
Setelah beberapa lama tidak lagi terdengar suara nyanyian dari dalam kamar, Claude yang belum pergi dari depan pintu mulai membuka pintu kamar bayi perlahan- lahan. Yoana sudah pergi meninggalkannya dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat, kakaknya itu kelelahan setelah menggendong dan mengayun Leon.
Claude masuk dan menyadari kalau Catalina duduk di lantai dan kepalanya bersandar di kasur box bayi Leon. Keduanya terlihat tertidur nyenyak, gadis itu menidurkan Leon dan tanpa sadar tertidur dengan posisi itu. Claude mengernyit ketika menyadari ia tidak bisa menutup pintu pagar box bayi karena Catalina yang tertidur di pinggir kasur.
Claude memandang ke arah wajah Catalina yang terpejam, gadis itu sepertinya sangat kelelahan. Bulu matanya sangat lentik dan panjang, alisnya halus dan kecoklatan, dan bibir penuh yang berwarna pink itu ....
Claude menunduk, memandang lebih dekat.
Itu ... bintik hitam kecil, seperti tahi lalat tapi agak pudar.
Claude makin menunduk. Ya ... itu tahi lalat, di bibir bawah sudut kanan.
Tanpa sadar Claude sudah sangat dekat dengan wajah Catalina. Ia memandang fokus pada bintik hitam kecil di sudut kanan bibir pink itu.
Catalina membuka mata tiba-tiba dan melihat sebuah wajah tepat berada di atas kepalanya. Reflek ia mendorong wajah itu dengan kedua tangan sekuat tenaga. Kembali hantaman keras yang terasa amat pedas mendarat di wajah Claude.
Claude terhuyung dengan tangan mengipasi wajahnya.
"Sialann!" Claude mengumpat.
Catalina terbelalak dan menyadari Claude lah yang tadi ia dorong wajahnya.
"Mau apa kau!" bentak Catalina.
Claude mengusap wajahnya yang terasa pedih. Dua kali sudah gadis ini menggampar wajahnya. Jangankan merasa takut atau terintimidasi, Catalina bahkan memaki dan berani melawan Claude. Pandangan dingin dan kejamnya yang terkenal ampuh mengintimidasi siapapun tidak berpengaruh pada gadis ini.
"Aku bersabar padamu karena keponakanku, Miss Catalina, tapi jangan keterlaluan! Sudah dua kali kau memukulku! Kali ketiga kau akan menerima balasan yang setimpal, Nona. Ingat kata-kataku!"
"Huh! Kau yang memintanya! Lagipula kenapa kau mendekat!"
"Aku ingin memasang pagar box baby Leon! Kau membiarkannya terbuka!"
Catalina tersentak lalu menoleh ke arah tempat tidur Leon. Ia menyadari ia membuka pagar saat akan menidurkan Leon dan kemudian tanpa sengaja ikut tertidur.
Catalina segera menaikkan pagar pengaman box dan menguncinya.
__ADS_1
"Maaf. Aku terkejut dan tidak sengaja mendorongmu ...."
Claude mengernyit. Begitu saja, dengan mudahnya gadis ini meminta maaf setelah ia tahu ia salah dan telah memaki dan memukul orang. Claude tertawa di dalam hati, padahal Ia memang mendekat karena ingin melihat tahi lalat di sudut kanan bibir penuh itu.
"Sekali lagi, Nona. Sekali lagi kau memukulku, kau akan tahu akibatnya!"
Dengan perkataan itu Claude meninggalkan Catalina lalu mengunci pintu kamar bayi. Biarkan saja gadis itu tidur di sana, besok Claude baru akan mengurungnya kembali ke gudang bawah setelah memastikan gudang itu dibersihkan. Ia tidak ingin gadis itu kembali mengeluh karena keadaan gudang yang kotor.
**********
Yoana menggendong Leon yang sudah didandani dengan sangat apik. Bayi yang terlihat mengantuk itu mulai memejamkan mata di dalam gendongan Yoana.
"Tidurlah, Sayang. Kita akan pergi jalan-jalan sebentar."
Yoana turun dan menemui Claude serta Vincent yang sudah menunggunya di aula depan.
"Kau memindahkannya kembali ke gudang?" Yoana bertanya pada Claude.
"Ya."
"Dia kembali mengamuk?"
"Ya."
Claude mengernyit mendengar pertanyaan kakaknya.
"Apa maksudmu? Kenapa bertanya begitu?"
