Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 75. Kehamilan Kania


__ADS_3

Dion yang masih menunggui Kania merasa bingung untuk membalas pesan Vicky. Bagaimana cara mengatakannya kepada Iwan. Di satu sisi Kania terbaring tak sadarkan diri, di sisi lain kawannya tengah berjuang merebut kembali cintanya.


“Sial! Baru kali ini Gue merasa nggak berguna. Ini semua karena cowok brengsek itu! Kalau saja Kania nggak bersikukuh untuk ikut dengannya semua ini tak perlu terjadi.”


Dion mengulas perut gadis itu. Hatinya yang panas membara perlahan melunak. Senyum itu tersungging di bibirnya yang merona.


“Kamu sehat-sehat ya jagoan Papa! Ya, Papa harap sih, kamu terlahir laki-laki biar jadi jagoan kayak Papa kamu ini. Ingat, kamu udah Papa jodohin sama anaknya Vicky! jadi jangan ngeyel kayak Mama kamu tuh!” tutur Dion.


Dion seperti pria yang tidak waras bicara dengan perut Kania yang terbalut selimut. Entah bagaimana jadinya jika mamanya mengetahui berita ini, pasti Kania akan diseret mamanya untuk pulang dan menikah dengannya.


“Ah Bodo ah! Dari pada nasib Gue berakhir tragis seperti Iwan, Gue harus kasih kabar ke Mama dulu.”


Bukannya membalas pesan Vicky, malah mengirim pesan kepada Agnes. Dion mengatakan jika sebentar lagi Mamanya akan memiliki pekerjaan yang sangat sibuk di rumah. Dion meminta mamanya untuk tidak menghabiskan uang papanya untuk main arisan dan hal-hal tak berguna lainnya.


Agnes


[Heh Ganteng, maksud kamu bilang begitu tuh apa? Yang jelas dong! Mama tungguin kok kamu nggak datang ke acara juga?]


Dion


[Dion di rumah sakit Ma! Kania kecelakaan. Jadi nanti Mama setelah selesai acara, langsung ke Bogor ya! dan iya satu lagi ...]


Dion sengaja menggantung kalimatnya. Ia senang sekali membuat mamanya ngomel sepanjang waktu. meminta wanita yang melahirkannya untuk membawakan hal-hal yang disukainya. Tentu saja Agnes menolak.


Dion


[Jadi Mama nggak mau nih? Awas nanti kalau menyesal! Dion nggak kasih lihat wajah Anaknya Dion! hahaha...]


Seketika sambungan itu terputus.


Agnes yang tengah dalam acara Yoshi mendadak meminta pulang kepada suaminya yang tengah membahas bisnis dengan kolega lamanya.

__ADS_1


“Pa, pulang yuk!”


“Ma! Jangan kayak anak kecil minta pulang pas lagi ada acara begini.” Sela Chandra.


“Dion di rumah sakit, Mama mau ke Bogor sekarang...” Agnes belum selesai memberitahu suaminya, Chandra buru-buru berpamitan kepada orang-orang penting yang berada dalam jamuan itu. mengatakan jika putranya masuk rumah sakit.


“Kenapa nggak bilang dari tadi sih Ma! Sukanya bikin Papa kaget, kalau Papa jantungan bagaimana?” Chandra tak berhenti menceramahi Agnes. Bahkan sampai di mobil pun suaminya tak kunjung selesai mengurai kata-kata yang membuat telinganya panas.


“Papa!! Dengerin Mama mau ngomong!”


Ujang terkejut. Nyonya besar membentak suaminya, membuat Ujang bertanya-tanya. Kini giliran Ujang yang kena imbasnya. Agnes meminta Ujang membawanya ke toko makanan manis. tentu saja Ujang tak mengerti dengan permintaan majikannya yang tak jelas itu.


“Contohnya apa Bu?” sembari mengemudi, Ujang mencoba berpikir.


“Makanan kesukaan Dion kamu pasti hafal kan Jang?”


“Haha... memangnya Dion anak Ujang? Seloroh Chandra. makannya punya anak itu diperhatikan. Bahkan makanan favoritnya saja kamu tidak tahu Nes!” pasangan suami istripun mendebatkan masalah yang tidak penting.


“Pa, Kania hamil!” Agnes menutup matanya. Tak sanggup melihat respon suaminya yang pasti akan marah-marah kepada putranya. Namun, tebakannya salah. Chandra memeluk Agnes di depan Ujang.


“Eng- nggak tahu sih, tadi Dion bilang sama Mama buat bawain makanan kesukaannya kalau mau lihat wajah anaknya.”


