalu kau bawa pergi seenak perutmu. Lalu sekarang kau kembali dan mengatakan sudah menikah?" Claude mendengus, dengan sengaja memasang wajah kesal ke arah Vincent.


Yoana yang berdiri di depan Vincent segera berbalik, lalu ia menjinjitkan kakinya agar bisa mencium pipi suaminya. Namun karena Vincent tidak menunduk, bibir Yoana hanya mencapai rahang bawah Vincent.


"Aku akan ke atas, Vince. Kau hadapilah dua bocah ini," ucap Yoana.


Vincent menganggukkan kepalanya, lalu menarik pinggang istrinya agar mendekat.


"Cium aku dengan benar," ucapnya sambil menunduk.


Seketika rona merah menjalar ke wajah Yoan. Namun ia menurut dan mengecup dengan mesra bibir Vincent. Baru setelahnya ia di lepaskan dan dibiarkan pergi. Ketika melewati Simon, anak terkecil keluarga Bernard itu menatap membelalak, dengan sengaja memasang wajah luar biasa terpesona.


"Apakah Yoana Bernard benar-benar merona malu barusan? Astaga ... dia kelihatan manis ketika merona, bukan begitu, Claude?" Simon mengakhiri ucapannya dengan tertawa menggoda.


Yoana yang baru saja lewat beberapa langkah melewati Simon memutuskan kembali lagi, lalu menendang belakang lutut adik bungsunya itu. Hingga kaki Simon tiba-tiba tertekuk dan ia seperti akan jatuh, jika saja tidak cepat menyeimbangkan diri, ia pasti sudah tersungkur.


"Aku tarik lagi pujianku! Dia sama sekali tidak ada manis-manisnya!" sungut Simon.


Yoana yang sudah kembali berjalan dan menaiki tangga terdengar tertawa, tidak peduli pada umpatan Simon di belakangnya.


Vincent menatap Simon dan menyeringai.


"Kau benar-benar masih bocah! tendangan dari kaki sekecil itu bisa membuatmu kehilangan keseimbangan!" ejek Vincent dengan sengaja.


Simon menyipit, lalu ia memandang Claude yang masih memandang datar ke arah Vincent. Simon memutuskan tidak akan melayani ejekan Vincent itu dan menyerahkan pada Claude untuk mengurus kakak ipar barunya itu. Ia mendekat dan menepuk bahu Claude.


"Aku tidak akan melayani orang brengs*k ini. Aku yakin kau mampu memberinya pelajaran. Aku titip dua pukulan untuk rahang kiri dan kanannya."


Dengan santai Simon kemudian berlalu. Claude mengangkat alis melihat adiknya itu.


Memangnya siapa yang mau memukul? tanya Claude dalam hati.


"Kita bicara di sana?" Vincent memberi isyarat mata ke arah ruangan kerja yang ada di lantai bawah. Claude menganggukkan kepala dan mengikuti Vincent yang sudah lebih dulu melangkah ke ruangan itu.


Setelah tiba dalam ruangan, mereka duduk berhadapan, dibatasi sebuah meja besar yang ada di sebelah kiri ruangan itu.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Claude.


Vincent tahu Claude menanyakan perihal pernikahannya.


"Karena kakakmu sepertinya benar-benar serius dengan niatnya mau punya anak."


"Kau selalu bisa membicarakannya dulu."


"Dan akhirnya membuat Robert berkesempatan melingkarkan cincinnya ke jari Yoana lebih dulu dari aku! Tidak, terima kasih!"


Claude tersenyum di dalam hati mendengar jawaban Vincent. Ia harus mengundang dokter Robert sebagai ucapan terima kasih. Karena dokter tersebut memberikan andil atas keputusan yang diambil Vincent saat ini.


"Lambat sekali kau memutuskan ... setelah bertahun-tahun," ucap Claude.


Vincent hanya mengangkat kedua bahunya, tidak mau menanggapi ucapan Claude.


"Apa rencanamu selanjutnya?"


"Aku akan membawa Yoana ke rumah kami sendiri. Kawasan Wooden Fence ...."


Claude menaikkan kedua alisnya. " Kawasan pinggir kota?"


Vincent mengangguk, " Ya. Itu lingkungan yang bagus. Aku selalu suka rumah yang asri, sebuah rumah berpagar dengan banyak tanaman di halaman dan rumah tetangga di kiri kanan maupun depan."


"Kau sudah memikirkan segalanya ya,"


"Tentu saja ... tapi Yoana menunda pindah sampai kau dan Catalina menikah."


Claude menaikkan kedua alisnya. " Dia mengatakan itu?"


