
“Ehem... Kebiasaan Lo Bro! kalau Gue tinggal pasti cari kesempatan!” Vicky menghampiri Dista yang tersenyum menatap kehadirannya.
“Yang, kemana aja! Sampai larut baru kembali, untung ada mereka berdua jadi Aku nggak bosan.” Pria itu menghampiri istrinya dan memintanya untuk segera beristirahat. Melihat Dion memperhatikannya, Vicky jadi ingin berbuat iseng kepada pentolan geng tampan itu.
“Justru karena ada Dion, Aku buru-buru Yang! nggak bisa nitipin Kamu lama-lama sama dia. Tuh Lihat wajah ngarepnya kalau menatap kamu!” Vicky mengecup kening Dista sebelum menghampiri Dion.
“Sialan Lo Bro! pakai pamer depan mata Gue!”
“Sengaja! Biar Lo nggak tahan lagi!”
Dion dan Vicky mengobrol melanjutkan rencananya yang akan triple date ke luar kota selama beberapa hari. Di rumah Ia merasa tak nyaman dengan kehadiran Dias, tetapi Dion belum bisa mengatakan hal sebenarnya kepada sahabatnya itu.
“Lo mikir dong! Dista aja belum balik ke rumah, mau Lo bawa ke luar kota! Begini aja, Kalian berdua berangkat lebih dulu sama Iwan, nanti Gue menyusul. Nyokap Gue juga baru sampai masa langsung di tinggal pergi, yang ada Gue di omelin.”
Dion mengangguk, mengiyakan ucapan Vicky. Mereka berdua berselancar di dunia maya mencari destinasi untuk liburan mereka. Ternyata menghabiskan waktu tiga bulan itu telalu lama, apalagi dengan kegiatan yang membosankan. Saat sedang fokus, Vicky menunjukan sebuah tempat yang bagus, yang jauh dari Jakarta.
“Gimana?” tunjuk Vicky. “Ini udah paling cocok buat kalian berdua! Tuh bagus viewnya, vibes honeymoon banget! Hahaa...”
“Lumayan, Oke lah Gue berangkat Lusa!”
Dion mengambil ponsel pria itu, dan pikirannya melayang kemana-mana. Sembari membuka selembar kertas hasil pemeriksaan gadis itu. Entah apa yang ada di pikiran Dion, hanya Tuhan dan dirinya saja yang tahu.
Dion meghubungi Ujang untuk mencarikan sebuah tempat tinggal yang nyaman, namun bukan untuknya, melainkan untuk Kania. Melihat gadis itu tertidur begitu lelapnya, Ia merasa miris. Sebegitu menderitakah kehidupannya?
‘Anak orang hidupnya sial banget!’ tanpa sadar tangan Dion membelai surai hitam milik gadis yang sering berdebat dengannya.
...
Ujang yang masih terjaga segera menyanggupi permintaan Dion. Pria berdarah Sunda yang hendak mengunci pintu belakang mencari kuncinya. Saat Ia merogoh sakunya Ia malah menemukan selembar kertas yang Ia kira adalah sampah yang di pungut di depan kamar Agnes. Ujang hampir membacanya, namun lagi-lagi ada saja hal yang membuatnya gagal fokus.
__ADS_1
Seorang gadis tengah malam hendak memasuki kamar anak majikannya dengan pakaian minim. Antara yakin dan tidak, Ujang pun akhirnya mengikuti gadis itu. secepat kilat Ujang menghubungi Dion, dan mengatakan jika Dias memasuki kamarnya.
Dias memeriksa kamar milik Dion, Ia tak mendapati siapapun di sana. Selain Dion telah pergi setelah makan malam, Kania juga telah merapikan kamar itu sebelumnya dan tak berselang lama gadis itu keluar, namun malah berpapasan dengan Ujang.
“Teh, sedang apa di kamar Mas Dion?” selidik Ujang, menatap gadis itu dengan penuh curiga. Namun bukan jawaban yang Ia dapat, Ujang malah kena semprot gadis itu.
“Bukan urusan kamu Jang!” balas Dias, “oh iya, kemana Dion?”
Ujang mengatakan yang sebenarnya jika dirinya tidak mengetahui dimana Pria tampan itu. Kalau salah menjawab bisa gawat urusannya. Menghadapi gadis manis yang berbisa seperti Dias bukan perihal gampang. Meskipun Ujang seorang pria.
Pagi harinya Agnes mendatangi kamar tamu, dan gadis itu ternyata masih tidur. Setelah semalaman melakukan Video call dengan teman laki-lakinya. Agnes geleng-geleng kepala, dan membangunkan gadis itu.
“Dias, sudah jam Delapan tapi kamu masih tidur. Nanti nasib anak saya bagaimana Kalau jadi saya nikahkan sama kamu?” omel Agnes.
