Embrace Love

Embrace Love
Ch 112. Hunting a husband


__ADS_3

Yoana memeriksa penampilannya di cermin lebar kamar, lalu tersenyum. Sudah cukup mempesona , ucapnya dalam hati. Setelah menarik sebuah tas tangan kecil, ia melangkah keluar dari kamar dan menuruni tangga mansion.


Vincent yang duduk di aula dengan sebuah koran membentang di hadapannya segera mendongak ketika mendengar suara langkah kaki. Ia mengernyit melihat Yoana dalam balutan gaun pesta one shoulder dress berwarna hitam.


"Kau mau kemana, Yoan?" Simon bertanya dengan kening berkerut.


"Aku pergi sebentar, Simon. Makan malam ...." ucap Yoana.


"Dengan siapa? Aku akan menemanimu." Vincent segera meletakkan korannya dan bangkit berdiri.


"Tidak ... tidak. Aku akan pergi sendiri, Vince. Seth akan mengantarku sekaligus mengawalku. Jadi jangan khawatir ...."


"Kau tampak cantik Yoan, mempesona!" seru Claude. Sengaja memuji kakaknya sambil menatap ke arah Vincent.


"Memangnya kemana kau akan pergi makan malam?" tanya Simon.


Yoana tertawa kecil mendengar pertanyaan adiknya.


"Itu rahasia, Simon."


"Apakah ini kencan?" tanya Claude.


Yoana menyeringai sebelum menjawab," Aku sudah bilang akan berburu suami, Claude ...."


Lalu Yoana melangkah cepat ke arah luar mansion. Pengawal mereka Seth sudah berdiri di samping sebuah mobil, siap mengantarkan Yoana.


"Ayo, Seth ... kita pergi."


Vincent yang sudah berdiri di bingkai pintu luar menyipit memandang kepergian Yoana.


"Kuharap ia segera menemukan calon untuk dijadikan suami. Dia bilang ingin punya anak, Claude." ucap Simon, sengaja berucap agak keras agar di dengar oleh Vincent yang baru saja melangkah masuk dan kembali bergabung dengan mereka.


"Yoana harus segera menikah jika ingin punya anak. Mengingat umurnya sekarang ...." Claude menanggapi ucapan Simon sambil lalu. Pura-pura tidak menyadari Vincent yang mengambil koran dan membukanya kembali dengan kasar. Di dalam hati, dua kakak beradik itu menyeringai melihat Vincent yang tampak gusar.


***********


Seth merasa serba salah ketika melihat nama Vincent tertera di layar ponselnya. Bingung, antara mau menjawab atau tidak. Setelah panggilan ke empat, barulah ia memutuskan untuk mengangkatnya.


"Ya, Tuan Vincent."


"Kau dimana, Seth?"


"Amora Restoran, Tuan."


"Begitu ... Yoana makan malam dengan siapa?"


"Itu ...."


"Jawab saja, Seth. Aku tidak mau mengulang pertanyaanku."


"Saya tidak tahu namanya Tuan. Tapi saat di mobil tadi Nona Yoan menelpon dan memanggilnya Robert."


Hening sejenak. lalu terdengar lagi suara Vincent.

__ADS_1


"Seth ... Ambil beberapa foto. Bagaimanapun caranya. Terutama pria itu."


Giliran Seth yang terdiam.


"Seth!? Kau dengar aku bukan!?"


"Ummm ... Ya, Tuan."


**********


Vincent menggeretakkan gerahamnya sambil memandang ponsel. Seth sudah mengirim gambar. Gambar pertama Yoana yang tengah duduk di meja bundar berseberangan dengan seorang pria berambut hitam dengan alis yang tebal. Pria itu tengah tersenyum lembut ke arah Yoana. Tubuh Yoana hanya terlihat di bagian punggung.


