
Luigi merebahkan tubuhnya di sandaran kursi. Jas dokternya tersampir sembarangan di atas sofa di tengah ruangan. Ia sendiri duduk di belakang meja kerjanya, setelah melonggarkan dasi, Luigi menarik napas panjang dan mengambil ponsel.
Hanya ada satu foto yang diambil dari kejauhan yang tampak agak jelas. Ia sudah mengambil beberapa foto namun terlalu jauh dan gambarnya terlihat kabur.
Luigi mengelus layar ponselnya, Catalina sangat cantik di malam pesta kemarin, tapi pujaan hatinya itu tidak kembali lagi ke pesta, Luigi telah mencari ke sekeliling aula, hanya terlihat Yoana Bernard dan pria dengan bekas luka yang mengurus pembatalan kontrak Catalina. Tidak ada nomor ponsel atau apapun yang bisa Luigi hubungi, Catalina dan Claude Bernard tidak kembali lagi ke pesta malam itu.
"Tapi setidaknya, aku sudah tahu kau ada dimana, Lina. Kau dan Leon akan baik-baik saja dan terlindungi di keluarga itu, hanya saja kau seperti tengah disekap ... sepertinya jalanku untuk bertemu denganmu hanyalah Natalia," bisik Luigi sambil terus menatap satu wajah di layar ponselnya.
Suara pintu yang diterobos masuk membuat Luigi segera menutup dan mengunci ponselnya. Ia sudah tahu siapa yang datang dari derap langkah sepatu high heels yang berdetuk memasuki kantornya itu.
Luigi mendongak dan menatap pada Natalia yang melenggok masuk di iringi sekretarisnya yang mengernyit. Sekretarisnya pasti sudah berdebat dan melarang gadis itu masuk. Namun sepertinya Natalia Ambroz tidak mengerti tentang larangan.
"Sayang, maaf aku mengganggumu," ucapnya manja.
"Ada apa lagi?" tanya Luigi dingin.
"Mommy menyuruhku menjemputmu,"
"Untuk apa?"
"Mengepas baju ...."
Luigi mengernyit. Ia memang menerima telepon ibunya yang memberitahukan tentang pengepasan baju.
"Kau pergi sendiri saja!"
"Mana bisa, bajumu apa mesti aku yang mencoba? tidak bisa hanya di kira-kira kan?" jawab Natalia dengan alis terangkat.
"Lagipula ibu kita sudah menunggu di sana, ibumu mengatakan ia sudah memberitahumu tentang hal ini. Daripada kau lupa karena sibuk dengan pekerjaan, aku menyempatkan diri mampir menjemputmu."
Luigi menarik napas panjang, jika ibunya sudah berada di sana, ia tidak akan bisa mengelak lagi.
"Baiklah ...." Luigi berdiri dari kursinya lalu melangkah meninggalkan kantor tanpa melirik ataupun menggandeng Natalia. Sekretaris yang tadi ikut masuk hanya menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya memandang wajah Natalia. Dengan hentakan kuat kakinya Natalia berbalik sambil menggeram, melangkah cepat mengikuti Luigi yang telah berlalu meninggalkannya.
**********
Yoana Bernard termenung di belakang meja kerjanya. Sebentar lagi peringatan hari kematian ayahnya. Mereka sekeluarga selalu menyempatkan diri untuk datang dan mengunjungi makam ayah dan juga ibu mereka di setiap hari peringatan kematian kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Tapi kali ini akan terasa berbeda, ada seorang cucu, anak dari dari Simon Bernard yang akan ikut hadir. Apakah pasangan orang tuanya akan merasa senang di alam sana? Satu pun anaknya belum ada yang menikah.
Suara dering ponsel membuat Yoana teralihkan, ia menatap dan segera mengambil ponsel ketika melihat nama Hamilton tertera di sana.
"Halo, Paman," sapa Yoana ketika mereka terhubung.
"Halo,Yoan ... apakah kalian akan berangkat ke Green Forest?" Hamilton selalu mengingatkan jika peringatan hari penting keluarga mereka sudah dekat.
"Tentu, Paman. Aku malah sedang memikirkannya, kita perlu persiapan di sana karena akan membawa seorang bayi ikut serta."
"Tentu saja, aku sudah mempersiapkannya, Yoan. Aku sudah menghubungi pengurus villa. Mereka akan mempersiapkan semuanya."
"Kau selalu lebih gesit daripada kami semua, Paman." Yoana seolah bisa melihat Hamilton tengah tersenyum di seberang sana.
