
Catalina memandang takjub pada wanita cantik yang tengah berlenggok di atas catwalk. Tidak pernah menyangka jika kakaknya Marilyn akan terjun ke dunia modelling.
Sejak ia mengetahui keberadaan Marilyn dan ibunya yang merupakan istri pertama ayahnya, Catalina tahu kakaknya itu membenci ia dan ibunya. Marilyn bekerja di klub malam sejak ibunya menderita depresi berkepanjangan setelah tahu ayah mereka menikah lagi dengan ibu Catalina. Sang ayah tidak meninggalkan apapun setelah meninggal karena sakit yang ia derita.
Catalina menyentuh bahu Yoana, ingin agar wanita itu menoleh dan mendengar apa yang ia katakan.
"Yoan, aku ingin menemuinya ...please."
Yoana menatap mata biru itu dan tahu pasti siapa yang ingin Catalina temui.
"Bersabarlah. Biarkan ia selesai dan kita akan menemuinya setelah itu."
Catalina mengangguk dan kembali menatap ke arah panggung. Ia senang Marilyn dapat melakukan apa yang ia suka sekarang, tidak lagi harus melayani dan mengantarkan minum pada pelanggan klub malam.
Claude mendengar pembicaraan Catalina dan Yoan dengan jelas. Ia pun menatap ke arah Marilyn yang ada di atas panggung. Gadis itu tampak berbeda dari terakhir kali ia bertemu dengannya. Tampak lebih cantik dan entahlah, bersemangat mungkin? Senyumnya mengembang dan ia tampak menikmati apa yang tengah ia lakukan.
Setelah bagian puncak dimana Marilyn memamerkan satu desain terbaru dari desainer ternama B House, diantara tepuk tangan yang menggema mengguncang studio besar itu, Yoana menarik tangan Catalina dan mengajaknya untuk menemui Marilyn. Vincent dan Claude saling berpandangan dan berbarengan berdiri, melangkah mengikuti dua wanita itu.
Yoana mengajak Catalina ke sebuah ruang ganti yang amat besar. Beberapa gadis yang bertemu dengannya menganggukkan kepala dan menyapa lalu mereka menyipit memandang Catalina yang di gandeng oleh Yoana.
Yoana tersenyum, Catalina datang bersama Claude. Tentu saja para gadis ini penasaran siapa sebenarnya Catalina, karena Claude diketahui tidak pernah dekat dengan siapapun sejak empat tahun yang lalu.
Pintu ruangan ganti terbuka. Yoana masuk dan membiarkan Catalina mengikutinya . Ia memandang pada Marilyn yang tengah membuka pakaiannya di bantu oleh seorang gadis. Yoana memberi tanda pada gadis itu agar keluar, ia pun ikut keluar dan menutup pintu.
"Apa kabarmu, Mary?" Catalina mendekat lalu berhenti beberapa langkah di belakang Marilyn. Pandangan mereka bertemu lewat cermin besar yang ada di hadapan Marilyn.
"Mau apa kau menemuiku?" Marilyn bertanya datar.
"Kenapa kau memberikan namaku pada Yoana Bernard? Kau sudah menerima uangmu Mary. Seluruh uangmu," ucap Catalina sengit.
"Dan kenapa Leon masih ada padamu? Bukankah kau menyerahkannya pada sepasang suami istri yang mau mengadopsinya?" Marilyn menimpali ucapan Catalina dengan tenang.
Kata-kata Marilyn membuat Catalina terdiam.
"Jangan menghakimiku Lina. Akuilah kau juga berbohong padaku! Jangan memintaku meminta maaf. Aku sama sekali tidak menyesal telah melakukannya. Menukar Leon untuk semua ini ... aku hanya ingin hidup lebih baik dan melakukan hal yang aku suka."
__ADS_1
"Tapi kau membuatku ikut membayarnya Mary. Aku harus hidup di keluarga Bernard sampai Leon bisa menyesuaikan diri dengan mereka. Aku kehilangan kesempatanku masuk ke Rumah Sakit Eliza. Tempat yang aku idamkan sejak lama. Lalu apa setelahnya Mary? Aku harus meninggalkan Leon di sana bersama mereka, lalu bagaimana denganku?"
Suara Catalina sudah serak menahan tangis. Entah kenapa ia merasa sendirian dan kesepian. Satu-satunya curahan cinta dan kasih sayangnya yaitu Leon, hanya tinggal masalah waktu Catalina harus berpisah dan meninggalkannya di keluarga Bernard, lalu satu-satunya saudari sedarahnya amat sangat membencinya.
"Jangan mengeluh Catalina. Kau seharusnya bersyukur dengan hidupmu! Kau dicintai ibumu dan menerima cinta sampai akhir hayatnya. Memberimu setidaknya sedikit warisan untuk hidup dengan baik. Kau berpendidikan dan punya pekerjaan! Aku? Ibuku gila! Ayahku menghabiskan seluruh harta untuk pengobatannya hingga ia meninggal! Aku harus hidup dengan melayani para lelaki hidung belang di klub malam! Lalu pria yang kukira mencintaiku ... dia pergi dengan meninggalkan seorang bayi!" Marilyn membersihkan hidungnya yang berair, air matanya mengalir.
"Aku mencari kesempatan untuk melakukan hal yang aku suka Catalina. Tuhan masih berbaik hati mengirimkan Serge untuk menjagaku! Apa kau pernah tahu jika aku pernah hampir diperkosa di klub itu! Kau tidak tahu kan!? kau terlindungi dan hidup dengan baik! Aku harus melakukan semuanya sendiri!" Marilyn meneriakkan kesakitannya pada Catalina. Gadis itu menangis terisak-isak.
