Embrace Love

Embrace Love
CH 71. Back home


__ADS_3

Vincent baru saja mangangkat tangannya untuk mengetuk pintu ruang perawatan catalina ketika pintu itu tiba-tiba terbuka dan wajah Claude muncul.


"Kau sudah datang," ucap Claude sambil memandang Vincent dari atas sampai bawah.


"Kenapa kau memandangku begitu?" tanya Vincent dengan alis terangkat.


"Aku mau lihat, kau masih utuh atau tidak ... jarimu masih lengkap bukan?" Claude tersenyum miring dengan raut wajah lega. Vincent hanya mendengus kecil. Ia sudah menghubungi Claude sebelum tiba di rumah sakit. Mengatakan bahwa Rodrigo sudah mati dan Blaird sudah membereskan mayatnya.


"Bagaimana Catalina?" tanya Vincent.


"Sejauh ini perkembangannya baik, tinggal menunggu dia sembuh total dan itu memerlukan waktu yang agak lama ... dia harus mengistirahatkan kedua kakinya dan tidak bisa berjalan." Claude berucap sambil menyingkir dari pintu. Memberi jalan bagi Vincent agar masuk.


Mendengar seseorang masuk ke ruangan, Marylin yang tertidur di ranjang yang disiapkan untuk penunggu pasien di ruangan itu terbangun. Ia menggosok matanya dan menatap ke arah Vincent dan Claude.


"Apakah sudah pagi?" tanya Marylin, terlihat masih sangat mengantuk. Ia menatap ke arah luar kaca jendela yang setengah tertutup.


"Belum, Mary. Tapi sebentar lagi akan pagi. Tidurlah kembali. Catty juga masih tidur," ucap Claude sambil melirik ke arah Catalina yang terpejam di ranjangnya.


Vincent berjalan sampai ke samping ranjang. Memandang Catalina yang terpejam dengan mata lebam membiru. Tarikan napas Vincent panjang dan berat, membayangkan rasa sakit yang harus ditanggung gadis itu ketika kakinya dipukuli hingga patah.


"Kapan kau akan pulang? Yoana pasti mengkhawatirkanmu." Claude berucap pelan.


"Kau sendiri? Kau juga belum pulang kan?" Vincent menolehkan kepala memandang Claude.


"Pulanglah ... aku yang akan berjaga selama kau pulang," ucap Marylin menyela percakapan keduanya. Claude dan Vincent menoleh ke arah Marylin.


"Lina juga ingin sekali bertemu Leon, jika kau bisa menyusupkannya kemari besok, akan sangat menyenangkan bagi Lina."


Setelah berpikir sejenak, Claude akhirnya mengangguk.


"Aku akan pulang dulu bersama Vincent, Marylin. Sebentar lagi pagi, katakan pada Catty Aku akan kembali dengan membawa Leon."


Marylin hanya menganggukkan kepala, Claude melangkah ke sisi Catalina, lalu mencium keningnya.


"Aku pulang dulu, Cat. Aku akan datang lagi dengan Leon," bisiknya pada Catalina yang masih terpejam.


Vincent menaikkan kedua alisnya sambil menatap Claude yang berpura-pura tidak melihat wajah pria itu, lalu keduanya melangkah ke pintu keluar.


"Aku penasaran ... jika dia bangun, apa dia akan mengizinkan kau melakukan itu," tanya Vincent.


Claude menyeringai, "kau akan terkejut ... dia bahkan akan membalasnya dengan mencium pipiku," ucap Claude dengan nada sombong yang disengaja.

__ADS_1


Marylin mendengar percakapan itu sebelum pintu ruang perawatan akhirnya ditutup kembali dari luar. Mata Marylin segera memandang ke arah Catalina.


"Sepertinya kau telah membuat Bernard yang dingin itu berubah, Lina. Aku yakin sekali kau datang ke keluarga Bernard hanya demi Leon bukan? Paman Leon yang bernama Claude itu tidak akan membiarkanmu pergi ... apa yang akan kau lakukan jika hal itu terjadi?"


**********


Claude turun lebih dulu dari mobil, sementara Vincent yang selesai memarkirkan mobil bertemu Bruno dan Seth. Ketiganya terlibat percakapan singkat mengenai keamanan mansion.


Yoana berlari ke arah pintu ketika mendengar Hamilton mengatakan ada mobil yang datang. Hamilton berdiri di teras, menunggu Claude yang terlihat mendatangi.


"Paman ...." Ucapan Claude terpotong oleh Yoana yang mendatanginya dengan setengah berlari. Kakaknya itu berdiri di bingkai pintu, memegang dadanya dengan satu tangan dan bertumpu di bingkai pintu dengan tangan yang lain.


"Claude ... kau sendiri?" tanya Yoana, jantungnya bertalu dengan rasa khawatir yang amat sangat.


Claude menatap kakaknya, mengernyit melihat rambut Yoana yang kusut dan wajahnya yang khawatir.


"Ya ... aku sendiri ...." Kemudian suara Leon terdengar dari arah dalam. Claude melewati Yoana, segera masuk dan mendatangi Simon yang datang dengan menggendong Leon.


"Kau sudah bangun, Leonard? Kenapa? Masih gelap di luar ...." Claude mengulurkan tangan mengambil Leon dari gendongan Simon. Keduanya langsung menoleh ketika mendengar suara terjatuh dari arah pintu.


