
Jika biasanya dalam setiap momen sakral kita akan jumpai kaum hawa yang sibuk menyiapkan ini dan itu. Kita harus menerima fakta bahwa Dion ingin turut andil dalam momen istimewanya yang terjadi sekali dalam seumur hidupnya. Namun, Ia juga tak boleh melupakan gadis itu.
Mengingat waktunya yang tak lama lagi, Dion memilih undangan dalam bentuk digital dan membagikannya secara online. Pria tampan itu tak menyadari jika sejak tadi seorang wanita terus memperhatikannya. Sampai Ia harus pergi meninggalkan lokasi karena Vicky telah sampai di sana.
“Woy, sendirian Lo? Gue pikir ada Kania makanya gue ajak Dista.”
“Gue langsung dari kantor datang kemari. kebetulan kalau Dista ikut, gue mau minta pendapatnya sih.”
“Tentang?” wanita hamil itu melihat sebuah goodie bag dari sebuah toko perhiasan ternama yang tergeletak di atas meja.
“Dion, ini punya Lo? boleh lihat nggak isinya?”
“Hmm, Gue sama Kania memutuskan untuk menikah dalam minggu ini!”
Hah!!! tentu saja kabar itu mengejutkan keduanya. “Buka aja Beb!”
“Serius? Lo nggak akan main-main kayak waktu itu kan!” Vicky memberinya selamat karena Dion mengambil keputusan yang benar. Sedangkan istrinya menatap antusias perhiasan kecil berbentuk bulat untuk disematkan ke jari manisnya.
“Cantik!” Gadis ayu itu menatap ke arah suaminya dengan sebuah senyum manis. sebagai pria yang peka terhadap kode, Vicky mengiyakannya.
“Hm, Iya nanti ya sayang! kita bantu bocah tua nakal ini melepas masa lajangnya!” Dion melihat kemesraan keduanya dan rasanya akan terwujud sebentar lagi. Dion menunjukan desain undangan kepada temannya. Setelah memilih beberapa pilihan yang dirasa bagus Dion mengirimkannya kepada Kania untuk memutuskannya.
“Lalu Sigit bagaimana bro? memangnya Kania sudah putus dengannya?”
“Haha... memangnya kalau udah Gue nikahin hubungan mereka akan tetap berlanjut?” tanya Dion. Vicky terdiam. Ia menatap Dista yang tengah menikmati minuman dingin dalam genggamannya.
“Huft! Lo enak, mantan si Kania rumahnya jauh! Lah Gue?” Vicky menunjuk wajahnya sendiri dengan nada kesal.
“Haha... mantan kok satu rumah,” ledek Dion yang terus menertawakan pria yang tampak tak pernah memiliki kesulitan. Masalahnya hanya satu, adik laki-lakinya masih menyukai Dista karena pernah berstatus sebagai cinta pertamanya.
“Udah nggak usah bahas masalah Gue, sekarang kita mau kemana?”
__ADS_1
“Lo pakai jasa WO kan? biar nggak repot karena waktu kalian juga sangat mepet. Mau pakai WO yang kita pakai dulu?” usul Dista yang membuka sosial medianya dan menunjukan kepada Dion. tak lama Dion menyetujuinya dan segera menuju ke lokasi itu. Tak terlalu memusingkan acara yang mewah, Dion hanya ingin semua berjalan lancar dan hubungan mereka sudah di sahkan, itu saja.
“Kelihatanya sepele sih, tapi kamu harus menyiapkan semuanya secara matang ya!” mendengarkan wanita hamil di depannya terus memberikan saran, Dion memperhatikannya dan menulis semuanya yang akan Ia perlukan. Sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Wah sudah malam aja! ya sudah, kita berpisah saja di sini. Lo harus cukup istirahat ya! karena mendekati hari H akan semakin melelahkan. Haha... semangat Bro! mantan bagaimana? mau Lo undang?”
“Gila Lo, yang ada berantakan nanti! Oke, kalian berdua hati-hati di jalan ya!”
Mereka bertiga pergi dari sore hingga malam hari. Dion sudah menyelesaikan persiapan pentingnya. Dibantu dengan keluarga dan teman-temannya semua aman terkendali. Hanya saja pikiran Kania masih terganggu dengan Sigit. Bagaimana mungkin, Ia akan meninggalkannya tanpa sebuah pesan.
