
Catalina memandang kakaknya yang duduk di sebelah ranjang dengan tangan sibuk menyiapkan makan siang untuk Catalina.
"Sungguh Mary, aku bisa melakukannya sendiri. Aku malu disuapi terus."
"Ayo, aaaaa ... buka mulutmu." Marylin mengulurkan sendok ke mulut Catalina.
"Kau ini ... aku bilang kemarikan nampannya."
"Ayolah ... tidak setiap hari kau makan dari tanganku kan."
Ucapan Marylin membuat Catalina terdiam. Ia membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang diberikan Marylin.
"Terima kasih, Mary. Kau sangat baik. Padahal aku sudah berlaku sangat jahat padamu."
"Jahat? Kapan kau melakukannya?" Marylin tertawa kecil sambil kembali menyuap.
"Karena kita tinggal di kota berbeda, aku tidak tahu kehidupan seperti apa yang kau jalani. Hanya mendengar kabar burung dan lalu mencapmu sekehendak hatiku."
"Sstttttt ... makan saja, Lina. Berhenti bicara atau kau akan tersedak."
"Tidak. Aku harus mengatakannya. Kau menjalani hidup yang berat. Harus bekerja sejak belia untuk memenuhi kehidupanmu. Ayah meninggal dan menghabiskan seluruh harta untuk pengobatannya, kau juga harus menanggung biaya pengobatan ibumu hingga sekarang. Aku mengira kau hidup bebas dan bersenang-senang, padahal kau bekerja di klub malam karena terpaksa bukan?"
Marylin kembali menyuap. Catalina mendekat dan mengunyah, lalu kembali menunggu kakaknya bicara.
"Tapi Aku melaluinya, Lina. Berkat Serge. Dia menjagaku dan aku menjaganya."
"Tetap saja aku jahat. Aku seharusnya menjengukmu dan berusaha membantumu."
Marylin tertawa. "Kau tidak dapat membantu semua orang, Lina. Akulah yang jahat. Tabunganmu habis bukan?"
Catalina sedikit terkejut. Berhenti sebentar mengunyah makanannya.
"Cepat telan makananmu ... ini ... makan lagi." Marylin kembali menyuap.
"Claude dan Yoana mengatakannya padaku. Kau berbohong perihal pasangan yang akan mengadopsi Leon bukan? Kau menggunakan uangmu sendiri membayarku setiap bulan hingga aku melahirkan Leon dan kau menghabiskan seluruh tabunganmu untuk membayar uang kompensasi yang aku inginkan. Aku tahu semuanya Lina ... dan kau merasa telah berbuat jahat padaku?"
Marylin tertawa sumbang sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya kembali menyuapi Catalina yang sempat terdiam dan memandangnya terpana.
"Aku tidak menyesali telah melahirkan Leon. Berkat dirimu, anak itu tumbuh sehat dan layak. Ketakutanku tidak akan bisa bergerak bebas mencari uang dan ketakutan tidak bisa mengurus dan membesarkan seorang bayi membuatku mengambil jalan pintas yang terpikir olehku. Aku memintamu membantuku menggugurkannya."
Catalina mengembuskan napas panjang.
"Aku bersyukur kau datang padaku, Mary. Walaupun saat itu terus terang aku sangat muak dan marah dengan permintaanmu."
__ADS_1
Marylin kembali tertawa. "Ya, pasti. Aku tahu itu."
"Mary ... kau mencintai Simon?" Pertanyaan yang kerap datang di otak Catalina. Marylin sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, sebelum akhirnya tertawa.
"Aku wanita yang takut pada pria, Lina. Apalagi yang bertubuh besar, tampan dan terlihat menyukaiku. Di bar maupun klub malam banyak pria yang seperti itu. Namun karena ada Serge, aku tidak terlalu takut dan bisa terus bekerja. Simon berbeda ... kami bertemu dan aku melihatnya sebagai pria muda yang menyenangkan. Dia tampan, bermulut manis, dengan wajah ceria dan selalu tertawa. Aku tidak takut ketika berdekatan dengannya, sehingga aku penasaran dan membiarkan hubungan kami terus berlanjut di luar klub. Dia juga banyak uang ... dia membawaku berjalan-jalan, membelikanku bunga, mengajakku makan malam .... hal-hal kecil yang membuatku selalu gembira saat bersamanya. Kemudian kami melakukannya ..., well ... kau tahu, sebulan kemudian aku hamil, dan bocah itu jadi kebingungan."
Marylin tertawa renyah, membuat Catalina ikut tersenyum.
"Itu bukan hal yang lucu, Mary. Itu menjengkelkan. Aku sangat kesal ketika bertemu dengannya pertama kali."
"Ya. Aku juga marah saat itu, apalagi ketika datang menemui dua kakaknya dan mereka mengusirku. Aku putus asa. Aku tidak mau membebani Serge lagi. Jadi karena itu, ketika kandunganku mulai terlihat, aku mencarimu."
"Jadi kalian tidak saling mencintai?"
Marylin memiringkan kepalanya. "Mungkin saat itu aku jatuh cinta ... karena untuk pertama kalinya aku tidak takut bersama seorang pria. Aku merasa dia menyenangkan dan ketularan ceria dan gembira. Kau tahu bocah Bernard yang itu memang manis bukan?"
Catalina mendengus ketika mendengar kakaknya menyebut Simon manis.
"Kau menghabiskan warisan ibumu ... padahal kau ingin mewujudkan mimpinya bukan?"