"Ya. Kau berniat menikah dengan Catalina dalam waktu dekat bukan?"


Claude tersenyum lebar. "Tentu saja. Itu mauku. Calon pengantinku sudah ku bawa kemari."


"Apa!? Lina di sini?"


Claude mengangguk. " Ya. Mary sudah tinggal dengan suaminya. Alric menikahinya. Serge sibuk. Pekerjaaannya banyak sejak ia menjadi kru Frans Humberto. Aku tidak akan membiarkan Cattyku tinggal sendirian di apartemen. Jadi aku memboyongnya kembali kemari."


"Itu bagus. Akan mempermudah Yoana mengatur pernikahan kalian."


Claude mengangkat bahunya. Menyerahkan seluruh urusannya pada Yoana. Yang terpenting baginya adalah cepat menikah dengan Catalina.

__ADS_1


**********


Mary hanya melirik ke arah Alric yang tampak mengenakan baju kaos santai dan juga celana pendek. Ia merasa risih, Alric lebih sering bekerja dari mansion, mengerjakan pekerjaannya lewat sebuah laptop. Bila benar-benar harus pergi, ia hanya melakukannya beberapa jam, lalu kembali lagi. Setiap waktu pria itu seolah sengaja mengikuti kemana ia pergi di mansion itu. Mary sengaja seolah tidak melihat ketika Alric mendekat ke arahnya. Dengan sengaja mengabaikan pria itu.


"Aku akan melihat Hermione ... kau mau ikut?"


Mary mengernyit. Hermione? Anjing Golden Retriver itukah yang ia maksud?


Karena Mary tidak bereaksi, Alric berdiri dan menunggu di dekat tempat duduknya.


"Tidak. Aku tidak mau." Mary terpaksa menjawab agar pria itu pergi.


"Hermione sudah melahirkan. Anak-anaknya lucu."


Mary tampak tertarik.


"Berapa ekor?"


"Ayo ikut. Biar kau melihat sendiri."


Mary merasa bosan. Akhirnya ia bangkit dari kursinya dan mengikuti Alric. Mereka keluar dari mansion melalui bagian belakang. Berjalan melewati jalan setapak melewati taman dan gazebo. Langkah Mary hanya pernah sampai gazebo, tidak pernah lebih jauh dari itu. Hermione kadang datang dan menemaninya duduk di gazebo. Kini Alric membawanya ke area yang sepertinya sengaja ditanam pepohonan.


"Sebenarnya seberapa luas lahan di belakang mansion ini?" Mary memandang berkeliling. Suka dengan pepohonan rindang yang ia lihat.


"Kurasa ... jika aku ingin membangun satu mansion lagi, maka akan cukup." sahut Alric.


Mary terdiam. Tidak menyangka area itu begitu luas. Mereka tiba di sebuah bangunan kecil. Di bawah sebuah pohon. Dua orang pria tampak sudah berdiri di pintu bangunan itu.


"Tuan ... Nyonya, " sapa Gray, salah satu pria yang adalah merupakan kepala pelayan mansion Alric. Alric mengangguk. Ia menatap ke arah pria satunya.


"Semua baik-baik saja?" tanyanya. Pria satunya adalah dokter hewan yang biasa menangani dan merawat peliharaan Alric di mansion itu.


"Tiga anak anjing yang sangat manis. Mereka sehat. Anda bisa melihatnya di dalam." Sahut sang dokter.


Alric tersenyum lebar. Lalu ia melangkah masuk. Suara gonggongan anjing terdengar dari arah dalam bangunan.


"Anda tidak masuk juga, Nyonya?" tanya dokter hewan itu pada Mary. Mary tersenyum sambil menggeleng. Ia lebih tertarik pada jeruji-jeruji yang berdiri tegak seolah membatasi daerah itu dengan bagian dari tempatnya berdiri. Mary memandang ke kiri dan ke kanan. Menelusuri dengan matanya panjang dari jeruji pembatas itu. Mary memutuskan menelusuri ke arah kiri. Ia ingin tahu di mana ujung dari jeruji itu. Setelah terus berjalan dan tidak menemukannya. Mary yang agak lelah memegang jeruji yang terbuat dari bahan yag sepertinya sangat kuat.


Memangnya apa lagi yang ia pelihara di balik jeruji ini? Mansion Lion ... apa dia benar-benar memelihara singa? Hobi yang aneh ...


