
Vincent bergerak cepat menggendong Yoana masuk ke bagian gawat darurat. Ia disambut dokter dan perawat yang segera membawa Yoana yang masih pingsan ke dalam sebuah ruangan. Vincent segera mengikuti dan mau ikut masuk. Namun langkahnya dihentikan oleh seorang perawat.
"Maaf Tuan. Anda tidak boleh masuk. Tunggulah di luar sini dulu."
Lalu pintu tertutup dan Vincent dibiarkan sendiri di luar ruangan itu. Kepalan tangan Vincent yang terkepal segera saja mendarat di dinding putih rumah sakit. Kemarahan menguasainya karena merasa terlambat melihat situasi dan membuat Yoana hampir saja diculik dan dibawa pergi oleh para pria tidak dikenal.
Vincent merogoh ke dalam kantongnya mencari ponsel. Ia menekan sebuah nomor dan menunggu seseorang di seberang sana menanggapi panggilannya.
"Halo ...." Suara berat di seberang sana menjawab.
"Blaird! Aku punya tugas untukmu!"
"Ah, Nueva? Sudah lama sekali kau tidak menghubungiku." Pria di seberang sana terkekeh.
"Selidiki percobaan penculikan Yoana Bernard yang terjadi di halaman kantor B House hari ini, Blaird. Aku tunggu secepatnya. Siapa dan apa maunya orang itu!"
"Well ... kau masih bekerja di keluarga itu rupanya."
"Aku tidak pernah pergi, Blaird."
"Tapi Tuan Besar Bernard terdahulu sudah mengusirmu, Nueva."
"Aku terikat sumpah pada istrinya. Apapun yang Tuan Besar katakan tidak akan bisa membuatku pergi."
"Apakah ada petunjuk tentang hubungan kejadian ini dengan masa lalu, Nueva?"
"Aku tidak tahu ... tapi setelah 10 tahun baru kali ini Yoana diserang lagi! Temukan dia Blaird!"
"Baiklahn... kucoba. Jangan terlalu berharap jika orang ini memang dia ... dia licin."
"Dia sudah mati Blaird! Aku sudah membunuhnya!"
"Tidah ada mayat Nueva ... jadi itu tidak pasti."
Vincent mematikan ponselnya dan melihat ke arah pintu ruangan yang tertutup. Sungguh ia tidak pandai bersabar, ingin sekali Vincent mendobrak pintu itu.
**********
Claude meletakkan berkas-berkasnya. Keheningan dalam ruangan kantornya membuat pekerjaannya dengan cepat selesai. Sudah hampir dua jam dan dengan ajaib Catalina bertahan dalam ruangan istirahat bersama Leon. Tidak keluar dan merengek minta pulang.
Claude berdiri dan meregangkan tubuh. Ia melangkah ke ruang santai dan membuka pintu. Pemandangan Leon yang tertidur dengan Catalina yang memeluknya membuat ia bergegas mendekat, berusaha melangkah tanpa suara. Claude berdiri di pinggir ranjang dan menatap dengan senyum lebar.
Pantas saja Catalina tidak keluar, gadis itu tertidur di samping Leon. Kedua lengan gadis itu sudah melingkupi tubuh montok Leon dalam tidur.
Perlahan Claude duduk di pinggir ranjang, memandang tidak berkedip mata biru yang sekarang terpejam rapat. Ia mengulurkan tangan menyentuh rambut kuning keemasan yang bertebaran di atas bantal. Claude tidak dapat menahan keinginannya untuk mencium gadis itu, perlahan ia menunduk dengan mata menatap pada mata Catalina yang tertutup, Claude mengecup singkat bibir catalina dan berusaha tidak meneruskan dengan memagut dan mencecap bibir itu atau Catalina akan terbangun dan kembali menamparnya. Claude mengangkat kepalanya dan akan ganti mengecup pipi Leon ketika dua mata biru itu membuka dan langsung terbelalak.
Catalina terkejut dan akan bergerak bangkit ketika ia menyadari tubuh Leon masih berada dalam rengkuhan lengannya. Bayi itu masih tertidur.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Catalina mendesis.
"Aku baru saja akan mencium Leonard ketika kau terbangun." Lalu Claude melanjutkan niatnya, ia mengecup pipi montok leon dan mengelusnya dengan tangan.
"Lembut dan manis," ucap Claude dengan senyum geli tersungging di bibirnya. Catalina bergerak pelan melepaskan Leonard agar bisa segera menjauh dari Claude. Kedekatan laki-laki itu membuatnya sedikit risih.
"Aku tertidur ... Jam berapa sekarang?"
