
Catalina dan Marylin baru saja akan masuk ke apartemen, ketika suara Claude menghampiri telinga mereka.
"Catty, Kau dari mana?" tanya Claude. Berpura-pura tidak tahu kalau Catalina baru saja pulang dari mengantarkan Marylin periksa hamil ke dokter.
"Claude!" Catalina tampak sangat terkejut, Begitu pun dengan Marylin.
"Marylin ... Aku perlu bicara serius denganmu. Jangan menghindariku lagi. Aku sudah tahu semuanya," ucap Alric yang berdiri satu langkah di belakang Claude.
Marylin tertegun, apakah maksud pria itu keadaannya yang sekarang sedang hamil? Ia menelan ludah dan berpandangan dengan Catalina.
"Bicaralah dengannya, Mary ...." Catalina memberikan saran pada kakaknya. Perkataan Luigi di rumah sakit tadi membuatnya berfikir, mereka tidak bisa selamanya marah. Pria itu sudah minta maaf, dan sepertinya mau bertanggung jawab.
"Baiklah ...." Marylin masuk ke apartemennya tanpa mengajak Alric ikut masuk.
"Masuklah, bicara di dalam saja," ucap Catalina.
"Ya, aku juga ingin bicara padamu, Catty. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi." Claude menyipit memandang Catalina.
"Kita bicara di dapur saja, Claude. Biarkan Mary bicara dulu dengan Alric ... Dan kau! Jangan coba-coba melakukan sesuatu yang membuat saudariku ketakutan!" ancam Catalina pada Alric. Lalu ia berlalu meninggalkan Alric di ruang tamu. Catalina pergi menuju dapur bersama Claude.
Marylin masuk ke kamar mandi dalam kamarnya, lalu mencuci mukanya. Ia bercermin dan mengatur wajahnya agar bisa tampil tanpa ekspresi. Ia tidak ingin Alric tahu perasaannya yang tidak menentu dan sedikit rasa takut yang masih hadir di hatinya bila berhadapan dengan pria itu.
Setelah satu tarikan nafas panjang, Mary akhirnya meraih handuk. Ia menyeka wajahnya lalu melempar handuk ke atas ranjang. Barulah ia melangkah keluar dari kamar.
Alrico sudah duduk di sofa ruang tamu Mary yang berwarna hijau. Tampak dominan dan sangat nyaman. Mary sendiri lebih nyaman untuk tetap berdiri. Memberitahu Alrico secara tidak langsung bahwa ia hanya memberikan waktu sedikit untuk berbicara.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Alric. Ia menjalin jari-jarinya dan menatap ke arah Marylin yang berdiri di belakang sofa di depannya.
"Mengatakan apa?" tanya Marylin.
Alrico menghembuskan nafas, sepertinya wanita ini akan terus menghindar.
"Kenapa kau tidak duduk, Mary?"
"Karena aku tidak mau ... dan jangan panggil aku Mary! Panggil aku miss Seymor!"
Alric langsung berdiri ketika mendengar nada suara Mary yang naik.
"Dengar, Marylin. Aku ingin kita bicara baik-baik. Dan agar kita bersepakat, akan membutuhkan waktu yang agak lama. Jadi duduklah, kakimu akan lelah berdiri terus. Apa dokter yang kau datangi itu tidak mengatakan bahwa ibu hamil tidak boleh lelah!?"
Marylin berusaha menahan otot-otot wajahnya agar jangan berkedut, ia mengangkat dagu dan memandang Alric dengan tatapan tajam.
"Siapa yang memberitahumu?" tanya Mary angkuh.
"Claude. Tadi. Ketika ia menunggu Catalina pulang dan aku mengajaknya agar duduk menunggu di apartemenku. Jangan bertanya darimana Claude tahu ...." Alric melirik ke arah dapur. Tempat Claude dan Catalina sedang bicara. Marylin mengikuti arah mata Alric dan menyadari pastilah adiknya yang memberitahu Claude.
"Jangan menyalahkannya ... Aku bersyukur ia memberitahu Claude dan Claude memberitahuku. Karena kau tidak akan memberitahuku, bukan begitu? Apa menurutmu aku tidak perlu dan tidak berhak untuk tahu?"
