
Kania membuang muka saat Dion memberinya sekotak tisu. Pria itu fokus mengemudi, dan dirinya juga tak begitu paham dengan perasaan wanita. Dion ingat, saat pertama kali Dista menghubunginya lebih dulu sambil terisak. Hati Dion benar-benar kacau, ingin sekali menghajar sahabat baiknya waktu itu.
Tetapi memang wanita susah untuk dipahami. Hati Dion lebih mudah luluh dengan tipikal gadis manja seperti Dista, yang tidak bisa berpura-pura kuat dan selalu minta pertolongan jika memang butuh bantuan.
“Lo nangis pasti karena lapar kan? Ya sudah kita makan dulu! nanti Gue antar balik ke rumah!”
“Heh, jawab kek Gue udah ngomong panjang lebar kayak radio rusak Lo malah diam aja!” bentak pria itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Dion, gadis itu terus menatap pria yang tengah mengemudi itu. lalu bagaimana dengan cek pemberian Nyonya Agnes, Kania menjadi bingung jika perjodohan itu akan di batalkan. Seharusnya Kania merasa senang, bisa terbebas dari keluarga konglomerat itu dan Ia bisa kembali hidup normal.
“Dion, besok Gue harus ke kantor. Urusan Gue di rumah Lo udah selesai, dan kaki Gue juga udah membaik.”
Dion menatap gadis itu tajam, seperti ada yang di sembunyikan setelah keluar dari rumah sakit tadi. Padahal Dion ingin membantunya keluar dari masalah keluarganya yang pelik. Namun ternyata gadis itu tak menghargainya.
“Nggak bisa begitu dong! Lo udah setuju untuk kerja sama membantu Gue selama satu bulan ke depan, Oke Lo boleh pulang dan tetap ke kantor, tapi Lo nggak bisa menjalin hubungan dengan pria lain selama kesepakatan kita belum berakhir.” oceh Dion.
“Kita makan dulu, turun!”
Kania menjadi semakin sedih, Dion tetap saja memperlakukannya semena-mena. Dan pria itu keluar dari dalam mobilnya mengenakan kaca mata hitam, yang membuat Kania melongo tak percaya.
“Lo lihat apa heh! Masuk buruan, panas nih!”
Kania memuji dalam hatinya, baru kali ini sebuah pujian Ia berikan untuk seorang pria. Dion Wijaya. saat memesan makanan, Kania menghitung harganya melalui kalkulator di ponselnya. Membuat Dion kesal dan menganggap dirinya tak mampu untuk membayarnya.
“Astaga bocah ini! Lo benar-benar menguji kesabaran Gue ya! pesan apa yang Lo mau! Kalau Lo nggak punya uang, Lo bilang sama Gue biar Gue catat sebagai hutang yang harus Lo bayar Oke!”
“Mas kemari!” panggil Dion kepada pramusaji di sana. Dion memesan semua yang mengandung empat sehat lima sempurna untuk gadis itu. Kania tidak percaya, dengan apa yang di dengarnya semua makanan yang di pesan oleh Dion, Kania tidak suka.
“Mati aja Gue, Lo suruh makan rumput!”
“Lo itu udah kurus, nggak sehat masih aja banyak protes. Nggak ada ya! harus Lo habiskan makanannya, itu udah Gue masukan dalam daftar kasbon Lo!”
Dion pergi dari meja itu, Kania menarik kemejanya.
“Mau kemana Mas Dion?”
“Mau ke WC, ikut? Nanti malam aja di kamar, Gue penuhin!” Dion pun berlalu.
Kania tertunduk saat semua pengunjung menatap dirinya. Ia menutup wajahnya dengan buku menu yang ada di sana.
“Sialan Dion, Gue kepret juga Lo!” umpat Kania.
Sesaat semua makanan yang di pesan datang, Kania bingung harus memulai dari mana, karena tak ada satupun yang Ia suka. Dia memutuskan untuk memesan satu porsi tongseng kambing pedas dan sate kambing muda.