Ujang tak bisa menahan tawanya. Pasti ini semua akal-akalan pria tampan itu yang ingin mengerjai kedua orang tuanya. Agnes pun menjelaskan jika yang masuk rumah sakit itu Kania, bukan Dion. Chandra semakin tak habis pikir dengan peristiwa yang menimpa gadis kecil itu.


“Ya sudah, belikan saja apa yang Dion mau. Semoga saja nggak terjadi apa-apa sama Kania.”


“Ehm... Pa, Kalau Kania benar-benar hamil anaknya Dion, lalu bagaimana?”


“Apa perlu Papa jawab? Mama ini ada-ada saja, ya Dion harus menikahinya lah. Bukankah Anakmu itu udah mengaku kalau memang dia pelakunya?” Agnes tersenyum simpul mengetahui reaksi Chandra yang sangat senang dengan berita itu.


...

__ADS_1


Richie tak sengaja mendengar obrolan Dion di telepon dengan Agnes. Merasa curiga jika hubungan Kania dan Dion lebih dari sekedar hubungan atasan dan sekretarisnya. Saat Dion keluar ruangan Richie terkejut.


“Bagaimana Mas, apakah Mbak Kania sudah sadar?” Richie mencoba bertanya, dan Dion pun mengizinkannya masuk. Richie melihat sekeliling, gadis cantik itu seperti sedang menikmati tidur siangnya yang panjang.


“Lalu, bagaimana keadaan Sigit?” tanya Dion.


“Mas Sigit sudah sadar, dan mulai membaik. Nanti malam Mas Sigit minta izin untuk pulang dan mendapat perawatan di rumah sakit nya.” Papar Richie yang belum selesai mengatakan kalimatnya.


“Baguslah, biar Kania Gue yang urus. Dia tanggung jawab Gue! bilang sama Sigit urus saja dirinya sendiri jangan khawatirkn gadis ini.”


“Tapi Mas, Mas Sigit juga ingin membawa Mbak Kania pulang ke Jakarta dan di rawat di rumah sakitnya.”


“Nggak perlu!”


Richie pun meninggalkan ruangan Kania dan kembali ke tempat Sigit dan Jo berada. Mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang disampaikan Dion. Sigit pun hanya bisa diam untuk saat ini. mengingat kondisinya yang butuh perawatan.


“Nggak apa-apa Richie, Bosnya nggak akan mungkin menyakitinya. Kalian berdua bersiaplah, nanti ada orang suruhan Papa yang akan kemari mengurus semua.” Sigit kembali merebahkan dirinya. memejamkan matanya. Ia menyadari semua kesalahannya, hingga mengakibatkan semua terjadi seperti ini.


‘Maafkan Aku Kania, Kenapa bukan Aku saja yang larut dalam tidur panjang. Kenapa Aku tidak bisa mempercayaimu, padahal bukan itu maksudku.’


...


Vicky, Dista dan Iwan telah tiba di Jakarta. berulang menghubungi Dion namun tak juga di jawab. sampai Vicky mendapatkan berita dari salah satu kliennya jika dirinya baru saja menghadiri pernikahan pengusaha besar di salah satu hotel mewah di Jakarta.


Di artikel dan portal berita online tak ada rumor sama sekali. Atau memang sengaja pernikahan itu digelar secara tertutup. Melihat Vicky khawatir, Dista menanyainya.


“Kenapa Yang kok begitu wajahnya? Apa ada masalah di kantor?”


Iwan dan Dista menatap Vicky yang memasang wajah bingung untuk memulai dari mana untuk menjelaskan kepada pria cungkring yang baru saja keluar dari rumah sakit itu. Dion mungkin saja sudah tahu, makannya Ia tak sanggup untuk menyampaikannya kepada sahabat baiknya.


“Bro! Dari hati Gue yang paling dalam Gue minta maaf sama Lo!” Vicky menarik napasnya dalam-dalam membuat istrinya semakin bingung. “Kenapa sih Yang, bikin khawatir deh!”

__ADS_1


“Yoshi ... Yoshi sudah resmi menikah dengan pengusaha itu Bro! Gue nggak tahu ucapan Gue mnghibur atau nggak, tapi itu kenyataan yang terjadi sekarang. Sabar ya Bro!” Vicky memeluk kawannya yang diam seribu bahasa. Tubuhnya mematung, pandangannya kosong, hanya ada buliran air mata yang siap terjun di pelupuk matanya. Dista bergabung dengan kedua pria itu.


“Iwan katakan sesuatu...”


__ADS_2