Embrace Love

Embrace Love
CH 62. Shopping


__ADS_3

Yoana menatap foto-foto Leonard yang mengisi album ponselnya. Bayi itu sudah besar dan tumbuh sehat. Ia mengernyit ketika menyadari Leonard pasti memerlukan pakaian baru. Dalam hitungan bulan panjang badan Leonard tumbuh pesat. Begitu juga dengan berat badannya. Yoana tersenyum ketika sebuah ide muncul di pikirannya.


"Lina," panggil Yoan pada Catalina yang duduk di teras dengan sebuah majalah.


"Uh! Kau suka sekali melihat majalah itu," ucap Yoana heran.


Catalina tertawa pelan, lalu menunjuk pada salah satu gambar di lembar majalah.


"Tentu saja, karena kakakku ada di sini. Dia tampak sangat cantik." Catalina kembali menoleh pada gambar Marylin yang tampak memamerkan senyum lebar ceria.


"Dia terlihat senang, atau itu akting? Atau memang dia senang? Tidak ada yang tahu," ucap Yoana.


"Kurasa dia memang merasa senang. Senyumnya kelihatan asli."


Yoana mendengus mendengar ucapan Catalina. "Kau tidak tahu jika aktris sudah berakting, Sayang. Tidak ada yang tahu itu asli atau tidak. Kakakmu bukan aktris, tapi pekerjaannya menuntut ia menunjukkan ekspresi yang diinginkan."


Catalina hanya menaikkan bahu mendengar ucapan Yoan.


"Sudahi melihat ini. Sekarang ayo ikut aku. Kita belanja. Aku bosan hari libur seperti ini kita habiskan di rumah saja."


"Belanja? Apa yang mau kau beli?" Catalina mengernyit. Yoana sudah punya semuanya. Apalagi yang mau ia beli?


"Bukan untukku. Untuk Leon. Kau tidak menyadari? Anak itu tumbuh sangat cepat. Ia butuh pakaian baru, sepatu baru."


Catalina mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ayo ... kita pergi sekarang. Aku akan memanggil Vincent."


Yoana berlalu, kembali masuk ke dalam mansion. Beberapa saat kemudian wanita itu muncul lagi bersama Vincent yang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menghubungi beberapa orang untuk mengikutinya. Yoana sangat keras kepala bila sudah punya rencana.


Mereka berangkat dengan satu mobil. Dua mobil lain mengikuti tak jauh di belakang mereka.


"Jangan jauh-jauh dariku, Yoan," ucap Vincent ketika mereka tiba. Tak jauh dari mereka, sebuah mobil juga tiba. Seorang pria dan wanita tua terlihat turun dari mobil. Mereka berjalan menuju lift dan masuk. Pintu lift baru saja akan menutup ketika Yoana dan Catalina berlari ikut masuk, Vincent berlari cepat ikut menyelinap sebelum pintu lift tertutup. Ia sempat melihat para pengawalnya sebelum lift benar-benar tertutup dan bergerak membawa mereka ke lantai atas.


Tidak ada yang menyadari bahwa sesekali mata pria yang ada di dalam lift memandang tiga orang yang ikut masuk bersamanya. Matanya terpaku agak lama pada Vincent. Catalina menyadari tatapan mata orang itu, ia tidak heran ... bekas luka di wajah Vincent membuat orang pasti bertanya-tanya apa yang telah terjadi sehingga bekas luka itu tercetak di wajah Vincent.


Di lantai enam pintu Lift terbuka, pria tadi mengulurkan tangan pada wanita tua di sebelahnya.


"Ayo, Bibi," ajaknya, sambil membimbing wanita itu keluar lift.

__ADS_1


Vincent mengernyit, ia menatap wajah pria itu dengan seksama ketika pria itu melewatinya. Tidak ada yang aneh. Ia tidak mengenal wajah itu sama sekali. Sedetik tadi sesuatu menggelitikinya ketika pria itu mengajak bibinya keluar.


Pintu lift kembali tertutup, Vincent segera menghubungi orang-orangnya. Menyebutkan lantai dimana Yoana akan berbelanja.


Mereka keluar di lantai tujuh, Yoana dan Catalina segera berkeliaran dengan satu kantong belanja di tangan masing-masing. Vincent memilih mengikuti Yoana dan membiarkan Catalina memilih sendiri di balik beberapa rak. Ia memindai sekeliling dan menyadari orang-orangnya sudah berada di tempat mereka masing-masing. Berpura-pura sebagai pengunjung mall. Sudah hampir satu jam, kantong belanjaan Yoana dan Catalina sudah hampir penuh.


Yoana menyerahkan kantongnya pada Vincent dan pergi melenggang mengambil kantong lain. Catalina tertawa kecil melihat wajah datar Vincent yang menatap wanita mungil itu berlalu dengan tangan masih terulur memegang kantong belanjaan yang penuh.


"Dia sangat mencintaimu, Tuan Vincent," ucap Catalina dengan kepala dimiringkan dan mata menatap lembut.


Vincent menatap Catalina dan mengangkat alis. Gadis itu kembali tertawa kecil.


"Dan jangan katakan kau tidak mencintainya. Kau malah sangat mencintainya. Sangat jelas terlihat. Vincent ... tidakkah kau berpikir ... kau harus menggunakan waktu yang ada ini untuk saling membahagiakan, sebelum semuanya direnggut dan kau kehabisan waktu."