Lalu foto ke dua saat pria tadi tengah mengulurkan tangan pada Yoana. Keduanya berdiri dengan bibir menyunggingkan senyum. satu tangan Yoana menyambut uluran tangan pria itu dengan meletakkan telapak tangannya di telapak tangan pria bernama Robert tersebut.


foto ketiga membuat Vincent mulai emosi. Tampak pasangan itu berdansa, tubuh mungil Yoana hanya mencapai dada atas pria tersebut. Keduanya menempel dekat dengan satu tangan saling betaut, satu tangan lagi milik Yoana diletakkan di bahu pria itu, sedangkan satu tangan lagi milik pria itu mendarat di pinggang Yoan.


Foto keempatlah yang membuat Vincent sangat marah. Pria itu mengangkat tubuh mungil Yoan, sedang tangan Yoana bertumpu pada bahunya. Keduanya tertawa lebar seperti tengah berbagi lelucon bersama.


Vincent segera mencari nomor kontak Blaird dan menekan tombol panggilan. Pria itu menjawab setelah panggilan ke tiga.


"Ada apa, Nueva. Kau mengganggu kencanku."


"Aku ingin informasi."


"Ck ... Aku sedang tidak bekerja."


"Aku akan kirim fotonya. Segera kirim padaku seluruh informasi tentang dirinya."


Blaird memandang jengkel pada ponselnya, Vincent sudah mematikan sambungan. Beberapa saat kemudian, beberapa gambar masuk ke ponsel Blaird. Dikirim oleh Vincent.


Blaird membukanya dan menyeringai lebar.


"Pantas saja kau terdengar gusar ...."


Setelah melihat seluruh isi dari empat foto yang dikirim padanya, Blaird akhirnya bangkit berdiri.


"Well ... sudah saatnya. Lagipula sampai kapan mereka mau saling menyiksa seperti itu."


"Apa yang kau bicarakan, Sayang?" tanya seorang wanita yang duduk dengan pakaian minim di sofa klub malam yang sedang Blaird datangi.


"Maaf cantik. Aku akan pergi. Aku punya sedikit pekerjaan."


***********


Robert Delaney,


Usia 40 tahun. Sudah pernah menikah 1 kali. Istrinya meninggal tiga tahun kemudian karena penyakit kanker. Status duda sudah disandang sejak 8 tahun yang lalu. Profesi sebagai seorang spesialis bedah syaraf. Tercatat aktif di dua rumah sakit besar, Medieval Hospital dan Eliza Hospital. Tinggal di sebuah penthouse mewah di kawasan Green Leaf. Tidak punya anak, jarang terlihat berkencan. Pernah terlihat berkencan dengan seorang dokter lebih kurang satu tahun yang lalu. Hubungan berakhir dengan baik, sang teman kencan bernama dokter Leila sekarang sudah menikah. Anggota keluarga, punya seorang kakak perempuan bernama Sabrina yang sudah menikah dan tinggal di Las Vegas bersama seorang suami dan dua orang putri. Sejarah pekerjaan, merupakan seorang dokter ahli yang berdedikasi, sudah menolong dan menyelamatkan banyak nyawa. Sangat suka pada anak kecil, apalagi pada dua putri kakaknya yang kembar.


Blaird bahkan menyertakan foto Robert bersama dua orang putri kakaknya itu. memeluk keduanya di masing-masing lengannya yang besar.


Vincent mematikan layar ponselnya. Berhenti membaca riwayat hidup dan informasi yang ia terima dari Blaird. Selintas bayangan yang ia dapat adalah he is a perfect man. Sangat sempurna untuk dijadikan suami.


Vincent masih duduk menunggu di ruang kerja di bawah, menanti Yoana pulang.

__ADS_1


Suara mobil kemudian memasuki halaman mansion. Yoana turun dan mengucapkan selamat malam pada Seth. Ia baru saja mencapai pintu ketika pintu itu terbuka lebar dan Vincent sudah berdiri di depannya.


Yoana menaikkan alisnya, " Vince ... Kau belum tidur?"


"Aku berdiri di sini bukan ... tentu saja belum tidur. Memangnya makan malam menghabiskan waktu berjam-jam!? Hingga kau baru pulang di jam ini!"


