Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 10. Taruhan


__ADS_3

Suara khas milik pentolan geng itu ternyata mengejutkan sepasang suami istri yang sedang bermanja-manjaan. Dista melepaskan tautan tangan suaminya di perutnya, setelah tertangkap basah oleh Dion.


“Heh Kampret, kalau datang ke rumah orang salam dulu kek, ketuk pintu kek, Kan kesannya kayak gue yang ketahuan selingkuh di rumah sendiri.” oceh Vicky.


Hahaha...


Dion pun akhirnya masuk dan merebahkan dirinya di sofa empuk. Melihat di meja ada beberapa gelas, sepertinya Dista baru saja kedatangan tamu, dan Dion pun menanyainya.


“Habis ada tamu ya, Bro? Tanya Dion, sambil menunjuk dengan dagunya ke arah meja. Dista mengatakan jika itu adalah teman sekolahnya yang mampir ke rumah. Namun pria itu tidak percaya, sejak kapan gadis rumahan memiliki teman sekolah. Kalau wanita itu mengatakan teman Vicky, Dion baru percaya.


“Ah, Lo itu nggak bakat bohong Dis, Gue kenal baik, siapa Lo!” ucapan Dion memancing emosi Vicky.


“Nggak ada yang kenal bini Gue, selain Gue, termasuk Lo, Bro!” sambung Vicky.


“Lo tinggal bilang, siapa yang datang kemari, Nyokap Gue? Sama siapa?”


Vicky yang masih mengenakan setelan formalnya melepas dasi yang mengikat di leher, kemudian istrinya membawakan dua cangkir kopi dari dalam. Seketika Dua pria tampan di ruang tamu tertawa mengingat masa kuliah dulu.


“Nikmatin aja Bro, Dista udah jago sekarang bikin kopi sama pisang goreng,” imbuh Vicky.


Hahaha...


“Brengsek Lo Vick, Gue jadi nggak ketelan minum kopi gara-gara ingat pisang goreng buatan si bohay.”


Dista ikut duduk di sana, turut meyakinkan Dion, bahwa dirinya juga butuh sosok yang bisa menemaninya, tempat berbagi dan mengeluh, sama seperti dirinya dan Vicky yang saling membutuhkan.


“Tapi Dis, kalian berdua saling mencintai, susah senang kalian lewati berdua, bahkan kalian saling mengenal cukup lama, Nah kalau Gue?” keluh Dion.


Sahabatnya menjelaskan, jika semua pasangan itu tidak ada yang sempurna, begitu pun degan dirinya dan istrinya, sesekali mereka ribut-ribut kecil, tetapi harus ada yang mengerti juga mengalah. Supaya permasalahannya tidak semakin larut.


“Masalahnya, kalian berdua belum kenal cewek yang di jodohin ke Gue, jadi bisa bilang begitu.”


“Kata si ....” Dista meralat ucapannya, hampir saja dirinya keceplosan mengatakan jika Dista telah bertemu dengan Kania, wanita pilihan keluarganya.

__ADS_1


“Ehm, begini saja... Kita triple date bagaimana? Iwan sama Yoshi juga ikut, sayangnya Bayu berhalangan karena ada pekerjaan.” usul vicky.


Dion berpikir, kedua teman mereka mencintai pasangannya, pasti dengan mudah bisa menghabiskan waktu. Dion lagi-lagi tak ingin mencoba, meskipun kedua sahabatnya sangat ingin membantu.


“Lo lagi bokek? Sampai Gue ajakin ke luar kota nggak mau, hah!” ejek Vicky. Dista mencoba peruntungannya untuk merayu pria itu, biasanya berhasil kalau dirinya yang meminta. Hingga terkadang Dista merasa tak enak hati.


“Ayolah Dion, jarang-jarang kita bisa pergi bareng kayak dulu. Nanti anak Gue ileran nih,” rayu Dista. Melihat istrinya begitu lihai melancarkan rayuannya, Vicky menggelayuti lengan istrinya dan menyandarkan kepalanya di pundak kecil itu.


“Memangnya Lo nggak mau kayak Gue gini? Ngapa-ngapain berdua, apalagi kalau malam, beuh mantap! Sekalian tes drive, uji coba nuklir Lo yang hampir berkarat, haha...”


“Brengsek Lo Vick, kita taruhan ya! Kalau Gue luluh sama itu cewek jorok, Gue bakal jadi supir pribadi Lo selama sebulan, Kalau Lo yang kalah, Lo harus penuhin semua permintaan Gue, gimana?”