"Kau tertidur hampir dua jam."
__ADS_1
"Oh! Kurasa sudah waktunya Leon minum susu "
Catalina bangkit dan mencari botol susu dalam tas bayi. Lalu mulai bekerja membuat satu botol penuh susu untuk Leonard. Claude mengawasi pekerjaan gadis itu ketika ponselnya berdering.
Claude mengangkat panggilan itu dan menyahut.
"Ya?"
Suara seorang wanita membalasnya di seberang sana.
"Maaf Tuan Claude. Barusan ada percobaan penculikan terhadap Nona Yoana. Namun berhasil digagalkan oleh Tuan Vincent. Tuan Vincent meminta saya mengatakan pada anda agar menyusul beliau dan Nona Yoana ke rumah sakit."
"Apa! Apa terjadi sesuatu pada Yoan!?"
"Kelihatannya kaki Nona Yoana cidera Tuan."
"Rumah sakit mana!?" tanya Claude tidak sabar.
"Eliza Hospital, Tuan."
Claude langsung mematikan ponsel dan bergerak cepat. Catalina yang mendengar percakapannya mengernyit.
"Ada apa?" tanyanya sambil mulai menggendong dan memeluk Leon. Berusaha membangunkan Leon agar mulai minum.
"Terjadi sesuatu pada Yoana. Aku akan ke Eliza Hospital. Dia dibawa ke sana oleh Vincent."
Catalina terbelalak. "Aku ikut."
Ia mengangkat Leon sambil memegang botol susu. Claude tidak membantah. Ia menarik tas Leon dan mereka segera melangkah keluar dari ruang santai menuju Bruno yang sudah menunggu dengan mobil yang akan membawa mereka ke Eliza Hospital.
"Maaf Nyonya, bayi dan anak-anak tidak boleh masuk," ujar pria itu.
Claude mengernyit menatap laki-laki itu. Catalina memegang lengannya sehingga ia menoleh dan menatap mata Catalina.
"Masuklah. Lihat dulu seperti apa keadaannya. Aku akan menunggu bersama Leon di luar sini."
Claude mengangguk dan meninggalkan Catalina di selasar. Catalina memandang berkeliling mencari tempat duduk yang bisa ia pakai agar bisa santai memberi susu pada Leon.
Catalina berjalan ke arah taman kecil tak jauh dari sana. Beberapa orang tampak juga sedang menunggu di sana. Ia duduk di sebuah kursi panjang dan memangku leon. Catalina mulai memberikan botol susu yang tadi ia siapkan ke mulut Leon, sekarang ia hanya bisa menunggu.
Claude mendapati Vincent yang tengah bicara dengan seorang laki-laki yang mengenakan jas putih. Ia mendatangi mereka.
"Vincent, apa yang terjadi?"
Sang dokter yang melihat kedatangan Claude segera mengulurkan tangan.
"Ah, Anda Tuan Bernard," tebaknya ramah. Claude mengangguk cepat.
"Bagaimana Kakakku?"
"Saya baru saja bicara dengan Tuan Machado. Sepertinya beliau sudah tahu teknik membenarkan posisi sendi yang keluar dari tempatnya. Nona Yoana mengalami dislokasi pada sendi pergelangan kaki, dan sesaat setelahnya Tuan Machado rupanya yang menarik sendi itu ke posisi semula."
Claude mendengarkan dan melirik vincent yang sedikit pucat dan terdiam.
"Setelah memeriksa hasil rontgen pada pergelangan kaki Nona Yoana, saya mendapati posisi sendinya sudah kembali dengan benar dan keadaan otot dan ligament sekitarnya syukurlah tidak ada yang rusak. Namun beberapa hari ke depan kakinya benar-benar harus diistirahatkan. Dia tidak boleh menggerakkannya. Ia akan merasakan nyeri dan sendi itu akan membengkak. Saya akan memberikan obat untuk mengatasi pembengkakan dan peradangan yang terjadi serta obat untuk rasa nyerinya."
Claude mengangguk berulang kali. "Baiklah ... lalu apakah ia perlu di rawat?"
__ADS_1
Sang dokter terseyum. "Tidak perlu, Tuan Bernard. Perawatannya bisa diteruskan di rumah saja. Hanya istirahatkan kakinya dan minum obatnya dengan benar."
Claude menarik napas lega. Vincent pun melakukan hal yang sama.
"Apakah ia sudah sadar?" tanya Vincent.
