
Dion merasakan sambal buatan Kania merasa ketagihan. Selain gurih dan pas di lidahnya, wanita hamil itu kini menjadi sering bermain-main di dapur. Akibat permintaan Dion yang minta masakan buatan istrinya untuk bekal ke kantor. Bahkan tak Cuma Dion, Sigit pun turut ketagihan.
Agnes tak tinggal diam. Selain merasa kasihan dengan Kania karena suhu di dapur sangat panas, gerakan Kania pun mulai terbatas. Langkahnya pun mulai terbata-bata karena menopang perut bulatnya yang sudah semakin turun. Juga peralatan di dapur bisa berbahaya untuk Kania dan dua cucunya jika tak berhati-hati. Akhirnya Agnes memiliki ide untuk memesan catering super lezat untuk bekal Dion dan Sigit makan siang di kantor.
“Ma, memangnya Mas Dion nggak akan tahu kalau kita akalin pakai cara seperti ini?” Kania mulai memindahkan makanan catering itu ke tempat makan yang anti tumpah dan basi. Lantas Kania akan mengantarnya ke kantor dengan diantar sopir pribadinya.
Kania sudah tidak peduli dengan tanggapan para staf yang masih menggosipkan nya. Menuduh dirinya berusaha mendekati bos muda, tampan dan kaya raya itu. Kania tak gila hormat atau silau dengan kemewahan yang diberikan keluarga Wijaya. Ia hanya ingin menjalani tugasnya sebagai istri Dion dan Ibu dari dua anak kembarnya, hanya itu.
“Cie, yang sebentar lagi jadi ibu..., hati-hati jangan kecapekan! Nanti ditinggalin Pak Bos, hidup susah lagi lho!” ucap salah satu rekan kerja Kania dulu.
“Gimana Kania? naik ranjang Pak Dion sepertinya Lo bahagia banget, sampai Lo bikin si Yuni di pecat dari kantor.”
“Bilang sama si Yuni jangan kegatelan sama suami orang, di pecat kan! Kalian juga, karena nggak punya kesempatan aja naik di ranjang si bos, jadi pada jelekin Gue!” Kania hanya tertawa sambil lalu. sampai di lantai empat Kania kembali dengan rekan seniornya.
“Tuh kan benar ucapan Gue, kalau Lo itu pasti hamil. Sorry kania, gue baru tahu kalau itu anaknya si Bos.”
“Hehe, sekarang sudah tahu kan mbak!”
Entah kenapa mendadak tersulut emosinya. Amarahnya meledak-ledak, jika terus dibiarkan tak akan baik. oleh sebab itu Kania mencoba menjadi berani untuk melawan semua bentuk penindasan kepadanya. Rasanya hatinya teramat puas, Kania terus tertawa. Apa benar hal itu dipengaruhi oleh hormon kehamilannya? Apalagi Ia mengandung dua anak laki-laki. ‘Ini semua pasti karena anaknya Mas Dion.’
Dengan midi dress berwarna terang dan membawa paper bag yang berisi kotak makan, Kania mengetuk pintu ruangan dirinya dulu bekerja. Kania jadi rindu masa-masa bekerja dengan Dion yang selalu saja meributkan hal-hal kecil sampai berakhir pertengkaran.
“Masuk!” terdengar suara sahutan dari dalam.
Kania membuka pintu dan terlihat wajah Dion yang sedang serius. Dion belum menatapnya, karena sedang asyik dengan pekerjaannya. sampai suara lembut Kania menyadarkan suaminya.
“Mas, serius banget! Aku sampai dikacangin.”
“Eh, ternyata kamu Yang! sorry, sorry ada dokumen penting untuk meeting besok, tapi ini sudah selesai kok.”
Dion mematikan pulpennya, menutup laptopnya dan membereskan mejanya. Sedangkan Kania menyiapkan makan siang untuk suaminya. Lantas wanita hamil itu berdiri menghampiri kursi tempatnya duduk dulu. Ia merebahkan diri di sana.
“Mas, Kania jadi kangen bekerja.”
“Ehm, nggak usah aneh-aneh kamu! Mas aja biarkan kursi itu kosong, sini!” ajak Dion untuk duduk di sofa bersamanya.
Dion tak akan mencari sekretaris wanita untuk menggantikan posisi Kania. meskipun saat ini posisi tangan kanannya sedang kosong, Kania tetap membantunya saat rumah.
__ADS_1
“Masa iya sekretaris laki-laki!” goda Kania.
“Memangnya kenapa? Kamu nggak takut kalau suamimu ini nanti digodain wanita lain? Mas ini ganteng Lho sayang, banyak kelebihannya kamu suka begitu deh.” oceh dion panjang lebar.
“Iya—iya ganteng, percaya kok!”
Dion menyuapi istrinya, memintanya untuk merasakan masakannya. Kania pun tertawa karena rasanya memang aneh. Meskipun begitu Dion tetap menghabiskannya.
“Ini bukan masakan kamu kan? curang kamu!”
Lantas Dion menghubungi Agnes, untuk protes. Makanan yang dibawa rasanya asin dang tidak sesuai dengan perut pentolan geng tampan itu. Agnes hanya tertawa. Mamanya terus meminta maaf dan tak akan memperpanjang kontrak catering itu.
“Sayang, temani Mas sebentar ya! ada meeting di luar. setelah itu kita bisa belanja keperluan anak kita gimana? udah boleh cicil mulai sekarang kan?” tanya Dion dengan mengecup perut Kania.
“Ada gajinya nggak kalau Aku tungguin?”