Di dekat bingkai pintu, Yoana terlihat terduduk dengan kaki terlipat. Kedua tangannya menutupi wajah dengan kedua bahu berguncang. Tidak ada suara yang terdengar, namun dari tempat mereka berdiri, Claude dan Simon tahu kalau Yoana tengah menangis. Hamilton yang terkejut melihat Yoana terkulai jatuh dan terduduk tidak bergerak dari tempatnya, ia kebingungan. Kenapa wanita itu menangis, Hamilton menoleh ke arah halaman dan melihat Vincent mendekat. Vincent dan Claude sudah pulang dengan selamat, lalu kenapa wanita itu menangis.


Vincent mendekat dan berhenti di dekat Yoana yang menunduk dengan kedua tangan menutupi wajah.


Seketika Yoana mendongak. Mata mereka bertemu, Vincent melihat wajah pucat dengan rambut kusut itu banjir air mata, hatinya seolah teriris mengetahui karena dirinyalah wanita itu terlihat sangat menyedihkan.


"Vince?" Yoana berbisik dengan suara serak. Ketika melihat Claude pulang tanpa Vincent bersamanya, pikiran Yoana mengira yang terburuklah yang telah terjadi. Bahwa ia mungkin tidak akan melihat Vincent lagi. Sudah 24 jam lebih dan terasa sangat lama berada dalam ketakutan membayangkan kalau nyawa Vincent tidak selamat, lalu kehampaan ketika melihat adiknya pulang tanpa laki-laki yang ditunggunya membuat kekuatannya seolah hilang, kakinya seolah layu dan tidak sanggup menopang lagi hingga ia jatuh terduduk.


"Ini aku ... kau kenapa?" tanya Vincent dengan kening berkerut. Ia baru saja akan menunduk dengan tangan terulur untuk mengangkat Yoana ketika wanita di depannya itu malah terkulai jatuh dengan mata tertutup ke atas lantai.


"Yoan!" Vincent segera menepuk pipi Yoana yang pingsan. Hamilton yang sudah berada di dekat mereka ikut memeriksa Yoana.


"Dia kelelahan, Vincent. Dia sama sekali tidak bisa menelan apapun sejak kemarin. Bawa dia ke kamarnya." Hamilton mundur ketika Vincent segera mengangkat Yoana dan berjalan membawanya naik ke atas menuju kamar.


Claude dan Simon yang baru saja akan mendekat melihat Yoana pingsan akhirnya mengikuti di belakang Vincent.


"Dia terlihat menyedihkan, tidak bisa makan apapun dan hanya minum sedikit. Rambutnya saja tidak lagi disisir. Yang dilakukannya hanyalah menangis, lalu ketika mereka pulang, dia malah pingsan! Kau seharusnya memarahi mereka, Yoan! Atas perintah mereka kau di kurung." Simon terdengar kesal dan bersungut-sungut.


"Yoana sama sekali tidak makan?" tanya Claude.


"Aku sekali memaksanya. Dia menelannya lalu memuntahkan lebih banyak daripada yang masuk!"

__ADS_1


Vincent tidak mengeluarkan sepatah kata pun mendengar percakapan dua kakak beradik itu. Ia tiba di depan pintu kamar Yoana, lalu masuk dan segera mendorong pintu dengan kakinya sampai tertutup. Sedikit menunduk Vincent memutar kunci hingga Claude dan Simon tidak dapat masuk.


Simon menggedor dari luar, terdengar makin kesal.


"Buka pintunya Vincent!" Simon mengetuk dengan keras sambil terus menggedor.


Claude yang menggendong Leon tersenyum kecil melihat pintu yang tertutup, lalu ia mencium pipi Leon berulang kali tanpa memedulikan Simon.


"Ini kecupan dari Mommymu, Leon. Dia merindukanmu," ucap Claude.


Simon menatap kakaknya. "Kau saja yang gedor! Suruh dia buka pintunya!" seru Simon pada Claude.


Claude malah berbalik dan melangkah pergi.


"Biarkan saja, Simon. Kau harus mendobrak pintu itu jika kau berniat masuk. Percuma saja membuat tangan kita sakit menggedor berulang kali. Vincent tidak akan membukanya. Percaya padaku ...."


Simon menatap kakak laki-lakinya itu menjauh, berbisik pelan di telinga Leon sambil kadang mengecup puncak kepala putranya itu.


Kembali Simon menatap pintu yang tertutup, lalu ia berteriak.


"Yoan! Kuharap kau mencakar pria itu jika nanti kau bangun!"


Setelahnya Simon menyeringai sambil melangkah meninggalkan kamar kakaknya.


N E X T >>>


**********


From Author,


Ish, Claude kurang kerjaan, bilangnya pulang sendiri .... 😂


Jangan lupa tanda jempol nya di klik ye,


Tanda love juga bagi yang blom klik,


rate bintang lima juga bagi yang blom rate


yang punya poin banyak ayukk atuh bantu vote.


yang punya poin dikit kumpulin dulu, kalo dah banyak ntar vote juga, wkwkwkwk

__ADS_1


Sekian terima kasih dari saya, Author yang banyak maunya..hehe


Salam, DIANAZ.


__ADS_2