Dias yang terkejut, Ia lupa jika beberapa hari ini dirinya tak berada di rumahnya. Melihat Agnes yang sudah rapi berdiri menatapnya, membuat gadis itu bergegas untuk bangun. Meminta gadis itu untuk turun ke bawah untuk menemaninya.
“Memangnya mau kemana, Tante?”
Agnes uring-uringan melihat tingkah laku Dias, sangat jauh dari Kania. Meskipun gadis muda itu kurang bisa merawat diri, tetapi Kania gadis yang rajin dan tidak pernah membuatnya pusing seperti ini. Ia mulai ragu apakah keputusannya untuk menikahkan Dias dan Dion adalah hal yang sudah tepat? Kepuasan untuk siapa? Dirinya atau keluarganya?
Dias yang tidak tahu akan di bawa kemana hanya bisa menuruti perintah Agnes. Namun saat mobilnya memasuki halaman rumah sakit, dirinya mengingat perkataan Dion juga Agnes tentang pemeriksaan kondisi dirinya.
‘Mampus! Kenapa Gue bisa lupa soal rumah sakit dan kandungan, Bagaimana ini?’
Dias menyentuh perutnya, padahal selama beberapa malam ini Dion tak pernah ada di rumah. ‘Bagaimana jika wanita cerewet ini tahu?’
“Ayo Dias!” Agnes menggandeng gadis itu untuk tidak melarikan diri. Sama seperti yang dilakukan kepada Kania sebelumnya. Agnes yang sangat menginginkan cucu sudah tidak sabar dengan berita bahagia yang dinantinya.
“Tan-Tante, bukannya harus antre dulu? Kok langsung masuk sih?”
__ADS_1
Tiba-tiba Dias berkeringat dingin saat Agnes langsung menuju ruangan poli Obgyn. Semua sudah menunggu kehadiran istri dari Chandra Wijaya dan perihal dokter spesialis yang sudah tidak perlu diragukan kemampuannya.
“Wah, gadis manis ini pasti calon menantumu ya Nes!” sapa dokter, yang ternyata merupakan teman dekat dari Agnes.
“Maunya sih begitu ya Rin, tolong diperiksa semuanya!” Dias menatap Agnes dengan tatapan membunuh, rencananya Ia akan membuat kejutan untuk keluarga sang mantan, kini kondisi berbalik. Dirinyalah yang selalu mendapat kejutan.
Tak sedetikpun Agnes melewatkan pemeriksaan itu, semua benar-benar dilakukan secara menyeluruh. Dan hasilnya juga akan keluar beberapa jam setelah semua selesai. dokter memeriksa kondisi Dias dan menyerahkan hasilnya ke lab untuk hasil laporannya.
Di rumah sakit lainnya, Kania terjaga lebih dulu sebelum yang lainnya. seluruh tubuhnya terasa pegal karena tak dapat berbaring dengan benar di sofa. Terlebih Ia mendapati beban berat menimpa tubuhnya. Ia membuka matanya lebar-lebar, sebuah tangan kekar berada di atas perutnya.
“Astaga!” Kania terhenyak karena terkejut. Ternyata Ia tidur ber bantal paha pria tampan itu. ‘sejak kapan? Kenapa Ia tidak menyadarinya?’ Kania bangkit perlahan untuk tidak membangunkan semuanya termasuk pasien dan suaminya.
Darah Kania berdesir saat menatap bulu mata lentik itu, turun ke hidung mancung pria sok keren yang selalu membuatnya berdebar akhir-akhir ini. Lalu, bibir merona itu. refleks Kania menyentuh bibir miliknya, membuat wajahnya merona.
“Oh Ya Tuhan, pagi-pagi begini Gue harus melihat pemandangan indah,” lirih Kania. Namun beberapa saat kedua mata yang terpejam itu berkedip dan menatapnya.
Hening ... untuk beberapa saat keduanya bertatapan cukup lama.
“Lo lagi lihatin apa?” suara khas bangun tidur yang seksi milik Dion, dan saat gadis itu menyadarinya, tangan Dion mencekal lengan gadis itu yang hendak kabur dan menariknya dengan cepat hingg jatuh terduduk di pangkuannya. Kania tak dapat berbicara, matanya tertuju pada pria itu yang tetap tampan meskipun baru bangun tidur.
“Lepasin ... please!” lirih Kania.
Senyum Dion bagai matahari terbit untuk Kania, membuatnya silau. Begitu tampan, membuatnya kesulitan bernapas, hingga pria itu melepasnya dan membiarkan gadis itu melarikan diri.
...
Agnes
[Nak, kamu harus pulang sekarang!]
__ADS_1
Sebuah pesan masuk ke ponsel Dion dan membuat hal yang tak pernah dibayangkannya terjadi.
...