Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 44. Ingin Kabur


__ADS_3

Mendengar ketukan pintu Chandra melihat Kania datang dengan sebuah map di tangannya. Raut wajah gadis itu tak sumringah seperti biasanya. Apa mungkin gadis itu baru sembuh dari sakit, mengingat beberapa hari ini Kania tidak masuk kantor.


“Pagi Kania, wah ada apa dengan semangatmu!” sapa Chandra, memperhatikannya.


“Pagi Pak Chandra, mungkin karena terlalu banyak izin, semangatnya mengendur, hehe...” jawaban jujur Kania ,membuat Chandra menyukai gadis itu.


“Ck! Jangan begitu, Saya yakin sebentar lagi semangatmu akan bangkit lagi. Apa ada dokumen yang perlu Saya tanda tangani?”


Kania mengangguk, dan menyerahkan beberapa map yang berisi perjanjian kontrak dengan beberapa Klien baru, salah satunya dari pemilik besar rumah sakit Permata Medika.


“Wah, hebat kamu! bisa mendapatkan klien besar ini.” puji Chandra, sambil memeriksa seluruh dokumennya.


Chandra dan beberapa staf penting diminta untuk memasuki ruangan meeting lima menit lagi. akan ada hal penting yang Chandra sampaikan.


“Pak, memangnya akan ada karyawan baru ya?” Kania penasaran dengan meja di sebelah meja besar Bosnya.



Chandra tersenyum, karena memang belum memberitahu gadis itu. kalaupun menambah karyawan baru akan di tempatkan di posisi operasional.


“Kenapa? Kamu serius mau tahu? Nanti kaget lagi?” sekarang kamu ke ruang meeting dulu, saya akan menyusul.” Perintah Chandra.


Kania hendak memasuki ruang meeting, namun seorang OB (office boy) baru datang membawakan kopi dengan tidak hati-hati. Membuat langkahnya tidak seimbang dan ...


“Aahh...” Kania tersiram kopi panas itu.


“Aduh Mbak, maaf mbak saya tidak sengaja...” pemuda yang diperkirakan berusia 19 tahun itu mengambil tisu dan terus meminta maaf.


“Aduh..., lain kali lebih hati-hati ya! ya sudah, kamu bersihkan ini dulu, baru membuat kopi lagi.” Kania berbalik menuju ruangannya. Sepertinya Ia masih mempunyai pakaian cadangan di lemarinya. Celana kerjanya harus terkena noda kopi hitam pekat yang sangat jelas. Tak mungkin Ia tetap mengenakannya dalam meeting penting ini.


Broomm... broomm...


Suara halus Ducati hitam solid terparkir tepat di sebelah mobil mewah milik petinggi perusahaan itu. helm full face nya, membuat waktu seakan berhenti. Jaket sport miliknya, nyatanya mampu melindungi kemeja slim fitnya yang membuatnya semakin memesona.



“Gila itu siapa cowok bening banget! Mana parkir di sana lagi!”

__ADS_1


“Eh jangan-jangan dia...,”


“Duh, makin rajin ke kantor Gue kalau dia yang sering inspeksi staf.. aw....”


Terdengar kasak-kusuk kaum hawa saat melihat pria dengan setelan formal itu melintas. Senyum seterang matahari berbaris disuguhkan untuk sang bintang.


“Selamat Pagi Mas ...”


Dengan dinginnya pria itu hanya mengangguk dan memberikan sedikit senyumnya. Hingga pria itu menuju lantai tujuannya di lantai Empat.


Cklek!


Semua tatapan tertuju kepada seorang pria yang baru saja memasuki ruangan meeting itu. Chandra dengan hati berbunga segera menyambutnya, dan memperkenalkannya kepada staf pentingnya sebagai CEO baru yang akan menggantikan dirinya di perusahaan.


“Selamat datang Nak, selamat bergabung dengan Wijaya group.”


Meski gugup, nyatanya Dion mampu berpidato di depan karyawan yang mengabdi pada perusahaan Papanya. Dion memperkenalkan diri dengan sangat apik, membuat semuanya kagum dengan pesonanya.


“Jika memerlukan bantuan, bisa menghubungi saya, terima kasih.” semua bertepuk tangan, sampai suara ketukan pintu mengalihkan atensi para staf.


“Maaf saya terlambat,” lirih Kania. Chandra geleng-geleng kepala melihat tingkah Kania. gadis itu tampak malu-malu dan duduk tepat diantara Chandra Wijaya dan ... Dion.


‘Ya Tuhan, tolong segera sudahi meeting ini...’ meskipun Kania tak memperhatikan pria di sampingnya, namun aura membunuh Dion sangat jelas terasa. Hawa dingin menyelimuti Kania, rasanya ingin berlari dan bersembunyi.


“Jadi hasil meeting hari ini adalah, semua pekerjaan yang lama akan tetap saya handle dan untuk kontrak klien baru, akan diselesaikan oleh Pak Dion. Kalian bisa memanggilnya Mas kalau di luar kantor. Santai saja,” gurau Chandra. membuat Dion terus berdecih.


‘bisa bercanda juga Bos besar ini,nggak ingat habis sakit kepala sepertinya. Apa-apaan bocah itu? rok bocah lima tahun masih dipakai, mau godain gue lagi sepertinya. Haha... selamat menikmati Dion.’ batin pria tampan itu.


wajah pria itu yang sulit ditebak membuat Kania merinding.


