
“Siapa yang sakit, Bi?”
“Mbak Kania Mas, karena Nyonya buru-buru.”
Baru juga masuk ke tenggorokan, air dingin itu harus keluar lagi.
“Kenapa nggak bilang dari tadi! Sekarang mereka di rumah sakit mana?”
Dion panik, Ia menghubungi Mamanya. Namun sengaja tak diangkat oleh Agnes karena akan memberikan kejutan untuk putranya. Sedangkan Kania, terus tertawa melihat tingkah Ibu dan anak itu.
Sepanjang perjalanan Agnes tak henti-hentinya memberi wejangan ngalor - ngidul untuk Kania. Ia tak ingin terjadi apa-apa kepada anak gadis dan dua calon cucunya.
“Kania, coba bayangkan wajah Mas mu kalau tahu anaknya langsung dua. Duh... Mama aja nggak bisa bayangin senangnya Dion seperti apa. Belum hamil aja, udah bucin begitu.”
Kania tersenyum tak berani membayangkan. Bisa-bisa Dion akan membatasi semua kegiatannya. Benar apa yang dikatakan Agnes, sampai saat mobil mereka memasuki rumah Agnes melihat Dion buru-buru menaiki motor besarnya.
“Heh! Mau kemana Nak?” teriak Agnes, saat Dion sudah mengenakan helm. Mendengar hal itu, Dion turun dan menanyai Mamanya, apakah Kania baik-baik saja.
“Ma, bagaimana keadaan Kania? apa dia baik-baik saja? kenapa bisa masuk rumah sakit?”
Kania yang di dalam mobil tertawa. Baru saja dibicarakan, tingkah konyolnya memang tidak bisa di prediksi. Agnes pun tak menjawab pertanyaan Dion sampai masuk ke dalam rumah yang terus diikuti anak laki-lakinya yang badung itu.
“Ma! ditanya bukanya jawab, Dion serius.”
“Hm, tolong ambilkan Mama minum dulu Nak, Mama haus saking tidak bisa berkata apa-apa lagi.”
“Iya tunggu sebentar.”
Permintaan Agnes seketika dituruti bocah itu, membuatnya tertawa. Menenggak segelas air dingin sembari melihat wajah panik anaknya yang tampan itu.
“Ma, jawab dong! Apa yang terjadi dengan Kania? lalu sekarang dia dimana? Kenapa di tinggal sendirian?” pertanyaan Dion bagai lokomotif kereta api yang panjang.
Haah...
“Sabar Dion! kamu ini, mencari Kania sampai panik begitu? lihat di belakangmu!”
__ADS_1
Lantas Dion pun menoleh dan melihat sosok cantik berdiri dengan tertawa. Tiba-tiba Dion memeluknya erat. Memeriksa tiap anggota tubuhnya dari depan ke belakang.
“Kamu nggak apa-apa sayang? katanya kamu masuk rumah sakit.”
“Hah? kata siapa?” Agnes dan Kania kompak menjawab pertanyaan itu.
“Bibi...”
“Ngaco kamu, Mama tadi telepon kamu karena Mama memang sedang di rumah sakit, tapi ya bener sih, bibi nggak salah juga, he...”
Agnes terus bertingkah aneh membuat Dion bertanya sebenarnya apa yang terjadi. Kania mengajak Dion untuk duduk dan memberinya minum. Sebelum Ia akan memberikan berita yang akan mengejutkannya.
“Kasih tahu Kania, biar mulut Mas mu ini nggak ngoceh terus.”
Dengan menyentuh kedua tangannya, “Jadi gini Mas, Karena Aku sama Mama penasaran, kami berdua pergi ke rumah sakit tempat kenalan Mama, dan ini hasilnya. Buka saja!”
Dion menatap Kania yang terus tersenyum melihatnya. Membuat dirinya ikut tersenyum. Saat melihat sepotong kertas foto hasil print USG, Dion bertanya karena hanya melihat warna hitam putih di sana.
“Apa ini?”
Agnes menepuk pundak kokoh Dion sambil berlalu, “Makanya belajar! Jangan main terus kerjaannya! Iya itu anak kamu.” merasa kesal karena terus di pojokan Mamanya, Dion bertanya kepada Kania.
“Haha, yang benar? Yang mirip kacang ijo ini, Ada dua?”
Dion memegang bahu Kania untuk meyakinkan bahwa penglihatannya tidak salah. Jika Ia melihat ada dua buah bulatan kecil di sana. Agnes pun kembali menimpali, karena tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sebuah keberkahan, meskipun dalam keluarga besarnya tak ada yang memiliki keturunan kembar.