Vincent diam tidak menanggapi. Catalina berlalu sambil menggelengkan kepalanya menatap Vincent yang tidak bereaksi. Ia melangkah melewati satu demi satu rak pakaian, menjauh dari tempat Vincent berdiri sambil mengawasi Yoana.


Catalina melihat wanita tua yang tadi masuk ke lift bersama mereka saat baru tiba, wanita itu menoleh ke kiri dan kanan dengan kebingungan. Ia menghampiri Catalina dan bertanya.


"Nona ... kau melihat keponakanku? Dimana dia? aku berkeliaran dan lupa padanya. Dia pasti kebingungan mencariku."


Catalina berpikir tentang pria yang tadi bersama wanita tua ini di dalam lift.


"Apa? Oh ... kau benar, aku tidak memberitahunya. Astaga, aku sudah sangat pikun. Aku harus turun lagi." Wanita itu berbalik cepat lalu tiba-tiba tapakannya goyah dan ia limbung. Catalina cepat-cepat menangkapnya.


"Ayo ... aku akan mengantarmu," ucap Catalina.


"Oh, Ya ampun. Terima kasih, Nona. Maaf merepotkanmu. Aku ini memang tidak berguna. Selalu merepotkan keponakanku," ucap wanita tua itu. Mereka baru saja akan turun dengan tangga eskalator ketika seorang pria berdiri di belakang Catalina. Catalina menoleh dan menyadari itu adalah salah satu pengawal Yoana.


Mereka sampai di lantai enam, wanita tersebut mengernyit lalu berhenti berjalan.


"Ah, dimana dia ...."


Catalina ikut mencari sosok pria yang tadi bersama wanita tua itu di lift.


"Aduh, aku sudah tidak tahan. Nona ... pergilah, aku bisa sendiri. Aku akan pelan-pelan. Aku mau ke toilet dulu."


"Tak apa, aku akan pergi ketika kau sudah bertemu keponakanmu. Pegang tanganku, aku akan menyanggamu lagi." Catalina mengulurkan tangannya dan membimbing langkah wanita tua itu menuju lorong. Pengawal Yoana tetap mengikutinya beberapa langkah di belakang.


"Kau gadis yang baik. Kurasa pria itu kenalanmu? Kau tidak terganggu karena dia mengikuti kita," ucap wanita tua itu.

__ADS_1


Catalina tertawa kecil. "Ya, aku mengenalnya, Bibi."


"Pantas saja. Pacarmu ya?" tanyanya lagi dengan nada menggoda.


"Tidak. Bukan, Bibi." Catalina tertawa mendengar tebakan wanita tua itu.


Mereka tiba di depan toilet wanita. Pengawal Yoana terpaksa berhenti di depan toilet wanita itu. Membiarkan Catalina masuk bersama wanita tua tersebut.


Wanita itu melepaskan tas yang ia pakai. Ia mencuci tangannya di wastafel dan mengecek dandanannya di cermin.


Catalina melirik ke barisan toilet yang berjejer di sana. Wanita tua itu sepertinya tidak berniat masuk. Apakah ia hanya ingin bercermin di toilet?


Beberapa saat kemudian, seorang pria masuk. Mata Catalina terbelalak karena ada pria yang masuk ke toilet wanita. Ia baru saja bernapas lega ketika menyadari itu adalah keponakan wanita tua tadi.


"Sir ...." ucapan Catalina terhenti karena pria itu langsung membekapnya dengan sebuah saputangan. Catalina membelalak ketika menyadari ia telah dibius. Lalu matanya terpejam rapat, tubuhnya lunglai dan pria yang membiusnya segera menyangga tubuhnya.


"Kau lama sekali!" ucap wanita tua itu sambil menarik wig yang ia kenakan. Seketika rambut berubannya di gantikan oleh rambut pirang panjang. Ia segera menghapus make up wajahnya dengan kapas basah yang ia ambil dari dalam tas.


"Bagaimana pria di luar?" tanyanya lagi.


"Aku sudah membereskan pengawal itu."


"Kau berutang padaku," ucap sang wanita.


Sang pria mendengus. "Aku akan membayarmu jika kita dapat keluar dari sini dengan selamat!" ucap pria itu ketus.


"Oh, itu hanya tinggal satu langkah lagi Rodrigo!" Wanita itu membuka pintu toilet, melihat situasi di luar lalu memberi tanda pada pria di dalam agar mengikutinya dengan membawa Catalina.


Tanpa disadari oleh dua orang itu, sepasang mata mengintai seluruh kejadian di depan toilet tersebut di balik sebuah pilar beton. Setelah melihat kedua orang itu menghilang ke dalam lift bersama Nona Catalina yang pingsan, ia segera mengambil ponsel dan menghubungi orang yang telah mengirimnya ke sana. Seseorang yang mengirimnya untuk mengintai Nona Catalina dan kemudian menangkapnya untuk dijadikan alat tukar. Namun sepertinya mereka telah didahului oleh orang lain.


**********


From Author,


Jangan lupa like, love ,komentar, vote, dan bintang limanya ya.


Terima kasih semuanya.


Salam, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2