Mary menatap ke arah dalam jeruji. Di dalam sana terlihat lahan berumput penuh semak dan tanaman perdu di selingi batu-batu besar. Tampak berbeda dengan sisi tempatnya berdiri di mana terdapat beberapa pohon rindang. Di dalam sana tampak seperti padang luas. Lalu ia menemukannya. Mata Mary melihat pergerakan dibalik sebuah batu besar. Seekor raja rimba yang sepertinya menikmati harinya dengan bermalas-malasan. Singa jantan itu menyandarkan kepala ke kedua kaki. Surainya tampak lebat dengan tubuh yang besar.


Mary menelan ludah. Teringat Max dan Cody, Puma yang berada di Mansion Cougar. Tempat dulu Alric pernah mengurungnya. Alric benar-benar laki-laki yang punya hobi aneh. Binatang buas seharusnya tidak dikurung dan dipelihara. Mereka seharusnya hidup di habitat mereka sendiri. Begitulah menurut Mary.


Tangan Mary berkeringat, namun ia tidak beranjak dari sana. Ia memegang jeruji dan memandang ke arah singa yang tertidur itu. Tanpa sadar kakinya berjinjit, agar bisa menengok lebih jelas binatang eksotis yang tampak mengerikan baginya itu.


Mary menoleh, Alric sudah berdiri di sampingnya. "Dia jinak."


"Tidak ada binatang buas yang benar-benar jinak."


"Mau berkenalan? Aku akan memanggilnya."


Mary hanya diam. Tidak menolak, Juga tidak mengiyakan. Lalu satu suitan terdengar nyaring, membuat hewan yang tertidur di dekat batu besar itu menegakkan kepalanya tiba-tiba.


"Conrad!"


Singa itu bangkit lalu berlari kencang. Mary melepas jeruji dan segera mundur. Ketika sampai ke pinggir jeruji, Conrad melompat seolah menerkam Alric. Membuat mary berteriak kencang dengan jantung bertalu. Kaki Conrad bertumpu pada jeruji, hewan itu membuka mulutnya, terlihat mengerikan di mata Mary. Namun Alric malah tertawa. Membelai surai Conrad dan berbicara dengan lembut.


"Kau tampak hebat, Kawan," ujar Alric. Lalu Alric menoleh. ia melihat ke arah Mary yang menelan ludah.


"Kemarilah ...."


Mary menggeleng tegas. Alric kembali tertawa.


"Man .. kau membuat istriku takut." Alric terus membelai surai singa jantan tersebut.


"Pergilah ... lanjutkan tidurmu. Dasar kau pria malas." Alric tertawa ketika hewan buas itu menggosokkan wajah ke lengannya. " Maaf mengganggu tidurmu, pergilah!" ucap Alric. Ia mundur dan membiarkan Conrad berlarian di sesemakan.


Alric menoleh lagi ke arah Mary. Dan ia menyadari wajah istrinya itu sekarang tampak pucat.


"Mary?" tanya Alric. Ia mendekat dan meraih kedua tangan istrinya. Telapak tangan itu terasa berkeringat.


"Mary ... "


"Aku mau pindah ke apartemen Torres Building saja," ucap Mary tiba-tiba.


"Apa!? Kenapa tiba-tiba?"


"Kau punya hewan-hewan mengerikan di setiap mansion mu. Aku merasa tidak nyaman setelah mengetahui itu."


"Dia sudah jinak, Mary."


"Tetap saja. Kau tidak perlu ikut jika tidak mau. Aku mau pindah." Mary baru saja akan melangkah meninggalkan Alric ketika lengannya di tarik dan tiba-tiba saja ia dipeluk.


"Mana bisa begitu. Aku suamimu. Suami dan istri harus tinggal bersama."

__ADS_1


"Terserah kau saja ... kalau mau tinggal di kamar Serge. Kau bisa ikut pindah."


"Tidak ... kita tidak akan pindah. Jika Conrad membuatmu tidak nyaman, maka Conradlah yang akan pindah."


Mary menoleh, dan ia melihat kesungguhan di mata pria itu. Alric benar-benar mau melakukannya?


"Gray! Dokter Marc!? " panggil Alric. Ia masih memeluk Mary dari belakang.


"Ya, Tuan ...." jawab Gray yang sudah berada di depan Alric.


"Ada apa, Tuan Lucca?" tanya dokter hewan yang berdiri di samping Gray.


"Bantu aku ... pindahkan Conrad. Kau lebih tahu kemana baiknya, Dokter," ucap Alric.


"Apa! Tapi kenapa!?" tanya dokter Marc.


"Tidak perlu alasan, Dokter Marc. Pindahkan saja," ucap Alric. "Ayo ... Mary ...." Alric menarik Mary pergi dari sana diiringi tatapan heran dan tidak percaya dari dua orang pegawainya itu.