Catalina terdiam, lalu mengulurkan tangan pada tangan Marylin yang bermaksud kembali menyuapinya. Ia menggenggam tangan itu erat.
"Aku tidak menyesal. Kau dan Leon layak untuk itu."
"Kemarilah, peluk aku," ujar Marylin sambil mendekat ke pinggir ranjang.
Catalina memeluknya dan memejamkan mata. Marylin tersenyum dan balik memeluk adiknya itu.
"Maafkan aku, Catalina ...."
Catalina menggeleng. "Tidak. Aku yang harus minta maaf padamu. Kau benar waktu kita bertemu di ruang ganti saat pagelaran busana. Aku tidak berhak menghakimimu."
Keduanya diam dan saling berpelukan, merasakan ikatan darah mulai mengikat hati mereka sedikit demi sedikit.
"Hei, jangan menangis," ucap Marylin sembari menepuk pelan punggung adiknya.
"Tidak. Aku tidak menangis." Suara serak Catalina memberitahu kalau ia berbohong. Marylin tertawa dan membiarkan Catalina menangis, senyum teduh menghias bibirnya. Memikirkan ia sudah mengambil keputusan tepat dengan menyetujui syarat Alrico Lucca, sehingga Catalina bisa cepat diselamatkan.
"Mary ... soal perkosaan yang kau sebutkan saat di ruang ganti dulu ... kau mau menceritakannya? Itukah yang membuatmu takut pada pria?" Catalina melepas pelukan saat teringat cerita kakaknya dulu mengenai pemerkosaan yang hampir ia alami.
Marylin menggelengkan kepala. "Tdak. Maaf. Aku tidak mau mengingatnya lagi. Dan ya, aku takut pada pria dengan perawakan mirip dengan pemerkosa itu."
Marylin menarik napas panjang, berusaha membuang ingatannya pada cerita traumatis itu.
__ADS_1
"Kau bilang bertubuh besar. Serge besar," ucap Catalina polos. Marylin menaikkan alis lalu tertawa terbahak-bahak.
"Lina sayang. Serge memang bertubuh besar. Tapi ia sangat lembut, lebih lembut dari puding caramel terlembut sekali pun," ucap Marylin diantara tawanya yang meledak. Catalina tidak terlalu mengerti. Di matanya Serge adalah pria bertubuh besar, tapi syukurlah kakaknya tidak takut dan ia berterimakasih di dalam hati, karena pria itu sudah menjaga kakaknya selama ini.
Tanpa disadari oleh kedua kakak beradik itu, percakapan mereka didengarkan oleh tiga orang yang berdiri di depan pintu ruang perawatan. Pintu ruangan sedikit terbuka, membuat mereka mendengar dengan jelas percakapan keduanya.
Yoana memberi tanda dengan tangannya pada Vincent dan juga Claude. Mengajak mereka pergi dari sana. Bermaksud memberi waktu pada Catalina dan Marylin saling terbuka dan bicara dari hati ke hati.
"Kita berutang maaf pada gadis itu," ucap Claude.
"Ya ... dan tebus hal itu dengan menyelidiki tentang pengusaha kaya dengan niat terselubung itu! Jangan biarkan Marylin terperangkap bersamanya. Mendengar ucapan Marylin tadi, wajar saja ia ketakutan saat pertama melihatmu dulu. Dia trauma pada pria berperawakan seperti pemerkosanya dulu. Mengenang bagaimana sorot matanya ketika kau turun dari tangga mansion saat itu, maka kau tergolong seperti pria itu, Claude. Itu berarti Alrico dan asistennya memiliki efek yang sama untuk Marylin. Sangat hebat ia menyembunyikannya ketika bertemu dua pria itu," ucap Yoana sambil terus berjalan.
Mereka menemukan sebuah kursi panjang yang mengarah ke balkon rumah sakit. Yoana duduk dan memandang Vincent.
"Kau juga bertubuh besar. Kenapa aku merasa Marylin tidak merasakan efek itu saat pertama bertemu denganmu waktu kita memaksanya mengatakan dimana ia meninggalkan Leon. Dia menatap sinis dan berani."
Vincent menatap dalam ke bintik mata Yoana. Membiarkan Yoana menatap wajahnya yang berparut, menahan rasa tidak enak di hatinya setiap wanita itu memandang bekas luka itu.
"Kau lihat? Aku berparut. Tidak tampan sama sekali. Pria pemerkosa itu selain bertubuh besar, pastilah juga tampan. Tipe yang membuat Marylin takut."
Claude membungkuk dengan tangan terlipat di depan dada .
"Ah, terima kasih Vincent. Kau baru saja memujiku sebagai salah satu pria paling tampan," ucap Claude sambil menyeringai.
Yoana mendengus, menendang tulang kering Claude dengan ujung sepatunya. Membuat pria itu mengaduh dan melangkah mundur.
"Yoan!" seru Claude kesal.
"Tidak usah terlalu bangga, Claude Bernard. Catalina tidak pernah menganggapmu tampan. Satu-satunya gadis yang tidak terpesona saat pertama kali bertemu denganmu. Gadis yang malah menampar wajahmu yang sombong itu!" Yoana melipat tangan dan menatap puas wajah Claude yang terlihat kesal padanya.
N E X T >>>
**********
From Author,
Tunggu kelajutannya ya, menyingkap tabir niat sesungguhnya dari Alrico Lucca.
Jangan lupa like, love, vote ,komentar, bintang limanya ya, penyemangat author untuk menulis.
Terima kasih,
Salam, DIANAZ.
__ADS_1