
Catalina memandang pemandangan menghijau di bawah sana. Tak henti matanya disuguhkan pemandangan indah yang menyegarkan mata.
Claude yang duduk di depannya memandang gadis itu tak berkedip. Catalina sangat menikmati pemandangan yang ia lihat dari atas heli yang menerbangkan mereka menuju Green Forest.
Leonard tampak tertidur di pangkuan Catalina. Bayi itu bersandar nyaman dengan mata tertutup rapat. Tertidur nyenyak selama perjalanan mereka.
Ketika heli mendarat di lapangan tak jauh dari Villa, Catalina melihat Yoan dan Vincent sudah sampai lebih dulu. Tak jauh dari sana, dua buah mobil telah menunggu mereka. Simon dan Hamilton berdiri menantikan Claude dan Catalina turun.
Simon langsung mendekati Catalina dan mengintip wajah Leon yang tertidur.
"Hei, Leon ... wow! Kau tampan juga, mirip aku!" ucapnya dengan nada geli, lalu mengedipkan mata pada Catalina yang memandangnya sinis.
Simon mendekat dan baru saja akan menempelkan bibirnya di pipi montok Leon ketika tiba tiba saja Catalina menginjakkan kakinya ke kaki Simon sekuat tenaga.
"Aduh!" Simon menjerit dan terpincang-pincang menjauhi Catalina.
"Menjauh dari kami!" ujarnya galak.
Claude dan Vincent terbahak melihat adegan itu, Hamilton memandang Catalina dengan pandangan tertarik. Sedang Yoana hanya menatap datar ke arah Catalina yang berderap menuju salah satu mobil yang sudah menunggu.
Seorang sopir segera membukakan pintu untuk Catalina, gadis itu masuk lalu segera mengatur posisi Leon. Ketika seseorang terasa menduduki kursi di sebelah, Catalina menoleh, ia mengernyit ketika mendapati Claude yang tadi masuk dan telah duduk di sebelahnya.
Kenapa Yoana memilih mobil lain, pikir Catalina kesal, lalu di kursi depan, Catalina melihat Simon masuk dan duduk. Pria itu menoleh dan menyeringai ke arahnya.
Catalina membalas seringai Simon dengan dengusan. Mobil lalu mulai berjalan dengan perlahan. Hanya dalam waktu beberapa menit, mereka sudah sampai di depan sebuah Villa yang cukup besar bertingkat dua.
Claude turun dan menunggu Catalina ikut turun. Gadis itu mendongak, memandang berkeliling villa besar itu dengan takjub.
"Tempat ini indah," ucapnya.
"Ayo, kemarikan Leon. Biarkan aku menggendongnya," ucap Claude sambil mengulurkan tangan bersiap menyambut Leon.
Catalina memberikan bayi itu pada Claude, dan mengikuti isyarat dari mata Claude agar ia mengikutinya. Mereka segera naik ke lantai dua villa.
__ADS_1
"Jarak villa dengan landasan heli tadi lumayan dekat kan, kenapa harus dijemput mobil?"
Pertanyaan tiba-tiba Catalina membuat Claude terkekeh.
"Apa kau mau menarik kopermu dan menggendong tas Leon sambil berjalan dari sana ke villa?"
Pertanyaan Claude membuat Catalina terdiam, tentu saja akan sulit membawa barang-barang mereka dengan berjalan kaki dari landasan heli walaupun jaraknya tidak terlalu jauh.
Catalina di bawa ke sebuah kamar, yang mempunyai sebuah pintu penghubung ke kamar bayi.
"Tidak ada kamar pengasuh yang terhubung ke kamar bayi kecuali satu, yaitu kamar yang ku jadikan kamarmu ini. Jadi Nanny akan tidur di kamar Leon. Box Leon dan keperluannya sudah disiapkan dikamar sebelah," ucap Claude.
Claude meletakkan Leon di atas kasur. Catalina melihat kopernya sudah ada di sudut ruangan bersama dengan tas Leon. Para pelayan sudah lebih dulu memasukkan barang-barang mereka.