“Iya Dion Wijaya, anak kamu kembar, jadi ya ada dua. Selamat ya jagoan Mama, sebentar lagi jadi Papa dan langsung punya dua anak, hebat kamu.” puji Agnes yang membuat Dion tertawa terbahak-bahak.
Dion memeluk erat Kania, bahkan mengecup singkat bibirnya di depan Agnes. Prinsip pantang menyerahnya akhirnya berhasil juga, dapat bonus lagi. Sekarang tak akan ada yang bisa mengambil Kania dari sisinya. Hasil USG itu Dion simpan, dan di masukan ke dalam dompetnya.
“Nah, mulai sekarang Dion akan lebih menjaga perilaku di luar, di kantor dan di manapun. Pokoknya Mas mengucapkan terima kasih sebesar besarnya untuk istri Mas yang cantik ini. omong-omong, kapan ketahuan jenis kelaminnya sayang?”
“Kalau bayinya laki-laki sih cepat, usia empat-lima bulan burungnya juga sudah kelihatan di layar, kayak kamu dulu Nak.” sambung Agnes.
Kini perasaan Dion menjadi deg-degan. Apakah perkiraannya sesuai tebakannya jika janin yang dikandung Kania adalah anak laki-laki.
__ADS_1
“Mas, mau laki-laki atau perempuan nggak ada bedanya kan? yang penting sehat dan lahir lengkap sempurna.”
“Hehe, iya—iya. ya sudah Mas lagi senang nih, tapi tetap harus kembali ke kantor. Tadinya mau ke rumah sakit karena Mama terus telepon. Baik-baik di rumah ya sayang, Ma Dion pergi dulu!”
...
Setibanya di rumah, Sigit memeriksa surat kontrak yang diberikan Papa Dewa. Tak ada yang mencurigakan di sana. Akan tetapi, setelah di perhatikan tulisan dalam kertas itu sedikit pudar. Pada beberapa bagian.
Sigit mengambil air minum dalam gelasnya, dan tak sengaja tumpah mengenai kertas kontrak itu. saat Ia beranjak dari kursi untuk mengambil tisu. Matanya terbelalak dan memindahkan kertas itu. butuh waktu lima menit untuk bisa membaca isi kontrak yang sebenarnya.
Meski Ia sudah menggunakan kaca mata. Karena isi surat itu jauh berbeda. Papanya telah menggunakan tinta transparan yang sangat langka di jual di pertokoan. Yang mana tulisan akan terbaca saat kertas terkena air.
“Jadi ini alasan Papa. Membatalkan kontrak lalu mengejar kontrak ulang dengan perusahaan Wijaya Group. Papa mau mengambil alih perusahaan itu dengan cara kotor.”
Sigit tak percaya jika Papanya akan berbuat demikian. Sungguh tamak sekali, padahal Sigit sangat kagum dengan kerja kerasnya selama ini. Ternyata banyak fakta gelap yang Ia sembunyikan.
‘Gue harus menemui Papa secepatnya, semuanya harus diakhiri sampai di sini.’
Sigit bersiap ke Bandara, Ia tak memiliki cukup waktu untuk mengendarai mobilnya. pikirannya yang kalut bisa mengurangi konsentrasinya, seperti kecelakaan yang menimpa dirinya dan Kania waktu itu.
‘Lagi-lagi ingat gadis itu.’ Sigit tertawa sendiri. Berkat Kania juga, Ia bisa tinggal di rumah Wijaya dengan nyaman. meskipun harus bersitegang dengan Dion setiap saat.
Namun hal itu justru membuat kehidupan Sigit lebih berwarna dari sebelumnya. ternyata Ia memiliki saudara yang tak lain adalah rival dalam percintaannya.
“Jalan Pak, kita ke bandara, saya mengejar penerbangan siang ini.”
“Baik Pak! tapi di depan ada mobil yang menghalangi jalan kita Pak.”
Sigit menengok ke jendela, ternyata orang itu adalah istri muda Papanya, Yoshi. Sigit meminta sopir taksi itu untuk menunggu.
“Ada apa Yoshi?”
“Sigit, Lo gimana sih gue nggak bisa menghubungi nomor Lo sama sekali, bokap Lo Git...”
“Iya Papa kenapa? Ini Gue mau ke Bandung, satu jam lagi keberangkatan.”
__ADS_1
“Bokap Lo meninggal dunia.”
...