Gadis Jorok Pilihan Mama

Gadis Jorok Pilihan Mama
Bab 73. Terlambat


__ADS_3

Suasana ruangan di kamar Iwan di rawat sangat lengang. Semua mata tertuju kepada Kania. sedangkan gadis itu berpikir, lalu masalahnya di mana? Kania tak pernah tahu, juga tak pernah berharap dirinya akan diperebutkan dua anak konglomerat seperti Dion dan Sigit.


“Kenapa kalian semua menatapku seperti itu?” Kania menjadi gugup. Sigit menghadapkan dirinya kepada gadis itu. sungguh di luar tebakannya jika Kania tak keberatan.


“Kamu yakin? Maksudku, Kamu nggak akan tiba-tiba meninggalkan Aku kan setelah mengetahui hal yang sebenarnya?”


“Sejak awal Aku tak percaya jika Kamu seorang staf biasa, tapi menurutku itu bukanlah hal yang penting. Tetapi lama-kelamaan Aku curiga, Cuma ya sudah karena Kamu sudah jujur di depan semua orang Aku pun tak masalah. Cuma yang perlu Kamu tahu Sigit, Aku ini Cuma gadis biasa. Yang rasanya masih nggak percaya kalian perlakukan istimewa.”


Kania hendak pergi, namun Dion lebih dulu menahannya. Menjelaskan duduk perkara sebenarnya, bukan tentang siapa Sigit sebenarnya tetapi mereka berusaha meminta pertolongan pria itu untuk membatalkan pernikahan kedua Papa Sigit.


“Kania dengarkan Gue dulu! Yoshi akan dinikahi oleh Pak Dewa! Kamu tahu kan Klien yang kita temui terakhir kali?”


Bukan hanya Kania yang terkejut, tetapi juga Sigit. Merasa Dion telah mencemarkan nama baik Papanya, pria manis itu tak terima berusaha melayangkan pukulan untuk Dion. tetapi ucapan Dion tak sepenuhnya salah. Yang Sigit sayangkan kenapa harus Yoshi.


“Kania, Lo harus percaya sama Gue! pacar Lo ini nggak benar, itu baru Papanya yang akan menikah lagi. Nanti kalau Lo lanjutkan hubungan Lo sama dia, Lo juga akan mengalami nasib yang sama, Lo mau di madu?”


Bugh!! Sigit, memukul Dion tepat di depan Kania.


“Brengsek! Jadi kalian mengajak Kania kesini untuk mengatakan hal ini? dan buat Anda, saya beritahu jangan pernah lagi ganggu Kania, karena Saya tidak akan tinggal diam.”


“Haha... kenapa Lo? Ciut duel sama Gue? telepon Bokap Lo, suruh balikin pacar teman Gue! berapa duit yang Bokap Lo minta, Gue kasih!”


Kania kini menatap Sigit, “Yang, apa benar yang dikatakan Dion jika Papamu akan menikah lagi?”


Sigit dengan malu pun mengakuinya.


“Dengan Yoshi?”


“Kalau dengan siapa calon Papa Aku nggak tahu Yang, yang Aku tahu Mama bilang jika gadis itu masih muda. Aku tidak terlalu peduli, karena ada alasan kenapa Papa melakukan hal itu.”


“Kalau begitu, kamu harus membantu Yoshi untuk keluar dari pernikahan itu. Mungkin ini sebabnya kita bisa berada di Bandung, ternyata memang harus ada yang perlu kamu luruskan.”

__ADS_1


Iwan dan Vicky bisa sedikit bernapas lega, karena Kania mau membantunya. Akan tetapi ternyata jalan mereka tak semudah itu. “Apa yang akan kalian berikan sebagai gantinya jika pernikahan Yoshi akan dibatalkan? Orang tuaku tak butuh uang kalian, katakan! Aku akan menghubunginya sekarang!”


Berulang kali Sigit menekan nomor papanya tetapi selalu sibuk. Begitu juga dengan Mamanya tak bisa dihubungi sama sekali.


Dion mengepalkan tangannya, ingin menghajar Sigit yang terus membuat hatinya panas. Kania menyabarkan kedua untuk tidak membuat keributan di rumah sakit.


“Apa kalian bisa mencari gadis yang akan menjadi ibu tiriku?” sarkas Sigit. Kania menangis, perasaanya menjadi tak terkendali. Sejak sakit-sakitan, Ia menjadi lebih emosional.


“Atau, Gue bantu menggagalkan pernikahan Yoshi, dengan syarat Anda tak boleh mengganggu hubunganku dengan Kania, setuju?” Sigit menekankan kalimat itu untuk Dion. tentu saja Vicky dan Iwan merasa bagai makan buah simalakama. Iwan tertolong, tetapi Dion yang menderita.


Aura panas di ruangan itu sudah tak terkontrol sejak kalimat Sigit terakhir dilontarkan. Kedua tataapan pria itu saling berbicara, hanya mereka berdua yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Sudah Yang, nanti kita bicarakan baik-baik sama orang tuamu ya! semoga saja Aku bisa membantu.”


