
Vincent berderap turun dari lantai atas kantornya sambil memindai GPS di ponsel. Ia sudah menghubungkan ponsel Yoana ke ponselnya tanpa sepengetahuan wanita itu, sehingga dengan mudah ia bisa mengetahui posisinya.
"Kau berhenti di restoran perancis!?" Vincent mengernyit, bicara sendiri pada ponselnya.
Setelah melintas di lobi, Claude yang sudah turun lebih dulu melihat pria itu dan segera mendekat.
"Beruntung bertemu kau di sini. Ikut aku, Vincent. Walker bersaudara menghubungiku barusan. Mereka ingin bertemu sekarang!"
"Apa! Sekarang!? Bukankah saat kita mengajukan ...."
"Ck, aku tahu. Mereka selalu beralasan tidak bisa dan sekarang mendadak dengan alasan sedang berada di kota ini mereka mengajak bertemu. Ayo Vince! Kau tahu betapa sulitnya menemui kedua orang itu!" Claude melangkah keluar dan menuju Bruno yang sudah membukakan pintu mobil.
Dengan terpaksa, Vincent mengikuti, ia masuk ke mobil. Duduk di sebelah Claude sambil melihat terus ke layar ponselnya.
"Apa yang kau lihat?"
"Yoana ... dia keluar bersama Catalina. Tadi aku menghubunginya dan dia bilang akan pergi berlibur."
"Dan kau percaya? Langsung mengecek keberadaannya?" Claude menyeringai geli, "dimana mereka?" tanyanya lagi.
"Di restoran perancis ... di sini." Vincent menunjuk ke arah layar ponsel.
Claude terkekeh. "Tidak usah percaya. Jika berlibur, dia akan siap dari jauh hari ...."
"Ya ... dia tidak akan mau ketinggalan satupun peralatan kecantikan atau sandal kamar favoritnya."
"Nah, kau sudah mengerti ... kau paham kan bagaimana dia. Isi kopernya akan dia pikirkan selama berhari-hari, baju-baju mana yang akan cocok untuk ia bawa saat liburan. Dia tidak akan mau pergi mendadak. Jangan khawatir berlebihan ... tidak ada lagi yang mengincar Yoana." Claude tersenyum pada Vincent. Melihat pria itu menutup ponsel dan menoleh keluar kaca mobil.
Membayangkan Yoana pergi tanpa dirinya membuat Vincent jadi agak gelisah. Tapi Claude benar, Yoana tidak mungkin mendadak berniat liburan, tadi ia mendengar sedikit nada geli dan tawa sebelum ponsel mereka terputus. Yoana pasti hanya bercanda.
"Lagipula ... Kurasa akan baik bila Yoana belajar hidup berjauhan denganmu, Vince. Belajar untuk tidak melihatmu setiap hari ... sepuluh tahun dan tekadmu tidak berubah bukan? Kurasa dia tidak bisa melirik orang lain karena kau selalu ada di dekatnya. Dengan berada jauh, siapa tahu dia akhirnya bisa menoleh ke arah para pria yang mengantri ingin bersamanya, kakakku cantik dan elegan, sangat mudah menarik perhatian para lelaki."
Claude melirik dengan ekor matanya, Vincent tidak bergerak. Masih menoleh ke arah luar kaca. Senyum lebar terpatri di wajah Claude, ia bersandar ke belakang dan mulai memejamkan mata. Claude sengaja mengucapkan kalimat tadi untuk membuat Vincent resah dan ia sungguh berharap usahanya tadi berhasil.
**********
Marylin menatap Serge dengan bibir mengerucut kesal.
"Jadi aku akan berangkat sendiri dengan Lionel? Kau akan menyusul?"
"Ya, Sayang. Jangan merajuk. Aku akan menyusul secepatnya. Tuan Diego ingin bicara dengan kami di sini. Jadi kami harus menunggu. Kau, Lionel dan kru yang lain akan berangkat sekarang. Pergilah ... Jangan cemberut Mary."
"Aku tidak suka jika tidak pergi bersamamu!"
__ADS_1
"Betapa senang mendengarnya, gadisku yang manja ...." Serge mencubit hidung Marylin.
"Serge! Aku serius! Aku menunggu saja, pergi bersamamu nanti."
"Jangan Mary. Jangan mengacaukan jadwal. Tuan Lucca tidak akan suka. Pergilah ... Tuan Diego masih ada pertemuan. Kami akan menunggunya sekitar dua jam. Jadi, sebelum sore nanti, aku sudah akan bertemu kembali denganmu." Serge meyakinkan Mary.
