
"Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak akan bisa meninggalkan Leon. Maaf Dokter Luigi, tapi terimakasih sudah memikirkan aku." Catalina tersenyum berterimakasih.
Luigi menarik napas panjang, Catalina menolaknya lagi. Ia tahu sejak di klinik dulu Catalina seperti tidak pernah tertarik menyambut ajakannya, walaupun itu hanya sekedar ajakan pulang bersama dari klinik. Namun harapannya membesar ketika Catalina menyetujui untuk ikut pindah bekerja di Eliza Hospital.Takdir berkata lain dengan membuat gadis itu terperangkap di keluarga Bernard.
"Baiklah, Lina. Tapi berikan aku nomor ponselmu. Nomor lamamu tidak pernah bisa dihubungi."
Catalina menatap Luigi dengan tatapan menyesal.
"Maaf Dokter, tapi sekarang aku tidak lagi punya ponsel."
"Apa! Tapi bagaimana bisa?"
"Mmmm ... ponselku diambil oleh keluarga Bernard, aku tidak yakin siapa yang menyimpannya. Yoana atau Claude. Aku belum sempat memikirkan membeli yang baru."
"Mereka benar-benar menjadikanmu tawanan!"
"Tidak ... tidak. Aku bisa pergi kemana pun sekarang ini, aku hanya tinggal mengatakannya dan akan ada yang menemaniku dan mengantarkanku ke sana. Aku tidak dikurung atau diperlakukan buruk. Sungguh ...."
Entah kenapa Catalina merasa perlu membela keluarga Bernard. Catalina sebenarnya bisa mengerti jika mereka melakukan hal ini padanya karena Leon. Mereka mencintai Leon.
"Tetap saja mereka mengekangmu dengan segala aturan bukan? Bahkan kau tidak bisa menghubungi siapa pun!"
"Aku tidak keberatan, Dok. Lagipula tidak ada yang mau kuhubungi. Kakakku tidak terlalu menyukaiku." Catalina mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum.
"Tapi aku ingin bisa menghubungimu, Catalina."
Ponsel Luigi tiba-tiba berdering, laki-laki itu melihat dan mengernyit ketika nama Natalia tertera di layar. Catalina bersyukur, ia jadi tidak perlu menanggapi ucapan terakhir dokter Luigi tadi.
Setelah mengangkat panggilan di ponselnya, wajah dokter Luigi nampak jengkel.
"Kau akan mengikuti acara pesta setelah pagelaran nanti kan? Aku akan bicara lagi denganmu dan membicarakan bagaimana caranya nanti aku bisa menghubungimu."
__ADS_1
Catalina hanya diam dan kebingungan. Untuk apa Dokter Luigi menghubunginya lagi, bukankah kontrak kerjanya di Eliza sudah dibatalkan.
"Aku pergi dulu, Lina. Aku akan mencarimu di aula pesta nanti." Luigi mengulurkan tangan mengelus pipi Catalina, membuat Catalina sangat terkejut dan otomatis memundurkan kepalanya.
"Eh, ... ah ... baiklah," jawabnya salah tingkah. Luigi tersenyum dan akhirnya berdiri, melangkah pergi untuk menemui Natalia yang tengah mencarinya.
Claude bersembunyi ketika fokter Luigi berbalik dan pergi meninggalkan Catalina. Telapak tangan dokter itu telah berani menyentuh pipi Cattynya, namun gerakan Catty yang menghindar membuat Claude yakin gadis itu tidak mengharapkan sentuhan itu. Ia jadi sedikit tenang.
Claude melangkah mendekat beberapa saat kemudian, sengaja membuat suara langkah kakinya terdengar, Catalina menoleh dan segera membuang muka untuk kembali menepuk-nepuk matanya dengan saputangan Luigi, berharap ia tidak terlihat seperti habis menangis.
"Cat ... ada apa? Kenapa kau ada di sini?" Claude berdiri satu undakan tangga di belakang gadis itu.
"Ti ... tidak ada, aku hanya tersesat."
"Begitu ... mau kembali ke sana?"
Catalina sudah tidak ingin kembali ke acara itu, ia ingin kembali dan memeluk Leon. Ia yakin perasaannya akan membaik bila sudah bersama bayi itu. Catalina mendongak ketika mendapati tangan Claude terulur di samping kepalanya.