Yoana melangkah masuk, lalu menoleh sambil menyeringai.


"Robert mengajakku ke suatu tempat. Aku tidak tahu ada tempat menyenangkan dengan bermacam hiburan yang membangkitkan semangat. Aku naik dulu, Vince. Kau juga ... istirahatlah," ujar Yoana sambil kembali melangkah.


"Tunggu Yoana! Apa maksudmu hiburan pembangkit semangat!"


Yoana hanya menoleh sebentar sambil menyeringai.


"Itu rahasia, Vince!" ucapnya sambil terus melangkah.


"Yoan! Tunggu!"


Namun Yoana tidak mempedulikan panggilan itu. Ia menaiki tangga dengan cepat sambil bersenandung kecil. Membuat Vincent menggeretakkan gerahamnya dan mengumpat.


"Sial*n!"


Yoana tiba di kamarnya dan segera mengunci pintu. Senyum lebar seolah tidak mau pergi dari bibirnya. Bertahun-tahun ia tidak pernah mau menerima deretan pria yang mencoba mendekat dan mengajaknya berkencan. Ia sama sekali tidak pernah pergi berkencan. Sudah lama sekali masa berlalu sejak masa ia jatuh cinta dengan Vincent dan menutup hatinya dari pria lain. Yoana sendiri memang tidak berminat pada siapapun, ia hanya menginginkan Vincent.


Tapi Yoana tidak menyangka akan menerima sisi lain wajah Vincent yang kalau boleh diartikan, menurut Yoana, pria itu gusar dan cemburu.


Sejak banyak menghabiskan waktu dengan Leon, Yoana ingin memiliki anak, putra atau putri yang ia lahirkan sendiri. Karena itu ia meminta bantuan beberapa teman yang kira-kira punya seorang calon yang bisa dikenalkan padanya.


Mereka berkenalan lewat ponsel. Robert menghubungi Yoana lebih dulu. Mengatakan mendapatkan nomornya dari seorang teman yang juga merupakan kenalan Yoana. Lalu tercetuslah ide untuk bertemu malam ini di restoran Amora.


Robert orang yang ramah dan menyenangkan. Saat selesai makan malam, Robert mengajak Yoana ke taman kota, Yoana tidak menyangka, di bagian sudut jalan di taman itu, terdapat seniman keliling yang menyuguhkan tarian rakyat dengan iringan musik tradisional. Tanpa sadar Yoana turut bertepuk tangan bersama beberapa pengunjung yang menonton.


Lalu Robert mengajaknya ikut menari, awalnya gerakannya sangat kaku, tapi di pertengahan lagu, Robert dan Yoana bisa melakukannya dengan sangat baik, mereka tertawa dan melompat bersama para penari yang sebenarnya. Hal inilah yang ia sebut sebagai hiburan pembangkit semangat. Karena sungguh, Yoana merasa gembira dan sangat bersemangat setelahnya.


Yoana dan Robert menyadari ... terlalu cepat untuk mengarah ke arah kekasih atau semacamnya. Jadi mereka memutuskan untuk berteman dulu, Yoana tidak keberatan ... karena Robert akan menambah daftar teman baik yang ia punya.


Tapi wajah Vincent yang ia lihat ketika kembali tadi membuat Yoana sedikit terkejut. Pria itu tampak gusar. Mungkin karena untuk pertama kalinya, Yoana benar-benar memutuskan pergi berkencan dan bertemu dengan pria lain.


Jika aku memutuskan akan benar-benar menikah dengan pria lain ... Apa yang akan kau lakukan, Vince? Yoana bertanya-tanya. Apakah Vincent akan melepas dan membiarkan ia menikah? Atau akan menghentikan pernikahan itu?


NEXT >>>>


*********


From Author,


Jangan lupa tekan like, love dan bintang lima ya. tinggalkan jejakmu lewat komentar.


Yang suka cerita di novel ini, yuk bantu author dengan rekomendasikan ke teman-temannya yah, siapa tahu temannya juga suka dan menikmati ceritanya.


Terima kasih semua,


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2