Dengan berat hati Mary mengikuti perintah Serge. Ia masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke bandara dimana pesawat pribadi tuan Lucca sudah menunggu. Sudah hampir dua bulan pekerjaan mereka berjalan, semuanya lancar dan tampak sangat sukses. Namun semua pekerjaannya selalu di dampingi Serge. Sekarang Serge menyuruhnya berangkat duluan. Sedikit kekhawatiran menggayuti hati Marylin, namun ia mengambil napas dan berkata pada dirinya sendiri semuanya akan baik-baik saja. Hanya tinggal dirinya dan Lionel. Rosalie dan Bryan sudah menyelesaikan bagian pekerjaan mereka. Keduanya sudah kembali sehari sebelumnya.
Marylin menatap ke arah samping, Lionel tampak bersandar dengan headset menutup telinga. Matanya terpejam dengan kepala bergoyang mendengarkan musik. Pemuda delapan belas tahun tersebut tampak tidak peduli pada sekitarnya. Berhari-hari ketika tidak bekerja, hanya musik yang ia tempelkan ke telinganya itu. Sampai-sampai manajernya harus menarik telinganya ketika ingin berbicara atau membuat Lionel mendengarkan.
Setidaknya ia tidak berisik, tidak suka ikut campur dan tidak mengganggu orang lain ....
Marylin tersenyum. Memantapkan dan menenangkan hatinya sendiri.
**********
Serge menunggu dengan Steve manajer Lionel, tuan Diego akan menemui mereka sebentar lagi di restoran hotel. Mereka baru saja selesai makan siang. Beberapa saat kemudian Steve menerima telepon. Pria itu menjawab, lalu mengernyitkan kening. Ia hanya mendengarkan orang di seberang sana berbicara. Beberapa menit kemudian Steve mematikan ponsel. Ia menatap Serge dan segera pamit.
"Serge, Aku akan pergi sebentar. Ada sedikit masalah ... tunggu ya, katakan pada Tuan Diego bila aku belum datang, aku hanya pergi sebentar. Aku akan kembali," ucapnya tergesa.
"Tenang ... pergilah. Aku akan menunggu pria itu."
Steve melambaikan tangan dan berterima kasih. Wanita di telepon adalah resepsionis hotel tempat mereka menginap, mengatakan ada seorang pria yang ingin bertemu dengannya. Mengatakan ingin menyampaikan kabar penting tentang keluarga Lionel dan ingin bertemu langsung dengannya. Tidak mau menunggu dan membuat sedikit keributan.
Serge menatap ponselnya, memutar video musik untuk mengisi waktu. Ia tidak mendengar langkah kaki beberapa orang yang datang dan langsung memegang tangannya. Serge mendongak dan mendapati para pria bertubuh besar dengan pakaian rapi. Dua orang diantaranya langsung menariknya berdiri, seorang di belakang mendorong dan sisanya membantu menyeretnya masuk ke dalam lift.
Salah satu pria itu memukul belakang kepala Serge, Seketika pandangannya kabur dan gelap. Serge terkulai dan ketika pintu lift terbuka, Serge diseret masu. Setelah tiba di lantai bawah, para pria itu membawanya ke sebuah mobil hitam yang sudah menunggu. Dalam hitungan detik mobil hitam itu sudah melaju, hilang dari depan gedung.
Steve kembali naik ke lantai atas tempat Serge menunggu. Pria yang dikatakan oleh resepsionis ingin menemuinya tiba-tiba meminta maaf dan mengatakan salah orang. Pria itu meminta maaf telah mengganggu waktu dan membuat Steve sedikit repot. Steve dan resepsionis hotel terheran-heran ketika pria itu melambai sambil tersenyum, dan terus meminta maaf sambil pergi. Setelah berbincang mengenai apa yang terjadi dengan resepsionis, Steve akhirnya memutuskan kembali naik dan menunggu bersama Serge. Namun ia tidak melihat pria itu dimanapun. Steve berpikir mungkin Serge sedang ke toilet. Jadi ia memilih duduk sambil memainkan ponselnya.
Ponsel Steve berbunyi beberapa saat kemudian.
"Halo ...."
"Steve, Anda masih menunggu?" terdengar suara Diego.
"Oh, Tuan Diego. Ya, aku di restoran," ucap Steve.