Alric berjalan pelan, melangkah mendekat tanpa ketara.
"Untuk apa kau tahu!?"
"Mary ... Aku ayah bayi itu ...."
"Aku bilang jangan panggil aku Mary!" Mary mendesis dengan mata penuh amarah.
Alric membiarkannya, merasa perlu agar Mary mengeluarkan kemarahan pada dirinya.
"Aku akan tetap memanggilmu Mary," ucap Claude pelan. Kembali ia melangkah mendekat.
"Jangan mendekat lagi. Bicara saja dari sana!"
__ADS_1
"Tidak. Sebelum kau duduk di sofa sesuai keinginanku."
Marylin mendengus, merasa jijik menatap Alric.
"Sesuai keinginanmu!? Tidak! Aku tidak terikat apapun lagi denganmu. Kontrak itu sudah dibatalkan. Jadi pergi saja. Kau membuatku mual! " Marylin memang merasa mual, ia menelan liurnya berulang kali.
"Kau terikat denganku Mary ... Bayi itu sebagai pengikatnya. Kita hanya perlu melegalkannya dengan menikah."
Marylin terbelalak mendengar kata menikah. Annete menyarankan ia menuntut pria itu menikahinya, dan sekarang tanpa perlu melakukannya, pria itu sendiri yang menawarkan pernikahan. Marylin mulai tertawa miris. Menikahi pria yang memperlakukanmu layaknya hewan? Tidak ... tidak akan.
"Aku tidak akan melakukannya! Tidak akan!"
Alric mendekat lagi. Kali ini ia tiba di depan wanita itu. Ia menunduk menatap ke mata biru wanita yang masih terbelalak menatapnya.
"Kau tidak akan bisa menolak, Bayi itu butuh ayah. Dan aku ayahnya. Ia juga butuh ibunya. Apa kau mau menyerahkan tanggung jawabmu sebagai ibu yang melahirkannya kepada adikmu lagi? Seperti dulu saat kau melahirkan Leon!? Belajarlah bertanggung jawab, Mary ... kita ...."
Plakkkk! Mary melayangkan tangannya sekeras mungkin ke arah pipi Alric sampai wajah pria itu memerah. Alric merasa telinganya berdenging dan pipinya perih.
"Bertanggung jawab katamu? Bertanggung jawab atas apa!? Anak ini hadir bukan atas kehendakku! Kau yang memaksakannya hadir di rahimku! Perbuatan bejatmu yang membuatku jadi begini!" Mary berteriak pada Alric. Airmatanya tidak dapat ia tahan, teringat kembali ketakutan dan teror yang ia alami saat Alric memperkosanya di mansion Cougar.
Catalina melepaskan diri dari Claude ketika mendengar suara tamparan, lalu teriakan kakaknya. Namun Claude menahan lengannya dan kembali menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
"Tidak Catty. Jangan ke sana dulu. Biarkan mereka bicara. Biarkan Mary mengeluarkan kemarahannya."
Claude mencium puncak kepala Catalina. Sejak Catalina pindah dari mansion Bernard, ia jarang bertemu dengan gadis itu. Sehingga begitu mencapai dapur, Claude melupakan pertanyaannya darimana Catalina tadi. Ia langsung menarik gadis itu ke dalam pelukan dan menciumnya. Ciuman mereka terhenti ketika suara keras tamparan terdengar sampai ke dapur.
"Apakah Mary yang memukul?" tanya Catalina.
"Tentu ... Alric tidak akan melakukannya. Ia bahkan dengan senang hati menerima hukuman apapun dari kakakmu."
"Apa dia bilang begitu padamu?
"Ya ... itulah yang kutangkap dari pembicaraan kami di apartemennya tadi. Selagi aku menunggu kalian pulang.
Lalu ia merasakan tangan Claude mengangkat dagunya, sehingga mereka bertatapan.
"Sekarang jelaskan padaku ... Kau dan Marylin tadi dari mana?"