Pramusaji itu tersenyum menahan tawa. Melihat Kania yang sangat-sangat polos.
“Kenapa Mas lihatin saya kayak begitu? ada yang salah?” pramusaji itu menggeleng.
Selagi Dion belum datang, Ia bisa menghabiskan apa yang Ia sudah pesan. Biar nanti Dion yang menghabiskan makanan hijau ini di rumah.
...
Agnes tiba di rumahnya, melihat suasana sepi Agnes menuju ke kamarnya. Ia mencoba membaca ulang surat yang diberikan oleh dokter, namun belum selesai Ia baca. Wanita cantik atu anak itu tertidur. Dan kertas itupun terbang ke segala arah, hingga ke ujung pintu kamarnya.
__ADS_1
Ujang yang tengah melintas melihat sampah di depan kamar majikannya. Ia hendak memungutnya, namun suara mendayu seorang wanita manis menyadarkannya.
“Ujang ya! boleh minta tolong?” sapa gadis itu, yang ternyata adalah Dias. Ujang yang terkejut melihat penampakan asli mantan pacar Dion hanya bisa mengucap “MasyaAllah, geulis pisan uy!”
“Iya teh Dias bisa, mau dibantu apa ya?”
Dias menanyakan kemana Dion pergi dan kemana semua orang di rumah sebesar ini hanya ada Ujang sejauh mata Dias memandang.
“Oh Mas Dion ada urusan tadi buru-buru pergi di telepon Bos besar, ada apa ya?”
Dias ingin minta diantarkan ke rumah temannya yang rumahnya tak jauh dari sini, namun Dias tak memiliki ongkos. Ujang yang merasa kasihan berniat mengantarnya, karena pria tiga puluh tahun itu juga tak memiliki uang, semuanya sudah dikirimkan ke kampung.
“Ayo teh, saya antar! Ujang siap-siap dulu ya!”
Bagai pungguk merindukan bulan, Ujang berdandan parlente demi bisa jalan berdua dengan gadis manis yang pernah menjadi pacar anak majikannya. Gadis itu menyambangi rumah yang Ujang kenal, karena beberapa kali Ia mengantar majikannya menuju alamat ini.
“Dimana Teh rumahnya?”
“Em Ujang tunggu disini sebentar ya!”
Gadis dengan potongan mini dress seksi itu membuat Ujang selalu berkeringat meskipun dalam mobil ber-Ac. Ujang mengambil gambar Dias saat memasuki halaman rumah Vicky dan mengirimkannya ke Dion.
Ujang
[picture]
[Mas Dion, bukannya ini rumah Mas Vicky?]
Dion
Ujang
[Mamanya Mas Dion istirahat, Ujang sama teh Dias, katanya minta diantar ke rumah temannya karena nggak punya ongkos.]
Dion yang mengetahui hal itu segera mengajak Kania untuk pergi meninggalkan restoran itu.
“Eh kan sayang makanannya kalau nggak di makan. Biarpun itu sayuran Gue nggak doyan, tapi Ibu Gue pasti belum makan! Gue bungkus ya!”
“Mas, tolong di bungkus dan kirim ke alamat ini ya!” Kania memberikan alamat dan Dion menatap gadis itu tak mengerti.
Selama sepuluh menit Ujang menunggu Dias tak kunjung kembali ke mobilnya. Hingga pria berdarah Sunda itu ketiduran di dalam mobil dan tidak memperhatikan apa yang terjadi. Dias segera bersembunyi saat Ia melihat sebuah mobil terparkir di sana.
Ya pasangan rese, perebut kebahagiaan orang. Julukan baru Dias untuk Dista dan Vicky. Wanita yang tengah hamil muda itu memasuki teras rumahnya tanpa curiga sedikitpun, hingga saat menginjak anak tangga kedua Dista tergelincir dan jatuh.
“Aaahhh!!”
“Dista!! Teriak Vicky yang melihat istrinya telah terduduk di lantai. pinggangnya merasakan nyeri dan ...