“Cih! Jangan polos Kania, kalau Bokap dia minta Lo yang gantiin posisi Yoshi, sampai mati Gue nggak rela ya! Lo pacaran dengan dia aja udah membunuhku secara perlahan, Lo paham!” ancam bosnya.


Sigit jadi memikirkan ucapan Dion. semuanya kini menjadi rumit. Kania pun terdiam. Sigit mengajak Kania untuk kembali ke Jakarta sekarang. Iwan hendak ikut, tetapi kondisinya belum memungkinkan.


“Lebih baik, kamu tungguin Iwan aja! Aku pergi bersama Sigit, kembali pun harus bersamanya. Tolong jangan memperumit keadaan, please.” Kania menepuk pundak bosnya dan berpamitan kepada mereka semua di sana.


“Gue akan coba membantu sebisanya Wan, doakan semoga berhasil ya!” pinta Kania.


Sigit dan Kania berlalu. mereka berempat kini dalam perjalanan menuju ke Jakarta. sedangkan dalam ruangan itu, Dion sangat frustrasi. Semua tak bisa menahan emosi pentolan geng itu. bagaimana mungkin Ia bisa pulang.


“Nih! Susulin cinta Lo, jangan sampai terlambat. Nanti nasib kayak Iwan lagi.” Vicky melemparkan kunci mobilnya. “Buruan, sebelum jauh!”


“Terus Kalian?”


“Besok kita balik pakai penerbangan pertama.” Dion bersiap, “hati-hati Bro! jangan pakai emosi kalau lagi bawa mobil. Masalah kita sudah banyak, jangan Lo tambahin sama kelakuan Lo, haha...”


“Cih! Tenang aja!” Dion pun meninggalkan mereka.

__ADS_1


Persiapan pernikahan Yoshi dan Dewa akan dilangsungkan secara tertutup di hotel berkelas bintang lima. Rosi terus membatin, katanya hanya untuk keperluan bisnis, nyatanya pria yang tidak tahu diri itu hanya ingin bersenang-senang dengan cara yang legal.


‘Semoga saja Sigit belum pulang sampai pernikahan itu terjadi. Jangan sampai Ia melihat kelakuan Papanya.’


Rosi yang tampak gelisah tak jauh berbeda dengan kekasih Iwan. Bagaimana caranya Ia melarikan diri. Melihat rumah besar itu banyak pintu juga banyak petugas keamanan yang berjaga. Semua persiapan sudah selesai, tak mengejutkan jika kalian memiliki kekuasaan, ketenaran dan kekayaan.


Pukul Enam petang, Dion sudah tiba di Jakarta. setelah menempuh tiga jam perjalanan sendirian. Ia mewanti-wanti pesan dari Iwan untuk tidak ceroboh kali ini. bodohnya Dion tak tahu di mana rumah Sigit berada. Pria tampan itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena dilanda rasa kantuk yang luar biasa.


“Jangan bilang ini ulah anak gue lagi yang bikin Gue ngantuk di sembarang tempat. Nggak Kania, nggak bibitnya sama aja bikin gemas.” Sembari tersenyum, Dion memasuki kamarnya dan terlelap begitu saja.


Pukul satu dini hari Dion terbangun tengah malam, perutnya kembali dilanda rasa lapar. Melihat semua tertidur Dion makan sendirian. Membayangkan hal-hal konyol tentang dirinya juga anaknya.


“Nggak boleh, itu anak Gue! kalau Kania mau pergi sama tukang kopi itu, Kania harus balikin Anak Gue, enak aja! Mau menang-menangan.” Bahkan Dion tertawa sendirian di dapur membuat Ujang ngeri mendengarnya.


Keesokan paginya, Papa dan Mamanya sudah bersiap dengan tampilan rapi. Dion yang baru bangun tidur pun terkejut.


“Wih Bos besar sama Nyonya mau kemana?”


“Kapan pulang Nak? Kebiasaan kalau pergi nggak pernah pamit. Jangan lupa bawa Kania ke dokter, Mama mau ikut.”


“Mau menghadiri acara pernikahan rekan bisnis Papa, cukup mengejutkan sih karena undangannya juga mendadak, masa kamu nggak dapat undangannya.” ledek Chandra.


Dion meminum susu di meja makan, sembari membuka ponselnya. Papa dan Mamanya telah pergi bersama Ujang menuju lokasi pernikahan. Banyak email masuk dan Dion adalah seseorang yang sangat malas melihat hal-hal seperti itu.


“Seharusnya ini kan tugas Kania, kenapa Gue harus repot-repot baca email undangan dari Klien. Hah! menganggu aja!”


Sebuah undangan pernikahan yang ternyata telah dikirim dua hari yang lalu. saat membaca namanya mulut yang penuh dengan cairan susu itu menyembur keluar.


“Sial! Pernikahannya ternyata hari ini!”


...

__ADS_1


__ADS_2