"Uh ... itu ... kami dari rumah sakit. Aku mengantarkan Marylin periksa untuk pertama kalinya." Catalina kembali mau menunduk, agar tidak memandang ke arah Claude waktu bicara. Tapi tangan Claude menahan dagunya.
"Dan kemana kau membawanya, Catty? Ke rumah sakit mana!?"
Catalina diam sejenak, tahu Claude akan merasa gusar jika ia mengatakan telah membawa Marylin ke dokter Luigi.
"Katakan dengan jujur," tuntut Claude.
"Itu, ehm ... Mary ingin aku membawanya periksa kepada Luigi. Seperti dulu saat hamil Leon, Luigilah yang merawat bahkan membantu persalinan Mary," ucap Catalina.
"Dokter Luigi Stefano?" tanya Claude. Catalina menjawab dengan mengangguk.
"Dan sekarang dia hanyalah ' Luigi' saja? tanpa embel-embel dokter?"
"Claude ... Luigi temanku?"
"Benarkah? Lalu kenapa ia memaksa menciummu waktu itu!?"
"Dia sudah minta maaf tadi. Aku tahu dia tidak bermaksud melakukannya."
Claude mendengus marah.
Catalina mencoba merayunya dengan senyuman , tangannya memegang sebelah pipi Claude.
__ADS_1
"Jangan marah begitu. Aku benar-benar hanya mengantarkan Mary ... Kau mau ku buatkan coklat hangat?"
Claude menyipitkan mata memandang gadisnya, terlihat sekali ingin mengalihkan pembicaraan.
"Ingin merayuku agar tidak marah lagi? Kau harus berusaha lebih keras." desis Claude.
Claude menyeringai ketika wajah Catalina mulai merona. Sesuatu yang melintas dalam fikiran gadis itu pastilah menarik untuk diketahui, karena membuat wajah Cattynya menjadi merah.
"Oh, Baiklah ...." Catalina mengalungkan kedua lengannya ke leher Claude. Dan mulai berjinjit mencium kekasihnya itu.
Claude menyambut dengan senang hati, memeluk Cattynya dengan erat dan kembali berbagi ciuman menggairahkan, melepaskan kerinduan yang telah ia tahan selama beberapa hari.
Di ruang tamu, Alric menangkap tubuh Mary yang terisak. Menahan semua pukulan yang Mary layangkan ke arah wajah, bahu dan dadanya.
"Pukullah ... Sampai kau puas. Tapi menikahlah denganku, Mary ...." bisik Alric di telinga Mary.
"Tidak akan! Jangan panggil aku Mary! Kau menjijikkan! Lepaskan aku!" teriak Mary sambil terisak.
"Kau merasa sakit, bukan? Aku membuatmu menderita, kau merasa hancur dan ketakutan, sekarang ditambah lagi harus mengalami ini ... Menikahlah denganku ... lalu balaskan dendammu. Aku akan menerimanya, hukuman apapun ... sampai luka hatimu benar-benar sembuh. Aku akan menerimanya. Tapi jangan melaluinya sendiri, jangan membuatku harus menjauh dari anak ini."
Marylin kembali berontak sekuat tenaga, Alric akhirnya melepaskannya, ucapannya tadi sudah didengar oleh Mary. Jadi ia mengendorkan pelukannya dan membebaskan Mary.
"Aku tidak ingin apapun darimu, Lucca! Aku hanya ingin kau menjauh! Pergi dan jangan tampakkan wajahmu lagi!" Marylin lalu melangkah, meninggalkan Alric di ruangan itu. Ia kembali masuk ke kamar dan mengunci pintu. Setelah menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, Marylin terisak tanpa suara, airmatanya mengalir makin deras. Kemalangan demi kemalangan bergantian muncul di otaknya. Ibunya, ayahnya, Kemiskinan, peristiwa Alexandro, lalu pemerkosaan Alric.