"Ah, Serge sudah pergi lebih dulu, tadi Anda pergi, jadi ia tidak bisa memberitahu. Ada sedikit perubahan rencana. Serge dan Marylin tidak akan mengikuti proyek terakhir, orangku sudah menjemput Serge dan akan membawanya ke tempat proyek terbarunya. Tuan Lucca memutuskan menggunakan model yang asli berasal dari negara itu. Jadi Lionel akan berdampingan dengan model pilihan Tuan Lucca ini. Mobil untuk Anda sudah ada di bawah, turunlah dan selamat menikmati penerbangan Anda."
"Jadi, Anda tidak akan kemari?" tanya Steve.
"Tidak, Steve. Perubahan rencana dari Tuan Lucca di saat-saat terakhir. Maaf membuatmu menunggu di sana. Berangkatlah sekarang dan temui Lionel. Kau perlu bicara dengan manajer dan juga gadis yang akan bekerja bersama Lionel ini bukan."
__ADS_1
"Anda benar. Baiklah. Terima kasih, Tuan Diego."
"Tak masalah, Steve ...."
Pembicaraan itu terputus. Diego mengembuskan napas, mengambil gelas air putihnya dan meneguk sampai habis, kemudian barulah ia kembali memegang ponselnya dan menghubungi Alrico Lucca.
"Tuan ...."
"Katakan, Diego ...."
"Keduanya sudah terpisah. Serge sudah dibawa ke Mansion Leopard. Marylin dalam perjalanan ke Mansion Cougar. Lionel berada di penerbangan berbeda dengan wanita itu. Mereka tetap akan melanjutkan pekerjaan sesuai rencana awal bersama para kru."
"Bagus ... bocah itu tidak menyadari Marylin hilang bukan?"
"Tidak, Tuan. Lionel tidak mendengar apapun atau melihat apapun."
"Baiklah ... semua sesuai rencana. Aku ingin sekali membawa mereka ke Mansion Lion atau Tiger. Tapi mansion itu dekat dengan pemukiman. Hanya Leopard dan Cougar yang terpencil ... Cheetah juga terpencil, namun terlalu kecil."
Diego mengetukkan jari tangannya yang tidak memegang ponsel ke gelas minum di atas meja. Otaknya langsung membayangkan mansion Cheetah yang dikatakan kecil oleh tuannya. Mansion yang mampu menampung sampai beberapa keluarga dengan dua puluh kamar yang siap dihuni.
"Pekerjaanku selesai lebih cepat. Aku tidak akan muncul untuk beberapa minggu ke depan. Kau yang harus muncul menggantikan aku. Hubungi aku untuk laporan perkembangan atau ada masalah mendesak. Serge kuserahkan padamu. Jika kau bosan atau malas menanganinya, kau bisa berikan dia untuk umpan macan tutul betina peliharaanku. Lady Rose pasti akan sangat senang mencabik dan menggigit pria itu."
"Baik, Tuan."
"Satu lagi, Serge. Pasang mata dan telingamu tentang adik wanita itu. Juga keluarga Bernard ... laporkan padaku jika mereka mulai mencari Marylin Seymor."
"Baik, Tuan."
Sambungan itu terputus, Diego meletakkan ponselnya. Lalu berdiri menunggu, lima belas menit lagi ia akan turun, lalu berangkat ke Mansion Leopard. Sebuah mansion yang berada di tepi pantai ,di sebuah pulau yang banyak dikunjungi wisatawan. Namun letak mansion itu jauh dari pemukiman, berada di tanah pribadi tuan Lucca. Daerah itu dijaga dan tidak sembarang orang bisa masuk. Semua tempat tinggal Tuan Lucca juga di jaga seperti itu. Alrico Lucca memberi nama setiap mansionnya sesuai dengan peliharaan yang ia jaga dan besarkan di masing-masing mansion. Nona Marylin di bawa ke mansion Cougar. Mansion di pegunungan dengan hutan yang sengaja dibuat alami untuk habitat peliharaan tuan Lucca di sana.
Semoga nasib anda baik, Nona ... bertemu kematian adalah nasib baik, anda akan berdoa mendapatkannya setelah anda dikurung di sana.
Diego berbalik dan memungut ponsel. Bersiap dan melangkah untuk memulai menjalankan tugas berikutnya.
N E X T >>>
**********
From Author
Hai ... like, love ,komentar, bintang lima and vote jangan lupa ya. Yuk follow juga author dengan klik ikuti di profil author.
Klik profil author dan kunjungi karya author yang lain. Bila kalian suka ceritanya, rekomendasikan dengan teman-teman kalian yah.
__ADS_1
Sekian dan terima kasih, dari author yang banyak maunya. hehe....
Salam, DIANAZ.