Di sisi Lain, Sigit tak bisa menghubungi Kania meskipun beberapa kali mencobanya. setelah tiba di Jakarta, orang pertama yang ingin dia temui adalah kekasihnya. Bahkan Sigit tak sempat istirahat meskipun Rosi sudah mewanti-wantinya untuk menjaga kesehatannya.
Sigit mengunjungi rumah sewa gadis itu. Namun ternyata rumah itu kosong sudah semenjak kepergian mereka di Bandung.
“Yoshi, tolong kirimin alamat rumah Dion, penting!”
Gadis itu pun mengirimnya melalui pesan singkat tanpa bertanya lebih lanjut. Ternyata rumah rivalnya tak jauh dari rumah sakit miliknya. Namun saat Sigit sedang menepikan Audi hitam miliknya, seorang pria berpakaian serba hitam tengah mengawasi rumah besar itu.
‘Siapa pria itu? mencurigakan?’
“Malam Pak!” sapa Sigit.
Petugas keamanan yang berjaga melihat penampilan Sigit seumuran dengan anak dari majikannya. Ia mengira pria itu adalah teman Dion. dan memintanya masuk untuk berbicara di dalam saja.
“Malam Mas, mau cari siapa?”
“Dion ada?”
“Oh Mas Dion? ada baru saja pulang.” Sigit tak menyebutkan namanya. Hanya saja pria itu merasa tak enak saat melihat kediaman besar itu mulai tampak ramai padahal dalam suasana malam hari.
“Ramai banget Pak? ada acara apa?”
__ADS_1
“Ini Mas, anu... pernikahan Mas Dion sebentar lagi. memang mendadak banget Mas, tapi semua sudah siap kok. Tunggu sebentar ya?” petugas itu menghubungi Ujang yang berada di dalam rumah, untuk memberitahu jika ada seorang pria muda yang mencari Dion.
Perasaan Sigit semakin tak tenang, saat melihat seorang wanita empat puluh tahunan keluar dari rumah besar itu dan berjalan ke arahnya. Siapa yang tak bisa mengenali DNA seorang ibu dan anak. Jika Asri memiliki paras yang serupa dengan anak gadisnya.
“Wah ada tamu? cari siapa Nak?” sapa Asri ramah.
Sebelum Sigit menjawab pertanyaan itu pria kuning langsat dengan rahang tegas menjawabnya.
“Ini teman Dion Bu! Ibu masuk saja, sudah malam tak baik berada di luar.” Sigit menarik kerah baju Dion. Pria berkulit putih itu menyadari jika gadis yang akan dinikahi Dion adalah kekasihnya. bahkan komunikasi mereka berdua benar-benar terputus.
“Gue kan udah bilang sama Lo! sekali Lo keluar dari ruangan ini Lo akan menyesalinya seumur hidup!” Dion mengingatkan kepada Sigit tentang kecelakaan itu. tetapi bayangannya tak akan sampai sejauh ini.
“Mana Kania, Gue mau bicara sama dia?”
“Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan, Oh iya. Dia Cuma mau minta maaf kalau hubungan kalian harus berakhir. Dan satu lagi, Lo nggak perlu datang ke acara pernikahan kita, Oke Bro! Lo udah buang kesempatan Lo.”
“Brengsek Lo!” Sigit hendak memukulnya, Namun Dion tak menghindar.
“Ayo pukul! Gue semakin yakin kalau ucapan gue memang benar. Satu lagi, nggak semua wanita bisa kalian beli dengan uang.”
Dion menepuk dada Sigit, dan berlalu meninggalkannya.
...
“Kania, besok kamu sama Ibu akan tinggal di hotel tempat acara akan digelar. Aku nggak bisa biarin kamu kembali ke rumah sewa itu sampai pernikahan kita berlangsung, mengerti! Oh iya, Ini untukmu! Kamu bisa menggunakannya sekarang.”
Dion menyerahkan sebuah ponsel keluaran terbaru untuk gadis itu. Kania menolaknya, karena baginya ponsel hasil jerih payahnya sudah cukup bagus.
“Tapi kan ...”
Kania tak bisa berkata-kata saat Dion merebut ponsel lama itu dan menukarnya dengan yang baru. “Sudah, kita pindahkan data dan foto-foto kamu besok saja ya! sekarang istirahat! Selamat malam sayang, muuacchh...” sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepala Kania yang masih terpana.
__ADS_1
“Dari mana dia belajar bersikap manis seperti itu?”
...