Sekarang pria itu mengajak menikah karena alasan bayi di perutnya. Ayah dan ibunya yang saling mencintai saja harus berpisah karena ayahnya jatuh cinta pada ibu Catalina. Simon yang katanya dulu sangat mencintainya, meninggalkannya dengan seorang bayi di dalam perut. Lalu bagaimana dengan pernikahan yang dilakukan dengan terpaksa seperti ini? Bukankah akan menjadi neraka bagi mereka nanti? Tapi bayi ini sudah hadir... sudah cukup ia melakukan kesalahan ingin membuang Leonard dahulu. Ia tidak akan melakukannya itu lagi saat ini. Marylin memejamkan mata, rasa lelah membalut seluruh tubuhnya. Ia akan bisa melalui ini ... ada Serge dan Catalina yang akan membantunya ....
**********
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika Luigi pulang ke apartemen. Ia melangkah menuju kamar sambil melonggarkan dasi. Ketika melewati pintu kamar ruang kerjanya yang dipakai oleh Natalia untuk tidur, Luigi berhenti. Tiba-tiba ia mengingat pertanyaan Catalina tentang keadaan Natalia, gadis itu mengira Natalia sudah hamil.
Luigi perlahan mendorong pintu lalu masuk. Matanya tertumpu pada Natalia yang tertidur di atas sofa besar di ruangan itu. Kepalanya disangga oleh sebuah bantal kursi. Sebuah selimut menutupi hingga kebawah dada wanita itu.
Luigi mendekat, memandang wajah Natalia yang terlelap. Bulu matanya yang lentik terlihat jelas, membuat Luigi mengernyit. Selama ini ia mengira itu bulu mata palsu yang ditempelkan ke kelopak mata Natalia. Hingga ia merasa heran bagaimana wanita itu tahan memakai benda itu berhari- hari. Luigi menunduk, melihat dari dekat agar lebih jelas. Dan benar saja, itu bulu mata asli. Amat panjang, lebat dan lentik.
Pandangan Luigi berpindah ke arah perut Natalia. Memang ada terlihat tonjolan kecil di perut itu. Perlahan Luigi menarik ujung selimut Natalia dan mengangkatnya. Ia ingin melihat dari dekat bentuk perut wanita itu.
Lalu Natalia tiba-tiba bergerak, berpindah posisi dengan tidur miring, menyamping dan menghadap ke arah Luigi. Secepat kilat Luigi melepas selimut dan melirik ke wajah Natalia.
Luigi menarik nafas lega karena mata itu masih tertutup rapat. Ia menelan ludah dan memandangi wajah Natalia agak lama.
Banyak yang tidak ia ketahui tentang wanita yang sudah jadi istrinya itu ... bulu mata itu salah satu contoh kecil. Rupanya itu bulu mata asli.
Bagaimana sesungguhnya pemikiran dan sifat gadis itu sebenarnya. Sejauh ini, Natalia terus menerima tanpa protes dan terlihat menahan semua perlakuan dingin, ketus dan kata-kata yang terkadang cenderung kejam yang ia ucapkan padanya. Luigi tidak menyesal memperlakukannya seperti itu, Natalia pantas menerimanya akibat perbuatan penuh muslihatnya dulu.
Tapi Luigi merasa heran. wanita itu tidak menghabiskan banyak uang sejak mereka menikah. Bukankah uanglah yang dikejar Natalia hingga melakukan berbagai cara untuk memburu lelaki kaya. Dulu ia memburu Claude Bernard ... Lalu pria itu bersikap dingin dan kejam ... lalu ia pindah padanya, memanfaatkan hubungan baik kedua orang tua mereka.
Luigi menatap sekali lagi ke arah Natalia ... lalu berbalik dan meninggalkan kamar itu. Ia memandang berkeliling, lalu pergi menuju dapur. Di atas meja itu, seperti biasa, selalu ada makanan yang walaupun tidak pernah ia sentuh, Natalia selalu menyiapkannya. Begitu juga dengan sarapan pagi ....
Luigi melirik sekali lagi ke atas meja makan, lalu kembali berbalik dan menuju kamarnya sendiri. Mandi air hangat dan tidur. Lupakan saja tentang wanita itu. Mereka hidup dengan jalan masing-masing, meskipun berada di bawah atap yang sama.
NEXT >>>>>>
**********
From Author,
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐๐
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
__ADS_1
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐
Salam hangat, DIANAZ.