Meeting hari ini berjalan lancar dan ditutup dengan perkenalan CEO baru. Dion menjadi bahan pembicaraan seluruh karyawan di perusahaan itu. bagaimana mungkin Bos Chandra bisa menyembunyikan putranya yang tampan selama bertahun-tahun. Bahkan bocorannya pun tak terdengar.


“Gila wey, gue juga mau gantiin Kania jadi sekretarisnya.” Obrolan staf wanita ketika sedang bergosip di toilet. Kania yang sedang membetulkan bawahannya, bergumam. ‘Andainya bisa kita bertukar posisi, Gue dengan senang hati akan menerimanya. Nyawa Gue dalam bahaya.’


Kini tinggal gadis itu seorang diri. “Kenapa harus ada kejadian Kopi yang tumpah? Kenapa harus rok ini yang tersisa di lemari, kenapa harus Dion yang jadi bos Gue, kenapa ini semua terjadi sama Gue, ya Tuhan!”


“Nah Kania, sekarang ini menjadi tempat kamu yang baru. Saya harap, kalian berdua bisa bekerja sama memajukan perusahaan yang sudah saya bangun bertahun-tahun. Saya percaya kamu bisa, dan... Kamu tidak akan mengecewakan Saya kan?”

__ADS_1


Pertanyaan Chandra seakan bisa membaca raut wajahnya, jika Kania akan mengajukan pengunduran diri.


“Haha... apakah di wajah saya terlihat begitu jelas Pak?”


“Cih, bukannya sejak di ruang meeting Lo mau kabur terus bawaannya?” sela Dion. Chandra pun meminta mereka berdua untuk tidak sering bertengkar. Sesekali Chandra memaklumi, karena tabiat Dion seperti singa, yang bisa menguasai medan tempur. Ia takut, Kania akan kabur menghadapi tingkahnya yang arogan.


“Kita makan siang bersama hari ini, untuk merayakan bergabungnya jagoan Papa. Sebentar lagi Mama kamu akan datang, jadi bersiaplah! Kamu juga Kania.”


Kania menatap rok pendek itu, seakan menekan tubuhnya. Ia ingin menangis, rasanya tak sopan pergi bersama keluarga konglomerat itu dengan gaya seperti ini.


“Kenapa? Lo sangat seksi dimata gue, Kita akan bersenang-senang setia hari Ka-ni-a!”


Dion berlalu, berpindah ke sofa di seberang gadis itu. sesekali matanya melirik nakal. Melihat kaki mulus gadis itu. Kania menelungkupkan wajahnya di meja. Membuat Dion tertawa.


‘rasakan! Hari pertama bahkan belum terlewat, dan Lo udah mau menyerah. Lo akan datang ke arah Gue, lihat saja!’


...


Suara pintu ruangan terbuka. Agnes dengan pakaian mewahnya berwarna merah menyala seterang hatinya saat ini. melihat Kania duduk berdekatan dengan meja Dion, membuatnya menahan tawa. Sungguh tertekannya gadis kecil itu. ‘bukankah dulu sepertinya gadis itu mau di jodohkan sama Dion, kenapa sekarang jadi takut sama Dion?’ Agnes beralih menatap Dion yang tampak santai. Bukan, lebih tepatnya selalu santai.


“Nak, kemari!” panggil Agnes kepada Kania.


Agnes meminta Kania untuk menemaninya duduk di sofa. Satu meja dengan Dion yang sedang bermain ponsel. Sudah beberapa hari mereka berdua tidak ngobrol dengan santai, Agnes ingin meminta maaf dengan perlakuannya tempo hari yang kurang menyenangkan.


Agnes mendengar dari Chandra, jika Dion mengaku telah bersama gadis itu selama tidak berada di rumah. Hanya Kania yang menyangkal, sedangkan Dion selalu berterus terang meskipun pria itu sadar Ia sedang membongkar perbuatannya sendiri.


Kania menghampiri Agnes. Melihat Kania sedikit pucat sepertinya gadis itu sedang kurang sehat. Namun fokusnya teralih dengan rok span Kania yang sangat pendek.


“Eh, kenapa sama bawahan kamu? Kamu nggak nyaman sama rok itu?” Agnes menatap Kania, dan memeriksanya, meminta gadis itu berputar. Dion menjadi tidak fokus dengan obrolan itu. Benar saja, Berat badan Kania bertambah beberapa kilo akhir-akhir ini.


“Ehm, tapi nggak apa-apa, kalau Bos nya Dion Tante sih Oke-oke saja!”


“Kalian sudah siap? Ayo!” Pria itu berjalan bersama istrinya beriringan. Dion kembali ke kursinya dan mengambil jas nya yang sengaja tak ia pakai. Menarik lembut tangan gadis itu yang tidak nyaman.


“Tunggu sebentar!” Dion memasangkan jas nya ke tubuh Kania, untuk menutupi bagian belakang roknya yang sangat pendek. Kania tak berniat menatapnya, namun Dion menggodanya. Mengangkat dagu kania dan mensejajarkan dengan tatapannya. Warna pink cherry sekarang menjadi favorit Dion, ditambah aroma strawberry yang manis dan asam membuat Dion tak bisa lupa.


“Pria-pria diluar sana tak boleh melihat apa yang bukan miliknya, Lo ngerti!” Dion meminta Kania untuk berjalan lebih dulu, dan dirinya berada di belakang.

__ADS_1


“Ayo!”


__ADS_2