"Ya, Tuan Machado, dan ia menanyakan Anda. Tadi dia pingsan karena tidak mampu menahan rasa sakit saat anda menarik sendinya. Jika anda membawanya langsung kemari, kami bisa melakukannya dengan memberikan anestesi." Sang dokter tersenyum. Lalu mempersilakan dua pria itu menemui Yoana yang sudah dipindahkan di sebuah ranjang perawatan.
"Kalian datang ... aku mau pulang!" serunya cepat. Claude segera mendekati kakaknya dan melirik pada kaki kanan yang dibalut elastis perban.
"Kita akan pulang Yoan. Tunggu Vincent mengurus semuanya," ucap Claude.
Vincent menatap Yoana dari ujung rambut sampai pada ujung kaki, berhenti sebentar pada pergelangan kaki yoana, lalu setelahnya tanpa kata ia pergi keluar untuk mengurus proses keluar dari rumah sakit.
Setelah semua selesai Vincent kembali dan menyerahkan bungkusan obat pada Claude yang menerimanya dan mengintip isinya. Vincent tanpa aba-aba langsung menggendong yoana. Yoana yang terkejut segera melingkarkan tangannya ke leher pria itu.
"Bisa kan kau bicara dan memberitahu! Aku bukan boneka, Vince!"
"Kau sudah sehat jika sudah mulai bisa mengomel," bisik Vincent pelan. Claude tertawa dan mengikuti mereka keluar dari tempat itu.
Sopir yang tadi membawa Vincent sudah menunggu dengan mobil yang akan membawa Yoana pulang. Catalina yang melihat dari kejauhan segera melangkah mendekat. Ia menatap kaki Yoana yang terbalut dan tahu jika kaki itu pasti terasa sangat nyeri. Ia mendongak menatap ke wajah Yoana. Wanita mungil dalam gendongan Vincent itu rupanya tengah menangis tanpa suara.
"Yoan ... apakah sakit sekali?"
Yoana mengangguk. "Ya. Apalagi bila digantung seperti ini. Sakit sekali, terasa berdenyut."
Tangan kecil Leonard yang sedang digendong Catalina menggapai ke arah wajah yoana. Bayi itu mengelus sambil mengoceh, seolah tahu kesakitan yang dialami Yoana.
"Leon sayang, kau menghiburku ya ... sini, cium Aunty."
Catalina mendekatkan Leon ke arah Yoana sehingga yoana bisa mengecup pipi montok bayi itu.
"Ayo pulang. Kakimu harus diistirahatkan. Kau perlu minum obat," ucap Vincent.
Tak jauh dari sana sebuah mobil putih berhenti. Dokter Luigi yang duduk di kursi belakang baru saja akan membuka pintu ketika matanya tertuju pada pemandangan sekumpulan orang di dekat mobil hitam dengan pintu mobilnya yang terbuka. Sepertinya lelaki dengan bekas luka di wajah itu akan membawa pulang pasien yang kakinya dibebat elastis perban.
Luigi turun dari mobil dan menunggu sopirnya membawa mobil itu berlalu. Ia kembali melirik ke arah kumpulan orang itu. Lalu mengerutkan dahi ketika melihat sosok wanita yang menggendong bayi dibalik tubuh besar seorang pria yang menghalangi pandangannya. Luigi berjinjit, melongok, memiringkan kepala dari tempatnya berdiri, berusaha mengintip sosok wanita itu. Rambut panjang wanita itu mengingatkannya pada rambut indah Catalina.
Ketika pria yang menggendong pasien itu masuk ke dalam mobil bersama sang pasien, pria yang menghalangi pandangan Luigi akhirnya bergeser dan menyingkir, sehingga sosok wanita yang tengah menggendong bayi itu terlihat jelas oleh Luigi.
"Catalina!"
Luigi berteriak lalu berjalan cepat menghampiri gadis yang terbelalak lebar melihatnya. Luigi tersenyum lebar, hatinya membuncah bahagia dan matanya berkilau. Ia menangkap tubuh Catalina dan langsung memeluknya erat di dada dengan Leon yang terjepit diantara tubuh mereka.
"Lina! Kemana saja kau selama ini! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku padamu!"
**********
From Author,
Uhuiiiiii ... yang mau Catalina ketemu Dokter Luigi kemana? Ini mereka udah ketemu loh. Ayo tinggalkan komentarnya ya. Pada seneng gak Cat ketemu luigi? Gimana muka si tamvan Claude?😂😂😂😂😂
Like dong ya ... please ... biar semangat authornya. bintang lima dan favorite nya juga bagi yg belum klik. cuzzzz klik ya. follow author dengan klik ikuti di kolom profil thor juga.
Terimakasih semua 😘😘😘😘
Salam, DIANAZ.
__ADS_1