"Dia merawat Conrad sejak hewan itu masih kecil. Sekarang ...." Dokter Marc berhenti berkata, tidak mengerti alasan Alric memindahkan peliharaan kesayangannya.


"Selalu ada yang lebih penting daripada yang lainnya, Dokter. Kurasa Tuan Alric menganggap, keinginan istrinya lah yang paling penting dibanding keinginannya."


"Kurasa begitu, Gray ... kenyamanan istrinya menjadi prioritasnya saat ini."


Mary melangkah dengan tangan dalam genggaman Alric. Mereka kembali ke rumah dalam diam untuk beberapa lama.


"Kau tak perlu melakukannya untukku."


"Sangat perlu. Aku tidak mau istriku tidak nyaman di rumahnya sendiri."


"Tapi ...."


"Tidak ada tapi, Mary."


Mary masih merasa tidak enak karena membuat Alric jadi memindahkan Conrad. Alric melirik, melihat wajah Mary yang merasa bersalah.


Alric membimbing Mary ke arah gazebo. Mereka sudah tiba di taman belakang mansion. Alric menarik Mary duduk di kursi panjang yang ada di sana.


"Conrad tetap akan hidup dengan baik di manapun ia tinggal. Tapi kau ... aku yakin kau akan terus merasa tidak nyaman setelah mengetahui keberadaan Conrad di sana. Apalagi setelah pengalamanmu pada Max dan Cody ...."


Alric menarik napas panjang. Pria itu mendongak, menatap langit dan Mary menyadari pria itu belum melepaskan genggaman tangannya.


"Aku tidak bisa membalikkan waktu, menghapus apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah kau alami. Kejahatan yang aku lakukan. Jadi jangan pernah merasa tidak nyaman mengatakan apa yang tidak kau sukai Mary. Aku akan berusaha mengubahnya menjadi sesuai keinginanmu. Conrad hanya seekor hewan peliharaan ... jangan mengira aku akan mengenyampingkan kenyamananmu demi seekor hewan."


Mary hanya diam, ia lalu mencoba menarik tangannya dengan perlahan. Namun Alric malah menggenggamnya makin erat. Pria itu menatap dalam-dalam ke bola mata mary. berusaha menyelam dan seolah mencoba menggapai ke dasar jiwa Mary. Kemudian pria itu mengangkat tangannya dan memberikan kecupan di punggung tangannya. Mary merasa bagian kulitnya yang ditandai bibir Alric menjadi menggelenyar. Ia dengan segera menarik tangan, berusaha menghentikan apapun yang terasa di tangannya itu.


"Tuan ...." Suara Diego terdengar dan membuat Mary serta Alric menoleh.


"Ya, Diego?" tanya Alric.


"Tuan Claude Bernard dan Nona Catalina datang berkunjung," ucap Diego memberitahu.


"Lina!" Mary langsung bangkit lalu pergi dengan tergesa meninggalkan gazebo. Alric dan Diego menatap kepergiannya sampai menghilang ke dalam mansion.


"Aku akan memindahkan Conrad," ucap Alric tiba-tiba.


Diego terkejut, lalu menaikkan alisnya bertanya.


"Tangannya berkeringat setelah melihat Conrad. Lalu tiba-tiba dia mau pindah kembali ke Torres Building."


Diego mengangguk mengerti. " Suatu kemunduran bila Nyonya malah kembali ke Torres Building."


Diego mendengar Tuannya menarik napas panjang.


"Sepertinya Anda harus sering mengajaknya keluar, Tuan."


"Apa? Kenapa?"


"Nyonya Mary menjaga reputasi Anda di depan orang lain. Ia akan bersikap sebagai seorang istri jika dihadapkan pada orang banyak. Hubungan Anda akan terus seperti ini bila Anda yang terus menemaninya di rumah. Ia punya tempat untuk mengurung diri dan menghindar dari Anda. Tapi bila Anda membawanya keluar, ia akan menerima ...."


"Maksudmu, aku punya lebih banyak kesempatan merayunya bila aku mengajaknya keluar ...." Alric memotong ucapan Diego lalu tiba-tiba tersenyum lebar.


"Lebih kurang begitu, Tuan."


"Ide mu menarik. Ayo ... kita temui tamu kita dulu."


NEXT >>>>>


**********


From Author,


Jangan bosan ya, kalau author minta tolong tekan tombol like, love, bintang lima, dan komentarnya ya Readers. Vote juga yah bagi yg punya poin atau coin.


Author ucapin Makasih banyak...😘

__ADS_1


Salam hangat, DIANAZ


__ADS_2