
Sesuatu di dekatnya membuat Alric terbangun. Perlahan matanya terbuka dan menyadari apa, atau tepatnya siapa yang membuat dirinya terbangun.
Di sampingnya, Mary berbaring miring, kepala menghadap dirinya dan satu tangan memegang dadanya.
Alric tersenyum, Mary memenuhi keinginannya agar tidak pergi. Istrinya itu menunggui sampai ia jatuh tertidur.
Well ... Alric mengakui, ia sengaja memeluk Mary dengan kedua lengannya ketika akan pergi tidur. Sengaja agar Mary tidak pergi. Tapi, bukankah wanita itu bisa pergi ketika ia sudah lelap?
Ucapan Mary yang mengatakan ingin berdiri di samping suaminya ketika pernikahan Catalina membuat perasaan lembut mengalir di hati Alric. Apakah Mary sudah membuka pintu hati untuknya? Alric bahkan tidak berani untuk mengharapkan hal itu.
Alric menarik tangan Mary yang menempel di dadanya, mengangkat jemari halus itu lalu mencium punggung tangan istrinya itu. Sakit kepalanya sudah benar-benar hilang. Alric melirik jam di dinding. Sudah lewat dini hari ....
Alric menggeser tubuh, menyentuh lengan atas Mary yang terbuka dan merasakan kulit istrinya itu sedingin es. Segera ia menarik selimut lalu menutupkannya ke tubuh mereka. Setelah mengatur posisi bantal di belakang punggung, Alric menarik Mary, mendekapnya di dada.
"Mmm ... jangan ganggu, Serge," bisik Mary.
Alric mengernyit. Serge lagi ... sepertinya Serge lebih sering masuk ke alam mimpi Mary ketimbang dirinya yang sudah jadi suami.
"Sayang ... ini aku, bukan Serge." Dengan sengaja Alric mendaratkan kecupan di bibir Mary. Seketika telapak tangan Mary menekan wajahnya.
"Sana ...."
Alric menyeringai mendengar Mary mengusirnya dengan mata masih terpejam. Ia makin mendekap Mary, sengaja ingin membuat wanita itu terbangun. Lalu ia merasakan tonjolan itu. Bulatan lembut di perut Mary. Pikiran Alric langsung teralihkan pada bayinya. Ini memasuki bulan ke enam. Seharusnya ia membawa Mary periksa lagi ke dokter Luigi. Tapi terakhir membuat janji, bagian informasi di rumah sakit Eliza mengatakan kalau dokter itu tengah mengambil cuti panjang.
Alric mengelus perut Mary dengan telapak tangannya. Gerakan melingkar dengan pelan dan penuh kasih sayang. Kedua matanya tidak pernah meninggalkan wajah Mary.
Alric menanti ketika kedua kelopak mata itu mengerjap, lalu perlahan membuka, memperlihatkan mata biru pucat istrinya yang menawan.
"Alric? Oh ... aku ketiduran ...."
"Ya ... dan terima kasih."
"Terima kasih?"
Alric mengangguk. "Karena sudah menjagaku."
Mary tersenyum. Menguap sambil menutup mulut. Seperti tidak menyadari kalau telapak tangan suaminya itu masih mengelus perutnya. Atau ... jika wanita itu menyadarinya, maka ia tidak keberatan dan tidak menghindar. Membuat Alric jadi ingin sedikit merayunya.
"Astaga, Sayang ...."
"Kenapa?" Mary mendongak. Mengira Alric masih merasa sakit. Tapi yang ia temukan kilau memuja di mata suaminya itu.
"Aku harus sering-sering melihat ketika kau bangun tidur."
"Ke ... kenapa?" Mary mulai menarik dan merapikan rambut. "Rambutku seperti surai Conrad?"
__ADS_1
Alric tersenyum, tidak menyangka Mary masih mengingat nama singa peliharaannya yang sudah dipindahkan.
"Tidak ... kau terlihat sangat cantik. Aku suka ...." Alric mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di kening, di antara kedua mata.
Mary merona, sedikit tersipu mendengar pujian Alric. Membuatnya merasa geli karena merasa bahagia dan malu oleh pujian sekilas pria yang mungkin saja tidak sadar ketika mengatakannya. Mengingat pria itu terbiasa bersikap manis dan baru saja bangun tidur. Lalu Mary merasakan elusan itu, tangan Alric sudah pindah. Yang awalnya hanya mengelus perutnya, sekarang pindah ke bibir bawahnya. Pria itu menyentuh pelan, dengan tekanan lembut berulang-ulang. Tapi Mary merasakan seolah seribu kupu-kupu tengah melayang di perut dan dadanya.
"Marylin ...." Alric menunggu Mary menatapnya, suaranya berubah serak.