"Ck ... itu sudah menjadi tugasku, Yoan." laki-laki tua itu berdecak.
"Simon akan berangkat bersamamu?"
"Ya ... kami akan berangkat langsung dari pulau ini. Kuharap kau melihat perkembangan adikmu," ucap Hamilton dengan nada misterius.
"Oh, aku tidak sabar melihatnya, Paman. Aku juga sudah sangat rindu padanya."
"Baik, Paman." Yoana menjawab dan kemudian menutup ponsel ketika Hamilton sudah memutuskan sambungan.
"Catalina terpaksa ikut, Leon akan sangat rewel jika Mommynya tidak ikut," bisik Yoana pada dirinya sendiri.
**********
Vincent melangkah masuk ke dalam ruang kantor Claude. Pria itu tengah berdiri di depan kaca gedung kantornya dengan kedua tangan tersimpan di kantong celana.
"Hamilton sudah menghubungimu?" tanya Vincent.
"Ya." Claude menjawab tanpa membalikkan badannya.
"Kapan kita akan berangkat?"
"Kurasa dua hari lagi. Selesaikan semuanya Vincent ... kali ini kita tidak hanya akan berkunjung. Kita akan menginap selama 3 hari."
__ADS_1
Vincent menaikkan alisnya mendengar perkataan itu.
"Tiga hari?" tanyanya memastikan.
"Ya, tiga hari." Claude membalikkan badannya dan menatap ke arah Vincent.
"Pastikan semua keperluan kita di villa terpenuhi. Siapkan dua heli dan segala macam bentuk pengamanan seperti biasa, semua anggota keluarga Bernard akan hadir di sana, Vincent ...."
Vincent mengangguk, ia sudah berencana menambah pengawalan dan penjagaan ketika berada di villa nanti. Kejadian percobaan penculikan Yoana membuatnya lebih berhati-hati. Apalagi kabar penyelidikan dari Blaird tidak memberikan hasil yang memuaskan.
"Apa yang akan kita lakukan selama tiga hari di sana, Claude?"
"Kita akan mengunjungi ayah dan ibuku, Vincent. Sekalian kita berlibur ...."
Vincent mengernyit, setiap tahunnya, mereka hanya akan berkunjung dan beristirahat sebentar di villa besar di wilayah pegunungan itu. Melihat keadaan wilayah sekitar villa yang merupakan properti paling disukai oleh Alissia Bernard, ibu Yoana dan adik-adiknya. Di tempat itulah Antonio Bernard memutuskan memakamkan istrinya, lalu meminta pada Yoana dan Claude untuk menguburkannya di samping istri yang dicintainya itu bila nanti ia menyusul. Ketika rasa sakit dan kehilangan membuat Antonio melemah, penyakit menyerangnya. Pria itu akhirnya menyerah dan kembali untuk selamanya. Menyusul istri yang sangat dicintainya hanya dalam waktu dua tahun setelah kematian Alissia.
Sekarang hari peringatan kematian pria itu sudah dekat, mengingatkan Vincent pada kebencian yang harus ia tanggung karena kesalahannya di masa lalu, lalu pada sumpah yang harus dijalankannya untuk selalu berada di keluarga Bernard, menjaga dan melindungi keluarga itu. Sumpah yang ia ucapkan pada Alissia sesaat sebelum wanita itu akhirnya menutup mata untuk selamanya.
Vincent menelan ludah, Green Forest merupakan tempat yang sangat indah, hutan menghijau mengelilingi villa dengan aliran sungai berbatu yang berujung pada sebuah air terjun di sisi bukit.
Tapi kenangan pada orang-orang yang dimakamkan tak jauh dari villa itu membuat Vincent selalu tidak nyaman terlalu lama berada di sana. Kegelisahan akan menghantuinya, kenangan buruk dan rasa bersalah seolah makin pekat dan meremas hati Vincent. Namun ia tidak bisa membantah keinginan Claude, kata-kata Claude adalah perintah untuknya.
Tiga hari ... semoga bisa dilalui dengan cepat nantinya.
Vincent menganggukkan kepala ke arah Claude. " aku pergi. Aku akan mengurus semuanya."
Setelahnya ia berbalik, melangkah meninggalkan Claude yang kembali memandangi pemandangan di luar kaca gedung dengan mata menerawang.
N E X T >>>
**********
From Author,
what's wrong vincee?
Jangan lupa like, love, vote ,komentar dan bintang lima yang Readers kuh😘😘😘
__ADS_1
Terimakasih..
Salam, DIANAZ.