“Selama bukan Dista yang Lo minta, Gue penuhin. Gue tahu arah otak Lo ke mana, bro! dan Gue pastikan hal itu nggak pernah terjadi....!


Mereka berdua sepakat, Dion dan Vicky bertaruh. Dista akan membantu suaminya untuk memenangkan taruhan itu, lumayan di sopirin pentolan geng yang jagoan itu.


Setelah bertemu dengan Iwan dan Vicky, Dion kembali ke rumah. Ia tak melihat Kania di berbagai sudut rumahnya.


Ujang yang baru saja mencuci mobil Chandra segera mendatangi anak majikannya sekaligus teman mengobrolnya. Melihat raut Dion yang tenang, menandakan mood nya dalam keadaan baik.


“Ada apa Mas Dion? Kok celingukan begitu? Aaa ... Lagi mencari Mbak Kania ya, hayo ngaku!” goda Ujang.


Dion tertawa, dagunya terangkat. Sebuah kode, jika Dion ternyata memang mencarinya, dan Ujang mengatakan jika gadis yang dibawa Nyonya sudah diantar pulang ke rumah menjelang sore tadi.


Dion sedikit kecewa, meskipun dalam hatinya bersorak. Ia memiliki rencana lain setelah berdiskusi dengan kedua sahabatnya.


“Oke deh Mang, lanjutkan aja pekerjaannya, Gue mau mandi dulu!”


Agnes yang mendengar kasak-kusuk putranya dan Ujang, segera menghampiri pekerjanya itu.


“Gimana Jang? Sesuai rencana kita nggak?” tanya Agnes, dan seulas senyum itu terbit. Agnes mengeluarkan beberapa lembar uang nominal ratusan ribu dan diberikannya kepada Ujang, sebagai tanda kerja sama. Agnes mengerahkan segala usahanya demi putra semata wayangnya.


“Nanti malam, sepertinya Mas Dion mau keluar Bu, apa perlu Ujang ikutin?”

__ADS_1


Wanita itu tertawa tanpa suara dan mengajak Ujang untuk tos. Ia senang, jika semua urusannya berjalan sesuai rencananya. Jika Suaminya yang memegang kendali, pasti Dion akan kabur lagi dari rumah.


“Oke Jang, Ibu tunggu kabarnya ya! Bonus soal kecil, yang penting semua lancar. Jika misi gagal, bonus gagal cair,” goda Agnes kepada pekerjanya yang sudah mengabdi bertahun-tahun.


Hal yang membuat para pekerja betah tinggal bersama keluarga Wijaya, karena mereka semua adalah keluarga yang rendah hati. Meskipun kekayaannya tak terhitung jumlahnya, mereka memperlakukan pekerjanya seperti kerabatnya sendiri tanpa perhitungan.


Untuk itu, Ujang berjanji untuk membantu Dion mengobati patah hatinya, karena cintanya tak terbalas.


“Woy, Mang! Ngelamun aja Lo! Kesambet nanti!” Dion menepuk pundak pria berdarah Sunda itu, hingga berjingkat.


Melihat Dion sudah rapi, Ujang menanyainya, namun pria itu hanya mengatakan jika ada urusan di luar.


Suara motor pun terdengar, dan Ujang segera bergegas mengikutinya. Meskipun sempat kehilangan jejak akibat jalanan Jakarta yang macet, akhirnya Ujang menemukan Dion yang sedang antre memesan martabak telur.


“Kan benar, pasti mau apelin cewek. Ketahuan beli martabak telur.” Lirih Ujang.


Melihat motor Dion masuk ke sebuah perumahan, Ujang segera memberitahu majikannya dengan mengirimkan sebuah foto.


“Itu kan rumah Kania.” Agnes bersorak, hingga mengejutkan suaminya.


Agnes meminta Ujang untuk stand by di sana hingga Dion kembali ke rumah. Per satu jam akan dibayar seratus ribu rupiah, untuk mengawasi putra majikannya.


“Siap Bu!”


Ujang pun seperti pencuri yang mengawasi Dion dari jarak seratus meter.


Dion yang sudah sampai di depan rumah Kania, berniat untuk mengetuk pintu yang setengah terbuka. Namun sebelum hal itu terjadi, Ia melihat Kania tampak menangis dengan memegang pipinya yang tampak bekas tangan.


Seorang pria dengan kasar menarik rambut gadis itu dengan tidak ada rasa belas kasihan sama sekali, hingga Kania tersungkur.


“Hentikan Brengsek!!”


...

__ADS_1


__ADS_2