Mary mendongak, menatap langsung ke kedalaman mata Alric. Udara tiba-tiba terasa pekat, membuat keduanya seolah sulit bernapas. Tapi tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan. Kilau di mata Alric malah makin terang.
"Sayang ... kau percaya padaku kan? Aku ... tidak akan pernah menyakitimu lagi ...."
Alric seolah tidak mengenal suaranya sendiri. Serak dan berat, seolah emosi dan perasaannya larut dalam suara tersebut. Bersama gairahnya yang bangkit untuk istrinya.
Mary merasakan ibu jari Alric kembali mengelus bibir bawahnya.
"Jawab aku, Mary ...."
Setelah menelan ludah berulang kali, Mary akhirnya menganggukkan kepala. Kedua matanya masih terpaku di mata Alric.
"Aku ... boleh aku menciummu? Aku sungguh menginginkannya lagi."
Mary tidak menjawab. Bola mata biru itu hanya membesar. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban, Alric memutuskan akan sedikit memaksa.
Lalu perlahan, Alric mendekatkan wajahnya. Memulai dengan mengecup pelan. Sengaja melepaskan kedua tangannya dari tubuh Mary. Agar Mary dengan mudah memisahkan diri tanpa merasa terjepit olehnya jika wanita itu mau ia berhenti dan mulai mendorongnya.
Kecupan ringan di tengah bibir, lalu berpindah ke sudut bibir kanan, kemudian kiri. Alric berhenti, sedikit menjauhkan wajah, melihat ekspresi istrinya. Sekarang sorot mata Mary sudah pindah memandang bibir Alric.
Kembali Alric maju, menekankan bibirnya dan memulai ciuman menggoda dan sensual. Berniat merayu Mary lewat setiap pagut*n, menggoda lewat setiap sesapan, membangkitkan gairah di setiap jilat*n dan kecupan. Setelah merasakan napas Mary pun mulai memburu seperti napasnya sendiri, Alric memperdalam ciumannya, lidahnya menari, mencari, menyentuh dan merasakan.
Setiap sel di tubuh Alric bernyanyi, ketika ujung lidah mungil Marylin menyentuh balik bibirnya. Satu desahan lolos ... membuat Alric makin bergairah, makin berani. Kedua tangannya tidak lagi bisa dibuat diam. Satu tangan Alric menuju belakang leher Mary mendekap kepala istrinya, seolah takut Mary mundur dan pergi. Satu tangan lagi mendarat di bahu, berjalan pelan menelusuri ujung lengan, lalu sisi tubuh, untuk kemudian berkelana menuju bukit indah di dada istrinya. Kehamilan membuat dada Mary begitu sensitif. Sentuhan lembut di atas kain katun baju tidurnya membuat Mary menggeliat gelisah. Wanita itu tanpa sadar membusungkan dada.
"Sayang ... kumohon ... dorong aku sekarang kalau kau tidak ingin, kalau kau mau kita berhenti ... karena aku tidak akan bisa berhenti jika kita memulai dan melanjutkan ini lagi ... Aku sangat menginginkanmu." Suara Alric serak, dalam. Pandangan matanya berkilat, warna matanya makin pekat. ujung jemari pria itu bergetar, seolah ia sedang sekuat tenaga menahan sesuatu.
Alric merasa seolah sedang menunggu hukuman tembak, menunggu jawaban Mary. Mata biru pudar istrinya itu terlihat makin pekat, hampir terlihat biru gelap di bawah cahaya temaram lampu kamar. Sekujur tubuhnya gemetar menahan gairah. Ia tidak akan memaksa jika Mary ingin mereka berhenti. Sekalipun itu akan terasa seperti membunuhnya.
Lalu sentuhan seringan bulu di pipinya yang mulai ditumbuhi cambang terasa seperti oase di tengah padang pasir bagi Alric. Dengan sekuat tenaga ia menunggu kelanjutannya, apakah jemari itu akan mendorong wajahnya, atau melakukan hal lain.
Lalu jemari lentik itu berpindah ke belakang leher Alric. Menariknya mendekat. Mata Alric melebar, seluruh emosinya membuncah keluar ketika melihat Mary mendekatkan wajahnya.
"Cium aku ...." bisik wanita itu. Pelan dan serak. Seolah wanita itu mengalami kesulitan untuk mengucapkan kata, seperti yang Alric rasakan saat ini.
Alric tidak perlu diperintah dua kali. Kedua lengannya melingkari tubuh Mary. Ia menatap mata istrinya.
"Percaya padaku ... aku akan berhati-hati, aku tak ingin kau takut padaku," bisiknya lagi. Ingin Mary yakin pada dirinya.