"Ayo. Berdirilah, kita akan pulang jika kau merasa tidak nyaman berada di sini."
"Kita akan lewat pintu lain, jadi tidak akan terlihat jika kita pergi," ujar Claude sambil menepuk tangan Catalina yang ia genggam. Gadis itu mengangguk dan Claude membimbingnya melangkah melewati lorong lain untuk sampai ke sisi lain gedung.
Mereka sampai di pintu kaca yang segera di dorong oleh Claude dan tiba di teras kecil, Catalina berdiri di atas teras dan Claude menuruni undakan dari teras menuju trotoar di pinggir jalan. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelpon Bruno.
Setelahnya Claude memasukkan ponsel ke dalam kantong lalu berbalik dan mendongak menatap Catalina yang masih berdiri menunggu di atas undakan tangga. Ia tersenyum, Claude ingin sekali menanyakan apa yang membuat wajah itu tampak gundah. Namun ia menahan mulutnya, karena tahu Catalina tidak akan suka ia tiba-tiba bersimpati pada gadis itu. Claude sangat yakin gadis itu akan kembali bersikap defensif.
Ketika mobil yang dikendarai Bruno telah tiba, Catalina mulai menuruni undakan tangga dan mengikuti Claude yang telah membukakan pintu sisi penumpang untuknya. Setelah Catalina masuk, Claude berputar dan duduk di samping Catalina di kursi belakang.
"Kita pulang, Bruno," ujarnya ke arah Bruno yang sudah siap melaju.
__ADS_1
"Baik,Tuan." Bruno mulai menjalankan mobil itu dengan hati-hati. Mengintip lewat kaca ketika Claude melepas jas yang ia pakai dan menyampirkannya ke bahu Catalina.
"Pakai ini Catty." Catalina tidak menolak, bahunya yang telanjang memang sudah mulai terasa dingin.
Claude kembali mengeluarkan ponsel dan menghubungi Yoana. Mengatakan jika mereka kembali lebih dulu dan akan melewatkan pestanya, membuat Yoana mengomel panjang lebar. Claude terkekeh sambil mematikan ponsel.
"Tidak heran Vincent menolakmu, Yoan. Kau cerewet sekali," ujarnya geli.
Catalina menoleh dan ikut tersenyum ketika mendengar kata-kata Claude. "Apakah Yoana menyukai Vincent?" tanyanya penasaran.
Claude menatap Catalina yang terbalut jasnya. Gadis itu menyatukan jasnya dengan kedua tangan hingga melingkupi dan menutupi gaun ungunya yang terbuka. Claude jadi iri dan ingin sekali menggantikan jas itu untuk memeluk dan melingkupi gadis itu dalam rengkuhan lengannya.
"Jadi apa benar Yoan menyukai Vincent?" Catalina mengulangi pertanyaannya ketika melihat Claude yang termangu menatap ke arah jas yang ia pakai.
"Ah ... itu. Sebaiknya kau tanya sendiri pada orangnya," ucapnya geli.
Catalina cemberut dan berdecak. "Yoana tidak akan mau menjawab. Lagipula ia akan marah karena menanyakan sesuatu yang bukan urusanku."
Claude terkekeh dan mengelus pipi Catalina yang tadi disentuh Luigi. Seolah ingin menghapus bekas usapan dokter itu dan menggantikannya dengan usapannya.
"Kau terlihat cantik walaupun tengah cemberut," goda Claude. Catalina merona dan segera menoleh ke arah lain. Jantungnya mulai berdebar kencang.
Aneh ... tadi Luigi melakukan hal yang sama, tapi jantungku biasa saja. Kenapa sekarang kau malah bertalu kencang? Seseorang bisa mendengarmu nanti! Catalina memarahi dirinya sendiri.
N E X T >>>
**********
Terimakasih sudah mengikuti sampai part ini My Lovely Readers. Semoga sabar menanti up selanjutnya.😘😘😘
Jangan lupa like,love, rating bintang lima dan komentar gregetnya ya. author tunggu..🙏🙏💞💞
__ADS_1
Terimakasih semua.
Salam, DIANAZ