“Ada dong! Bonusnya bisa bermalam sama bos kamu!” haha...
Di sebuah restoran, Dion memang sengaja mengajak Kania untuk mengikuti meeting. Karena kliennya seorang wanita cantik. melihat Dion membawa seorang wanita dengan perut besar, wanita itu lantas mempersingkat waktu meeting nya.
“Tuh, kamu nggak lihat! Cewek ganjen begitu mau deketin suami kamu!”
Kania menjadi malu jika selama ini masih meragukan kesetiaan suaminya. Sampai mereka berdua kalap belanja memasuki banyak toko pernak-pernik kebutuhan bayi. Kania yang hemat berbanding terbalik dengan Dion.
Kania melongo saat melihat suaminya memilih barang tanpa melihat bandrol harganya. Pilihan Kania dengan Dion sangat jauh berbeda. Setiap pilihan Dion, Kania terus menghitung dan menghitung. Akan habis berapa nanti biayanya. Bahkan Dion membeli semuanya dalam jumlah double, mengingat anak mereka kembar. Tak ingin iri ataupun berebut, Dion akan berlaku adil untuk kedua anak laki-lakinya.
“Mas, sudah dulu Mas! itu habis banyak Lho!”
“Perasaan Cuma kamu deh yang perhitungan sama uang!” ejek Dion. “Mas yakin tabungan kamu pasti banyak, karena terlalu irit.”
“Ya sudah kita pulang, Mama mau ikut belanja nanti menunggu Mas libur kerja.”
“Apa? Masih mau belanja lagi? Astaga! ini saja sudah menghabiskan dua puluh juta Lho Mas?”
...
Dion menggandeng Kania yang masih tak percaya dengan kehidupan orang kaya. Sepanjang perjalanan Ia menggelengkan kepalanya. Melihat kelakuan suaminya dan Ibu mertuanya. Memang benar-benar sama. ‘Apakah semua orang tua dan anak memiliki kesamaan seperti itu? lantas Aku ini mirip siapa?’ batin Kania.
__ADS_1
Mobil Dion tak menuju ke arah rumahnya. Mereka memasuki gerbang besar tempat para pelaku kejahatan menghabiskan waktu menikmati masa hukumannya. Kania pun menoleh ke arah Dion.
“Mas, kita mau menjenguk Faris?”
“Iya Sayang! Mas juga sudah beli beberapa makanan dan vitamin untuk saudaramu!”
Kania merasa terharu. Melihat Dion begitu perhatian kepada pria brengsek yang pernah melukainya. Dion mengacak rambut Kania yang terus memperhatikannya.
“Sudah, Mas tahu kamu pasti mau berterima kasih, ya kan? haha... Faris juga harus tahu, kalau sebentar lagi keponakannya akan lahir. jadi kalau mau macam-macam suruh berpikir ulang.” Goda Dion.
“Bisa aja kamu Mas, benar juga sih. Faris juga harus tahu, masih ada yang peduli dengannya. Dia juga masih punya keluarga.”
Setibanya di rumah tahanan itu, Kania dan Dion diberi waktu hanya tiga puluh menit. barang bawaan Dion juga sudah diperiksa. Faris dan Dion pun berjabat tangan, berpelukan. Faris meminta Dion untuk menjaga adiknya.
“Sudah berapa bulan calon keponakan Gue?” Faris berkaca-kaca, begitu juga Kania.
“Masuk bulan ke delapan. Lo baik-baik di sini, biar cepat bebas.”
Faris terdiam. Pemuda brengsek itu malu dengan segala perbuatannya. Ia juga menceritakan sudah mengunjungi makam ibunya setelah kecelakaan itu. Kania pun mengangguk. Dion mencoba menguatkan wanita hamil yang cengeng itu.
“Nanti setelah Lo bebas, Lo bisa memulai hidup yang baru. Gue sudah siapkan semuanya. Asal Lo janji sama Gue! Lo akan berubah jadi laki-laki yang nggak kasar.” ucap Dion.
Faris semakin malu dengan pernyataan Dion. apakah masih pantas Ia mendapatkan maaf dari Kania dan juga pria di hadapannya.
“Jangan khawatir, Gue sama Kania sudah memaafkan kesalahan Lo! kalau butuh apa-apa datangi Gue!”
Pertemuan mereka bertiga mengalir begitu saja. Kania pun meminta saudara laki-lakinya untuk mendoakan keselamatannya. Sebentar lagi Kania akan melewati proses persalinan. Faris menatap perut bulat itu.
“Pasti. Karena Cuma Lo sekarang keluarga Gue satu-satunya Kania, dan juga calon keponakan Gue, semoga lahir dengan selamat. Kapan perkiraan lahirnya?”
“Perkiraan tiga minggu lagi, tapi bisa lebih cepat.”
Saat sedang asyik mengobrol. Petugas lapas mendatangi mereka karena jam berkunjung sudah habis. Faris merasa lega, karena adiknya masih sudi untuk menjenguknya. Juga pria yang pernah berkelahi dengannya, ternyata menawarkan kehidupan baru untuknya. Faris dibawa kembali masuk ke dalam sel miliknya. Tak ingin Kania menangis melihatnya, Faris berusaha menahan air matanya yang mati-matian Ia tahan sejak tadi.
Benar, Ia harus berubah. Tuhan telah memberikan kesempatan kedua untuknya. Meskipun dosanya teramat besar kepada ibunya. Faris berjanji akan menebusnya kepada adik perempuannya.
...
__ADS_1