__ADS_1
Mary mengangguk. Membuat Alric lega. Lalu memulai penjelajahannya kembali di bibir Mary. Tidak menahan lagi semua keterampilannya dalam merayu. Ia ingin membuat Mary menyerahkan dirinya sepenuh hati. Jiwa dan raga dalam pengalaman pertama mereka bercinta atas kesadaran dan keinginan hati mereka sendiri.
Desahan lolos lagi dari bibir Marylin. Diikuti dengan senandung lembut sebuah nama dari bibir wanita itu.
"Alric ...."
Alric merasa namanya terdengar indah, mengalun bagai melodi dan nyanyian, terasa bagai madu manis yang sangat menggoda dari bibir istrinya.
"Ya ... sebut namaku, Sayang. Hanya aku ...."
Sedikit demi sedikit, dengan perlahan dan penuh perasaan, tangan Alric menarik gaun tidur istrinya ke atas. Telapak tangannya tak lupa menyentuh dan membelai setiap jengkal kulit yang ia lewati.
"Maryku yang lembut," bisiknya memuja.
Alric melemparkan gaun tidur itu sembarangan ke lantai. Lalu melanjutkan penjelajahannya, misi untuk membuat istrinya tidak mengenakan sehelai benang pun.
"Kau sangat cantik ... kau terasa manis ...." Alric mengucapkannya setelah memberikan kiss mark di atas bahu telanjang istrinya. Napasnya memburu, ia baru saja akan kembali singgah ke bibir Mary ketika merasakan kedua tangan lembut istrinya berkelana di balik jubah kamarnya yang berwarna gelap. Seluruh tubuh Alric bergetar.
"Jangan lakukan itu, Sayang. Atau kau akan membuat aku mempermalukan diriku di depanmu seperti anak remaja."
Mary terlihat merah padam, tapi ia tidak berhenti. Ia menarik jubah Alric, seolah ingin Alric membuka penghalang di tubuhnya itu. Setelah satu geraman rendah, Jubah kamar berwarna gelap itu pun terlempar ke lantai. Alric menunduk di atas Mary yang terbaring pasrah di atas bantal. Tampak sangat cantik dengan rambutnya yang berhamburan di atas sarung bantal yang berwarna biru. Tangan Alric menahan kedua tangan Mary di atas kepala.
"Maaf Sayang ... tapi kau jangan dulu menyentuhku. Biarkan aku menyentuhmu, menyenangkanmu ... setelahnya, baru kau boleh menyentuhku ...."
Alric tidak menunggu jawaban. Ia menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. Menyalurkan gelora gairahnya dalam setiap pagutan. Tapi Alric tidak dapat menahan tangan Mary lagi. Ia menginginkan menyentuh setiap jengkal tubuh polos Mary. Jadi ia melepaskan tangan Mary. Berkelana menyentuh dan membangkitkan pusaran gairah istrinya. Desahan dan pujian silih berganti keluar dari bibir Alric dan Mary. Keduanya melebur, menyatukan diri, bercinta, memberi dan menerima. Sampai akhirnya pusaran gairah itu tiba di puncak. Mary menyebut sekali lagi nama suaminya. Suara yang terdengar bagai kidung di telinga Alric. Ia menatap dengan tatapan memuja, ketika melihat istrinya tiba dan sampai ke puncak. Memberikan Mary seluruh kesenangan dan kenikmatan. Baru setelah itu Alric mengizinkan dirinya terjun bebas. Mencapai puncaknya sendiri menyusul Mary. Lalu merasakan perasaan sayang dan cinta yang sangat luar biasa. Yang ia tahu hanya ia rasakan untuk wanita dalam pelukannya ini. Marynya ... istrinya ....
Sebelum menggeser tubuhnya agar tidak menghimpit Mary, Alric menyadari satu hal. Bukan Mary yang menyerahkan diri sepenuhnya. Tapi sebaliknya. Alric tahu hatinya sudah tidak lagi jadi miliknya. Dirinyalah yang sudah menyerahkan diri dan juga hatinya untuk Mary.
Maaf Sayang ... kau tidak akan bisa lepas lagi dariku. Karena kau telah membawa hatiku ... dan aku pria yang egois. Aku tidak mau hatiku dibawa pergi jauh. Kau akan selalu berada di dekatku.
NEXT >>>>
*********
From Author,
Aku pengen minum es teh, es batunya yang banyakkkkk. Biar dingin.... haha
Jangan lupa tekan love, like, bintang lima dan juga komentarnya. Yang punya poin and koin, boleh dong author minta bantu Vote.
Oh ya, novel terbaru author udah release dan lolos review loh. Mampir ya kalau senggang. judulnya Mr. Costra.
Terima kasih banyak My Readers.
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1