Catalina menelan ludah, matanya sendiri sudah berair entah sejak kapan.
"Jadi jangan mencoba mengataiku Lina! Kau tidak pernah mencoba bertahan hidup di dunia malam sekaligus mencoba mempertahankan tubuh dan kewarasanmu!"
Keheningan menyeruak setelah ucapan terakhir Marilyn. Catalina merasakan hatinya seperti di remas. Ia memang tidak pernah mencoba untuk dekat dengan Marilyn karena mengetahui kalau Marilyn membencinya. Jadi ia tidak tahu kehidupan seperti apa yang sudah dijalani Marilyn di kota ini. Tempat tinggal mereka yang beda kota membuat Catalina tidak terlalu memikirkan kakaknya itu.
"Maafkan aku ...," bisikan tertahan itu terdengar dari bibir Catalina sebelum akhirnya ia pergi dari ruang ganti. Marilyn pasti makin membencinya. Sedikit pun saudarinya itu tidak mau melihat wajahnya setelah pandangan mereka bertemu di cermin tadi.
Pintu ruangan yang tertutup membuat Marilyn menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi. Kakinya sedari tadi gemetar, ia menangkupkan kedua tangan ke wajahnya dan terisak-isak dengan keras.
"Kau tidak pernah tahu penderitaan yang kualami, Catalina ...."
Di lorong antara kamar-kamar ruang ganti, Catalina berlari tak tentu arah sambil menangis. Ia menyalahkan dirinya yang egois, ia tak pernah tahu seperti apa hidup Marilyn, ia hanya tahu dan mengira Marilyn hidup bersenang-senang dan tidak bertanggung jawab. Penderitaan di mata biru kakaknya itu tampak nyata dan menyakitkan, dan ia datang dengan kejengkelan dan ingin menghakimi kakaknya itu.
Catalina berhenti ketika melihat sebuah ruangan lebar di bawah sana. Sebuah piano ditempatkan di tengah-tengah. Sekeliling tempat itu terdapat tangga hingga aula itu membentuk seperti sebuah cekungan. Ia berhenti dan duduk di undakan tangga. Kembali menangis dan melepaskan beban hatinya setelah melihat Marilyn.
Sebuah tepukan di bahunya membuat Catalina mendongak. Dokter Luigi sudah berdiri setengah membungkuk di undakan tangga. Catalina tampak sangat terkejut karena melihat Dokter Luigi ada di sana. Ia mengedipkan matanya berulang kali.
"Ini benar-benar aku Catalina. Luigi. Ada apa? Kenapa kau menangis?" Dokter Luigi duduk di sebelah Catalina dan mengulurkan saputangannya pada gadis itu.
"Hapus air matamu dengan ini."
Catalina mengambil saputangan itu dan mengelap air matanya.
__ADS_1
"Kenapa Anda bisa ada di sini, Dokter?"
"Bisakah kau hanya memanggil namaku? Kita bukan lagi partner kerja di klinik. Aku bukan lagi atasanmu. Panggil aku Luigi."
Catalina hanya diam. Ia menunduk dengan saputangan masih menutup kedua matanya.
"Bukankah yang di atas panggung tadi kakakmu?"
Catalina mengangguk mendengar pertanyaan itu.
"Lalu dimana Leonard? Siapa orang-orang yang membawamu dari Eliza tempo hari? Apakah bayi yang kau gendong saat itu adalah Leonard?"
Catalina kembali mengangguk dan berucap. "Ya. Itu Leonard. Orang-orang itu adalah keluarga dari ayah Leonard."
Luigi mengernyit dengan rahang mengeras. Ia menduga laki-laki yang menarik bahunya agar menjauh dari Catalina dulu adalah ayah Leonard, dan dugaannya benar. Catalina baru saja mengkonfirmasi dugaannya itu. Mau apa pria itu menahan Catalina, tidak cukupkah ia merusak Marilyn dan meninggalkannya dulu. Sekarang dua kakak beradik ini kembali hidup di bawah cengkraman pria itu. Luigi sangat yakin Catalina dipaksa, tapi ia tidak dapat menduga alasan Marilyn berada di sana, apakah gadis itu memang dipaksa atau memang berada di sana atas kehendaknya sendiri.
"Lina, apakah kau mau pergi dari sini? Aku bisa membantumu menghilang dan tidak ditemukan keluarga Bernard lagi."
Dibalik tembok di ujung salah satu lorong yang mengarah ke tangga aula itu, Claude mengepalkan tangannya. Ia menunggu di sana ketika sampai dan melihat dokter Luigi sudah duduk di samping Catalina yang menangis, ia mendengar seluruh isi percakapan dua orang itu dengan hati terbakar dan kemarahannya tersulut.
Aku akan memastikan kau tidak akan dapat melakukannya Dokter Luigi! Kau tidak akan dapat menyentuh Cattyku seujung rambut pun, apalagi membawanya lari dariku.
N E X T >>>
**********
From Author,
Ehm.....mau gak Catalina lari sama dokter Luigi??
Jangan lupa like, love, bintang lima, komentar dan vote untuk Catalina ya pembaca sekalian๐๐๐๐
Terimakasih sudah bersabar menanti up kisahnya.
Salam, DIANAZ.
__ADS_1