Yoana mengangkat kedua bahunya.
"Dari tadi jawabanmu hanya ya ... ya ...."
"Diamlah. Masuk ke dalam mobil, kita berangkat. Hamilton sudah membawa Simon ke sana."
Mereka masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan mansion. Claude memandang keluar jendela. Terkenang ketika Catalina yang ia tarik ke gudang bawah kembali menginjak kakinya keras-keras, bahkan mengancam akan menggigit pergelangannya. Akan sulit membuat gadis itu tetap tinggal bersama mereka. Namun Claude akan menikmati setiap prosesnya. Ia akan menggunakan cara apapun termasuk ancaman atau bahkan cara-cara kotor.
__ADS_1
**********
Dokter Luigi termenung di belakang meja kerjanya. Catalina tidak kunjung datang, ponsel gadis itu mati, tidak aktif. Ia menghubungi klinik tempatnya dulu bekerja. Mereka mengatakan Catalina sudah berhenti karena akan pindah bekerja di Eliza Hospital.
Apa yang menyebabkan ia tertunda?
Luigi menarik nafas panjang, ia merindukan gadis itu, ingin segera melihatnya dan kembali bicara sambil menikmati tawa dan senyum lebarnya yang Luigi kagumi.
Kembali ia menatap layar ponsel dan mencoba kembali menghubungi nomor Catalina. Jawaban yang sama. Ponsel gadis itu tidak aktif.
"Ada apa denganmu Catalina? Kenapa kau belum juga datang kemari ...."
Suara ponselnya yang berdering membuat Luigi menoleh cepat. Berharap nama Catalina tertera di layar. Namun Ringisan tidak suka tercetak di bibirnya ketika membaca nama gadis yang tertera di ponselnya. Luigi membiarkan panggilan itu untuk beberapa saat, berharap gadis itu menghentikan usahanya untuk menghubungi Luigi. Namun ponselnya tak kunjung berhenti berdering.
"Ya?" Luigi menjawab dan sengaja memperdengarkan nada tidak suka.
"Sayang, lama sekali kau mengangkat teleponnya. Aku mengganggumu ya?" Suara manja yang terdengar di seberang sana membuat Luigi merasa sangat jengkel.
"Katakan saja apa keperluanmu. Aku ada operasi penting sekarang!" ujarnya berbohong.
"Ummm ... Dad ingin aku menyampaikan padamu bahwa nanti malam akan ada makan malam di rumah. Kedua orang tuamu sudah memastikan akan datang dan mereka juga mengatakan kau akan ikut. Tapi Dad ingin aku langsung yang memberitahukan hal ini padamu."
Hening. Luigi hanya mendengarkan tanpa berniat menanggapi.
"Sayang? Kau akan datang kan?" Suara manja itu terdengar merengek di telinga Luigi. Ia segera mematikan panggilan itu tiba-tiba dan meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja. Membiarkan dirinya melakukan hal yang tidak sopan dan kembali memikirkan Catalina.
Di seberang sana, gadis yang tadi menelpon Luigi menatap tidak percaya pada ponselnya yang tiba-tiba mati. Luigi memutuskan hubungan dengan sengaja. Ia membanting ponselnya di atas kasur dan menghempaskan tubuhnya.
"Kurang ajar! Jika saja bukan karena uang dan koneksi keluargamu, Aku tidak sudi dekat-dekat dan bertunangan denganmu! Aku lebih memilih mengejar laki-laki yang aku sukai! Bukannya patung es yang dingin, tidak sopan dan kurang ajar seperti dirimu!"
Gadis itu berteriak kencang di dalam kamarnya. Merasa harga dirinya direndahkan oleh pria yang telah ditunangkan dengannya. Berita pernikahan mereka yang sedang di rencanakan oleh kedua belah pihak makin membuat pria itu dingin dan tidak peduli padanya.
"Aku akan membalasmu Luigi! Aku akan membuat hidupmu menderita setelah kau menikah denganku!" teriaknya marah pada langit-langit kamar. Lalu kembali ia mengambil ponselnya dan membuka album untuk mencari sebuah foto. Setelah foto yang ia cari ketemu, ia menempelkan wajah yang ada di foto itu ke bibirnya.
"Ah, kau selalu bisa membuat suasana hatiku kembali membaik. Muachhh " Kembali ia mengecup wajah seorang pria yang menghiasi layar ponselnya.
__ADS_1
N E X T >>>
**********