Ia menarik tas Leon dan membuka pintu penghubung, Nanny yang menjaga Leon sudah ada di sana, Catalina tersenyum dan memberikan tas yang segera disambut oleh Nanny.
"Kau perlu bantuan menyusunnya?"
Pertanyaan Catalina disambut gelengan kepala oleh Nanny. "Tidak, Nona Lina. Saya akan membereskannya."
"Apa kau tidak membereskan kopermu?" tanya Catalina lagi. Ia ingin Claude segera pergi dari kamarnya.
"Tidak. Pelayan akan melakukannya," jawab Claude pendek tanpa mengangkat kepalanya dari menciumi perut dan dada Leon.
"Apa kau tidak ada pekerjaan lain?"
Claude mengangkat kepalanya ketika mendengar nada tidak sabar dari suara Catalina.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa aku tidak boleh bermain lebih lama bersama Leon?" tanya Claude heran.
"Karena aku perlu melakukan beberapa keperluan pribadiku. Kehadiranmu mengganggu!" jawab Catalina ketus.
"Bukankah harus ada yang menjaga Leon ketika kau melakukan keperluan pribadimu itu? Biarkan ia bermain denganku dan kau lakukanlah apa yang harus kau lakukan ...."
__ADS_1
"Aku tidak bisa jika kau masih berada di kamar ini!" sungut Catalina.
"Oh, baiklah. Sini Sayang, kita bermain di luar saja, Mommymu mengusir kita." Claude menggendong Leon dan segera meninggalkan kamar.
Catalina menarik napas lega, lalu segera membuka kopernya dan merapikan pakaian. Ia ingin segera mandi, lalu segera mengurus Leon, memandikan dan mengganti pakaian bayi itu lalu memberinya minum. Hari sudah menjelang sore, setelah makan malam ia ingin segera beristirahat.
Catalina masuk ke kamar mandi dan menikmati mandinya di bawah guyuran air shower yang sejuk. Setelahnya ia mengeringkan tubuh dan melilitkan handuk berwarna putih ke seputar tubuhnya. Catalina menarik sebuah handuk kecil dan mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk itu sambil mendorong pintu kamar mandi terbuka.
Pintu terbuka berbarengan dengan pintu kamar yang ikut terbuka, Claude masuk dengan Leon masih di gendongan pria itu. Catalina membeku di tempatnya berdiri, gerakan tangannya mengeringkan rambut terhenti di udara.
"Oh, di sini rupanya. Aku mencarinya kemana-mana." Claude mendekati ranjang dan membungkuk untuk meraih ponselnya yang tertinggal di atas ranjang, lalu ia menegakkan tubuh dan memandang Catalina yang melotot dan hanya mengenakan handuk.
"Aku hanya ingin mengambil ini, Cat," ujarnya sambil mengedipkan mata. Lalu pria itu segera keluar dengan senyum tertahan di bibir.
Catalina tersadar dari keterkejutannya ketika mendengar suara klik pintu kamarnya yang tertutup. Ia merona dan amarahnya naik ke ubun-ubun.
"Claude! Kau kurang ajar!" teriak gadis itu murka sambil melempar handuk yang tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambut ke arah pintu kamar.
Di luar kamar Claude terkekeh, Leon mendongak dan mengelus dagu Claude ketika mendengar tawa geli pria itu.
"Jangan salahkan aku Leonard. Mommymu tidak mengunci pintunya. Aku hanya ingin mengambil ponselku, aku tidak tahu dia akan keluar dari kamar mandi di saat bersamaan." Claude kembali tertawa geli. Gadis itu tampak sexy dengan handuk putih yang melilit di tubuhnya yang berisi.
Sekali lagi telapak tangan montok Leon menepuk dagu pamannya.
"Oh, ayolah Leon. Daddy Claude benar-benar tidak sengaja," ujar Claude sambil mencium pipi montok bayi itu sambil tak hentinya tertawa geli.
**********
wkwkkwkwk ... jadi pengen cubittt
Jangan lupa like, love, komentar, bintang lima dan votenya ya my Readers.
Terimakasih.
__ADS_1
Salam, DIANAZ.