“Astaga, sayang kamu pendarahan!”
Dista menangis, selain menahan sakit Ia juga takut terjadi sesuatu dengan kandungannya yang baru berusia tiga bulan. Vicky mengangkat tubuh Dista yang sudah mengeluarkan darah pada bagian bawahnya.
Belum ada lima menit masuk ke rumah, tetapi musibah baru saja menimpanya. Vicky pergi ke rumah sakit terdekat. Pria itu sudah tak memikirkan apa pun lagi selain Istrinya juga calon anaknya.
__ADS_1
“Misi pertama berhasil!”
Senyum khas gadis manis itu tersungging di bibirnya. Kemudian ia kembali ke mobil tepat dimana Ujang menunggunya. Namun sayang, pria itu tak berada dalam mobilnya dan Dias kebingungan mencarinya.
“Ujang ... Ujang!” pandangan Dias mengedar, namun tak jua Ia temukan.
Dias segera menghentikan taksi yang berhenti tepat di depannya. Sesaat setelah taksi itu berlalu, Ujang keluar dari persembunyiannya. Ia mendatangi rumah Vicky, dan di sana Ia tak menemukan siapapun, kecuali ... lantai yang bersimbah darah.
Ujang menghubungi Dion, namun pria itu berada dalam sambungan lain. semakin panik Ujang terus mencoba menghubungi lagi dan sekali lagi.
Dion
[Ujang, lebih baik sekarang Lo balik ke rumah, Gue mau langsung ke rumah sakit! Dista kecelakaan.]
Ujang
[Tapi Mas, Mas ...]
Dion memutuskan sambungan teleponnya, padahal pria itu tak mengetahui kejadian sebenarnya. Ujang mengirim pesan teks kepada Dion, dengan alasan Mamanya yang meminta, dan Dion segera memberikannya.
Ujang dengan kecepatan sopir profesional mencari celah jalan alternatif, sehingga Ia sampai di rumah sakit tak berselang lama dengan Anak majikannya. Kania tampak khawatir, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi begitu cepat.
“Dion, bagaimana keadaan Dista! Pasti Lo sangat khawatir sekarang.”
“Yang Gue pikirkan sekarang bukan itu, tapi untuk apa Dias ke rumah Vicky!”
Melihat sahabatnya tampak kalut di depan ruangan istrinya di rawat. Dion datang untuk menghiburnya.
“Bro! Gimana keadaan Dista?”
“Masih di rawat di dalam, semoga aja keduanya baik-baik saja. Gue nggak bisa mikir lagi Bro kalau sampai ...,” lirih Vicky putus asa.
“Sabar bro, kita doakan semoga anak dan istri Lo selamat.”
Kania duduk sendirian, menjauh dari kedua pria itu yang sedang membicarakan hal penting. Tiba-tiba dari lorong rumah sakit, Kania melihat Ujang yang setengah berlari.
“Mang Ujang! Sama siapa kemari?” sapa Kania.
“Anu Mbak, Ujang mencari Mas Dion, dimana ya?” Kania menunjukkan dimana dua pria tampan itu tengah dalam keadaan panik.
Ujang menghampiri keduanya dan minta ijin untuk menyampaikan sesuatu. Vicky dan Dion pun terkejut dengan kehadiran sopir pribadi Chandra.
“Mang Ujang, ada apa?” tanya Vicky.
“Punten A Vicky, tadi Ujang baru saja dari rumah A Vicky dan menemukan ini!” Ujang memberikan sebuah botol kosong tempat menyimpan minyak dengan segel yang baru saja dibuka, di halaman rumah Vicky.
Dion menatap Ujang dan Vicky bergantian. Lalu pria itu menyimpulkan jika semua ini saling berkaitan.
“Bro, memangnya Dista kecelakaan dimana?”
“Di depan rumah. Gue baru keluarin barang belanjaan dan saat Gue dengar Dista berteriak, Dia udah jatuh di lantai.”
__ADS_1
“Brengsek!!”